Dayah, Haramain, dan dari teungku ke ustazDayah, the Haramain, and from teungku to ustaz
Tradisi intelektual Aceh dibentuk dayah dan jaringan Haramain, dan kini bergeser dari teungku ke ustaz.Aceh's intellectual tradition was formed by the dayah and the Haramain network, and is now shifting from teungku to ustaz.
Tesis kesebelas menyatakan bahwa tradisi intelektual Aceh dibentuk oleh dua kekuatan yang saling menopang, yaitu dayah sebagai tempat reproduksi ilmu di kampung dan jaringan ulama yang membentang sampai Haramain sebagai sumber otoritas, dan bahwa tradisi itu kini sedang bergeser dari figur teungku ke figur ustaz. Rumusan ini menolak dua penyederhanaan sekaligus. Ia menolak anggapan bahwa dayah hanyalah lembaga pendidikan tradisional yang tertinggal, dan ia juga menolak anggapan bahwa Islam di Aceh semata-mata hasil impor dari Timur Tengah. Tradisi intelektual Aceh justru lahir dari gerak bolak-balik: anak kampung pergi menuntut ilmu, sebagian sampai ke Mekkah dan Madinah, lalu kembali membawa sanad, kitab dan tarekat yang ditanam kembali di dayah, sehingga kampung dan pusat dunia Islam terhubung dalam satu rantai.
Kosakata Aceh sendiri menyimpan teori tentang gerak itu. Dalam meudagang dan hareukat, jak meudagang berarti merantau untuk menuntut ilmu di dayah, sedangkan berdagang disebut hareukat; harta yang dikumpulkan disebut baynah dan dinilai dari beureukat. Jenjang ulama pun disusun bertingkat, dari ulama rangkang dan gampong hingga ulama chik. Kosakata ini memperlihatkan bahwa dalam tata nilai lama, transmisi ilmu ditempatkan di atas akumulasi harta, dan bahwa dayah bukan sekadar sekolah, melainkan simpul dalam jaringan perantauan. Karena itu entri tentang dayah dan reproduksi spirit membaca dayah sebagai tempat spirit diwariskan, bukan hanya tempat kitab diajarkan; di sanalah, menurut esai-esai dalam Aceh Baru Post-Tsunami, falsafah han jeut disemai melalui fungsi sosial para ulama.
Bukti historis tentang simpul Aceh dan Haramain dapat dibaca dalam kisah Dayah Meunasah Subung di Samalanga. Dayah ini didirikan pada 1703 oleh Syekh Abdussalam Bawarith al-Asyi, ulama keturunan Zabid yang dikirim dari Mekkah untuk meneruskan ajaran Abdurrauf as-Singkili dan tarekat Syattariyah, setelah berguru kepada Syekh Ali ibn az-Zain al-Mizjaji. Dayah itu dihancurkan ketika benteng Batee Iliek jatuh ke tangan pasukan van Heutsz pada 1901, dilarang dihidupkan kembali pada 1930-an, dan baru berdiri lagi pada 17 Juni 2012 sebagai Dayah Najmul Hidayah al-Aziziyah. Sementara itu sebuah rumah wakaf milik keluarga dayah ini di Syamiah, Mekkah, terkena perluasan Masjidil Haram. Satu riwayat lembaga dengan demikian memuat seluruh unsur tesis: guru dari Haramain, sanad Syattariyah, kehancuran oleh perang kolonial, kebangkitan kembali, dan harta wakaf di Tanah Suci. Hal itu sejalan dengan entri tentang wakaf haji dan ingatan Aceh serta tokoh seperti Habib Bugak al-Asyi, yang menjadikan Mekkah bagian dari geografi moral orang Aceh.
Hubungan dengan Haramain tidak hanya berarah dari Mekkah ke Aceh. Kisah utusan Syarif Mekkah ke Aceh memperlihatkan arah sebaliknya. Pada 1092 H (1681), utusan Syarif Barakat tiba di Aceh setelah gagal memperoleh bantuan dari Kaisar Mughal Aurangzeb, dan Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah menerima mereka dengan hormat serta mengirim hadiah emas yang besar untuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Rombongan itu kembali ke Mekkah pada Syakban 1094 H, tetapi dua anggotanya menetap di Aceh dan kelak menjadi pangkal dinasti Arab, setelah Ratu Kamalat Syah dimakzulkan menyusul surat atau fatwa dari Mekkah. Di sini jaringan Haramain tampil bukan hanya sebagai jalur ilmu, tetapi juga sebagai sumber legitimasi politik yang dapat mengubah susunan takhta. Gelar Serambi Mekkah, dalam terang kisah ini, bukan sekadar pujian; ia menamai hubungan timbal balik yang nyata antara kesultanan dan pusat dunia Islam.
