Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Hermansyah

Abad ke-2121st century

Hermansyah adalah peneliti manuskrip dan dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Pada Agustus 2022 ia menjadi salah satu dari tiga pembicara asal Aceh dalam Pameran dan Persidangan Antarabangsa Manuskrip Melayu (PPAMM) yang digelar Perpustakaan Negara Malaysia bersama Universiti Pendidikan Sultan Idris di Tanjong Malim. Di sana ia membedah Qanun Meukuta Alam dan memetakan tiga naskah perundangan Kesultanan Aceh. Kajiannya menautkan atribusi tradisi kepada Iskandar Muda dengan silsilah salinan masa Jamalul Alam Badrul Munir.

Hermansyah is a manuscript scholar and lecturer at UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. In August 2022 he was one of three speakers from Aceh at the International Malay Manuscript Exhibition and Conference (PPAMM) held by the National Library of Malaysia with Universiti Pendidikan Sultan Idris in Tanjong Malim. There he examined Qanun Meukuta Alam and mapped the three legal manuscripts of the Sultanate of Aceh. His work links the traditional attribution to Iskandar Muda with copying lineages from the reign of Jamal al-Alam Badr al-Munir.

Hermansyah termasuk generasi filolog Aceh yang bekerja langsung dengan naskah, baik koleksi lembaga maupun milik keluarga dan dayah. Kedudukannya sebagai dosen UIN Ar-Raniry menempatkannya dalam tradisi kajian naskah yang sejak lama hidup di Banda Aceh, berdampingan dengan para kolektor dan pegiat manuskrip di luar kampus.

PPAMM 2022 menghadirkan 23 pakar manuskrip Melayu dalam delapan sesi, dengan pembicara dari Malaysia, Amerika Serikat, Brunei Darussalam, dan Aceh. Hermansyah diundang membahas Qanun Meukuta Alam sesuai tema ‘Manuskrip Perundangan Melayu: Korpus Warisan Tempatan dan Dunia’. Ia menjelaskan bahwa warisan naskah Aceh menyimpan tiga qanun, yakni Undang-Undang Aceh, Ma Baina as-Salathin atau Adat Aceh, dan Tadhkirat at-Tabaqat karya Teungku di Mulek yang dikenal sebagai Qanun Meukuta Alam, dengan Qanun Syara’ al-Asyi sebagai sub-bagiannya.

Sumbangan pentingnya terletak pada penegasan bahwa ketiga naskah itu saling berkait dan berasal dari periode Sultan Jamalul Alam Badrul Munir (1703–1726), meskipun rujukannya mengarah ke Sultan Iskandar Muda. Pembedaan antara atribusi dan masa penyalinan ini membantu pembaca modern menimbang klaim-klaim politik yang menjadikan Qanun Meukuta Alam sebagai dasar sejarah qanun Aceh kontemporer.

Hermansyah belongs to a generation of Acehnese philologists who work directly with manuscripts, both institutional collections and those held by families and dayah. His post as a lecturer at UIN Ar-Raniry places him in a long-standing tradition of manuscript study in Banda Aceh, alongside collectors and manuscript activists outside the university.

PPAMM 2022 brought together 23 experts on Malay manuscripts in eight sessions, with speakers from Malaysia, the United States, Brunei Darussalam and Aceh. Hermansyah was invited to discuss Qanun Meukuta Alam under the theme ‘Malay Legal Manuscripts: A Corpus of Local and World Heritage’. He explained that Aceh’s manuscript heritage preserves three qanun: Undang-Undang Aceh, Ma Baina as-Salathin or Adat Aceh, and Tadhkirat at-Tabaqat by Teungku di Mulek, known as Qanun Meukuta Alam, with Qanun Syara’ al-Asyi as a sub-section.

His key contribution is to show that the three texts are interrelated and date from the reign of Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703–1726), even though they refer back to Sultan Iskandar Muda. This distinction between attribution and copying period helps modern readers weigh political claims that make Qanun Meukuta Alam the historical basis of Aceh’s contemporary qanun.

Gagasan kunciKey ideas

Filologi berbasis koleksiCollection-based philology

Bekerja dengan naskah lembaga, keluarga, dan dayah.Works with institutional, family and dayah manuscripts.

Tiga qanunThree qanun

Pemetaan naskah perundangan Kesultanan Aceh.Mapping the Sultanate’s legal manuscripts.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana filologi dapat menguji klaim sejarah yang telah menjadi mitos politik?How can philology test historical claims that have become political myth?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Hermansyah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hermansyah-manuskrip/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →