Hoesein Djajadiningrat
1886–1960
Hoesein Djajadiningrat (1886–1960) adalah sarjana pribumi asal Banten, murid Snouck Hurgronje di Leiden, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam kajian sejarah dan bahasa Aceh. Ia menulis tinjauan kritis atas sumber Melayu tentang Kesultanan Aceh, ikut meneliti nisan-nisan sultan Aceh, dan menyusun Kamus Aceh–Belanda yang terbit pada 1934.
Hoesein Djajadiningrat (1886–1960) was an indigenous scholar from Banten and a student of Snouck Hurgronje at Leiden who became a key figure in the study of Acehnese history and language. He wrote a critical review of Malay sources on the Aceh sultanate, took part in the study of the tombstones of Aceh’s sultans, and compiled the Acehnese–Dutch dictionary published in 1934.
Hoesein lahir dalam keluarga priyayi Banten; ayahnya, Raden Djajawinata, Bupati Serang, mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan Eropa. Snouck Hurgronje mula-mula menaruh harapan pada kakaknya, Achmad, tetapi kemudian beralih kepada Hoesein. Setelah Hoogere Burger School di Batavia, Hoesein belajar di Universitas Leiden pada 1905–1913 di bawah bimbingan Snouck. Pada 1911 ia menerbitkan tinjauan kritis berseri tentang data sejarah Kesultanan Aceh dalam karya-karya Melayu, dan pada 1913 mempertahankan disertasi tentang Sajarah Banten, satu-satunya kandidat doktor dari Hindia Belanda saat itu.
Sepulang ke Hindia, ia bergabung dengan komisi Volkslectuur dan pada April 1914 dikirim ke Kutaraja untuk meneliti batu nisan serta mengumpulkan kosakata bahasa Aceh. Bersama J.P. Moquette dan J.J. de Vink ia menelusuri makam di Kandang Meuh, Gunongan, dan Pasai, termasuk nisan Sultan Malik al-Salih, dan temuan makam lima sultan pertama Aceh diberitakan pada Juni 1914. Hasil kerja kebahasaannya memuncak pada Kamus Aceh–Belanda dua jilid yang terbit pada 1934.
Kariernya bergerak antara ilmu dan birokrasi. Ia memimpin Java Instituut, mengajar hukum Islam dan bahasa-bahasa lokal di Rechtshogeschool Batavia sejak 1924, lalu pada 1935 diangkat menjadi anggota Raad van Indië menggantikan Achmad. Snouck sebenarnya berharap muridnya tetap di jalur ilmiah. Perpindahan ini dibaca para sejarawan sebagai contoh sarjana yang menjadi birokrat negara kolonial.
Bagi studi Aceh, Hoesein adalah figur ambivalen: pribumi yang menjadi perantara pengetahuan antara dunia lokal, Islam, dan Barat, tetapi bekerja dalam kerangka yang memberi otoritas lebih besar kepada sumber Eropa. Sebuah patung dadanya karya Aart Schonk diresmikan di gedung akademik Universitas Leiden pada 2014.
Hoesein was born into a Bantenese priyayi family; his father, Raden Djajawinata, regent of Serang, encouraged his children to pursue European education. Snouck Hurgronje first placed his hopes in Hoesein’s elder brother Achmad but later turned to Hoesein. After the Hoogere Burger School in Batavia, Hoesein studied at Leiden University from 1905 to 1913 under Snouck. In 1911 he published a serial critical survey of historical data on the Aceh sultanate in Malay works, and in 1913 he defended a dissertation on the Sajarah Banten, the only doctoral candidate from the Indies at the time.
Back in the Indies he joined the Volkslectuur commission, and in April 1914 he was sent to Kutaraja to study gravestones and collect Acehnese vocabulary. With J.P. Moquette and J.J. de Vink he traced tombs at Kandang Meuh, Gunongan and Pasai, including the gravestone of Sultan Malik al-Salih, and the discovery of the tombs of Aceh’s first five sultans was reported in June 1914. His linguistic work culminated in the two-volume Acehnese–Dutch dictionary of 1934.
His career moved between scholarship and bureaucracy. He chaired the Java Instituut, taught Islamic law and local languages at the Batavia Rechtshogeschool from 1924, and in 1935 was appointed to the Raad van Indië in place of Achmad. Snouck had hoped his student would remain on the scholarly path. Historians read the move as an example of a scholar becoming a bureaucrat of the colonial state.
For Aceh studies, Hoesein is an ambivalent figure: an indigenous intermediary of knowledge between the local, Islamic and Western worlds, yet working within a frame that gave greater authority to European sources. A bust of him by Aart Schonk was unveiled in the academic building of Leiden University in 2014.
Gagasan kunciKey ideas
Perantara pengetahuanIntermediary of knowledge
Ia menjembatani dunia pribumi, Islam, dan Barat.He bridged the indigenous, Islamic and Western worlds.
Dari nisan ke kamusFrom gravestones to a dictionary
Penelitian lapangan di Aceh menghasilkan kronologi dan leksikon.Fieldwork in Aceh yielded a chronology and a lexicon.
Ilmu dan birokrasiScholarship and bureaucracy
Kariernya berakhir di puncak birokrasi kolonial.His career ended at the top of the colonial bureaucracy.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah Hoesein lebih tepat dibaca sebagai agen kolonial, perantara, atau perintis kesarjanaan pribumi?Is Hoesein better read as a colonial agent, an intermediary, or a pioneer of indigenous scholarship?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hoesein Djajadiningrat”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hoesein-djajadiningrat/