Jaringan ini juga membentuk kedudukan Aceh di antara negeri-negeri Melayu. Sejarah Melayu memuat beberapa kisah ketika Melaka mengirim pertanyaan keagamaan ke Pasai, dan salah satunya, kisah Tun Makhdum Mua, memperlihatkan seorang ulama Pasai yang meralat fatwanya demi hadiah emas tujuh tahil dan dua orang gadis dari utusan Sultan Melaka. M. Adli Abdullah membaca kisah ini pada 2004 sebagai peringatan tentang segitiga ulama, fatwa dan kekuasaan yang harus berjalan otonom demi kepentingan umat. Kisah itu penting bagi tesis ini karena ia menunjukkan bahwa otoritas keilmuan Aceh sejak awal diakui di kawasan, tetapi juga sejak awal rawan dibengkokkan. Jaringan intelektual, dengan kata lain, selalu membawa serta etika tentang bagaimana ilmu berhubungan dengan harta dan kuasa. Hubungan lintas kawasan ini berlanjut dalam jaringan ilmu Patani dan Aceh dan dalam ekosistem dayah dan pesantren yang menghubungkan Aceh dengan dunia santri di Nusantara.
Bagian kedua tesis ini, pergeseran dari teungku ke ustaz, dirumuskan dari pengamatan atas Aceh pascakonflik dan pascatsunami. Di wilayah yang dekat dengan kota, fungsi sosial ustaz naik melampaui teungku. Ustaz diundang untuk berdoa, berceramah dan mengajar mengaji anak-anak di kompleks perumahan, bahkan dibayar per jam untuk datang ke rumah, sementara tradisi jak beut di meunasah menyusut. Orang tua tidak lagi mengirim anak ke dayah, melainkan ke pesantren terpadu yang menjanjikan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, sehingga dayah dipandang sebagai tempat bagi mereka yang seolah tidak punya masa depan. Pada saat yang sama, semakin tinggi kedudukan seorang ulama di lingkaran elite, semakin sulit ia diundang ke majelis kampung. Pengamatan ini tidak berhenti pada gejala sosial; ia mengajukan kekhawatiran epistemik bahwa ustaz boleh jadi tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan tradisi Aceh, bahkan memandangnya sebagai bid'ah, sehingga kebangkitan ustaz perlu dibaca dalam kaitan dengan gerakan Salafi dan Wahabi.
Tesis ini menghadapi beberapa ketegangan yang tidak boleh disembunyikan. Pertama, pergeseran ke ustaz tidak berarti dayah melemah secara politik. Pengamatan yang sama pada akhir 2008 justru mencatat menguatnya politik dayah, ketika dayah dijadikan kendaraan politik dan polarisasi antara basis dayah dan nondayah semakin tajam, dengan peringatan bahwa preseden sejarah Aceh selalu berakhir buruk ketika dayah tidak mampu mengendalikan diri secara internal. Kedua, ada ironi dalam jaringan Haramain sendiri. Jalur yang dahulu membawa Syattariyah dan sanad Abdurrauf as-Singkili ke Samalanga kini juga membawa corak keagamaan yang menolak sebagian tradisi lokal. Jadi yang dipersoalkan bukan apakah Aceh terhubung dengan Timur Tengah, melainkan Timur Tengah yang mana dan melalui lembaga apa. Ketiga, entri tentang riset asing dan dunia ulama Aceh mengingatkan bahwa gambaran tentang dayah dan ulama selama ini banyak dibentuk oleh pengamat luar, sehingga pembacaan tentang kemunduran dayah pun perlu diuji dengan data dari dalam.
Pertanyaan yang tetap terbuka adalah apakah otoritas keagamaan baru yang lahir dari kampus, pesantren terpadu dan media digital melanjutkan jaringan dayah atau menggantikannya. Entri tentang masa depan dayah dan dayah sebagai penyangga moral keluarga menunjukkan bahwa dayah masih memikul fungsi yang tidak mudah diambil alih. Kebangkitan kembali Dayah Meunasah Subung pada 2012, lebih dari satu abad setelah dihancurkan, juga mengisyaratkan bahwa ingatan jaringan dapat dihidupkan kembali. Namun kebangkitan kelembagaan belum tentu berarti kebangkitan cara berpikir. Ukuran yang lebih tepat adalah apakah dayah masih menghasilkan ulama yang mampu menjaga jarak dari kekuasaan, menulis kitab, dan menyemai han jeut dalam masyarakat, atau hanya menghasilkan aktor dalam persaingan politik.
Dalam bangunan enam belas tesis, T11 berdiri di lantai IV di samping T8 (dua poros: istana dan ulama), karena dayah dan jaringan Haramain adalah sumber daya poros ulama; di samping T9 (peradaban maritim-kosmopolitan), karena jalur haji dan jalur ilmu menumpang pada jalur laut; dan di samping T10 (kerak peradaban pada perantara), karena kitab, naskah dan tradisi kepenulisan adalah kerak yang ditinggalkan dayah. Ke bawah, tesis ini bersandar pada T3 (spirit sebagai hulu ilmu) dan T4 (epistemologi 'irfani dan segitiga ulama), sebab sanad Syattariyah yang sampai ke Samalanga adalah wujud kelembagaan dari jalur 'irfani. Ke atas, ia menjelaskan T14 (syariat sebagai tradisi hidup), karena syariat yang hidup dipelihara oleh teungku di meunasah dan dayah, dan T15 (demoralisasi ketika spirit tercerabut), karena melemahnya meudagang adalah salah satu tanda spirit yang tercerabut. Pada tangga lima lantai, T11 memperlihatkan bagaimana spirit diwariskan melalui lembaga, gagasan melalui kitab, filsafat melalui sanad, dan tindakan melalui peran sosial teungku; ketika figurnya berganti menjadi ustaz, seluruh tangga itu ikut diuji.
