BidangField 07
Studi Religi AcehReligious Studies of Aceh
Studi Religi Aceh mengkaji sistem keyakinan masyarakat Aceh sebagai kenyataan sejarah, sosial, dan intelektual sekaligus. Bidang ini berangkat dari premis bahwa Aceh dan Islam tidak dapat dipisahkan: dasar kerajaan, bangunan ilmu, dan kebudayaan Aceh berdiri di atas kosmologi Islam, sehingga memahami Aceh nyaris sama dengan memahami cara Islam dihayati di negeri ini. Karena itu, istilah dīn lebih diutamakan daripada ‘agama’, dan bidang ini menolak menyamakan Aceh dengan pola ‘Agama Jawa’ yang dirumuskan Clifford Geertz. Ruang lingkupnya mencakup sejarah keyakinan sebelum dan sesudah Islamisasi, Islamologi atau tradisi belajar Islam (meurunoe) di dayah, madrasah, dan perguruan tinggi, fikih dan syariat, haji dan jaringan Haramayn, tasawuf, peta aliran dan gerakan keagamaan, serta isu religi kontemporer. Pertanyaan pokoknya antara lain: mengapa Islamisasi di Aceh berlangsung cepat dan damai; bagaimana ‘masyarakat ilmu’ membentuk dan kemudian kehilangan perannya dalam rekayasa sosial; bagaimana pengaruh Timur Tengah diolah tanpa meruntuhkan fondasi ke-Aceh-an; dan bagaimana pendidikan religi dapat kembali melahirkan pemikir, bukan sekadar pekerja. Bidang ini hadir dalam kerangka studi Aceh karena studi religi yang tidak berakar pada pengetahuan tentang Aceh cenderung melahirkan model-model Islamologi yang saling bertabrakan.
The religious studies of Aceh examine the belief system of Acehnese society as a historical, social and intellectual reality at once. The field starts from the premise that Aceh and Islam cannot be separated: the foundations of its kingdoms, its edifice of knowledge and its culture rest on an Islamic cosmology, so that understanding Aceh is close to understanding how Islam is lived there. For this reason the term dīn is preferred to the Sanskrit-derived ‘agama’, and the field rejects any easy analogy with the ‘religion of Java’ described by Clifford Geertz. Its scope covers beliefs before and after Islamisation; Islamology, the tradition of Islamic learning (meurunoe) in dayah, madrasah and universities; fiqh and sharia; the hajj and Haramayn networks; Sufism; the map of religious currents and movements; and contemporary religious issues. Its core questions include why Islamisation in Aceh was rapid and peaceful; how a ‘knowledge society’ shaped Acehnese social engineering and later lost that role; how Middle Eastern influences can be absorbed without eroding Acehnese foundations; and how religious education might again produce thinkers rather than merely workers. The field belongs in Aceh studies because religious scholarship that is not rooted in knowledge of Aceh tends to generate rival models of Islamology that collide with one another.
Lihat posisinya dalam peta filosofisSee its place in the philosophical map →
7.1 Sejarah agama-agama & IslamisasiHistory of religions & Islamisation
Sejarah keyakinan di Aceh sebelum dan sesudah kedatangan Islam, jalur Islamisasi pesisir, dan peran Aceh sebagai titik awal penyebaran Islam ke Semenanjung Melayu dan Jawa.The history of belief in Aceh before and after the coming of Islam, the coastal routes of Islamisation, and Aceh’s role as a starting point for the spread of Islam to the Malay Peninsula and Java.
7.2 Islamologi Aceh: ulama, dayah & jaringanIslamology of Aceh: scholars, dayah & networks
Tradisi belajar Islam di Aceh — dari meunasah, dayah, dan zawiyah hingga madrasah dan perguruan tinggi — beserta ulama, kitab, dan jaringan yang membentuk ‘masyarakat ilmu’.Aceh’s tradition of Islamic learning — from meunasah, dayah and zawiyah to madrasah and universities — together with the scholars, texts and networks that formed a ‘knowledge society’.
