Dekolonisasi ilmu dan sumber lokalDecolonising knowledge and local sources
Ilmu sosial tentang Aceh terkolonisasi. Dekolonisasinya menuntut naskah, hikayat, hadih maja, sarakata dan makam dibaca sebagai sumber teori, bukan hanya sumber data.Social science on Aceh has been colonised. Decolonising it requires manuscripts, hikayat, hadih maja, sarakata and tombs to be read as sources of theory, not only of data.
Tesis kedua menyatakan bahwa ilmu sosial tentang Aceh telah terkolonisasi, dan bahwa dekolonisasinya menuntut naskah, hikayat, hadih maja, sarakata dan makam dibaca sebagai sumber teori, bukan hanya sumber data. Penekanan pada kata teori di sini menentukan. Hampir tidak ada peneliti yang menolak memakai sumber lokal; persoalannya terletak pada pembagian kerja yang diam-diam berlaku, ketika sumber Aceh dipakai untuk mengisi tanggal, nama dan peristiwa, sedangkan kerangka penjelasannya diambil dari teori yang dirumuskan di Leiden, London atau universitas-universitas lain. Selama pembagian kerja itu bertahan, Aceh tetap menjadi tambang bahan, dan dekolonisasi berhenti sebagai kritik retoris.
Kolonisasi ilmu itu memiliki sejarah yang dapat ditunjuk dengan cukup tepat. Teori resepsi yang dirumuskan Christiaan Snouck Hurgronje menyatakan bahwa hukum Islam hanya berlaku sejauh diterima oleh hukum adat. Daniel S. Lev mencatat bahwa komisi pemerintah kolonial tahun 1922 mengadopsi sebagian usulan Snouck, dan Indische Staatsregeling 1929 menetapkan bahwa dalam perkara perdata antar-Muslim hukum Islam baru berlaku bila dikehendaki hukum adat. Harry J. Benda mencatat bahwa di Aceh aksi militer terhadap ulama yang dipadukan dengan dukungan kepada kepala adat ikut mengakhiri perang. Entri adat sebagai aturan pemerintahan dan teori resepsi memperlihatkan akibatnya: adat, yang dalam kesultanan berarti aturan pemerintahan yang berjalan seiring dengan hukom, dibaca ulang sebagai hukum kebiasaan, folklor atau warisan budaya. Sebuah teori tentang pemerintahan diubah menjadi data tentang kebiasaan. Entri politik pengetahuan kolonial dan keilmuan era kolonial Belanda menempatkan peristiwa ini dalam jaringan yang lebih luas antara ilmu, birokrasi dan penaklukan.
Ketimpangan itu juga bekerja dalam hierarki sumber Barat dan lokal. Kesaksian seorang pelancong Eropa cenderung diterima sebagai keterangan faktual, sedangkan hikayat dianggap sastra yang harus dicurigai. Kasus panglima laot memperlihatkan bagaimana hierarki itu membentuk pemahaman. Snouck Hurgronje mencatat panglima laot sebagai penyelesai perselisihan antarpawang yang dipilih para pawang, dan gambaran ini menetap sebagai definisi lembaga tersebut. Ketika sumber-sumber kesultanan dan catatan van Vollenhoven, Lombard, Lee Kam Hing dan Zainuddin dibaca ulang, sebagaimana diuraikan dalam entri panglima laot dalam sistem pelabuhan kesultanan, muncul gambaran lain: panglima laot pada mulanya adalah bagian dari aparatur pelabuhan yang bekerja di bawah syahbandar dan uleebalang. Etnografi kolonial merekam keadaan sesudah kesultanan runtuh, lalu keadaan itu dibaca sebagai hakikat lembaganya.
Jawaban yang ditawarkan tesis ini adalah membaca sumber lokal pada tingkat konsepnya. Mābaina al-Salāṭīn tidak hanya mencatat tarif dan upacara; bagian pertamanya, Perintah Segala Raja-raja, mengubah kebajikan raja menjadi tiga puluh satu majelis teknik pemerintahan, dari cara memilih pegawai hingga tata gelar kehormatan. Itu adalah teori administrasi dalam bahasa Melayu-Aceh. Bustān al-Salāṭīn karya Nuruddin ar-Raniri menyimpan teori sejarah yang menempatkan raja-raja Aceh dalam kosmologi Islam. Hadih maja "adat bak Poteumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana" adalah teori pembagian kewenangan. Ungkapan sehari-hari seperti pengetahuan lokal dalam bahasa, tradisi dan nilai menyimpan teori tentang moral dan perubahan sosial. Sumber-sumber ini tidak meminta diterima begitu saja, tetapi meminta diperlakukan setara: sebagai rumusan yang dapat diperdebatkan, diuji dan dikembangkan, sebagaimana teori dari tempat lain.
Makam dan benda mendapat tempat yang sama. Prasasti nisan Minye Tujoh, yang mencatat wafatnya seorang raja pada 14 Zulhijah 781 H (1380) dalam syair Melayu kuno bercampur unsur Sanskerta dan Arab, adalah bukti peralihan budaya tulis dari tradisi Hindu-Buddha ke Islam, dan sekaligus teks yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Pasai merumuskan kematian, keturunan dan kekuasaan. Perdebatan tentang awal Islam di Aceh, seperti yang tampak dalam polemik historiografi Peureulak dan kronotop islamisasi Aceh, memperlihatkan bahwa sumber lokal tidak hanya menyediakan tanggal, tetapi juga cara memahami waktu dan asal-usul. Di sini dekolonisasi menuntut ketelitian ganda: nisan, koin dan naskah harus dibaca secara filologis dan epigrafis dengan disiplin penuh, tetapi kesimpulannya tidak boleh dibatasi oleh pertanyaan yang hanya penting bagi penulis kolonial.
Uji paling jelas bagi tesis ini terjadi ketika satu peristiwa dibaca dari dua arah. Penaklukan Batu Sawar pada 1613 disebut biadab oleh penulis kolonial, tetapi dibaca ulang oleh sejarawan Aceh dan Malaysia sebagai bagian dari persaingan panjang Aceh dan Johor yang berakar pada sikap berbeda terhadap Portugis di Melaka. Hikayat Malem Dagang, yang disunting H.K.J. Cowan pada 1937, memadukan seruan jihad, potret Bandar Aceh dan pandangan Aceh tentang Johor yang dianggap berkhianat, sehingga ia menyediakan sudut pandang yang tidak dimiliki kronik Melayu. Ungkapan "Tuhan jauh, raja dekat", yang direkam Augustin de Beaulieu, baru memperoleh kedalamannya ketika dibaca bersama Perintah Segala Raja-raja, yang di satu sisi meninggikan ulama dan di sisi lain melembagakan laporan tentang sikap para pembesar. Perbedaan antara dua arah bacaan itu bukan gangguan, melainkan bahan bagi teori baru.
Namun tesis ini juga harus menghadapi batasnya sendiri. Dekolonisasi tidak berarti memutlakkan sumber lokal. Sumber lokal memiliki kepentingannya: Mābaina al-Salāṭīn menyandarkan ketentuan yang lahir kemudian kepada Iskandar Muda agar memperoleh wibawa adat tertinggi, sehingga setiap fasalnya harus dibaca menurut lapisan penyalinannya. Sarakata 1909 dibaca Hasan di Tiro sebagai pengakuan peralihan kekuasaan kepada keluarga Tiro, padahal kritik sumber memperlihatkan bahwa surat itu tidak memuat penyerahan kedaulatan. Hikayat seperti Hikayat Prang Sabi adalah karya yang dirancang untuk menggerakkan, bukan untuk menimbang. Dekolonisasi yang jujur karena itu bukan pembalikan hierarki, melainkan penghapusan hierarki: semua sumber, dari mana pun asalnya, diperiksa dengan kritik yang sama.