The eleventh thesis holds that Aceh's intellectual tradition was formed by two mutually supporting forces, the dayah as the place where knowledge is reproduced in the village and the network of ulama reaching as far as the Haramain as the source of authority, and that this tradition is now shifting from the figure of the teungku to that of the ustaz. The formulation rejects two simplifications at once. It rejects the view that the dayah is merely a backward traditional school, and it rejects the view that Islam in Aceh is simply an import from the Middle East. Aceh's intellectual tradition was born rather of a movement back and forth: village children left to seek knowledge, some as far as Mecca and Medina, and returned bringing chains of transmission, books and Sufi orders that were planted again in the dayah, so that the village and the centre of the Islamic world were linked in a single chain.
Acehnese vocabulary itself stores a theory of that movement. In meudagang and hareukat, jak meudagang means leaving home to study at a dayah, while trading is called hareukat; the wealth gathered is called baynah and valued by its beureukat. The ranks of the ulama are likewise tiered, from the ulama of the rangkang and the gampong up to the ulama chik. This vocabulary shows that in the old order of values the transmission of knowledge was placed above the accumulation of wealth, and that the dayah was not simply a school but a node in a network of journeys. The entry on the dayah and the reproduction of spirit therefore reads the dayah as the place where spirit is handed down, not only where books are taught; it is there, according to the essays in Aceh Baru Post-Tsunami, that the philosophy of han jeut was sown through the social role of the ulama.
Historical evidence of the link between Aceh and the Haramain can be read in the story of Dayah Meunasah Subung in Samalanga. It was founded in 1703 by Syekh Abdussalam Bawarith al-Asyi, a scholar of Zabid descent sent from Mecca to carry on the teaching of Abdurrauf as-Singkili and the Shattariyya order after studying with Syekh Ali ibn az-Zain al-Mizjaji. The dayah was destroyed when the Batee Iliek fortress fell to van Heutsz's troops in 1901, was barred from revival in the 1930s, and only rose again on 17 June 2012 as Dayah Najmul Hidayah al-Aziziyah. Meanwhile a waqf house belonging to the dayah's family in Syamiah, Mecca, was affected by the expansion of the Masjid al-Haram. The history of a single institution thus contains every element of the thesis: a teacher from the Haramain, a Shattari chain, destruction in colonial war, revival, and endowed property in the Holy Land. This accords with the entry on pilgrimage waqf and Acehnese memory and with figures such as Habib Bugak al-Asyi, who made Mecca part of the moral geography of the Acehnese.
The relationship with the Haramain did not run only from Mecca to Aceh. The story of the Meccan Sharif's embassy to Aceh shows the reverse direction. In 1092 AH (1681) envoys of Sharif Barakat reached Aceh after failing to obtain help from the Mughal emperor Aurangzeb, and Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah received them with honour and sent lavish gifts of gold for the Masjid al-Haram and the Prophet's Mosque. The embassy returned to Mecca in Sha'ban 1094 AH, but two of its members remained in Aceh and later became the root of an Arab dynasty, after Queen Kamalat Syah was deposed following a letter or fatwa from Mecca. Here the Haramain network appears not only as a channel of knowledge but also as a source of political legitimacy capable of rearranging the throne. The epithet Serambi Mekkah, in the light of this story, is not mere praise; it names a real, reciprocal relationship between the sultanate and the centre of the Islamic world.
The network also shaped Aceh's standing among the Malay states. The Sejarah Melayu contains several stories in which Melaka sent religious questions to Pasai, and one of them, the story of Tun Makhdum Mua, shows a Pasai scholar revising his fatwa in exchange for seven tahil of gold and two young women from the envoy of the Sultan of Melaka. M. Adli Abdullah read the story in 2004 as a warning about the triangle of ulama, fatwa and power, which must operate autonomously in the interest of the community. The story matters to this thesis because it shows that the scholarly authority of Aceh was recognised in the region from the beginning, but also vulnerable to being bent from the beginning. An intellectual network, in other words, always carries with it an ethics of how knowledge relates to wealth and power. These cross-regional ties continue in the scholarly network of Patani and Aceh and in the ecosystem of dayah and pesantren linking Aceh to the santri world of the archipelago.
The second part of the thesis, the shift from teungku to ustaz, was formulated from observation of post-conflict and post-tsunami Aceh. In areas close to the towns the social role of the ustaz has risen above that of the teungku. The ustaz is invited to lead prayers, preach and teach children to recite the Qur'an in housing estates, even paid by the hour to come to the house, while the tradition of jak beut at the meunasah has shrunk. Parents no longer send their children to the dayah but to integrated pesantren that promise fluency in Arabic and English, so that the dayah is seen as a place for those who seemingly have no future. At the same time, the higher an ulama rises in elite circles, the harder it becomes to invite him to a village gathering. The observation does not stop at a social symptom; it raises an epistemic concern that the ustaz may have no wish to preserve Acehnese tradition and may even regard it as bid'ah, so that the rise of the ustaz needs to be read in connection with the Salafi and Wahhabi movements.
