Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Tazkirah Thabaqāt Jumu‘ Sulṭān al-Salāṭīn

Tazkirah Thabaqāt Jumu‘ Sulṭān al-Salāṭīn adalah naskah yang dinisbahkan kepada Syekh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi dan menjadi sumber utama tradisi tentang Kerajaan Peureulak. Ia memuat kisah kedatangan ulama pembawa Islam dan daftar raja-raja Peureulak lengkap dengan hari, bulan, dan tahun Hijriah penobatan mereka.

The Tazkirah Thabaqāt Jumu‘ Sulṭān al-Salāṭīn is a manuscript attributed to Shaykh Syamsul Bahri Abdullah al-Asyi and the main source of tradition about the Peureulak kingdom. It recounts the arrival of the scholar who brought Islam and lists the rulers of Peureulak with the day, month and Hijri year of their enthronement.

Menurut naskah ini, orang yang mula-mula membawa Islam ke negeri Peureulak adalah seorang alim bernama Syekh Abdul Aziz al-‘Arabi, yang datang bersama kabilah pedagang dan tinggal antara tahun 227 dan 232 H; satu kutipan lain menyebut awalnya 217 H. Kerajaan kemudian didirikan oleh al-Malik al-Sultan Ibrahim Makhdum, yang dinobatkan pada hari Selasa 12 Muharram 232 H dan memerintah hingga 279 H.

Daftar raja dalam naskah ini berlanjut secara runtut hingga Sultan Muhammad ‘Ali Syah, yang memerintah sampai 433 H, dengan sembilan belas nama penguasa yang masing-masing diberi hari dan tanggal penobatan. Ketelitian penanggalan inilah yang dipakai untuk membantah pandangan bahwa kisah Peureulak hanyalah mitos. Naskah yang sama juga memuat rumusan fikih tentang keabsahan raja perempuan atau raja fasik dalam keadaan darurat menurut mazhab Hanafi dan Maliki.

Status naskah ini tetap diperdebatkan. Ia beredar dalam bentuk manuskrip yang disalin ulang, salah satunya pada 1275 H, dan belum banyak diuji secara filologis. Daftar rajanya juga tidak selalu selaras dengan tradisi lain yang menyebut Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah sebagai raja pertama. Para pengkritik menilai historiografi lokal semacam ini harus dihadapkan dengan sumber lain sebelum diterima.

Bagi studi Aceh, naskah ini penting bukan hanya sebagai sumber fakta, tetapi sebagai cermin cara masyarakat Aceh menuliskan asal-usul keislamannya: dengan penanggalan Hijriah yang cermat, silsilah, dan klaim keterhubungan langsung dengan dunia Arab.

According to this manuscript, the first to bring Islam to Peureulak was a scholar named Shaykh Abdul Aziz al-‘Arabi, who came with a merchant clan and stayed between 227 and 232 AH; one quotation gives 217 AH as the start. The kingdom was then founded by al-Malik al-Sultan Ibrahim Makhdum, enthroned on Tuesday 12 Muharram 232 AH, who reigned until 279 AH.

The king-list continues in sequence down to Sultan Muhammad ‘Ali Syah, who reigned until 433 AH, with nineteen rulers each given a day and date of enthronement. It is this precision of dating that has been used to rebut the view that the Peureulak story is mere myth. The same manuscript also contains a juristic formula on the validity, in necessity, of a female or sinful ruler according to the Ḥanafī and Mālikī schools.

The manuscript’s status remains debated. It circulates in recopied manuscript form, one copy dated 1275 AH, and has seen little philological testing. Its king-list also does not always agree with another tradition naming Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah as the first ruler. Critics hold that local historiography of this kind must be checked against other sources before being accepted.

For Aceh studies, the manuscript matters not only as a source of facts but as a mirror of how Acehnese wrote the origins of their Islam: with careful Hijri dating, genealogy and a claim of direct connection with the Arab world.

Gagasan kunciKey ideas

Penanggalan sebagai argumenDating as argument

Tanggal Hijriah yang rinci dipakai untuk membela historisitas Peureulak.Detailed Hijri dates are used to defend the historicity of Peureulak.

Tradisi yang tidak seragamA non-uniform tradition

Daftar raja berbeda dengan tradisi lain.The king-list differs from other traditions.

Perlu uji filologisPhilology needed

Naskah belum banyak diteliti secara kritis.The manuscript has seen little critical study.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah ketelitian tanggal dalam sebuah naskah cukup untuk membuktikan historisitas isinya?Is precise dating in a manuscript enough to prove the historicity of its contents?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Tazkirah Thabaqāt Jumu‘ Sulṭān al-Salāṭīn”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tazkirah-thabaqat-jumu-sultan-as-salatin/