Sulalatus Salatin dan Aceh: perdebatan kepengarangan, tempat dan masa penulisanThe Sulalatus Salatin and Aceh: debates on authorship, place and date of composition
Sulalatus Salatin, karya historiografi Melayu yang ditugaskan di Johor pada Mei 1612, mungkin diselesaikan di Aceh setelah pengarangnya, Bendahara Tun Sri Lanang, dibawa ke sana pada 1613. Perbedaan antarnaskah, kesaksian Bustan al-Salatin karya Nuruddin ar-Raniri dan kedekatan isinya dengan tradisi kitab "salatin" di Aceh menjadikan karya ini titik temu historiografi Aceh dan Melayu.
The Sulalatus Salatin, the Malay historical work commissioned in Johor in May 1612, may have been completed in Aceh after its author, the Bendahara Tun Sri Lanang, was taken there in 1613. Differences between manuscripts, the testimony of Nuruddin ar-Raniri's Bustan al-Salatin and its affinity with the Acehnese tradition of "salatin" books make the work a meeting point of Acehnese and Malay historiography.
Mukadimah Sulalatus Salatin mencatat bahwa titah untuk "memperbaiki" sebuah Hikayat Melayu "yang dibawa orang dari Goa" datang dari Raja Abdullah, Yang Dipertuan di Hilir, melalui Seri Nara Wangsa Tun Bambang, putra Seri Agar Raja Patani. Titah itu bertarikh 12 Rabiulawal 1021 H. Teks menyebut hari Kamis, tetapi para sarjana sepakat bahwa tanggal itu jatuh pada hari Ahad, 13 Mei 1612, ketika Sultan Alauddin Riayat Syah III bersemayam di Pasir Raja. Pengarang menyebut dirinya "fakir" dan menuliskan silsilahnya: Tun Muhammad namanya, Tun Seri Lanang timangannya, Paduka Raja gelarannya, Bendahara, anak Orang Kaya Paduka Raja, keturunan Mani Purindam, "Melayu bangsanya, dari Bukit Siguntang Mahameru, Melaka negerinya, Batu Sawar Darussalam". Ia menamai karyanya Sulalatus Salatin, "Pertuturan Segala Raja-raja". Judul Sejarah Melayu atau Malay Annals baru populer pada masa kolonial, dan judul asal dipulihkan melalui edisi A. Samad Ahmad dan Muhammad Haji Salleh.
Latar politik penugasan itu menentukan nasib teksnya. Pada 1613 Sultan Iskandar Muda menyerang dan menghancurkan Batu Sawar, ibu kota Johor; menurut Denys Lombard, Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah, Tun Sri Lanang dan sekitar dua puluh dua ribu orang lainnya dibawa ke Aceh. Raja Abdullah kemudian bersumpah setia kepada Aceh untuk tidak lagi bekerja sama dengan Portugis dan Belanda, dikawinkan dengan adik Iskandar Muda, dan dikembalikan ke Johor sebagai raja dengan pengawalan sekitar dua ribu prajurit Aceh. Leonard Y. Andaya mengajukan hipotesis bahwa serangan Aceh berikutnya pada 1615 mungkin didorong pula oleh dilanjutkannya penulisan Sulalatus Salatin, karena karya yang meneguhkan silsilah Melaka-Johor itu menantang tekad Aceh untuk menjadi pusat dunia Melayu. Hipotesis ini memperlihatkan bahwa historiografi istana bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan alat legitimasi yang dapat dibaca sebagai tantangan politik oleh kerajaan saingan.
Naskah-naskahnya tidak seragam. Agus Salim (1996) membandingkan naskah Raffles 18 dengan versi Shellabear. Menurut Raffles 18, karya ini disusun pada zaman Sultan Alauddin Riayat Syah di Pasir Raja dan titah dibawa oleh Tun Bambang; menurut versi Shellabear, karya ini disusun pada zaman "Allahyarham yang mangkat di Aceh", Sultan Alauddin Riayat Syah, di Pasai, dan titah dibawa Raja Dewa Sa'id kepada Tun Bambang. Keduanya memakai tarikh yang sama. Rujukan kepada sultan yang wafat di Aceh dan kepada Pasai sebagai tempat penyusunan menjadi petunjuk penting bagi tesis penyelesaian karya ini di Aceh. Saksi naskah lain meliputi Raffles 18 di Royal Asiatic Society London, Cod. Or. 1704 di Leiden, naskah Raffles 39 dan 68 yang pendahuluannya dinilai kacau, serta versi Tengku Said dari Sukadana.
Sarjana terbagi dalam beberapa pendapat. R.O. Winstedt berpendapat karya ini digarap sejak Februari 1614 hingga Januari 1615 ketika pengarangnya menjadi tawanan di Aceh. Leonard Y. Andaya berpendapat penulisan dimulai di Johor pada Mei 1612, dilanjutkan setelah Raja Abdullah kembali ke Johor, dan terhenti ketika Aceh menyerang lagi pada 1615 sehingga pengarang melarikan diri setelah menyelesaikan 34 episode; episode 35 sampai 38 menceritakan pelarian itu. Muhammad Yusoff Hashim melihat bahwa kisahnya berhenti pada 1612 dan menduga serangan 1613 mengakhiri kerja penyusunan. Abdul Rahman Haji Ismail mempersoalkan apakah penyusun asalnya Tun Sri Lanang atau Tun Bambang, merujuk naskah Raja Bungsu yang dirumikan Winstedt dan pendapat C.O. Blagden bahwa penyusunnya mungkin orang Perak, meskipun ia mengakui peran Tun Sri Lanang sukar dinafikan karena disebut dalam Bustan al-Salatin. Teuku Iskandar dan Abu Hassan Sham menolak atribusi kepada Raja Bungsu. Ismail Hussein, sebaliknya, membayangkan karya itu disusun di istana Iskandar Muda dan menempatkan Tun Sri Lanang sebagai bapa kesusastraan Melayu.
Kesaksian terkuat datang dari Aceh sendiri. Nuruddin ar-Raniri, yang tiba di Aceh pada 6 Muharam 1047 H (31 Mei 1637), menulis dalam Bustan al-Salatin (bab II, fasal 12) tentang "Bendahara Paduka Raja yang mengarang kitab misrat Sulalat al-Salatin", yang mendengar riwayat dari bapa dan neneknya dan mengarang pada hari Ahad bulan Rabiulawal 1021 H tentang raja-raja Melaka, Johor dan Pahang beserta salasilah mereka dari Iskandar Zulkarnain. Teuku Iskandar berpendapat bahwa pengarang Melayu lama tidak menyebut namanya, dan baru setelah berkenalan dengan karya ilmiah Aceh para penyalin Sulalatus Salatin membubuhkan nama dan silsilah pengarang serta meminjam pendahuluan Bustan al-Salatin. Bustan juga mencatat bahwa pada 1048 H (1638) Sultan Iskandar Thani berziarah ke makam raja-raja di Pasai dan didampingi seorang "Paduka Raja" yang datang bersama empat hulubalang utusan raja Johor. Muhammad Yusoff Hashim dan Teuku Iskandar membaca tokoh ini sebagai Tun Sri Lanang yang masih aktif berpolitik 26 tahun setelah mengarang, tetapi Teuku Iskandar sendiri mencatat bahwa Bendahara Paduka Raja Johor ketika itu adalah Tun Abdul Jamil, sehingga identitasnya belum pasti.
M. Adli Abdullah berpendapat bahwa karya ini diselesaikan di Aceh. Menurutnya, jarang ada kitab Melayu yang selesai dalam setahun; bab tentang Pasai, termasuk kisah Sultan Malikul Zahir diculik raja Siam dan penangkapan Sultan Malikul Mansur, menunjukkan pengetahuan yang mungkin diperoleh setelah pengarang tiba di Samalanga, negeri yang dalam pembukaan Hikayat Raja Pasai disebut sebagai tempat Raja Ahmad dan Raja Muhammad hendak membuka negeri. Ia juga menempatkan Sulalatus Salatin dalam deret kitab "salatin" yang lahir di atau sekitar Aceh: Taj al-Salatin karya Bukhari al-Jauhari (1603) pada masa Sultan Saidil Mukammil, Mābaina al-Salāṭīn yang mulai disusun pada 1607, Sulalatus Salatin (1612) dan Bustan al-Salatin (1638). Keempatnya ditulis dalam bahasa Melayu, memakai kerangka sejarah universal dan menaruh perhatian pada silsilah raja. Shah Rul Anuar Nordin (2012) sebelumnya membandingkan pemikiran politik Taj al-Salatin, Sulalatus Salatin dan Bustan al-Salatin dan menyimpulkan bahwa latar hidup pengarang sangat membentuk karya mereka.
