Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Teungku Tjik di Kila dan silsilahnyaTeungku Tjik di Kila and his lineage

Masa islamisasi Nagan Raya (kemungkinan abad ke-19)Nagan Raya’s Islamisation period (probably nineteenth century)

Teungku Tjik di Kila dikenang sebagai salah satu dari empat autad yang membantu Habib Abdurrahim mengislamkan Nagan Raya, dan disebut ‘tangan kanan’ Habib Seunagan. Ia adalah leluhur patrilineal pembaru Zakaria Yunus. Silsilah keluarganya memperlihatkan bagaimana ikatan genealogis menghubungkan pihak-pihak yang berlawanan dalam polemik pembaruan Islam.

Teungku Tjik di Kila is remembered as one of the four autad who helped Habib Abdurrahim Islamise Nagan Raya, and is called the ‘right hand’ of the Habib Seunagan. He was the patrilineal ancestor of the reformer Zakaria Yunus. His family genealogy shows how genealogical ties connect opposing sides in the polemics of Islamic reform.

Ungkapan ‘Teungku Tjik di Kila adalah tangan kanan Habib Seunagan’ sering dipakai warga Nagan Raya untuk menjelaskan hubungan dua patrilini yang berulang kali bersilang lewat perkawinan. Ibu Zakaria Yunus, misalnya, adalah adik perempuan Habib Muda. Nama leluhur bahkan dapat dipakai sebagai sapaan bagi keturunannya; Birchok pernah diperkenalkan kepada seorang keturunan Zakaria Yunus dengan sebutan ‘Teungku Tjik di Kila’.

Nyak Nur, keturunan langsung Zakaria Yunus, menyusun silsilah lima halaman berbentuk bagan berjudul ‘Silsilah Keluarga Teungku Tjik di Kila’. Silsilah itu bermula dari ‘Raja Syam’, melewati dua belas generasi yang berpindah dari Timur Tengah ke Asia Tenggara lalu dari pantai utara Aceh ke Nagan Raya. Halaman pertamanya mencatat bahwa ‘Banta Sultan’ dari Baghdad, ipar putra Raja Syam, adalah leluhur Habib Seunagan melalui Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Dengan demikian, ikatan kedua keluarga diproyeksikan jauh sebelum keduanya tiba di Nagan Raya.

Menariknya, Nyak Nur seorang pembaru yang meragukan karamah Habib Muda dan tidak menghadiri kenduri di makam Habib Seunagan. Namun ia tidak mau melepaskan diri dari silsilah yang mengikatnya pada masa islamisasi dan pada Habib Seunagan. Seorang saudaranya mencoba ‘mensekulerkan’ gelar autad dengan menyamakannya dengan wakil kepala ‘kantor islamisasi’, tetapi tetap mengakui gelar itu. Menurut seorang warga, silsilah itu awalnya dicetak untuk kampanye pemilihan kepala daerah, yang akhirnya dimenangi cucu Habib Muda dengan silsilah ganda.

Bagi Birchok, kasus ini membantah anggapan umum bahwa idiom genealogis adalah milik kalangan tradisional yang belum tersentuh pembaruan. Di Nagan Raya, silsilah menembus garis polemik pembaru dan antipembaru.

The saying ‘Teungku Tjik di Kila is the right hand of the Habib Seunagan’ is often used in Nagan Raya to explain the relationship of two patrilines repeatedly joined by marriage. Zakaria Yunus’s mother, for instance, was Habib Muda’s younger sister. The ancestor’s name can even be used to address descendants; Birchok was once introduced to a descendant of Zakaria Yunus as ‘Teungku Tjik di Kila’.

Nyak Nur, a direct descendant of Zakaria Yunus, compiled a five-page flow-chart genealogy titled ‘Family Line of Teungku Tjik di Kila’. It begins with a ‘Raja Syam’ (King of Syria) and runs through twelve generations that moved from the Middle East to Southeast Asia and then from Aceh’s north coast to Nagan Raya. Its first page notes that ‘Banta Sultan’ of Baghdad, brother-in-law of Raja Syam’s son, was the ancestor of the Habib Seunagan through Syekh ‘Abd al-Qadir al-Jilani. The two families’ bond is thus projected back long before either reached Nagan Raya.

Strikingly, Nyak Nur was a reformer who doubted Habib Muda’s miracles and did not attend kenduri at Habib Seunagan graves. Yet he would not detach himself from the genealogy binding him to the age of Islamisation and to the Habib Seunagan. One sibling tried to ‘secularise’ the title autad by likening it to the deputy head of an ‘office of Islamisation’, but still acknowledged it. According to one resident, the genealogy was first printed for a local election campaign, eventually won by Habib Muda’s grandson with his dual pedigree.

For Birchok the case refutes the common assumption that genealogical idioms belong to traditionalists untouched by reform. In Nagan Raya, genealogy cuts across the lines of reformist and anti-reformist polemic.

Gagasan kunciKey ideas

Tangan kanan sang qutubThe pole’s right hand

Gelar autad menempatkan keturunannya dalam hierarki islamisasi lokal.The title autad places his descendants in the local hierarchy of Islamisation.

Silsilah lintas polemikGenealogy across polemic

Keluarga pembaru tetap memelihara ikatan genealogis dengan keluarga sufi yang dikritiknya.A reformist family maintains genealogical ties with the Sufi family it criticises.

Silsilah dan pemiluGenealogy and elections

Bagan silsilah dipakai sebagai modal politik.Genealogical charts serve as political capital.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa seorang pembaru yang skeptis tetap berpegang pada silsilah yang mengikatnya kepada keluarga sufi?Why does a sceptical reformer still hold on to a genealogy that ties him to a Sufi family?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Teungku Tjik di Kila dan silsilahnya”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/teungku-tjik-di-kila/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →