Muhammad AR
Lahir 1960; aktif sejak 1990-anBorn 1960; active since the 1990s
Muhammad AR adalah guru besar Ilmu Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry dan tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di Aceh. Pada 2004 ia ikut menulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh, ketika sedang menempuh program doktor di Universiti Putra Malaysia.
Muhammad AR is a professor of Islamic Education at UIN Ar-Raniry and a leading figure of the Indonesian Islamic Propagation Council (Dewan Dakwah) in Aceh. In 2004 he co-wrote the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh while pursuing a doctorate at Universiti Putra Malaysia.
Muhammad AR berasal dari Ulee Glee, kini termasuk Kabupaten Pidie Jaya. Biografi dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh mencatat tanggal lahirnya 21 Juli 1960, sedangkan sejumlah sumber daring menyebut 21 Juli 1961. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, kemudian melanjutkan studi ke Malaysia. Gelar Master of Education (M.Ed.) dalam bidang pendidikan Islam ia peroleh dari International Islamic University Malaysia (IIUM) pada 1996, dan gelar PhD dalam bidang pendidikan moral dari Universiti Putra Malaysia (UPM) pada 2009.
Kariernya berakar di Fakultas Tarbiyah, kini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), IAIN dan kemudian UIN Ar-Raniry. Ia dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Islam terhitung 1 April 2022, dan mengajar pada program doktor Pendidikan Agama Islam di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Pemberitaan Waspada tentang pengangkatan itu menyebutnya sekaligus sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh.
Di luar kampus, Muhammad AR dikenal sebagai aktivis dakwah. Pada 2004 biografi ensiklopedi telah mencatatnya sebagai ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Nanggroe Aceh Darussalam. Musyawarah Wilayah V Dewan Dakwah Aceh pada 22 November 2020 memilihnya sebagai Ketua Umum untuk periode 2020–2025, menggantikan Hasanuddin Yusuf Adan, yang juga rekan penulis ensiklopedi. Ia juga memimpin Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh, lembaga pembinaan kader dai di bawah jaringan Dewan Dakwah.
Minat akademiknya berpusat pada pendidikan Islam sebagai pembentukan moral, dengan penekanan pada keluarga sebagai ruang pendidikan pertama. Gagasan itu tampak dalam karyanya "Pendidikan Agama: Sebuah Kewajiban Rumah Tangga pada Peringkat Awal" (2012), yang menempatkan rumah tangga sebagai lokasi awal penanaman nilai agama sebelum sekolah dan dayah. Perpaduan antara kajian pendidikan moral di kampus dan pembinaan dai di lapangan membuat pemikirannya relevan bagi diskusi tentang pendidikan keagamaan dan dakwah di Aceh pasca-konflik dan pasca-tsunami.
Jalur studi Muhammad AR di Malaysia, dari IIUM hingga UPM, juga menggambarkan pola yang lebih luas di kalangan dosen IAIN Ar-Raniry sejak 1990-an, ketika universitas-universitas Malaysia menjadi tujuan penting studi lanjut bagi akademisi Aceh. Pengalaman itu mempertemukannya dengan pendekatan pendidikan Islam yang menekankan integrasi ilmu dan pembentukan akhlak. Di Aceh, gagasan tersebut ia terjemahkan ke dalam dua ruang sekaligus: ruang kuliah calon guru dan pendidik agama di Fakultas Tarbiyah, serta ruang pembinaan dai dan jamaah melalui Dewan Dakwah. Kedua ruang ini saling menguatkan, karena pendidikan agama di rumah, sekolah, dan masyarakat ia pandang sebagai satu rangkaian tanggung jawab.
Pada 2004 Muhammad AR menjadi salah satu anggota Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang menyusun Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). Biografi dalam buku itu memperkenalkannya sebagai dosen Fakultas Tarbiyah, lulusan S1 Fakultas Tarbiyah, pemegang gelar M.Ed. dari Universitas Islam Antarbangsa Malaysia, mahasiswa program doktor di Universiti Putra Malaysia, dan ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan Nanggroe Aceh Darussalam. Keterlibatannya menunjukkan bahwa proyek ensiklopedi itu tidak hanya melibatkan sejarawan dan ahli sastra, tetapi juga pendidik dan aktivis dakwah yang memandang ulama sebagai teladan pendidikan umat.