Ingatan Aceh sendiri tentang peristiwa 1613 memberi lapisan tafsir yang berbeda. Hikayat Malem Dagang, yang mengisahkan ekspedisi Iskandar Muda ke Semenanjung, menyebut sultan Johor yang bersekutu dengan Portugis dengan julukan Raja Si Ujud, dan memandang penaklukan itu sebagai bagian dari perang melawan kekuasaan Portugis. Dari sudut pandang ini, kedatangan para bangsawan Johor ke Aceh bukan semata-mata penawanan, melainkan pemindahan pusat kewibawaan Melayu ke Bandar Aceh Darussalam. Sulalatus Salatin, sebaliknya, berpusat pada Melaka dan keturunan Bukit Siguntang, dan menempatkan Pasai sebagai negeri Islam terdahulu yang kisahnya dituturkan dari kejauhan. Pertemuan dua sudut pandang ini, Melaka-Johor dan Aceh, menjadikan Sulalatus Salatin sumber penting bagi perdebatan modern tentang hubungan Aceh dengan identitas Melayu, termasuk pertanyaan apakah Aceh berada di dalam, di samping atau di atas tradisi kerajaan Melayu.
Perdebatan ini juga menyangkut nasib pengarangnya. M. Adli Abdullah membedakan empat kelompok sarjana: mereka yang menganggap akhir hidup Tun Sri Lanang sebagai misteri, mereka yang melihatnya sebagai tawanan di Aceh tanpa menjelaskan bagaimana seorang tawanan dapat mengarang, mereka yang menempatkannya sebagai pembesar Aceh yang dekat dengan ulama, dan mereka yang meyakini ia wafat di Aceh dengan makam yang diketahui. Dengan merujuk sarakata, catatan VOC dan sejarah lisan Samalanga, ia memperkuat kelompok ketiga dan keempat. Pertanyaan tentang tempat penyelesaian karya tetap terbuka, tetapi jelas bahwa Sulalatus Salatin tidak dapat dipahami terpisah dari Aceh.
Signifikansi karya ini bagi studi Aceh terletak pada tiga hal. Pertama, ia menunjukkan bahwa Aceh pada awal abad ke-17 merupakan pusat penulisan dan penyalinan teks Melayu, tempat karya dari Johor dibaca, dikutip dan mungkin diselesaikan. Kedua, ia memperlihatkan jaringan manusia di balik teks: bangsawan, ulama dan juru tulis dari berbagai negeri yang berkumpul di istana Iskandar Muda dan para penggantinya. Ketiga, ia membuka persoalan metodologis tentang cara membaca karya yang bertahan dalam banyak versi, ketika penyalin dapat menambahkan nama, silsilah dan pendahuluan sesuai lingkungan tempat mereka bekerja. Penelitian lanjutan memerlukan perbandingan kodikologis yang sistematis, penelusuran salinan yang mungkin masih tersimpan di Aceh dan Semenanjung, serta pembacaan bersama sumber VOC dan sarakata Samalanga untuk memastikan riwayat pengarangnya.
The preface of the Sulalatus Salatin records that the command to "improve" a Hikayat Melayu "brought from Goa" came from Raja Abdullah, the Yang Dipertuan di Hilir, through Seri Nara Wangsa Tun Bambang, son of Seri Agar Raja of Patani. The command is dated 12 Rabiulawal 1021 AH. The text gives the day as Thursday, but scholars agree that the date fell on Sunday, 13 May 1612, when Sultan Alauddin Riayat Syah III was residing at Pasir Raja. The author calls himself a "poor one" (fakir) and sets out his lineage: Tun Muhammad by name, Tun Seri Lanang by pet name, Paduka Raja by title, Bendahara, son of Orang Kaya Paduka Raja, descendant of Mani Purindam, "Malay by race, from Bukit Siguntang Mahameru, Melaka his country, Batu Sawar Darussalam". He named his work Sulalatus Salatin, "the Genealogy of All Kings". The title Sejarah Melayu, or Malay Annals, became current only in the colonial period, and the original title was restored through the editions of A. Samad Ahmad and Muhammad Haji Salleh.
