Tradisi menulis utuh dan tuntasThe tradition of complete, exhaustive writing
Abad ke-17 hingga abad ke-20Seventeenth to twentieth centuries
Salah satu hikmah tradisi keilmuan Aceh adalah kebiasaan menulis sebuah bangunan ilmu secara utuh dan tuntas, lalu membiarkan generasi berikutnya menilai, menafsirkan, atau bahkan menentangnya. Contohnya Bustān al-Salāṭīn karya Nuruddin ar-Raniry tentang sejarah dunia dan kerajaan Aceh, Tarjumān al-Mustafīd karya ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili, serta karya-karya Hamzah Fansuri. Pada abad ke-20 tradisi ini berlanjut melalui Hasbi Ash-Shiddieqy, Ali Hasjmy, dan H.M. Zainuddin. Tradisi ini dijadikan teladan bagi penyusunan studi Aceh yang bersifat ensiklopedis.
One lesson of Aceh's scholarly tradition is the habit of writing a body of knowledge completely and exhaustively, then leaving later generations to assess, interpret or even contest it. Examples include Nuruddin ar-Raniry's Bustān al-Salāṭīn on world history and the Acehnese kingdom, ‘Abd al-Ra’uf al-Singkili's Tarjumān al-Mustafīd, and the works of Hamzah Fansuri. In the twentieth century the tradition continued through Hasbi Ash-Shiddieqy, Ali Hasjmy and H.M. Zainuddin. It serves as the model for an encyclopaedic Aceh studies.
Tradisi ini dibaca dalam kerangka yang lebih luas tentang bagaimana sebuah arus utama ilmu terbentuk. Dalam sejarah intelektual Islam dan Barat, karya-karya berjilid yang menuntaskan satu konsep sering menjadi tonggak: al-Umm karya Imam al-Syafi‘i, karya mistik Ibn ‘Arabi, kitab standar al-Ghazali, karya ‘Abd al-Samad al-Palimbani, hingga studi modern seperti karya Marshall G.S. Hodgson tentang peradaban Islam dan karya Denys Lombard tentang Jawa yang memperkenalkan gagasan silang budaya. Dalam konteks Aceh, dua jilid etnografi Snouck Hurgronje dipandang sebagai konstruksi yang paling sulit ditandingi. Pelajarannya, untuk menghasilkan arus utama ilmu, sebuah kajian perlu disajikan secara ensiklopedis.
Praktik membaca karya utuh juga hidup di dayah. Para santri menghabiskan sebagian besar masa mudanya membaca halaman demi halaman kitab yang menjadi standar pemahaman keyakinan. Ketekunan ini menunjukkan bahwa pemahaman otentik atas seorang pemikir menuntut pembacaan menyeluruh, bukan kutipan.
Dampak tradisi ini terasa hingga kini. Siapa pun yang menggali sejarah dunia dan kerajaan Aceh tidak dapat melewati Bustān al-Salāṭīn, dan Tafsīr al-Nūr karya Hasbi Ash-Shiddieqy menandai capaian tafsir berbahasa Indonesia. Data dari para sarjana lokal yang menyajikan Aceh 'dari A sampai Z' kadang dipersoalkan oleh peneliti sesudahnya, tetapi semangat menghadirkan karya yang utuh tidak pernah luntur. Salah satu warisan peradaban, menurut cara pandang ini, adalah karya yang mencerahkan kaumnya dan membentuk cara pandang kaum tersebut.
The tradition is read within a broader account of how a mainstream of knowledge is formed. In Islamic and Western intellectual history, multi-volume works that exhaust a concept often become landmarks: al-Shafi‘i's al-Umm, Ibn ‘Arabi's mystical corpus, al-Ghazali's standard works, the writings of ‘Abd al-Samad al-Palimbani, and modern studies such as Marshall G.S. Hodgson's history of Islamic civilisation and Denys Lombard's study of Java with its notion of cultural crossroads. For Aceh, Snouck Hurgronje's two-volume ethnography is regarded as the hardest construction to rival. The lesson is that producing a mainstream of knowledge requires encyclopaedic presentation.
The practice of reading whole works also lives in the dayah. Students spend a large part of their youth reading, page by page, the books that set the standard of belief. Such diligence shows that authentic understanding of a thinker demands complete reading, not quotation.
The tradition's impact is still felt. Anyone researching world history and the Acehnese kingdom cannot bypass Bustān al-Salāṭīn, and Hasbi Ash-Shiddieqy's Tafsīr al-Nūr marks a milestone of Qur'anic exegesis in Indonesian. Data offered by local authors presenting Aceh 'from A to Z' have sometimes been questioned by later researchers, but the commitment to producing complete works never faded. One legacy of a civilisation, in this view, is a body of writing that enlightens its people and shapes how they see the world.
Gagasan kunciKey ideas
EnsiklopedisEncyclopaedic
Arus utama ilmu lahir dari karya yang menuntaskan satu konsep (al-mausū‘ah).A mainstream of knowledge grows from works that exhaust a concept (al-mausū‘ah).
Tulis lalu serahkanWrite, then hand over
Karya ditulis tuntas, lalu generasi berikutnya bebas menilai dan menentangnya.Works are written in full, then later generations are free to judge and contest them.
Kesinambungan modernModern continuity
Hasbi Ash-Shiddieqy, Ali Hasjmy, dan H.M. Zainuddin meneruskan pola ini pada abad ke-20.Hasbi Ash-Shiddieqy, Ali Hasjmy and H.M. Zainuddin carried the pattern into the twentieth century.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Di era artikel jurnal yang pendek, apa yang hilang ketika tradisi menulis secara utuh dan tuntas ditinggalkan?In an age of short journal articles, what is lost when the tradition of complete, exhaustive writing is abandoned?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Tradisi menulis utuh dan tuntas”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/tradisi-menulis-utuh-dan-tuntas/