Muhammad AR comes from Ulee Glee, now in Pidie Jaya regency. The biography in the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh gives his date of birth as 21 July 1960, while several online sources give 21 July 1961. He completed his first degree at the Faculty of Tarbiyah (Education) of IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, and then continued his studies in Malaysia. He earned a Master of Education in Islamic education from the International Islamic University Malaysia (IIUM) in 1996 and a PhD in moral education from Universiti Putra Malaysia (UPM) in 2009.
His career is rooted in the Faculty of Tarbiyah, now the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training (FTK), of IAIN and later UIN Ar-Raniry. He was appointed full professor of Islamic Education effective 1 April 2022 and teaches in the doctoral programme in Islamic Religious Education at the UIN Ar-Raniry Graduate School. The Waspada report on that appointment also identifies him as general chair of Dewan Dakwah Aceh.
Beyond the campus, Muhammad AR is known as a da'wa activist. As early as 2004 the encyclopaedia's biography listed him as chair of the Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam) branch of Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. The fifth regional congress of Dewan Dakwah Aceh, held on 22 November 2020, elected him general chair for 2020–2025, succeeding Hasanuddin Yusuf Adan, another of the encyclopaedia's authors. He also directs the Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Aceh, which trains preachers within the Dewan Dakwah network.
His scholarly interest centres on Islamic education as moral formation, with emphasis on the family as the first site of education. This idea appears in his work "Pendidikan Agama: Sebuah Kewajiban Rumah Tangga pada Peringkat Awal" (Religious Education: A Household Obligation at the Early Stage, 2012), which places the household as the first site for instilling religious values, before school and dayah. The combination of moral-education research on campus and preacher training in the field makes his thinking relevant to debates on religious education and da'wa in post-conflict and post-tsunami Aceh.
Muhammad AR's path of study in Malaysia, from IIUM to UPM, also reflects a broader pattern among IAIN Ar-Raniry lecturers since the 1990s, when Malaysian universities became an important destination for Acehnese academics pursuing further study. That experience brought him into contact with approaches to Islamic education that stress the integration of knowledge and the formation of character. In Aceh he has carried these ideas into two settings at once: the lecture hall for future teachers at the Faculty of Tarbiyah, and the training of preachers and congregations through Dewan Dakwah. He sees religious education at home, at school and in society as one continuous responsibility.
In 2004 Muhammad AR was a member of the IAIN Ar-Raniry Writing Team that produced the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). The biography in that book introduces him as a lecturer at the Faculty of Tarbiyah, a Tarbiyah graduate, holder of an M.Ed. from the International Islamic University Malaysia, a doctoral candidate at Universiti Putra Malaysia, and chair of the Aceh branch of Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. His participation shows that the encyclopaedia drew not only on historians and literary scholars but also on educators and da'wa activists who saw the ulama as models for the education of the community.
Gagasan kunciKey ideas
Pendidikan moralMoral education
Pendidikan Islam dipahami terutama sebagai pembentukan akhlak, bukan sekadar transfer pengetahuan.Islamic education is understood primarily as the formation of character, not merely the transfer of knowledge.
Keluarga sebagai sekolah pertamaThe family as first school
Rumah tangga memikul kewajiban awal pendidikan agama sebelum lembaga formal.The household carries the first obligation of religious education before formal institutions.
Kaderisasi dakwahTraining preachers
Dakwah memerlukan lembaga pendidikan kader yang sistematis, seperti Akademi Dakwah Indonesia.Da'wa requires systematic institutions for training preachers, such as the Akademi Dakwah Indonesia.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana peran keluarga dan lembaga dakwah dalam pendidikan moral masyarakat Aceh?What role do the family and da'wa institutions play in the moral education of Acehnese society?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Muhammad AR”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/muhammad-ar/