The political background of the commission determined the fate of the text. In 1613 Sultan Iskandar Muda attacked and destroyed Batu Sawar, the capital of Johor; according to Denys Lombard, Sultan Alauddin Riayat Syah III, Raja Abdullah, Tun Sri Lanang and some twenty-two thousand others were taken to Aceh. Raja Abdullah then swore loyalty to Aceh, undertaking no longer to cooperate with the Portuguese and the Dutch, was married to a younger sister of Iskandar Muda, and was sent back to Johor as ruler escorted by about two thousand Acehnese troops. Leonard Y. Andaya has proposed that Aceh's next attack in 1615 may also have been prompted by the resumption of work on the Sulalatus Salatin, since a work affirming the Melaka-Johor lineage challenged Aceh's determination to become the centre of the Malay world. The hypothesis shows that court historiography was not merely a record of the past but an instrument of legitimacy that a rival kingdom could read as a political challenge.
The manuscripts are not uniform. Agus Salim (1996) compared the Raffles 18 manuscript with Shellabear's version. According to Raffles 18, the work was composed in the time of Sultan Alauddin Riayat Syah at Pasir Raja and the command was carried by Tun Bambang; according to Shellabear's version, it was composed in the time of "the late ruler who died in Aceh", Sultan Alauddin Riayat Syah, at Pasai, and the command was carried by Raja Dewa Sa'id to Tun Bambang. Both give the same date. The reference to a sultan who died in Aceh and to Pasai as the place of composition is an important clue for the thesis that the work was completed in Aceh. Other witnesses include Raffles 18 at the Royal Asiatic Society in London, Cod. Or. 1704 in Leiden, the Raffles 39 and 68 manuscripts, whose prefaces are judged confused, and the Tengku Said version from Sukadana.
Scholars are divided. R.O. Winstedt held that the work was written between February 1614 and January 1615, while its author was a captive in Aceh. Leonard Y. Andaya argues that writing began in Johor in May 1612, resumed after Raja Abdullah's return to Johor, and stopped when Aceh attacked again in 1615, the author fleeing after completing 34 episodes; episodes 35 to 38 tell of that flight. Muhammad Yusoff Hashim observes that the narrative stops in 1612 and suggests that the attack of 1613 ended the work. Abdul Rahman Haji Ismail questions whether the original compiler was Tun Sri Lanang or Tun Bambang, citing the Raja Bungsu manuscript romanised by Winstedt and C.O. Blagden's view that the compiler may have been from Perak, while conceding that Tun Sri Lanang's role is hard to deny because he is named in the Bustan al-Salatin. Teuku Iskandar and Abu Hassan Sham reject the attribution to Raja Bungsu. Ismail Hussein, by contrast, imagines the work being composed at the court of Iskandar Muda and casts Tun Sri Lanang as the father of Malay literature.
The strongest testimony comes from Aceh itself. Nuruddin ar-Raniri, who arrived in Aceh on 6 Muharram 1047 AH (31 May 1637), wrote in the Bustan al-Salatin (book II, chapter 12) of "the Bendahara Paduka Raja who composed the book Sulalat al-Salatin", who heard the account from his father and grandfather and wrote on a Sunday in Rabiulawal 1021 AH about the kings of Melaka, Johor and Pahang and their descent from Iskandar Zulkarnain. Teuku Iskandar argues that early Malay authors did not name themselves, and that only after encountering Acehnese scholarly writing did copyists of the Sulalatus Salatin add the author's name and lineage and borrow the preface of the Bustan al-Salatin. The Bustan also records that in 1048 AH (1638) Sultan Iskandar Thani visited the royal tombs at Pasai accompanied by a "Paduka Raja" who had come with four hulubalang as envoys of the king of Johor. Muhammad Yusoff Hashim and Teuku Iskandar read this figure as Tun Sri Lanang, still politically active twenty-six years after writing, but Teuku Iskandar himself notes that the Bendahara Paduka Raja of Johor at that time was Tun Abdul Jamil, so the identification remains uncertain.
M. Adli Abdullah argues that the work was completed in Aceh. In his view few Malay books were finished within a year; the chapter on Pasai, including the abduction of Sultan Malikul Zahir by the king of Siam and the arrest of Sultan Malikul Mansur, shows knowledge the author may have gained after arriving in Samalanga, the place where, in the opening of the Hikayat Raja Pasai, Raja Ahmad and Raja Muhammad intended to found a settlement. He also places the Sulalatus Salatin in the series of "salatin" books produced in or around Aceh: Bukhari al-Jauhari's Taj al-Salatin (1603) under Sultan Saidil Mukammil, the Mābaina al-Salāṭīn begun in 1607, the Sulalatus Salatin (1612) and the Bustan al-Salatin (1638). All four were written in Malay, use a framework of universal history and are concerned with royal genealogy. Shah Rul Anuar Nordin (2012) had earlier compared the political thought of the Taj al-Salatin, the Sulalatus Salatin and the Bustan al-Salatin and concluded that the authors' life circumstances strongly shaped their works.