The thesis faces several tensions that should not be concealed. First, the shift towards the ustaz does not mean the dayah has weakened politically. The same observer, at the end of 2008, noted the strengthening of dayah politics, as the dayah became a political vehicle and polarisation between dayah and non-dayah constituencies sharpened, with a warning that in Acehnese history such episodes always ended badly when the dayah could not govern itself internally. Second, there is an irony in the Haramain network itself. The route that once carried the Shattariyya and the chain of Abdurrauf as-Singkili to Samalanga now also carries a religious style that rejects parts of local tradition. The question, then, is not whether Aceh is connected to the Middle East, but to which Middle East and through which institutions. Third, the entry on foreign research and the world of the Acehnese ulama reminds us that the picture of the dayah and the ulama has been largely shaped by outside observers, so even readings of the dayah's decline need to be tested against data from within.
The question that remains open is whether the new religious authorities emerging from campuses, integrated pesantren and digital media continue the dayah network or replace it. The entries on the future of the dayah and the dayah as a moral buttress of the family show that the dayah still carries functions that are not easily taken over. The revival of Dayah Meunasah Subung in 2012, more than a century after its destruction, also suggests that the memory of a network can be brought back to life. Yet institutional revival does not necessarily mean a revival of a way of thinking. The more accurate measure is whether the dayah still produces ulama able to keep their distance from power, write books and sow han jeut in society, or only actors in political competition.
Within the structure of sixteen theses, T11 stands on floor IV beside T8 (two axes: palace and ulama), because the dayah and the Haramain network are the resources of the ulama axis; beside T9 (a maritime and cosmopolitan civilisation), because the pilgrimage route and the route of learning rode on the sea lanes; and beside T10 (the crust of civilisation in its intermediaries), because books, manuscripts and the writing tradition are the crust the dayah left behind. Below, the thesis rests on T3 (spirit as the source of knowledge) and T4 ('irfani epistemology and the triangle of scholars), since the Shattari chain that reached Samalanga is the institutional form of the 'irfani path. Above, it explains T14 (sharia as a living tradition), because living sharia is maintained by the teungku in the meunasah and the dayah, and T15 (demoralisation when spirit is uprooted), because the weakening of meudagang is one sign of uprooted spirit. On the five-floor ladder, T11 shows how spirit is handed down through institutions, ideas through books, philosophy through chains of transmission and action through the social role of the teungku; when the figure changes to the ustaz, the whole ladder is put to the test.
KonsepConcept (76)
- ‘Bapak keuchik, ibu teungku’: Snouck dan peminggiran otoritas ulama‘Father keuchik, mother teungku’: Snouck and the marginalisation of ulama authority
- Aceh tanpa istana: peralihan kepemimpinan dari sultan ke ulamaAceh without a palace: leadership passing from sultan to ulama
- Ada dan diri dalam pemikiran Hamzah FansuriBeing (ada) and self (diri) in the thought of Hamzah Fansuri
- Andaian Aceh tanpa Islam: takdir sejarah dan takdir geografiAceh without Islam: a counterfactual of history and geography
- Bangai: kebodohan dan etos menuntut ilmuBangai: ignorance and the ethos of learning
- BAPAK dan Abu: kebapakan dalam birokrasi dan ulamaBAPAK and Abu: fatherhood in bureaucracy and among ulama
- Beasiswa luar negeri sebagai rekayasa sosialForeign scholarships as social engineering
- Bukit, makam ulama, dan pusat kosmikHills, scholars' tombs and the cosmic centre
- Cakupan dan pembelajaran Filsafat AcehThe scope and teaching of Acehnese philosophy
- Dari dayah dan IAIN ke birokrasi syariatFrom dayah and IAIN to sharia bureaucracy
- Dari dayah ke pesantren: ekosistem intelektual Islam NusantaraFrom dayah to pesantren: the intellectual ecosystem of archipelagic Islam
- Dari syaikh ke syarikah: tata kelola dan diplomasi haji IndonesiaFrom shaykh to syarikah: the governance and diplomacy of the Indonesian hajj
- Dari teungku ke ustaz: pergeseran otoritas keagamaanFrom teungku to ustaz: a shift in religious authority
