Ṣirāṭ al-MustaqīmSirat al-Mustaqim
Masa Kesultanan Aceh DarussalamAceh Darussalam sultanate
Ṣirāṭ al-Mustaqīm adalah kitab fikih karya Nuruddin ar-Raniry yang menjadi pegangan studi hukum Islam di Aceh. Kitab ini contoh utama karya ulama yang lahir dari kehendak penguasa untuk memiliki pedoman pemerintahan. Isinya kemudian dapat dibaca melalui Sabīl al-Muhtadīn. Bersama Tibyān dan Bustān al-Salāṭīn, statusnya dalam pendidikan Aceh kini dipertanyakan.
The Sirat al-Mustaqim is a fiqh treatise by Nuruddin ar-Raniri that became a standard reference for Islamic law in Aceh. It is a prime example of a scholar's work born of a ruler's wish for a handbook of government. Its content can later be read through the Sabil al-Muhtadin. Like the Tibyan and the Bustan al-Salatin, its present place in Acehnese education is uncertain.
Dalam tipologi motif menulis, Ṣirāṭ al-Mustaqīm ditempatkan sebagai bukti bahwa ulama Aceh menulis karena permintaan penguasa. Para sultan menginginkan kitab ulama sebagai pegangan dalam menjalankan roda pemerintahan, sehingga kitab berfungsi semacam ‘undang-undang’ bagi rakyat dan ulama berada sangat dekat dengan poros kekuasaan. Kedudukan ini turut melahirkan pandangan tentang tingginya martabat ulama dalam Kerajaan Aceh.
Kitab ini kemudian menjadi pegangan dalam studi hukum Islam di Aceh. Sumber yang menjadi dasar entri ini menyebut abad ke-16 M sebagai masa penggunaannya, sementara Nuruddin ar-Raniry umumnya dikenal aktif di Aceh pada abad ke-17; penanggalan ini karena itu perlu dibaca dengan hati-hati. Isi kitab dapat dibaca melalui Sabīl al-Muhtadīn, karya yang mengolah dan meneruskan bahan Ṣirāṭ al-Mustaqīm dan hingga kini hidup dalam tradisi pengajian Nusantara.
Genealogi ini penting karena memperlihatkan bagaimana teks hukum dari istana Aceh berpindah ke ruang pengajian yang lebih luas. Jalur ini menegaskan posisi Aceh sebagai sumber, bukan sekadar penerima, tradisi hukum Islam di kawasan Melayu.
Namun nasibnya di tanah asal tidak secemerlang reputasinya. Bersama Tibyān fī Ma‘rifat al-Adyān dan Bustān al-Salāṭīn, kitab ini disebut sebagai karya yang masih diragukan kehadirannya dalam pendidikan di Aceh. Paradoks inilah yang menjadi salah satu inti kritik terhadap krisis pewarisan karya ulama Aceh.
In the typology of motives for writing, the Sirat al-Mustaqim stands as evidence that Acehnese scholars wrote at rulers' request. Sultans wanted scholars' treatises as handbooks of government, so that texts served almost as ‘statutes’ for the people and their authors stood close to the centre of power. This position helped shape the view that ulama enjoyed high dignity in the Acehnese kingdom.
The treatise became a standard reference for the study of Islamic law in Aceh. The source on which this entry draws places its use in the sixteenth century, whereas Nuruddin ar-Raniri is generally known to have been active in Aceh in the seventeenth; the dating should therefore be treated with caution. Its content can be read through the Sabil al-Muhtadin, a work that reworks and carries forward the material of the Sirat al-Mustaqim and remains alive in archipelagic study circles.
This genealogy matters because it shows how a legal text from the Acehnese court travelled into wider circles of religious learning. This path underscores Aceh's role as a source rather than a mere recipient of Islamic legal tradition in the Malay world.
Yet its fate at home does not match its reputation. Along with the Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan and the Bustan al-Salatin, it is named as a work whose presence in Acehnese education remains doubtful. This paradox lies at the heart of the critique of Aceh's failure to transmit its scholars' works.
Gagasan kunciKey ideas
Kitab sebagai pedoman negaraA treatise as state handbook
Kitab ini lahir dari kebutuhan penguasa akan pegangan hukum.It arose from rulers' need for a legal handbook.
Hidup melalui syarahLiving on through commentary
Isinya terus beredar melalui Sabīl al-Muhtadīn.Its content continues to circulate through the Sabil al-Muhtadin.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apa akibatnya bagi otoritas ulama ketika kitab mereka berfungsi sebagai undang-undang negara?What happens to scholarly authority when scholars' books function as state law?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Ṣirāṭ al-Mustaqīm”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sirat-al-mustaqim/