Ironi lain juga perlu diakui. Banyak sumber Aceh selamat justru karena kerja kolonial. Salinan Mābaina al-Salāṭīn di Leiden dikumpulkan Snouck Hurgronje dan Hazeu, edisi faksimilenya diterbitkan Drewes dan Voorhoeve pada 1958, dan salinan London berpindah melalui diplomasi dengan Pulau Pinang. Sementara itu, salinan yang ditemukan di Indrapuri hilang dalam banjir 1886 dan banyak naskah di Banda Aceh rusak oleh tsunami 2004. Dekolonisasi tidak dapat menolak arsip kolonial; ia harus membacanya dengan pertanyaan baru dan sekaligus membangun kemampuan Aceh sendiri untuk memelihara, menyunting dan menafsirkan sumbernya. Pembahasan tentang keilmuan era bergabung dengan Indonesia mengingatkan bahwa sesudah kemerdekaan pun pusat-pusat penafsiran tidak serta-merta berpindah ke Aceh.
Pertanyaan yang masih terbuka cukup konkret. Suntingan kritis yang membandingkan salinan London, Leiden dan transkripsi Van Langen kata demi kata belum tersedia. Pembacaan ulang prasasti Pasai masih tertunda. Hadih maja belum dikumpulkan dan dianalisis sebagai sistem penalaran, sebagaimana peribahasa Melayu telah dikaji sebagai sumber filsafat. Lebih mendasar lagi, belum ada prosedur yang disepakati untuk menyatakan kapan sebuah konsep lokal telah naik derajat dari data menjadi teori. Tanpa prosedur itu, seruan dekolonisasi mudah berhenti sebagai sikap, bukan metode.
Dalam bangunan Acehnologi, T2 adalah pasangan langsung T1 (Aceh sebagai subjek pengetahuan): bila T1 menentukan kedudukan, T2 menentukan bahan. Ia memberi isi kepada T10 (Kerak peradaban pada perantara), yang menunjuk makam, koin, naskah, hikayat dan bahasa sebagai sumber primer, dan menyiapkan T6 (Frikatifisasi) sebagai cara mengangkat sumber itu menjadi teori. Bacaannya atas teori resepsi menjadi dasar bagi T8 (Dua poros: istana dan ulama) dan T14 (Syariat sebagai tradisi hidup), sedangkan kritiknya atas sumber perlawanan membuka jalan bagi T12 (Aceh lahir dari perang). Di tangga lima lantai, T2 bekerja di fondasi: sebelum spirit dapat dirumuskan, sebelum ide dan filsafat dapat dibangun, dan sebelum tindakan dapat diarahkan, sumber-sumber yang menyimpan semua itu harus dibebaskan dari kedudukannya sebagai sekadar data.
The second thesis holds that social science on Aceh has been colonised, and that decolonising it requires manuscripts, hikayat, hadih maja, sarakata and tombs to be read as sources of theory, not only of data. The emphasis on theory is decisive. Hardly any researcher refuses to use local sources; the problem lies in a division of labour that quietly prevails, in which Acehnese sources are used to supply dates, names and events while the explanatory framework is taken from theories formulated in Leiden, London or other universities. As long as that division of labour holds, Aceh remains a quarry of material, and decolonisation stops at rhetorical critique.
This colonisation of knowledge has a history that can be pointed to quite precisely. The reception theory formulated by Christiaan Snouck Hurgronje held that Islamic law applied only insofar as it had been received by customary law. Daniel S. Lev notes that the colonial government commission of 1922 adopted part of Snouck's proposals, and the Indische Staatsregeling of 1929 laid down that in civil cases between Muslims Islamic law applied only when customary law required it. Harry J. Benda notes that in Aceh military action against the ulama combined with support for customary chiefs helped end the war. The entry on adat as rules of government and reception theory shows the consequence: adat, which in the sultanate meant rules of government running alongside hukom, was reread as customary law, folklore or cultural heritage. A theory of government was turned into data about custom. The entries on the politics of colonial knowledge and scholarship in the Dutch colonial era place this within a wider network linking science, bureaucracy and conquest.
