Munawiah
Lahir 1968; aktif sejak 1990-anBorn 1968; active since the 1990s
Munawiah, juga ditulis Munawiah Abdullah, adalah sejarawan dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry yang meneliti sejarah perempuan Aceh, perlawanan terhadap kolonialisme, dan dinamika pasca-konflik. Pada 2004 ia termasuk penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Munawiah, also written Munawiah Abdullah, is a historian at the Faculty of Adab and Humanities, UIN Ar-Raniry, who studies the history of Acehnese women, resistance to colonialism and post-conflict dynamics. In 2004 she was one of the authors of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Munawiah lahir di Meureudu, wilayah yang saat itu termasuk Kabupaten Pidie, pada 18 Juni 1968. Ia menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry dan lulus pada 1993. Pada 1993–1994 ia mengikuti Program Studi Purna Ulama (SPU), program pendidikan lanjutan keulamaan. Gelar magister dalam bidang sejarah ia raih dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 2002. Dalam publikasi ilmiahnya ia juga memakai nama Munawiah Abdullah.
Munawiah mengajar di Fakultas Adab, kini Fakultas Adab dan Humaniora, IAIN dan kemudian UIN Ar-Raniry, terutama dalam lingkungan Program Studi SKI. Penelitiannya terbit di berbagai jurnal nasional, termasuk jurnal-jurnal UIN Ar-Raniry, dan memperlihatkan minat yang konsisten pada sejarah sosial Aceh dari sudut pandang kelompok yang sering terpinggirkan dalam historiografi, khususnya perempuan.
Sejumlah karyanya menelaah perempuan Aceh dalam lintasan sejarah dan masa kini. Artikel "Revitalizing Women as Heads of Families in Aceh" (BIRCI, 2021) membahas perempuan kepala keluarga, sedangkan "Legal Protection and Family Resilience of Women Victims of Post-Peace Conflict in Aceh" (Samarah, 2022) menelaah perlindungan hukum bagi perempuan korban konflik setelah perdamaian. Tulisan "Jihad Fi Sabilillah of Acehnese Women" (Millati, 2023) mengkaji keterlibatan perempuan dalam perang, dan kajian tentang Pocut di Beutong (2023) membaca jejak seorang sufi perempuan dalam naskah Aceh. Ia juga menulis "Inong Bale Fort" (Seuneubok Lada, 2026), tentang benteng yang dikaitkan dengan pasukan janda di bawah Laksamana Keumalahayati.
Di luar tema perempuan, Munawiah menulis tentang politik dan perlawanan. Artikel "Islam dan Etnonasionalisme Tengku Hasan M. Tiro" (Adabiya, 2024) mengkaji hubungan antara Islam dan nasionalisme etnis dalam pemikiran pendiri Gerakan Aceh Merdeka itu, sementara kajiannya tentang perjuangan masyarakat Gayo melawan kolonial Belanda pada 1904–1916 (2025) memperluas perhatian ke dataran tinggi Aceh. Rangkaian karya ini menghubungkan sejarah perang kolonial, gerakan politik abad ke-20, dan dampak sosial konflik dalam satu horizon kajian.
Dalam konteks studi Aceh, karya Munawiah bersinggungan dengan beberapa tema besar yang telah lama membentuk citra sejarah Aceh, seperti kepemimpinan Laksamana Keumalahayati, pasukan Inong Bale, dan figur Hasan di Tiro. Namun ia cenderung tidak berhenti pada narasi kepahlawanan. Kajiannya tentang sufi perempuan dalam naskah, tentang perempuan kepala keluarga, dan tentang perempuan korban konflik menunjukkan upaya menghubungkan memori sejarah dengan pengalaman perempuan biasa. Penggunaan sumber naskah di samping sumber kolonial dan lapangan juga memperlihatkan pendekatan sejarah sosial yang memadukan tradisi filologi Fakultas Adab dengan metode sejarah modern yang ia pelajari di Universitas Gadjah Mada.
Pada 2004 Munawiah termasuk dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang menyusun Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). Biografi singkat di buku itu mencatatnya sebagai dosen Fakultas Adab, lulusan Jurusan SKI pada 1993, peserta Program Studi Purna Ulama 1993–1994, dan magister sejarah Universitas Gadjah Mada pada 2002. Ia termasuk sedikit penulis perempuan dalam tim itu, dan minatnya yang kemudian berkembang pada perempuan ulama, sufi perempuan, dan pejuang perempuan menambah dimensi penting bagi pembacaan atas tradisi keulamaan Aceh.
