Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Poros dayah: ziarah ulama dan asal-usul keluarga dayahDayah axes: scholars' pilgrimages and the origins of dayah families

Jaringan dayah tradisional Aceh dapat dipetakan melalui ke mana ulama lokal berziarah menjelang Ramadan. Poros yang disebut antara lain Labuhan Haji di Aceh Selatan, Dayah Tanoh Abe, Dayah Tgk. Chik Awe Geutah di Bireuen, serta kawasan Samalanga dan Ulè Glé. Menurut penuturan ulama lokal, keluarga besar dayah-dayah ini berasal dari Sumatra Barat, Mekkah, dan Baghdad. Kisah asal-usul dan kekeramatan mereka menjadikan situs-situs ini tujuan ziarah hingga kini.

The network of traditional Acehnese dayah can be mapped by where local scholars go on pilgrimage before Ramadan. Axes mentioned include Labuhan Haji in South Aceh, Dayah Tanoh Abe, Dayah Tgk. Chik Awe Geutah in Bireuen, and the Samalanga and Ulè Glé areas. According to local ulama, the founding families of these dayah came from West Sumatra, Mecca and Baghdad. Stories of their origins and sanctity make these sites places of pilgrimage to this day.

Wawancara dengan ulama lokal menggambarkan beberapa poros dayah. Ulama dan santri dari sejumlah wilayah berziarah ke Labuhan Haji di Aceh Selatan, yang dayah dan ulamanya dipandang sangat karismatik; tradisi ziarah keluarga Tanoh Abe ke Aceh Selatan menjadi contohnya. Karisma Dayah Tanoh Abe sendiri menarik ulama dari Aceh Besar hingga Aceh Timur. Dayah Tgk. Chik Awe Geutah di Matang Glumpang Dua, Bireuen, juga sering diziarahi, dan kawasan Samalanga serta sekitar Ulè Glé dikenal sebagai pusat dayah lainnya.

Menurut penuturan yang sama, keluarga dayah di Labuhan Haji berasal dari Sumatra Barat, keluarga besar Awe Geutah dari Mekkah, keluarga Tanoh Abe dari Irak (Baghdad), dan keluarga pengembang dayah di Samalanga juga dari Mekkah. Kebanyakan dikisahkan sengaja datang ke Aceh untuk mengembangkan Islam. Klaim asal-usul ini merupakan tradisi lisan dan perlu dibaca sebagai bagian dari konstruksi kekeramatan, bukan sebagai silsilah yang telah diverifikasi.

Dari poros-poros kecil ini terbentuk jaringan keilmuan lokal. Meski jumlah santrinya tidak sebanyak dahulu, dayah-dayah ini tetap penting dalam sejarah sosial keagamaan Aceh dan dikunjungi warga Aceh, warga luar Aceh, hingga pengunjung mancanegara. Bila dibandingkan dengan Jawa, peran poros semacam ini menyerupai jaringan pesantren dan makam wali, tetapi di Aceh pusatnya adalah dayah hidup yang dipimpin keluarga ulama, sehingga ziarah sekaligus meneguhkan otoritas para Abu.

Interviews with local ulama sketch several dayah axes. Scholars and students from various areas make pilgrimages to Labuhan Haji in South Aceh, whose dayah and ulama are seen as highly charismatic; the Tanoh Abe family's tradition of pilgrimage to South Aceh is an example. The charisma of Dayah Tanoh Abe in turn draws ulama from Aceh Besar to East Aceh. Dayah Tgk. Chik Awe Geutah at Matang Glumpang Dua, Bireuen, is also frequently visited, and the Samalanga and Ulè Glé areas are known as further dayah centres.

According to the same accounts, the dayah family of Labuhan Haji came from West Sumatra, the Awe Geutah family from Mecca, the Tanoh Abe family from Iraq (Baghdad), and the family that developed the Samalanga dayah also from Mecca. Most are said to have come to Aceh deliberately to spread Islam. These origin claims are oral tradition and should be read as part of the construction of sanctity, not as verified genealogy.

From these small axes a local network of learning took shape. Although their student numbers are smaller than before, these dayah remain important in Aceh's religious social history and are visited by Acehnese, by people from elsewhere in Indonesia and even from abroad. Compared with Java, such axes resemble the networks of pesantren and saints' tombs, but in Aceh the centres are living dayah led by scholarly families, so that pilgrimage also reaffirms the authority of the Abu.

Gagasan kunciKey ideas

Ziarah sebagai peta jaringanPilgrimage as a network map

Arah ziarah menjelang Ramadan menunjukkan hierarki karisma dayah.Pre-Ramadan pilgrimage routes reveal the hierarchy of dayah charisma.

Asal-usul sebagai legitimasiOrigins as legitimacy

Klaim keturunan dari Mekkah atau Baghdad menopang kekeramatan.Claims of descent from Mecca or Baghdad sustain sanctity.

Dayah hidup, bukan hanya makamLiving dayah, not just tombs

Pusat ziarah di Aceh adalah lembaga yang masih berjalan.Pilgrimage centres in Aceh are still-functioning institutions.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana klaim asal-usul Timur Tengah membentuk otoritas dayah di mata masyarakat Aceh?How do claims of Middle Eastern origin shape dayah authority in Acehnese eyes?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Poros dayah: ziarah ulama dan asal-usul keluarga dayah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/poros-dayah-dan-ziarah-ulama/