Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Bustān al-Salāṭīn dan ‘belokan Islam’ dalam historiografi MelayuThe Bustān al-Salāṭīn and the ‘Islamic turn’ in Malay historiography

Jajat Burhanudin membaca bab sejarah Aceh dalam Bustān al-Salāṭīn karya Nuruddin ar-Raniry sebagai ‘belokan Islam’ dalam historiografi Melayu. Berbeda dengan Hikayat Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Hikayat Aceh yang berbingkai budaya lokal, Bustān menjelaskan pembentukan kesultanan, perilaku raja, dan ketatanegaraan Aceh dengan istilah dan cita-cita Islam.

Jajat Burhanudin reads the chapter on Acehnese history in Nuruddin al-Raniri’s Bustān al-Salāṭīn as an ‘Islamic turn’ in Malay historiography. Unlike the Hikayat Raja Pasai, the Sejarah Melayu and the Hikayat Aceh, which are framed by local culture, the Bustān explains the formation of the sultanate, the conduct of rulers and Acehnese statecraft in Islamic terms and ideals.

Ar-Raniry mulai menyusun Bustān pada 1638, setahun setelah melayani Sultan Iskandar Thani, yang memintanya menulis kitab dalam bahasa Melayu tentang perbuatan raja-raja dahulu dan kemudian. Kitab ini lahir pada masa ia menentang tasawuf wujudiyah dan memperkenalkan tasawuf berbasis syariat. Salah satu jilidnya bersifat didaktis, memuat adab bagi sultan dan pembesar, sehingga ia sebahasa politik dengan Tāj al-Salāṭīn.

Ciri historiografinya tampak sejak awal. Sultan ‘Ali Mughayat Syah disebut sebagai yang pertama masuk Islam dan menjalankan agama Nabi, meski ia berasal dari keluarga Lamuri yang sudah Muslim; klaim itu menandai bahwa Islam dijadikan dasar keberadaan Aceh. Penguasa yang kuat dan saleh dipuji, seperti al-Qahhar dan Sultan Husain, sedangkan penguasa lemah dicela sebagai pemarah atau pembunuh. Penaklukan Pahang disebut ‘hikmat Allah yang terlalu ajaib’, disejajarkan dengan kisah Nabi Yusuf di Mesir.

Bahasanya lugas dan lepas dari mitos yang melimpah dalam Hikayat Raja Pasai, tetapi tidak netral. Iskandar Thani diidealkan sebagai khalifah dan bayangan Allah di bumi, istilah khianat dipakai untuk mengikat kesetiaan kepada raja secara religius, dan bangunan istana seperti Taman Ghairah ditafsirkan dalam kerangka ibadah. Burhanudin menyimpulkan bahwa pemakaian istilah Islam dalam teks ini juga bertujuan menyenangkan sang patron.

Pengaruh Bustān melampaui Aceh: pendahuluan salah satu babnya muncul sebagai pembuka Sejarah Melayu, dan bab tentang Aceh menjadi sumber bagi Hikayat Hang Tuah. Bagi studi Aceh, teks ini adalah contoh bagaimana historiografi turut membentuk citra Aceh yang Islami, citra yang masih hidup dalam julukan Serambi Mekkah.

Al-Raniri began the Bustān in 1638, a year after entering the service of Sultan Iskandar Thani, who asked him to write a book in Malay on the deeds of kings past and later. It was written when he was opposing wujūdiyya Sufism and introducing a sharia-based Sufism. One of its books is didactic, containing adab for sultans and dignitaries, so that it shares the political language of the Tāj al-Salāṭīn.

Its historiographical character shows from the start. Sultan ‘Ali Mughayat Syah is named as the first to embrace Islam and practise the Prophet’s religion, though he came from an already Muslim Lamuri family; the claim marks Islam as the foundation of Aceh’s existence. Strong and pious rulers are praised, such as al-Qahhar and Sultan Husain, while weak ones are condemned as wrathful or murderous. The conquest of Pahang is called ‘a most marvellous wisdom of God’, likened to the story of the Prophet Yusuf in Egypt.

Its language is plain and free of the myths abundant in the Hikayat Raja Pasai, but not neutral. Iskandar Thani is idealised as caliph and shadow of God on earth, the term khianat binds loyalty to the ruler religiously, and palace buildings such as the Taman Ghairah are interpreted in a devotional frame. Burhanudin concludes that the text’s Islamic vocabulary also served to please its patron.

The Bustān’s influence reached beyond Aceh: the introduction to one of its chapters appears as the opening of the Sejarah Melayu, and its chapter on Aceh became a source for the Hikayat Hang Tuah. For Aceh studies, the text shows how historiography helped shape an Islamic image of Aceh, one that lives on in the epithet Serambi Mekkah.

Gagasan kunciKey ideas

Islam sebagai kerangka sejarahIslam as historical frame

Peristiwa dijelaskan dengan istilah dan cita-cita Islam.Events are explained in Islamic terms and ideals.

Sejarah untuk patronHistory for a patron

Idealisasi Iskandar Thani melayani legitimasi istana.The idealisation of Iskandar Thani served courtly legitimacy.

Membentuk citra AcehShaping Aceh’s image

Teks ikut membangun citra Aceh yang Islami.The text helped build Aceh’s Islamic image.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Jika historiografi Islami lahir untuk menyenangkan patron, bagaimana sejarawan memisahkan fakta dari pujian?If Islamic historiography was born to please a patron, how does the historian separate fact from praise?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Bustān al-Salāṭīn dan ‘belokan Islam’ dalam historiografi Melayu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/bustan-al-salatin-dan-historiografi-islami/