- Dayah dan reproduksi spirit: ilme endatuThe dayah and the reproduction of spirit: ilme endatu
- Dayah sebagai penyangga moral keluarga dan rehabilitasi sosialThe dayah as moral buffer of the family and agent of social rehabilitation
- Dayah sebagai pusat kosmik: ‘Bapak Wilayah’ dan kendali pengetahuan spiritualThe dayah as cosmic centre: the ‘Father of the Territory’ and control of spiritual knowledge
- De-harmonisasi ulama: dari politik pecah belah ke ketergantunganDe-harmonising the ulama: from divide-and-rule to dependence
- Definisi kerja Filsafat Aceh: lima unsurA working definition of Acehnese philosophy: five elements
- Ekonomi dayah dan ketergantungan pada negaraThe dayah economy and dependence on the state
- Empat gelombang hubungan Arab–AcehFour waves of Arab–Acehnese connection
- Empat tahap pengaruh Arab dalam identitas AcehFour stages of Arab influence in Acehnese identity
- Empat toponim Aceh: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah IstimewaAceh’s four toponyms: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah Istimewa
- Endatu dan reusamEndatu and reusam
- Fikih sebagai ilmu sosial IslamFiqh as Islamic social science
- Filsafat, tasawuf, dan ulama-filosof: posisi Aceh dalam tradisi filsafat IslamPhilosophy, Sufism and scholar-philosophers: Aceh's place in the Islamic philosophical tradition
- Fragmentasi pasif ulama dan dikotomi otoritas keagamaanPassive fragmentation of the ulama and the dichotomies of religious authority
- Gelar ‘Haji’ dan status sosial di AcehThe title 'Haji' and social status in Aceh
- Gelar ampon, cut, teuku, dan teungku: makna sosial yang memudarThe titles ampon, cut, teuku and teungku: fading social meanings
- Gelar teungku di luar dayahThe teungku title beyond the dayah
- Generasi sarjana 1970-an dan ‘sarjana via-TOEFL’The 1970s generation and the ‘TOEFL-route scholars’
- Haji sebagai rite of passage dalam masyarakat AcehThe hajj as a rite of passage in Acehnese society
- Industri dan komodifikasi hajiThe hajj industry and the commodification of pilgrimage
- Islamisasi Pulau Ruja: dari hasrat religius ke spirit peradabanThe Islamisation of Pulau Ruja: from religious desire to civilisational spirit
- Islamologi Aceh: meurunoe dan tameng kosmologi negeriIslamology in Aceh: meurunoe and the cosmological shield
- Jak beut dan jak sikula: dari mengaji ke sekolahJak beut and jak sikula: from religious study to school
- Jaringan ilmu Patani dan Aceh: Jawi, pondok, Pustaka Al-Azhar, dan diplomasi pendidikanPatani–Aceh networks of learning: Jawi, the pondok, Pustaka Al-Azhar and educational diplomacy
- Jaringan keilmuan AcehNetworks of knowledge in Aceh
- Jaringan ulama Aceh–HaramaynThe Aceh–Haramayn scholarly network
- Jejaring Hadhrami: niaga, haji, dan percetakanHadhrami networks: commerce, pilgrimage and printing
- Keberkahan ilmu dan ziarah spiritual ke dayahThe blessing of knowledge and spiritual pilgrimage to the dayah
- Keilmuan Aceh pascarevolusi sosialAcehnese knowledge after the social revolution
- Kekuasaan dan otoritas ulama di AcehPower and ulama authority in Aceh
- Kitab kuning, kitab putih, dan tiga kelompok penuntut ilmuYellow books, white books and three communities of learners
- Kolonisasi ilmu sosial dan ‘Americanised intelligence’The colonisation of social science and ‘Americanised intelligence’
- Krisis spirit intelektual Aceh dan sarjana otodidak abad ke-20The crisis of Aceh's intellectual spirit and its self-made 20th-century scholars
- Kuota, nomor porsi, dan budaya ‘ka leuh daftar haji’Quotas, waiting numbers and the culture of 'ka leuh daftar haji'
- Lima motif menulis dalam tradisi AcehFive motives for writing in the Acehnese tradition
- Literasi lintas budaya dalam persiapan hajiIntercultural literacy in hajj preparation
- Masa depan dayah: empat pilihan menuju 2050The future of the dayah: four options towards 2050
- Meudagang, hareukat, baynah dan beureukat: etika ilmu dan harta dalam tradisi AcehMeudagang, hareukat, baynah and beureukat: the ethics of knowledge and wealth in Acehnese tradition
- Otoritas karismatik ulama dayahThe charismatic authority of dayah ulama
- Otoritas keagamaan, sanad, dan seumeubeutReligious authority, sanad and seumeubeut
- Pembiayaan, akomodasi, dan layanan jemaah haji IndonesiaFinancing, accommodation and pilgrim services in the Indonesian hajj
- Pengalaman lintas budaya jemaah haji AcehCross-cultural encounters of Acehnese pilgrims