KelompokCommunity Teungku Bale dan Teungku RangkangTeungku Bale and Teungku Rangkang
Teungku Bale dan Teungku Rangkang adalah dua jenjang pengajar di bawah Teungku Chik dalam sistem dayah. Teungku Bale mengajar santri di balai dayah, setara tingkat sekolah menengah atas, dan mewakili…Teungku Bale and Teungku Rangkang are the two teaching ranks below the Teungku Chik in the dayah system. The Teungku Bale teach students in the dayah halls, at roughly upper-secondary…
KelompokCommunity Teungku Chik (Abu): pemimpin dayah dan pemimpin spiritualTeungku Chik (Abu): dayah heads and spiritual leaders
Teungku Chik, yang juga dipanggil Abu atau Abon, adalah ulama tertinggi dalam hierarki keagamaan Aceh dan pemimpin dayah. Kedudukannya setara dengan kiai di pesantren Jawa. Nama panggilan mereka kerap dilekatkan…The Teungku Chik, also addressed as Abu or Abon, stands at the top of Aceh's religious hierarchy and heads a dayah. The position is equivalent to that of the kiai…
KelompokCommunity Teungku Meunasah
Teungku Meunasah adalah guru agama kampung yang bertugas di meunasah, bukan di dayah. Ia mengajarkan dasar-dasar Islam kepada anak-anak dan menjadi rujukan keagamaan warga kapan saja dibutuhkan. Bersama keuchik, ia…The Teungku Meunasah is the village religious teacher who serves at the meunasah rather than in a dayah. He teaches children the fundamentals of Islam and is the community's religious…
TokohFigure Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)Teungku Shaykh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)
Syeikh Abdul Hamid Samalanga adalah ulama Aceh yang dari pengasingannya di Mekkah mendorong pembaruan pendidikan Islam di Aceh. Melalui kiriman surat kabar Ummul Qura’ kepada Teungku Haji Abdullah Ujongrimba, gagasannya…Shaykh Abdul Hamid Samalanga was an Acehnese scholar who, from exile in Mecca, pushed for the reform of Islamic education in Aceh. By sending copies of the newspaper Umm al-Qura…
TokohFigure Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab (Tu Sop Jeunieb)
Tu Sop adalah ulama dayah dari Jeunieb, Bireuen, pemimpin Dayah Babussalam al-Aziziyah dan ketua umum Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA). Ia dikenal karena menerjemahkan khazanah kitab kuning, terutama Ihya’ ‘Ulumiddin…Tu Sop is a dayah scholar from Jeunieb, Bireuen, head of Dayah Babussalam al-Aziziyah and chair of the Association of Dayah Ulama of Aceh (HUDA). He is known for translating…
TokohFigure Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba
Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba adalah ulama karismatik Pidie yang perjalanannya ke Mekkah memperlihatkan bagaimana haji menyatu dengan pencarian ilmu dan gagasan pembaruan. Selama sekitar tiga tahun di Mekkah ia…Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba was a charismatic scholar from Pidie whose journey to Mecca shows how the hajj merged with the pursuit of learning and reformist ideas. During about…
NaskahText The Veranda of Mecca: Syariat, kesalehan, dan harga perdamaianThe Veranda of Mecca: Sharia, piety and the price of peace
Pembahasan mengkritik pemusatan syariat pada simbol dan penertiban, lalu mempertanyakan hubungan pendidikan moral, otoritas Wilayatul Hisbah, dan pengalaman aman masyarakat.The chapters question symbolic enforcement and explore moral education, Wilayatul Hisbah and everyday safety.
