Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Mir’āt al-ṬullābMir'at al-Tullab

Masa Sultanah SafiyatuddinReign of Sultanah Safiyatuddin

Mir’āt al-Ṭullāb adalah kitab fikih karya Syeikh Abdurrauf al-Singkili yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin. Kitab ini menjadi contoh karya ulama yang lahir dari kebutuhan penguasa akan pedoman hukum. Kehadirannya menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan para sultanah, produksi kitab hukum tetap berlangsung di sekitar istana. Karya ini juga memperlihatkan kesinambungan tradisi keilmuan yang dijaga al-Singkili.

The Mir'at al-Tullab is a fiqh treatise by Shaykh Abd al-Ra'uf al-Singkili, written at the request of Sultanah Safiyatuddin. It exemplifies a scholar's work born of a ruler's need for legal guidance. It shows that under the queens, legal scholarship continued to flourish around the court. The work also reflects the continuity of learning that al-Singkili sustained.

Dalam tipologi motif menulis, Mir’āt al-Ṭullāb berdiri berdampingan dengan Ṣirāṭ al-Mustaqīm sebagai karya yang lahir dari permintaan penguasa. Perbedaannya, kitab ini ditulis untuk seorang ratu: Sultanah Safiyatuddin meminta Syeikh Abdurrauf al-Singkili menyusun kitab fikih yang dapat menjadi pegangan pemerintahannya. Hubungan ini memperlihatkan bahwa kedekatan ulama dengan poros kekuasaan tidak terputus ketika takhta dipegang perempuan.

Abdurrauf al-Singkili dikenal sebagai salah satu ulama paling produktif di Nusantara, bersama Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry. Ia digambarkan sebagai ulama yang berupaya mempertahankan tradisi keilmuan di Aceh setelah masa polemik tasawuf yang tajam. Dalam konteks itu, sebuah kitab fikih yang disusun atas permintaan istana dapat dibaca sebagai upaya menata kembali pegangan hukum masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa kitab ulama berfungsi semacam ‘undang-undang’ bagi rakyat Aceh.

Kitab ini juga menggambarkan pola umum karya klasik Aceh: ditulis terutama dalam bahasa Melayu, sehingga jasanya terasa jauh di luar Aceh dan ikut membentuk kompas keagamaan umat Islam di rantau Melayu. Rincian isi dan sejarah penyalinan kitab tidak dijabarkan di sini dan memerlukan telaah naskah tersendiri.

Seperti karya ulama Aceh lain, Mir’āt al-Ṭullāb belum menjadi bacaan wajib dalam pendidikan di Aceh. Kehadirannya lebih sering disebut sebagai bukti kejayaan intelektual masa lampau daripada dipelajari sebagai teks hukum yang hidup.

In the typology of motives for writing, the Mir'at al-Tullab stands beside the Sirat al-Mustaqim as a work born of a ruler's request. The difference is that it was written for a queen: Sultanah Safiyatuddin asked Shaykh Abd al-Ra'uf al-Singkili to compose a fiqh treatise to guide her government. This relationship shows that scholars' proximity to power did not end when the throne was held by a woman.

Abd al-Ra'uf al-Singkili is counted among the most prolific scholars of the archipelago, alongside Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri. He is portrayed as the scholar who sought to sustain Aceh's tradition of learning after a period of sharp Sufi polemic. In that setting, a fiqh treatise commissioned by the court can be read as an effort to re-establish society's legal reference point, and as confirmation that scholars' texts served as a kind of ‘statute’ for the Acehnese people.

The work also reflects a broader pattern of classical Acehnese writing: composed largely in Malay, its influence reached well beyond Aceh and helped shape the religious compass of Muslims across the Malay world. Its contents and manuscript history are not detailed here and call for dedicated textual study.

Like other works of Acehnese scholars, the Mir'at al-Tullab is not yet required reading in Acehnese education. It is cited more often as proof of past intellectual glory than studied as a living legal text.

Gagasan kunciKey ideas

Ulama dan sultanahScholars and queens

Permintaan Sultanah Safiyatuddin menunjukkan kedekatan ulama dengan istana pada masa ratu.Sultanah Safiyatuddin's request shows scholars' closeness to the court under female rule.

Penjaga kesinambunganGuardian of continuity

Al-Singkili dipandang sebagai penjaga tradisi keilmuan Aceh.Al-Singkili is seen as a guardian of Aceh's scholarly tradition.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana kekuasaan seorang sultanah memengaruhi bentuk dan isi kitab hukum yang dipesannya?How might a queen's rule have shaped the form and content of the legal text she commissioned?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Mir’āt al-Ṭullāb”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mirat-al-tullab/