- Perebutan fungsi intelektual: alumni Timur Tengah, IAIN, dan dayahContesting intellectual roles: Middle East, IAIN and dayah graduates
- Pernikahan lintas negara di Aceh: tradisi, dokumen, dan identitasCross-border marriage in Aceh: tradition, documents and identity
- Pohon, jaring, menara, roda, dan obor: metafora paradigma keilmuan PTKINTree, web, towers, wheel and torch: metaphors of the knowledge paradigms of Indonesia’s Islamic universities
- Poros dayah: ziarah ulama dan asal-usul keluarga dayahDayah axes: scholars' pilgrimages and the origins of dayah families
- Riset asing dan dunia ulama AcehForeign research and the world of the Acehnese ulama
- Segitiga masjid–dayah–pasarThe mosque–dayah–market triangle
- Serambi MekkahSerambi Mekkah (the Verandah of Mecca)
- Shane Joshua Barter: ulama, negara, dan perang di AcehShane Joshua Barter: ulama, the state and war in Aceh
- Siapa “Syiah Kuala” hari ini? Kontestasi otoritas syariatWho is ‘Syiah Kuala’ today? Contested authority over sharia
- Strategi kebudayaan dan krisis tradisi Aceh: dari sistem berpikir ke festivalCultural strategy and the crisis of Acehnese tradition: from system of thought to festival
- Tanoh aulia: Aceh sebagai tanah para waliTanoh aulia: Aceh as the land of the saints
- Tiga posisi pengetahuan haji: orang kampung, jemaah, dan mukiminThree positions of hajj knowledge: villagers, pilgrims and residents
- Tiga sikap ulama terhadap kekuasaan pascadamai dan ‘ken mandum’Three ulama stances toward post-peace power and ‘ken mandum’
- Tipologi dayah di Aceh: lima corakA typology of dayahs in Aceh: five types
- Tipologi jemaah haji AcehA typology of Acehnese pilgrims
- Tradisi kepenulisan tentang AcehThe tradition of writing about Aceh
- Transformasi pesantren: madrasah, zawiyah, pesantren murni, dan pesantren plus sekolahThe transformation of the pesantren: madrasah, zawiyah, pure pesantren and pesantren-plus-school
- Trilogi keislaman Aceh: Syafi‘i, Asy‘ari, dan al-GhazaliAceh’s Islamic trilogy: Shafi‘i, Ash‘ari and al-Ghazali
- Tun Makhdum Mua dan etika fatwa: ulama, fatwa dan kekuasaanTun Makhdum Mua and the ethics of fatwa: ulama, fatwa and power
- Ulama dan teritori spiritual kampungUlama and the spiritual territory of the village
- Ulama sebagai mediator kulturalThe ulama as cultural broker
- Wakaf, haji, dan ingatan lintas generasi Aceh–MekkahWaqf, pilgrimage and intergenerational Aceh–Mecca memory
Data dan buktiData and evidence (112)
- ‘Berangkat haji dari kebun kopi’: tabungan haji petani Gayo'To Mecca from the coffee garden': hajj savings among Gayo farmers
- ‘Distingsi’ dan ‘menyinari’: peralihan IAIN menjadi UIN Ar-Raniry (2013)‘Distinction’ and ‘illumination’: the conversion of IAIN into UIN Ar-Raniry (2013)
- Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala)Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala)
- Abuya Syeikh Haji Muhammad Waly al-Khalidy (Abuya Muda Waly)Abuya Shaykh Haji Muhammad Waly al-Khalidy (Abuya Muda Waly)
- Ahmad Hasballah IndrapuriAhmad Hasballah Indrapuri
- Aksi santri 27 Januari 2008 dan kebangkitan politik dayahThe santri march of 27 January 2008 and the rise of dayah politics
- Alumni Libya: pelatihan militer GAM pada era QadhafiThe Libya alumni: GAM's military training under Qadhafi
- Alumni luar negeri di AcehForeign-educated graduates in Aceh
- Amanah empat ulama Aceh (1866)The testament of four Acehnese scholars (1866)
- AnaliansyahAnaliansyah
- Aslam NurAslam Nur
- Aulia 44 di Pulau WehThe Aulia 44 of Pulau Weh
- Azman IsmailAzman Ismail
- Bayt al-Asyi dan wakaf Aceh di Tanah SuciBayt al-Asyi and Acehnese endowments in the Holy Land
- Dari kapal haji ke pesawat terbangFrom pilgrim ship to aeroplane
- Dari Teungku ke UstazFrom teungku to ustaz
- DayahDayah
- Dayah 2050: peta makalah tahun 2012Dayah 2050: a map of a 2012 paper
- Dayah Krueng Kale dan Dayah Hasbiyah IndrapuriDayah Krueng Kale and Dayah Hasbiyah Indrapuri
- Dayah Meunasah Subung, SamalangaDayah Meunasah Subung, Samalanga
- Dayah Yan di Kedah: tempat hijrah ulama AcehDayah Yan in Kedah: refuge of Acehnese ulama
- Dinamika haji Indonesia: pembacaan kajian Moh. RosyidIndonesian pilgrimage dynamics: reading Moh. Rosyid
- Embarkasi Haji Aceh: dari Sabang ke Bandara Sultan Iskandar MudaThe Aceh hajj embarkation: from Sabang to Sultan Iskandar Muda Airport
- Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004)Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004): Encyclopaedia of the Thought of Acehnese Ulama
- FakhriFakhri
- Fakultas Dakwah IAIN Ar-RaniryThe Faculty of Da‘wa at IAIN Ar-Raniry
