Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004)Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004): Encyclopaedia of the Thought of Acehnese Ulama
Terbit 2004; mencakup ulama abad ke-19 dan ke-20Published 2004; covers nineteenth- and twentieth-century ulama
Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh adalah karya Tim Penulis IAIN Ar-Raniry (Ar-Raniry Press, 2004) yang memuat biografi pemikiran 26 ulama Aceh abad ke-19 dan ke-20, dibuka pengantar Azyumardi Azra dan T. H. Ibrahim Alfian.
Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh is a work by the IAIN Ar-Raniry Writing Team (Ar-Raniry Press, 2004) presenting intellectual biographies of 26 Acehnese ulama of the nineteenth and twentieth centuries, with forewords by Azyumardi Azra and T. H. Ibrahim Alfian.
Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh disusun oleh Tim Penulis IAIN Ar-Raniry dan diterbitkan Ar-Raniry Press di Banda Aceh pada 2004. Buku ini memuat narasi tentang 26 ulama Aceh yang hidup pada abad ke-19 dan ke-20. Para penulisnya sebagian besar dosen muda IAIN Ar-Raniry dari Fakultas Adab, Syariah, Dakwah, dan Tarbiyah. Di antara mereka adalah Nur Chalis Sofyan, Azman Ismail, Misri A. Muchsin, M. Hasbi Amiruddin, Hasanuddin Yusuf Adan, Aslam Nur, Muhammad AR, Nurjannah Ismail, dan Mutiara Fahmi. Karena itu, buku ini juga menjadi potret generasi akademisi Ar-Raniry yang kelak menjadi guru besar, pimpinan fakultas, dan tokoh dakwah di Aceh.
Buku ini terbit di tengah upaya pengisian konsep Nanggroe Aceh Darussalam dan pelaksanaan syariat Islam, beberapa bulan sebelum tsunami Desember 2004. T. H. Ibrahim Alfian, dalam pengantarnya, mengaitkan ensiklopedi dengan tantangan itu. Menurutnya, pengisian syariat menuntut penggalian lebih jauh atas pemikiran para ulama terdahulu, dan tugas itu terutama berada di pundak para ulama di IAIN Ar-Raniry. Ia juga mengamati sebuah paradoks: nama para ulama melekat pada banyak lembaga, tetapi pemikiran mereka jarang dikenal secara utuh.
Dua pengantar membingkai isi buku. Azyumardi Azra, menulis dari Kampus UIN Jakarta pada 17 Agustus 2004, menempatkan ulama Aceh dalam jaringan ulama Haramain dan Samudra Hindia. Ia menegaskan bahwa Aceh adalah wilayah pertama di Nusantara tempat jaringan itu berakar, lalu menguraikan riwayat Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf as-Singkili. Sesudah itu ia memetakan lapis-lapis ulama yang dibahas: ulama penggerak jihad, ulama dayah, pembaru pendidikan, akademisi hukum Islam, serta tokoh dakwah, sastra, tafsir, dan penulisan sejarah. T. H. Ibrahim Alfian, menulis dari Yogyakarta pada 31 Agustus 2004, membaca ulama Aceh sebagai intelektual dan aktor politik. Ia memakai Gramsci, Said, dan Mannheim, dan menafsirkan Hikayat Prang Sabi sebagai resistensi kognitif terhadap kolonialisme.
Tokoh yang dibahas, menurut daftar Azra, mencakup Teungku Chik Pante Kulu, Teungku Fakinah, Teungku Chik di Tiro, Teungku Chik Kuta Karang, Teungku Muhammad Hasan Krueng Kalee, Teungku Abu Lam U, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Chik di Simpang, Teungku Syaikh Muhammad Muda Waly al-Khalidy, Teungku Muhammad Dawud Beureueh, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku A. Hasjmy, Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Ali Muhammad, Teungku Araby Ahmad, Teungku Haji Ismuha, Teungku M. Latief Rousydiy, Teungku Muhammad Ali Irsyad, Teungku Abdussalam Meuraxa, Teungku Ismail Yakub, Ustadz Muhammad Nur Hayyi, Teungku M. Yunus Jamil, Teungku Abdullah Arif, Teungku Abdurrahim Daudy, Haji Abubakar Aceh, dan Teungku Abdullah Ujong Rimba. Bab pembuka, tulisan Nur Chalis Sofyan tentang Teungku Chik Pante Kulu, membaca Hikayat Prang Sabi bait demi bait dengan pendekatan hermeneutik.
Bagi studi Aceh, ensiklopedi ini penting karena tiga alasan. Pertama, ia merupakan salah satu upaya sistematis pertama dari lingkungan IAIN Ar-Raniry untuk mendokumentasikan pemikiran ulama Aceh modern. Kedua, kedua pengantarnya merangkum dua kerangka besar pembacaan ulama Aceh, yaitu jaringan keilmuan global dan fungsi intelektual-politik ulama di tengah masyarakat. Ketiga, daftar tokohnya memperlihatkan peta ulama yang dipandang representatif pada awal abad ke-21, termasuk siapa yang tidak dimasukkan. Alfian sendiri mencatat bahwa Teungku H. Djakfar Hanafiah tidak masuk ensiklopedi. Buku induk, kedua pengantar, dan bab tentang Pante Kulu tersimpan di Pustaka KBA13 Academy.
Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh was compiled by the IAIN Ar-Raniry Writing Team and published by Ar-Raniry Press in Banda Aceh in 2004. It contains narratives on 26 Acehnese ulama who lived in the nineteenth and twentieth centuries. Most of its authors were young lecturers at IAIN Ar-Raniry from the faculties of Adab, Sharia, Dakwah and Tarbiyah. They include Nur Chalis Sofyan, Azman Ismail, Misri A. Muchsin, M. Hasbi Amiruddin, Hasanuddin Yusuf Adan, Aslam Nur, Muhammad AR, Nurjannah Ismail and Mutiara Fahmi. The book is therefore also a portrait of a generation of Ar-Raniry academics who later became professors, faculty leaders and figures in Islamic preaching in Aceh.
The book appeared amid efforts to give content to the concept of Nanggroe Aceh Darussalam and to implement Islamic law, a few months before the tsunami of December 2004. T. H. Ibrahim Alfian, in his foreword, links the encyclopaedia to that challenge. In his view, implementing sharia required deeper study of the thought of earlier ulama, a task that fell above all on the scholars of IAIN Ar-Raniry. He also notes a paradox: the names of the ulama are attached to many institutions, yet their thought is rarely known as a whole.
Two forewords frame the book. Azyumardi Azra, writing from the UIN Jakarta campus on 17 August 2004, places Acehnese ulama within the networks of the Haramayn and the Indian Ocean. He argues that Aceh was the first region of the archipelago where that network took root, and recounts the careers of Nuruddin ar-Raniri and Abdurrauf as-Singkili. He then maps the layers of ulama the book covers: leaders of jihad, dayah scholars, educational reformers, academics of Islamic law, and figures in preaching, literature, exegesis and historical writing. T. H. Ibrahim Alfian, writing from Yogyakarta on 31 August 2004, reads Acehnese ulama as intellectuals and political actors. He draws on Gramsci, Said and Mannheim, and interprets the Hikayat Prang Sabi as cognitive resistance to colonialism.
According to Azra's list, the figures covered include Teungku Chik Pante Kulu, Teungku Fakinah, Teungku Chik di Tiro, Teungku Chik Kuta Karang, Teungku Muhammad Hasan Krueng Kalee, Teungku Abu Lam U, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Chik di Simpang, Teungku Shaykh Muhammad Muda Waly al-Khalidy, Teungku Muhammad Dawud Beureueh, Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, Teungku A. Hasjmy, Teungku M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku Ali Muhammad, Teungku Araby Ahmad, Teungku Haji Ismuha, Teungku M. Latief Rousydiy, Teungku Muhammad Ali Irsyad, Teungku Abdussalam Meuraxa, Teungku Ismail Yakub, Ustadz Muhammad Nur Hayyi, Teungku M. Yunus Jamil, Teungku Abdullah Arif, Teungku Abdurrahim Daudy, Haji Abubakar Aceh and Teungku Abdullah Ujong Rimba. The opening chapter, by Nur Chalis Sofyan on Teungku Chik Pante Kulu, reads the Hikayat Prang Sabi stanza by stanza through a hermeneutic approach.
For Aceh studies the encyclopaedia matters for three reasons. First, it is one of the first systematic attempts from within IAIN Ar-Raniry to document the thought of modern Acehnese ulama. Second, its two forewords sum up two major frameworks for reading Acehnese ulama: the global scholarly network, and the intellectual and political functions of ulama in society. Third, its list of figures shows which ulama were considered representative at the start of the twenty-first century, including who was left out. Alfian himself notes that Teungku H. Djakfar Hanafiah is not in the encyclopaedia. The volume, both forewords and the chapter on Pante Kulu are held in the KBA13 Academy Pustaka.
Gagasan kunciKey ideas
Aceh sebagai simpul jaringanAceh as a network node
Azra menegaskan Aceh sebagai wilayah pertama di Nusantara tempat jaringan ulama Haramain berakar.Azra argues that Aceh was the first region of the archipelago where the Haramayn network took root.
Ulama sebagai intelektualUlama as intellectuals
Alfian membaca ulama Aceh dengan kacamata Gramsci dan Said sebagai intelektual yang terlibat dalam keresahan masyarakat.Alfian reads Acehnese ulama through Gramsci and Said as intellectuals engaged with the unrest of their society.
Sastra sebagai perlawananLiterature as resistance
Hikayat Prang Sabi dibaca sebagai resistensi kognitif dan sistem pengetahuan, bukan sekadar alat mobilisasi.The Hikayat Prang Sabi is read as cognitive resistance and a system of knowledge, not merely a tool of mobilisation.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Siapa yang dipandang representatif sebagai ulama Aceh modern, dan siapa yang tertinggal dari daftar?Who is considered representative of modern Acehnese ulama, and who is left off the list?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ensiklopedi-pemikiran-ulama-aceh/