Aceh's own memory of the events of 1613 adds a different layer of interpretation. The Hikayat Malem Dagang, which tells of Iskandar Muda's expedition to the Peninsula, calls the Johor sultan allied with the Portuguese Raja Si Ujud, and sees the conquest as part of the war against Portuguese power. From this perspective, the arrival of the Johor nobles in Aceh was not simply captivity but the transfer of the centre of Malay authority to Bandar Aceh Darussalam. The Sulalatus Salatin, by contrast, centres on Melaka and the descendants of Bukit Siguntang, and places Pasai as an earlier Islamic state whose story is told from a distance. The meeting of these two perspectives, Melaka-Johor and Aceh, makes the Sulalatus Salatin an important source for modern debates on Aceh's relationship with Malay identity, including the question of whether Aceh stands within, beside or above the tradition of the Malay kingdoms.
The debate also concerns the author's fate. M. Adli Abdullah distinguishes four groups of scholars: those who regard the end of Tun Sri Lanang's life as a mystery, those who see him as a captive in Aceh without explaining how a captive could write, those who place him as an Acehnese grandee close to the ulama, and those who believe he died in Aceh and that his grave is known. Drawing on sarakata, VOC records and Samalanga oral history, he strengthens the third and fourth positions. The question of where the work was completed remains open, but it is clear that the Sulalatus Salatin cannot be understood apart from Aceh.
The significance of the work for Aceh studies lies in three things. First, it shows that early seventeenth-century Aceh was a centre for writing and copying Malay texts, where a work from Johor was read, cited and perhaps completed. Second, it reveals the human network behind the text: nobles, scholars and scribes from many lands gathered at the court of Iskandar Muda and his successors. Third, it raises the methodological problem of how to read a work that survives in many versions, when copyists could add names, genealogies and prefaces to suit the setting in which they worked. Further research requires systematic codicological comparison, a search for copies that may still survive in Aceh and on the Peninsula, and a joint reading of VOC sources and the Samalanga sarakata to establish the history of its author.
Gagasan kunciKey ideas
Titah 1612The command of 1612
Karya ini ditugaskan di Johor pada 13 Mei 1612, setahun sebelum pengarangnya dibawa ke Aceh.The work was commissioned in Johor on 13 May 1612, a year before its author was taken to Aceh.
Teks sebagai tantangan politikText as political challenge
Andaya menduga penulisan ulang karya ini ikut memicu serangan Aceh ke Johor pada 1615.Andaya suggests that the resumed writing of the work helped provoke Aceh's attack on Johor in 1615.
Petunjuk antarnaskahClues across manuscripts
Versi Shellabear menyebut sultan yang mangkat di Aceh dan Pasai sebagai tempat penyusunan.Shellabear's version mentions a sultan who died in Aceh and Pasai as the place of composition.
Kesaksian Bustan al-SalatinThe witness of the Bustan al-Salatin
Nuruddin ar-Raniri menyebut Bendahara Paduka Raja sebagai pengarang, sehingga Aceh menjadi sumber utama atribusi.Nuruddin ar-Raniri names the Bendahara Paduka Raja as author, making Aceh the main source of the attribution.
Tradisi kitab salatinThe salatin book tradition
Taj, Mābaina, Sulalat dan Bustan al-Salatin membentuk satu keluarga teks Melayu yang berpusat di Aceh.The Taj, Mābaina, Sulalat and Bustan al-Salatin form a family of Malay texts centred on Aceh.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Dapatkah analisis kodikologis atas naskah Raffles 18, versi Shellabear dan naskah Raja Bungsu memastikan bagian mana dari Sulalatus Salatin yang ditulis atau disunting di Aceh?Could codicological analysis of Raffles 18, the Shellabear version and the Raja Bungsu manuscript establish which parts of the Sulalatus Salatin were written or edited in Aceh?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Sulalatus Salatin dan Aceh: perdebatan kepengarangan, tempat dan masa penulisan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sulalatus-salatin-dan-aceh/