- Fatwa Muda Waly dan koalisi ulama penentang Darul IslamMuda Waly’s fatwa and the ulama coalition against Darul Islam
- Generasi sejarawan Aceh: dari Zainuddin dan Hasjmy hingga Muin Umar dan Nourouzzaman ShiddiqiGenerations of Acehnese historians: from Zainuddin and Hasjmy to Muin Umar and Nourouzzaman Shiddiqi
- Habib Bugak AsyiHabib Bugak Asyi
- Haji ulama yang dibiayai umat dan pergeseran makna hajiCommunity-funded scholarly hajj and the shifting meaning of pilgrimage
- Haji, perantara, dan kerentanan dokumen: kasus 2016Pilgrimage, intermediaries and documentary vulnerability: the 2016 case
- HAMKA dan sejarah Islam AcehHAMKA and the Islamic history of Aceh
- Hasan BasriHasan Basri
- Hasan Krueng KaleHasan Krueng Kale
- Hasanuddin Yusuf AdanHasanuddin Yusuf Adan
- HermansyahHermansyah
- HUDA dan politik referendum (1999)HUDA and the politics of the referendum (1999)
- Idris BadalIdris Badal
- Imigran Aceh di Semenanjung MalaysiaAcehnese migrants in Peninsular Malaysia
- Ingatan, luka sejarah, dan identitas PattaniMemory, historical wounds and Pattani identity
- Jak u Arab Cara Orang Aceh Naik HajiJak u Arab and Acehnese pilgrimage
- Jak u Arab: tradisi haji orang AcehJak u Arab: the Acehnese hajj tradition
- Jamhuri UngelJamhuri Ungel
- Jaringan Sunnah di Aceh UtaraThe ‘Sunnah Network’ in North Aceh
- Juhari HasanJuhari Hasan
- Kajian haji Aceh 2018: pengalaman dan perbedaan lintas budayaThe 2018 Acehnese hajj study: experience and cultural difference
- Karantina Haji Pulau RubiahThe Pulau Rubiah hajj quarantine station
- Kenduri haji, peusijuek, dan meusapat: ritus pelepasan calon hajiHajj feast, peusijuek and meusapat: rites of sending off the pilgrim
- Komisi Beasiswa Aceh (KBA)Aceh Scholarship Commission (KBA)
- Kontroversi ‘gereja liar’ Simpang Kanan (1968–1979)The ‘wild churches’ controversy in Simpang Kanan (1968–1979)
- M. Hasbi AmiruddinM. Hasbi Amiruddin
- Madrasah Sa‘adah Abadiyah dan gelombang madrasah 1930-anMadrasah Sa‘adah Abadiyah and the madrasah wave of the 1930s
- Majelis Ulama Aceh: dari MUA ke MUI Aceh dan MPUThe Aceh Ulama Council: from MUA to MUI Aceh and MPU
- Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA)Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA)
- Majlis taklim di Nagan Raya dan Majlis Taklim AnsharullahMajlis taklim in Nagan Raya and the Majlis Taklim Ansharullah
- MAPK/MAK Banda Aceh: madrasah program khususMAPK/MAK Banda Aceh: the special-programme madrasah
- Masa Depan Dayah di AcehThe future of dayah in Aceh
- Meugure: tradisi berguru di AcehMeugure: the Acehnese tradition of discipleship
- Misi Haji RI II (1949)The Second RI Hajj Mission (1949)
- Misri A. MuchsinMisri A. Muchsin
- MPU Aceh dan imajinasi ‘lembaga mufti’Aceh's MPU and the imagined ‘mufti institution’
- MPU: pelembagaan ulama dan otoritas keagamaanThe MPU: institutionalising ulama and religious authority
- Mualaf Karo dan jaringan dakwah Aceh di DairiKaro converts and Acehnese dakwah networks in Dairi
- Muhammad ARMuhammad AR
- Muhammad Haji Salleh dan Menyeberang SejarahMuhammad Haji Salleh and Menyeberang Sejarah
- MunawiahMunawiah
- Mutiara FahmiMutiara Fahmi
- Muzakarah Ulama Aceh dan Dewan Profesor USK: rekomendasi dari dalam wilayah terdampakThe Aceh Ulama Muzakarah and the USK Professors' Council: recommendations from within the affected region
- Nurchalis SofyanNurchalis Sofyan
- Nurjannah IsmailNurjannah Ismail
- Organisasi ulama dayah: dari Perti ke HUDAOrganisations of dayah ulama: from Perti to HUDA
- Pasai–Aceh–Pattani: jaringan ilmu dan tradisi pondokPasai–Aceh–Pattani: knowledge networks and pondok
- Pembacaan Ihya’ ‘Ulumiddin dan tasawuf akhlaqi di dayahReading the Ihya’ ‘Ulum al-Din and ethical Sufism in the dayah
- Pembantaian Teungku Bantaqiah di Beutong Ateuh (1999)The massacre of Teungku Bantaqiah at Beutong Ateuh (1999)
- Pembunuhan Safwan Idris dan Dayan DawoodThe assassinations of Safwan Idris and Dayan Dawood
- Peradilan kolonial dan tersingkirnya ulama dari hukum IslamColonial courts and the removal of ulama from Islamic law
- Peran Alumni Luar Negeri di AcehOverseas graduates and their roles in Aceh
- Perarakan Hari Raya Haji dan kurban sultan AcehThe sultan's Idul Adha procession and sacrifice in Aceh
- Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)All-Aceh Ulama Association (PUSA)
- Peunutoh: kata putus guru kepada muridPeunutoh: the teacher's final word to the student
- Politik komunitas Aceh di Mekkah pada masa Perang AcehAcehnese politics in Mecca during the Aceh War