The imbalance also operates through the hierarchy of Western and local sources. A European traveller's testimony tends to be accepted as factual information, whereas a hikayat is treated as literature to be distrusted. The case of the panglima laot shows how this hierarchy shapes understanding. Snouck Hurgronje recorded the panglima laot as a settler of disputes among pawang, chosen by the pawang, and this picture settled into the definition of the institution. When sultanate sources and the notes of van Vollenhoven, Lombard, Lee Kam Hing and Zainuddin are reread, as set out in the entry on the panglima laot in the sultanate's port system, another picture emerges: the panglima laot was originally part of the port apparatus working under the syahbandar and the uleebalang. Colonial ethnography recorded the situation after the sultanate had collapsed, and that situation was then read as the essence of the institution.
The answer this thesis offers is to read local sources at the level of their concepts. The Mābaina al-Salāṭīn does not merely record tariffs and ceremonies; its first part, the Commands to All Kings, turns royal virtue into thirty-one majelis of governmental technique, from how to select officials to the order of honorific titles. That is a theory of administration in Malay-Acehnese. The Bustān al-Salāṭīn of Nuruddin ar-Raniri holds a theory of history that places the kings of Aceh within an Islamic cosmology. The hadih maja "adat bak Poteumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, qanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana" is a theory of the division of authority. Everyday expressions, as in local knowledge in language, tradition and values, hold theories of morality and social change. These sources do not ask to be accepted wholesale; they ask to be treated as equals: as formulations that can be debated, tested and developed, like theories from anywhere else.
Tombs and objects deserve the same standing. The Minye Tujoh gravestone inscription, which records the death of a king on 14 Dhu al-Hijjah 781 AH (1380) in Old Malay verse mixed with Sanskrit and Arabic elements, is evidence of the shift in written culture from the Hindu-Buddhist tradition to Islam, and at the same time a text showing how Pasai society framed death, descent and power. The debate on the beginnings of Islam in Aceh, as seen in the Peureulak historiographical polemic and the chronotope of Aceh's Islamisation, shows that local sources supply not only dates but ways of understanding time and origin. Here decolonisation demands a double rigour: gravestones, coins and manuscripts must be read philologically and epigraphically with full discipline, but their conclusions must not be confined to questions that mattered only to colonial writers.
The clearest test of the thesis comes when one event is read from two directions. The conquest of Batu Sawar in 1613 was called barbaric by colonial writers, but reread by Acehnese and Malaysian historians as part of a long rivalry between Aceh and Johor rooted in their different stances towards the Portuguese in Melaka. The Hikayat Malem Dagang, edited by H.K.J. Cowan in 1937, combines a call to jihad, a portrait of Bandar Aceh and an Acehnese view of Johor as a traitor, so it provides a vantage point that Malay chronicles lack. The phrase "God is far, the king is near", recorded by Augustin de Beaulieu, gains its depth only when read together with the Commands to All Kings, which on the one hand exalts the ulama and on the other institutionalises reports on the attitudes of the grandees. The difference between the two directions of reading is not a nuisance but the raw material of new theory.
Yet the thesis must also face its own limits. Decolonisation does not mean absolutising local sources. Local sources have their interests: the Mābaina al-Salāṭīn attributes later provisions to Iskandar Muda so that they acquire the highest customary authority, so each of its sections must be read according to its layer of copying. The sarakata of 1909 was read by Hasan di Tiro as an acknowledgment that power had passed to the Tiro family, although source criticism shows that the letter contains no transfer of sovereignty. Hikayat such as the Hikayat Prang Sabi are works designed to mobilise, not to weigh. An honest decolonisation is therefore not a reversal of hierarchy but its abolition: every source, wherever it comes from, is examined with the same criticism.