Munawiah was born in Meureudu, then part of Pidie regency, on 18 June 1968. She took her first degree in the Department of Islamic History and Culture (SKI) of the Faculty of Adab at IAIN Ar-Raniry, graduating in 1993. In 1993–1994 she joined the Studi Purna Ulama (SPU) programme, a programme of advanced training in religious scholarship. She earned a master's degree in history from Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, in 2002. In her publications she also uses the name Munawiah Abdullah.
Munawiah teaches at the Faculty of Adab, now the Faculty of Adab and Humanities, of IAIN and later UIN Ar-Raniry, mainly within the SKI programme. Her research appears in a range of Indonesian journals, including those of UIN Ar-Raniry, and shows a consistent interest in the social history of Aceh from the standpoint of groups often marginal in historiography, particularly women.
Several of her works examine Acehnese women in history and in the present. "Revitalizing Women as Heads of Families in Aceh" (BIRCI, 2021) discusses female heads of household, while "Legal Protection and Family Resilience of Women Victims of Post-Peace Conflict in Aceh" (Samarah, 2022) examines legal protection for women affected by conflict after the peace. "Jihad Fi Sabilillah of Acehnese Women" (Millati, 2023) studies women's involvement in war, and her study of Pocut di Beutong (2023) traces a female Sufi in Acehnese manuscripts. She has also written "Inong Bale Fort" (Seuneubok Lada, 2026), on the fortress associated with the widows' force under Admiral Keumalahayati.
Beyond women's history, Munawiah writes on politics and resistance. "Islam dan Etnonasionalisme Tengku Hasan M. Tiro" (Adabiya, 2024) examines the relation between Islam and ethnic nationalism in the thought of the founder of the Free Aceh Movement, while her study of the Gayo people's struggle against Dutch colonial rule in 1904–1916 (2025) extends her attention to the Acehnese highlands. Together these works connect the history of the colonial war, twentieth-century political movements and the social consequences of conflict within one field of inquiry.
In the context of Aceh studies, Munawiah's work touches several major themes that have long shaped the image of Acehnese history, such as the leadership of Admiral Keumalahayati, the Inong Bale force and the figure of Hasan di Tiro. Yet she tends not to stop at heroic narrative. Her studies of female Sufis in manuscripts, of women heads of household and of women affected by conflict show an effort to connect historical memory with the experience of ordinary women. Her use of manuscripts alongside colonial and field sources reflects a social-history approach combining the philological tradition of the Faculty of Adab with modern historical methods learned at Universitas Gadjah Mada.
In 2004 Munawiah was part of the IAIN Ar-Raniry Writing Team that produced the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). The short biography in that book records her as a lecturer at the Faculty of Adab, an SKI graduate of 1993, a participant in the Studi Purna Ulama programme in 1993–1994, and a 2002 master's graduate in history from Universitas Gadjah Mada. She was one of the few women on the team, and her later interest in female ulama, female Sufis and women fighters adds an important dimension to the reading of Aceh's tradition of religious scholarship.
Gagasan kunciKey ideas
Perempuan dalam sejarah AcehWomen in Acehnese history
Perempuan Aceh hadir sebagai pejuang, sufi, dan kepala keluarga, bukan sekadar latar narasi sejarah laki-laki.Acehnese women appear as fighters, Sufis and heads of households, not merely as background to men's history.
Islam dan nasionalismeIslam and nationalism
Pemikiran Hasan Tiro memperlihatkan ketegangan dan perpaduan antara Islam dan etnonasionalisme Aceh.Hasan Tiro's thought shows the tension and fusion between Islam and Acehnese ethnonationalism.
Dampak konflikLegacies of conflict
Sejarah konflik perlu dibaca bersama dampaknya pada ketahanan keluarga dan perlindungan perempuan.The history of conflict should be read together with its effects on family resilience and the protection of women.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana pengalaman perempuan Aceh mengubah cara kita membaca sejarah perang, ulama, dan konflik?How does the experience of Acehnese women change the way we read the history of war, ulama and conflict?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Munawiah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/munawiah/