KonsepConcept Tiga sikap ulama terhadap kekuasaan pascadamai dan ‘ken mandum’Three ulama stances toward post-peace power and ‘ken mandum’
Penelitian terhadap ulama dayah pascadamai menemukan tiga sikap: ulama senior karismatik yang menjadi penyeimbang dan tempat konsultasi; ulama yang apatis dan kritis karena memandang keterlibatan politik sarat kepentingan ekonomi; serta…Research on dayah ulama after the peace found three stances: charismatic senior ulama who act as counterweights and advisers; apathetic, critical ulama who see political involvement as driven by economic…
KonsepConcept Tipologi dayah di Aceh: lima corakA typology of dayahs in Aceh: five types
Dayah di Aceh masa kini dapat dipilah ke dalam lima corak: dayah klasik tanpa tata kelola modern, dayah klasik dengan tata kelola modern, dayah modern yang memadukan ilmu agama dan…Today’s dayahs in Aceh can be sorted into five types: classical dayahs without modern management, classical dayahs with modern management, modern dayahs combining religious and general knowledge with Arabic and…
LembagaInstitution Training Kader Dakwah (TKD)Training Kader Dakwah (TKD): preacher-cadre training
Training Kader Dakwah (TKD) adalah program pelatihan sehari bagi pemuda gampong yang dirintis Tu Sop pada 2019 untuk ‘menjinakkan’ generasi muda yang jauh dari ilmu agama. Memakai metode pelatihan partisipatif,…Training Kader Dakwah (TKD) is a one-day training for village youth initiated by Tu Sop in 2019 to ‘tame’ young people estranged from religious knowledge. Using participatory training methods, TKD…
KonsepConcept Transformasi pesantren: madrasah, zawiyah, pesantren murni, dan pesantren plus sekolahThe transformation of the pesantren: madrasah, zawiyah, pure pesantren and pesantren-plus-school
Transformasi pesantren di Aceh dapat dipetakan melalui empat arah dan model kajian keislaman: madrasah, zawiyah, pesantren murni, dan pesantren plus sekolah. Masing-masing mewakili cara berbeda menata hubungan antara ilmu agama,…The transformation of the pesantren in Aceh can be mapped through four directions and models of Islamic study: the madrasah, the zawiyah, the pure pesantren and the pesantren-plus-school. Each represents…
KonsepConcept Ulama dan teritori spiritual kampungUlama and the spiritual territory of the village
Di Aceh, ulama berkeramat kerap dipandang ‘berkuasa’ secara spiritual atas suatu wilayah, sebagaimana tercermin dalam gelar yang memadukan sebutan Abu atau Teungku Chik dengan nama tempat atau unsur alam. Contohnya…In Aceh, charismatic ulama are often seen as holding spiritual ‘sway’ over a territory, as reflected in titles pairing Abu or Teungku Chik with a place name or natural feature.…
KonsepConcept Ulama sebagai mediator kulturalThe ulama as cultural broker
Mediator kultural (cultural broker) adalah konsep antropologi tentang tokoh yang menjembatani komunitas lokal dengan sistem yang lebih luas. Clifford Geertz memakainya untuk kiai Jawa, yang menurutnya berperan sebagai pemegang nilai…The cultural broker is an anthropological concept for a figure who links a local community with a wider system. Clifford Geertz applied it to Javanese kiai, whom he saw as…
7.3 Syariat, fikih & hukum IslamSharia, fiqh & Islamic law
Fikih, syariat, dan hukum Islam di Aceh, termasuk fondasi mazhab Syafi‘i, kitab-kitab fikih Jawi, serta pelaksanaan syariat dalam lembaga modern.Fiqh, sharia and Islamic law in Aceh, including the Shafi‘i foundation, Jawi works of jurisprudence, and the implementation of sharia through modern institutions.
7.4 Haji & HaramaynThe hajj & the Haramayn
Perjalanan haji, hubungan Aceh dengan Mekkah dan Madinah, serta makna sosial dan intelektual Haramayn bagi masyarakat Aceh.The hajj, Aceh’s ties with Mecca and Medina, and the social and intellectual significance of the Haramayn for Acehnese society.
7.5 Tasawuf & tarekatSufism & the Sufi orders
Tradisi tasawuf dan tarekat di Aceh, dari warisan Hamzah Fansuri dan para penerusnya hingga praktik suluk dan kewalian di kampung.Sufism and the Sufi orders in Aceh, from the legacy of Hamzah Fansuri and his successors to village practices of suluk and sainthood.
7.6 Aliran & gerakan keagamaanReligious currents & movements
Peta aliran dan gerakan keagamaan di Aceh — dayah, Muhammadiyah, Salafi-Wahabi, Syi‘ah, generasi pemikir baru — serta pengaruh Timur Tengah yang menyertainya.The map of religious currents and movements in Aceh — dayah, Muhammadiyah, Salafi-Wahhabi, Shi‘a, a new generation of thinkers — and the Middle Eastern influences behind them.
7.7 Agama & isu kontemporerReligion & contemporary issues
Perubahan religiusitas Aceh masa kini: otoritas keagamaan, media dan ICT, ritual publik, serta orientasi pendidikan religi di tengah materialisme.Changes in present-day Acehnese religiosity: religious authority, media and ICT, public ritual, and the orientation of religious education amid materialism.