Another irony must also be acknowledged. Many Acehnese sources survived precisely because of colonial work. The Leiden copies of the Mābaina al-Salāṭīn were gathered by Snouck Hurgronje and Hazeu, its facsimile edition was published by Drewes and Voorhoeve in 1958, and the London copy travelled through diplomacy with Penang. Meanwhile, the copy found at Indrapuri was lost in the flood of 1886 and many manuscripts in Banda Aceh were ruined by the 2004 tsunami. Decolonisation cannot reject the colonial archive; it must read it with new questions while building Aceh's own capacity to preserve, edit and interpret its sources. The discussion of scholarship in the era of joining Indonesia reminds us that even after independence the centres of interpretation did not automatically move to Aceh.
The open questions are fairly concrete. A critical edition comparing the London and Leiden copies and Van Langen's transcription word for word is not yet available. The rereading of the Pasai inscriptions is still pending. Hadih maja have not been collected and analysed as a system of reasoning, in the way Malay proverbs have been studied as a source of philosophy. More fundamentally, there is no agreed procedure for declaring when a local concept has risen from data to theory. Without such a procedure, the call for decolonisation easily remains an attitude rather than a method.
In the architecture of Acehnologi, T2 is the direct partner of T1 (Aceh as a subject of knowledge): if T1 fixes the position, T2 fixes the material. It gives content to T10 (The crust of civilisation in its intermediaries), which names tombs, coins, manuscripts, hikayat and language as primary sources, and prepares T6 (Fricativisation) as the way of raising those sources into theory. Its reading of reception theory underpins T8 (Two axes: palace and ulama) and T14 (Sharia as a living tradition), while its criticism of the sources of resistance opens the way for T12 (Aceh born of war). On the five-floor ladder, T2 works at the foundation: before spirit can be formulated, before ideas and philosophy can be built, and before action can be directed, the sources that hold all of these must be freed from their status as mere data.
KonsepConcept (29)
- Aceh dalam historiografi Melayu dan MalaysiaAceh in Malay and Malaysian historiography
- Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsaAceh in area, ethnic and nation-state studies
- Aceh dan studi Islam Asia Tenggara: arus timbal balikAceh and Islamic studies in Southeast Asia: two-way currents
- Bayang-bayang Snouck dalam antropologi AcehSnouck's shadow over the anthropology of Aceh
- Bustān al-Salāṭīn dan ‘belokan Islam’ dalam historiografi MelayuThe Bustān al-Salāṭīn and the ‘Islamic turn’ in Malay historiography
- Delapan isu sentral dalam tulisan tentang AcehEight core themes in writing about Aceh
- Destrukturisasi masyarakat Aceh: kuasa dikontrol, spirit ilmu dibiarkanThe destructuring of Acehnese society: power controlled, the spirit of learning left alive
- Dominasi kajian perang dan redupnya falsafah ke-Aceh-anThe dominance of war studies and the fading of Acehnese philosophy
- Empat toponim Aceh: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah IstimewaAceh’s four toponyms: Serambi Mekkah, Tanah Rencong, Daerah Modal, Daerah Istimewa
- Hierarki sumber Barat dan sumber lokalThe hierarchy of Western and local sources
- Historiografi Aceh di hadapan sejarah nasionalAcehnese historiography and national history
- Keilmuan di era bergabung dengan IndonesiaKnowledge in the era of joining Indonesia
- Keilmuan di era kedatangan penjajah BelandaKnowledge in the era of Dutch colonial arrival
- Kesarjanaan internasional tentang AcehInternational scholarship on Aceh
- Kronotop islamisasi dan ‘the Aceh history’The chronotope of Islamisation and ‘the Aceh history’
- Lokalitas Islam: haruskah kajian Islam Indonesia meninggalkan Nusantara?Islamic locality: should the study of Indonesian Islam leave the archipelago?
