Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba

Ke Mekkah 1926 atau 1927; kembali sekitar akhir 1920-anTo Mecca 1926 or 1927; returned in the late 1920s

Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba adalah ulama karismatik Pidie yang perjalanannya ke Mekkah memperlihatkan bagaimana haji menyatu dengan pencarian ilmu dan gagasan pembaruan. Selama sekitar tiga tahun di Mekkah ia belajar, mengikuti tarekat Haddadiyah langsung dari mursyidnya, dan bahkan mulai mengajar. Persahabatannya dengan Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga menjadikannya pembawa pesan pembaruan pendidikan ke Aceh. Gagasan madrasah yang dibawanya, setelah disampaikan kepada Abu Daud Beureueh, berujung pada pendirian Jam‘iyyah al-Diniyyah di Pidie.

Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba was a charismatic scholar from Pidie whose journey to Mecca shows how the hajj merged with the pursuit of learning and reformist ideas. During about three years in Mecca he studied, followed the Haddadiyya order directly under its master and even began to teach. His friendship with Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga made him the bearer of an educational reform agenda back to Aceh. The madrasa idea he carried, once conveyed to Abu Daud Beureueh, led to the founding of the Jam‘iyyah al-Diniyyah in Pidie.

Tradisi keulamaan Aceh menempatkan perjalanan ke Arab sebagai tahap lanjutan setelah belajar di beberapa dayah; sebagian ulama bahkan singgah dahulu di Kampung Yan, Kedah, untuk berguru pada ulama Aceh yang membuka dayah di sana. Abdullah Ujong Rimba mengikuti jejak ini dengan menunaikan haji sekaligus menuntut ilmu. Sumber yang dipakai di sini menyebut ia berangkat pada 1926, sementara catatan lain menyebut 1927; keduanya sepakat bahwa ia menetap sekitar tiga tahun. Di Mekkah ia belajar ilmu agama, menjadi pengikut tarekat Haddadiyah dengan berguru langsung pada mursyidnya, dan mulai mengajar. Sumber juga menyebut ada orang Aceh yang belajar kepadanya selama di sana, meskipun rinciannya kurang jelas.

Sebelum pulang, ia bersentuhan dengan semangat pembaruan melalui perkawanannya dengan Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga, anggota Sarekat Islam yang menyingkir dari kejaran Belanda dan menetap di Mekkah. Dari sana Abdul Hamid menyurati para ulama dan pemimpin Sarekat Islam di Aceh, menganjurkan agar mereka terus berjuang dengan segala cara yang mungkin, pada masa ketika Belanda melarang Sarekat Islam dan organisasi serupa di Aceh.

Abdul Hamid berpesan agar Abdullah, setibanya di Aceh, mendirikan lembaga pendidikan berbentuk madrasah seperti yang berkembang di Timur Tengah. Surat-surat yang dibawa pulang Abdullah menyerukan agar ulama Aceh merespons perkembangan di Timur Tengah. Gagasan itu disampaikan kepada Abu Daud Beureueh, dan setelah beberapa kali musyawarah para ulama sepakat mendirikan Jam‘iyyah al-Diniyyah di Pidie. Kisahnya memperlihatkan bagaimana haji berfungsi sebagai kanal transmisi gagasan pembaruan dan bagaimana jaringan Haramayn membentuk lembaga pendidikan modern di Aceh.

Acehnese scholarly tradition treats a journey to Arabia as the next stage after study in several dayah; some scholars first stopped at Kampung Yan in Kedah to study with Acehnese teachers who had opened dayah there. Abdullah Ujong Rimba followed this path, combining the hajj with study. The source used here dates his departure to 1926, while another gives 1927; both agree that he stayed about three years. In Mecca he studied the religious sciences, became a follower of the Haddadiyya order under its master, and began teaching. The source also notes that a fellow Acehnese studied with him there, though the details are unclear.

Before returning he absorbed the reformist spirit through his friendship with Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga, a member of Sarekat Islam who had fled the Dutch and settled in Mecca. From there Abdul Hamid wrote to scholars and Sarekat Islam leaders in Aceh, urging them to keep up the struggle by every possible means, at a time when the Dutch had banned Sarekat Islam and similar organisations in Aceh.

Abdul Hamid asked Abdullah, once back in Aceh, to found a madrasa-style school like those spreading in the Middle East. The letters Abdullah brought home called on Acehnese scholars to respond to developments there. The idea was put to Abu Daud Beureueh, and after several rounds of deliberation the scholars agreed to found the Jam‘iyyah al-Diniyyah in Pidie. His story shows the hajj as a channel for reformist ideas and the role of the Haramayn network in shaping modern Islamic education in Aceh.

Gagasan kunciKey ideas

Haji sebagai rihlah ilmiahHajj as a scholarly journey

Perjalanan haji menjadi tahap lanjutan pendidikan dayah dan sarana memperoleh otoritas keilmuan.The hajj served as an advanced stage of dayah education and a means of acquiring scholarly authority.

Kurir pembaruanCourier of reform

Surat dan pesan dari Mekkah menjembatani gagasan Timur Tengah dengan gerakan ulama di Aceh.Letters and messages from Mecca bridged Middle Eastern ideas and the scholars' movement in Aceh.

Tarekat dan reformasiSufi order and reform

Keanggotaan dalam tarekat Haddadiyah berjalan seiring dengan dukungan pada madrasah modern.Membership of the Haddadiyya order went hand in hand with support for modern madrasas.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana pengalaman di Tanah Suci dapat mengubah seorang ulama tradisional menjadi penggerak pembaruan kelembagaan?How could time in the Holy Land turn a traditional scholar into a driver of institutional reform?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Tgk. Haji Abdullah Ujong Rimba”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/abdullah-ujong-rimba/