- Pondok pesantren modern di AcehModern pondok pesantren in Aceh
- Pondok, otoritas digital, dan peran perempuan di PattaniPondok, digital authority and women in Pattani
- Pulang haji: oleh-oleh, cerita, dan kisah ‘dosa yang ditampakkan’Homecoming: gifts, stories and tales of 'sins revealed'
- Radio dayah dan modernisasi santriDayah radio and the modernisation of santri
- Said Abu Bakar: guru agama Yan dan agen Fujiwara KikanSaid Abu Bakar: Yan religious teacher and Fujiwara Kikan agent
- Saifuddin Sa'danSaifuddin Sa'dan
- Samudera PasaiSamudera Pasai
- Sekolah Islam Terpadu dan program Diniyah di Banda AcehIntegrated Islamic schools and Diniyah programmes in Banda Aceh
- Ṣirāṭ al-MustaqīmSirat al-Mustaqim
- Snouck Hurgronje, haji, dan Pan-IslamSnouck Hurgronje, the hajj and Pan-Islamism
- Suluk, khalwat, dan Salek Buta di dayahSuluk, khalwat and Salek Buta in the dayah
- Syukri MusaSyukri Musa
- Teungku Bale dan Teungku RangkangTeungku Bale and Teungku Rangkang
- Teungku Chik (Abu): pemimpin dayah dan pemimpin spiritualTeungku Chik (Abu): dayah heads and spiritual leaders
- Teungku Chik di Tiro Muhammad SamanTeungku Chik di Tiro Muhammad Saman
- Teungku Chik Pante KuluTeungku Chik Pante Kulu
- Teungku Inong dan tradisi pengajian: kajian Abdul MananTeungku Inong and religious learning: Abdul Manan’s study
- Teungku MeunasahTeungku Meunasah
- Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)Teungku Shaykh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)
- Teungku Tjik di Kila dan silsilahnyaTeungku Tjik di Kila and his lineage
- Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)
- Tgk. Haji Abdullah Ujong RimbaTgk. Haji Abdullah Ujong Rimba
- Tgk. Muhammad Hasbi Ash-ShiddieqyTgk. Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
- The Veranda of Mecca: Syariat, kesalehan, dan harga perdamaianThe Veranda of Mecca: Sharia, piety and the price of peace
- Tradisi Berguru di AcehThe tradition of learning from a teacher
- Training Kader Dakwah (TKD)Training Kader Dakwah (TKD): preacher-cadre training
- Ulama Aceh dan Orde Baru: netralisasi dan perlawanan diamAcehnese ulama and the New Order: neutralisation and quiet resistance
- Universitas Teuku Umar (UTU), MeulabohUniversitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh
- Ustaz dari Jawa di pesantren Jama‘ah TablighJavanese ustaz in Tablighi Jama‘at schools
- Utusan Syarif Mekkah ke Aceh (1681–1683) dan akhir masa para ratuThe Meccan Sharif's embassy to Aceh (1681–1683) and the end of the queens' era
- Wilayatul Hisbah: pengawasan moral dan batas kelembagaanWilayatul Hisbah: moral regulation and institutional limits
MetodeMethod (5)
- Identifikasi pewakaf Habib Bugak: nama, tempat, dan buktiIdentifying the Habib Bugak donor: names, places and evidence
- Kosmologi AcehAcehnese Cosmology
- Krisis pewarisan karya ulama AcehThe crisis in transmitting Acehnese scholarly works
- Struktur ilmu: aktivitas belajar dan tradisi keilmuan di AcehThe knowledge structure: learning activities and the knowledge tradition in Aceh
- Studi Aceh dalam kurikulum pendidikanAceh studies in the education curriculum
Medan ujiTest case (12)
- ‘Bapak masyarakat’ dan ‘ibu masyarakat’: ulama, geuchik, dan etika diam‘Father of society’ and ‘mother of society’: ulama, geuchik and the ethic of silence
- Batas moral Aceh–Sumatra Utara: geografi moral Serambi MekkahThe Aceh–North Sumatra moral boundary: the moral geography of Mecca’s Verandah
- Dampak sosial, layanan dasar, dan martabat penyintasSocial impact, basic services and survivors' dignity
- Empat isu keumatan dan respons ulamaFour communal issues and ulama responses
- Kontestasi dayah, pesantren Wahabi, dan isu Syi‘ahDayah, Salafi pesantren and the Shi‘a question
- Lapisan pengaruh Timur Tengah dalam religi AcehLayers of Middle Eastern influence on religion in Aceh
- Muslim tanpa masjidMuslims without mosques
- Otoritas keagamaan virtual: dari reproduksi kultural ke reproduksi populerVirtual religious authority: from cultural to popular reproduction of knowledge
- Pergeseran reproduksi kesadaran religi di Aceh kontemporerShifts in the reproduction of religious consciousness in contemporary Aceh
- Ulama perbatasan: Subulussalam dan Aceh TamiangBorderland ulama: Subulussalam and Aceh Tamiang
- Ulama sebagai perantara budaya, perantara politik, dan aktor politikUlama as cultural brokers, political brokers and political actors
- Ulama, teks dan konteks: pencegahan kekerasan seksual di AcehUlama, text and context: preventing sexual violence in Aceh