- Mazhab-mazhab studi terorisme di IndonesiaSchools of terrorism studies in Indonesia
- Paradigma studi Asia Tenggara: dari proyek kolonial ke kajian pascakolonialParadigms of Southeast Asian studies: from colonial project to postcolonial scholarship
- Pendekatan orientalis dalam studi AcehThe orientalist approach in Aceh studies
- Pengetahuan lokal: terikat bahasa, tradisi, dan nilaiLocal knowledge: bound by language, tradition and values
- Polemik historiografi lokal: Peureulak dan Syi‘ahThe local-historiography polemic: Peureulak and Shi‘ism
- Politik pengetahuan kolonial dalam relasi guru dan muridColonial knowledge politics in teacher–student relations
- Riset asing dan dunia ulama AcehForeign research and the world of the Acehnese ulama
- Sarjana lokal dan peneliti tamu: relasi kuasa dalam riset tentang AcehLocal scholars and visiting researchers: power relations in research on Aceh
- Singkel di antara peta kolonial dan ingatan kampungSingkel between the colonial map and village memory
- Studi subaltern dan akar pascakolonial kajian AcehSubaltern studies and the postcolonial roots of Aceh studies
- Teori pemisahan adat dan hukum IslamThe colonial separation of adat and Islamic law
- Teori resepsi dan pemisahan adat dari hukum IslamReception theory and the separation of adat from Islamic law
- Zona Muslim Asia Tenggara: Islam, konflik etno-religius, dan politik terorismeThe Southeast Asian Muslim Zone: Islam, ethno-religious conflict and the politics of terrorism
Data dan buktiData and evidence (29)
- Abd al-Samad al-PalimbaniAbd al-Samad al-Palimbani
- Abdul Manaf el-Zamzami atau AmelzAbdul Manaf el-Zamzami atau Amelz
- Abu Bakar AcehAbu Bakar Aceh
- Anthony ReidAnthony Reid
- Barbara D. MetcalfBarbara D. Metcalf
- buku induk dan peta bacaanfoundational book and reading map
- Christiaan Snouck Hurgronje dan genealogi orientalisme LeidenChristiaan Snouck Hurgronje and the genealogy of Leiden orientalism
- De Atjehers (Snouck Hurgronje)De Atjehers (The Achehnese), by Snouck Hurgronje
- Dinasti Shalihiyyah: kerangka baru historiografi Samudra PasaiThe Shalihiyyah dynasty: a new framework for the historiography of Samudra Pasai
- Hoesein DjajadiningratHoesein Djajadiningrat
- Joel S. KahnJoel S. Kahn
- John R. BowenJohn R. Bowen
- Kajian Almascaty tentang Habib Abdurrahman dan Habib BugakAlmascaty’s study of Habib Abdurrahman and Habib Bugak
- Langkasuka sebagai imajinasi sejarah dalam sebuah pembacaanLangkasuka as historical imagination in one reading
- Mark DurieMark Durie
- Merakit Bidang Keilmuan AcehnologyBuilding Acehnology as a discipline
- Mohammad Said dan Aceh Sepanjang AbadMohammad Said and Aceh Sepanjang Abad
- Muhammad Arsyad al-BanjariMuhammad Arsyad al-Banjari
- Muhammad Wali al-KhalidyMuhammad Wali al-Khalidy
- MunawiahMunawiah
- Murizal HamzahMurizal Hamzah
- Nasihat Snouck Hurgronje tentang Aceh (3 Januari 1904)Snouck Hurgronje's advice on Aceh (3 January 1904)
- Seminar masuknya Islam ke Indonesia (1963, 1978, 1980) dan ‘Dari Sini Ia Bersemi’The seminars on the coming of Islam to Indonesia (1963, 1978, 1980) and ‘Dari Sini Ia Bersemi’
- Snouck Hurgronje, haji, dan Pan-IslamSnouck Hurgronje, the hajj and Pan-Islamism
- Sulalatus Salatin dan Aceh: perdebatan kepengarangan, tempat dan masa penulisanThe Sulalatus Salatin and Aceh: debates on authorship, place and date of composition
- Survei epigrafi kolonial di Aceh (1908–1917)The colonial epigraphic survey of Aceh (1908–1917)
- Tāj al-Salāṭīn, Bustān al-Salāṭīn dan tradisi PersiaTaj al-Salatin, Bustan al-Salatin and the Persian tradition
- Taufik AbdullahTaufik Abdullah
- Tradisi Kepenulisan Tentang AcehWriting traditions about Aceh