Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Tibyān fī Ma‘rifat al-AdyānTibyan fi Ma'rifat al-Adyan

Abad ke-17Seventeenth century

Tibyān fī Ma‘rifat al-Adyān adalah karya Nuruddin ar-Raniry tentang pengetahuan mengenai agama-agama. Dalam studi perbandingan agama, karya ini dipandang sebagai salah satu karya terdepan. Keunggulannya diakui dalam kesarjanaan, tetapi belum jelas apakah ia dipelajari dalam pendidikan di Aceh. Kitab ini menjadi contoh karya Aceh yang lebih dikenal di forum akademik daripada di tanah asalnya.

Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan is Nuruddin ar-Raniri's work on knowledge of the religions. In comparative religion it is regarded as a leading early work. Its importance is acknowledged in scholarship, yet it is unclear whether it is studied in Aceh's schools. It exemplifies Acehnese works better known in academic forums than in their homeland.

Judul Tibyān fī Ma‘rifat al-Adyān dapat dipahami sebagai ‘penjelasan tentang pengetahuan mengenai agama-agama’. Karya ini lahir dari lingkungan intelektual Kesultanan Aceh Darussalam, tempat Nuruddin ar-Raniry menjadi salah satu ulama paling produktif menulis kitab. Dalam kajian perbandingan agama, karya ini dipandang sebagai karya terdepan, yakni salah satu tonggak awal upaya sistematis seorang ulama Nusantara untuk memetakan keyakinan dan aliran di luar dirinya.

Posisi karya ini dalam tradisi Aceh memperlihatkan paradoks yang lebih luas. Bersama Bustān al-Salāṭīn dan Ṣirāṭ al-Mustaqīm, Tibyān menjadi rujukan bagi sarjana yang menekuni Dunia Melayu, sejarah Asia Tenggara, dan studi agama. Namun di Aceh sendiri masih diragukan apakah ketiga kitab ini dipelajari di lembaga pendidikan. Studi naskah dan manuskrip juga belum menjadi bahan kurikulum, sehingga karya semacam ini lebih sering hadir sebagai nama dalam daftar kebanggaan daripada sebagai teks yang dibaca.

Tibyān juga perlu dibaca dalam konteks polemik intelektual abad ke-17. Sebagian karya ar-Raniry merupakan ‘jawaban’ atas persoalan tasawuf yang dikemukakan Hamzah Fansuri, sehingga kepedulian ar-Raniry pada batas-batas keyakinan tidak terlepas dari perdebatan tentang ortodoksi di istana Aceh. Rincian isi kitab dan konteks penulisannya tidak dijabarkan di sini; pembacaan yang lebih mendalam memerlukan telaah filologis tersendiri.

Karena itu, Tibyān sering diajukan sebagai contoh konkret bagi agenda menghidupkan kembali karya ulama Aceh dalam pendidikan tinggi, terutama dalam studi agama dan perbandingan agama yang berkembang di perguruan tinggi Islam.

The title Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan may be rendered as ‘an exposition of knowledge concerning the religions’. The work emerged from the intellectual milieu of the Aceh Darussalam sultanate, where Nuruddin ar-Raniri was among the most prolific authors of treatises. In comparative religion it is regarded as a leading work, one of the early systematic efforts by an archipelagic scholar to map beliefs and sects beyond his own.

Its place in the Acehnese tradition reflects a wider paradox. Together with the Bustan al-Salatin and the Sirat al-Mustaqim, the Tibyan is a reference for scholars of the Malay world, Southeast Asian history and religious studies. Yet in Aceh itself it remains doubtful whether these three texts are taught. Manuscript studies are not part of the curriculum either, so such works appear more often as names on a roll of honour than as texts that are read.

The Tibyan should also be read against the intellectual polemics of the seventeenth century. Several of ar-Raniri's works were ‘answers’ to Sufi questions raised by Hamzah Fansuri, so his concern with the boundaries of belief cannot be separated from debates over orthodoxy at the Acehnese court. The contents and circumstances of composition are not detailed here; a deeper reading requires dedicated philological study.

The Tibyan is therefore often cited as a concrete case for reviving Acehnese scholars' works in higher education, especially in the religious and comparative religion programmes of Islamic universities.

Gagasan kunciKey ideas

Perintis perbandingan agamaA pioneer of comparative religion

Karya ini menempatkan Aceh dalam sejarah awal studi agama-agama.The work places Aceh in the early history of the study of religions.

Lahir dari polemikBorn of polemic

Kepedulian pada batas keyakinan terkait dengan perdebatan ar-Raniry dan Hamzah Fansuri.Its concern with doctrinal boundaries is tied to the ar-Raniri–Hamzah Fansuri debate.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang dapat dipelajari studi agama hari ini dari cara seorang ulama abad ke-17 memetakan keyakinan orang lain?What can religious studies today learn from how a seventeenth-century scholar mapped the beliefs of others?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Tibyān fī Ma‘rifat al-Adyān”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tibyan-fi-marifat-al-adyan/