De Atjehers (Snouck Hurgronje)De Atjehers (The Achehnese), by Snouck Hurgronje
Terbit 1893 (E.J. Brill), dua jilid; kerja lapangan Juli 1891–Februari 1892Published 1893 (E.J. Brill), two volumes; fieldwork July 1891–February 1892
De Atjehers adalah karya dua jilid Christiaan Snouck Hurgronje tentang masyarakat Aceh yang terbit pada 1893 dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Indonesia. Melalui karya ini, Aceh sebagaimana dipahami seorang antropolog kolonial menjadi pintu utama bagi ilmuwan sosial dan humaniora memahami Aceh. Paul van ’t Veer memujinya sebagai telaah antropologi budaya yang paling lengkap tentang wilayah mana pun di Hindia Belanda. Namun karya ini juga merupakan produk riset yang dirancang untuk kepentingan perang dan kebijakan kolonial.
De Atjehers is Christiaan Snouck Hurgronje's two-volume study of Acehnese society, published in 1893 and later translated into English and Indonesian. Through it, Aceh as understood by a colonial anthropologist became the main gateway through which social scientists and humanists came to know Aceh. Paul van 't Veer praised it as the most complete cultural-anthropological study of any part of the Netherlands Indies. Yet the work was also the product of research designed to serve war and colonial policy.
Snouck menyebut dirinya berada di Aceh dari Juli 1891 hingga Februari 1892, hampir delapan belas tahun setelah perang dimulai; penyelidikan lapangannya sering disebut berlangsung sekitar enam bulan. Dalam waktu itu ia memperoleh gambaran rinci tentang tata pemerintahan di Aceh Besar, dan jilid pertama melukiskan swapraja Aceh setelah kejatuhan kesultanan di Dalam. Van ’t Veer, yang membacanya tujuh puluh tahun kemudian, menilai bahwa untuk pertama kalinya, dua puluh tahun sesudah perang, menjadi jelas keadaan Aceh, penduduknya, pentingnya adat dan agama, serta pikiran dan tulisan orang Aceh tentang perang.
Secara metodologis, karya ini dapat dibaca melalui kacamata fungsionalisme. John Beattie menjelaskan bahwa pendekatan fungsional mencari hubungan antara hal-hal yang tampak terpisah, dan karena itu harus menunggu berkembangnya kerja lapangan intensif. Snouck, dari Mekkah hingga Kutaraja, bekerja dengan cara itu: ia mengurai hubungan antarinstitusi sosial dalam kehidupan nyata untuk memahami gagasan dan nilai orang Aceh, sebagaimana sebelumnya ia memotret komunitas Jawah di Mekkah.
Telaah kritis menunjukkan bahwa pemotretan dari Aceh Besar itu bukan potret netral. Snouck ‘menenggelamkan’ peran ulama dan bukti historis peraturan kerajaan, lalu menonjolkan adat tak tertulis sebagai kekuatan yang benar-benar hidup. Ritual, standar perilaku, dan kebiasaan dari keurija udép hingga keurija maté diarahkan sebagai ranah otonom yang lepas dari otoritas ulama. Ibrahim Alfian menyebut riset ini bentuk ‘policy science’, yakni mencari jawaban teknis atas masalah politik dengan pengetahuan sosial ilmiah.
Pengaruh De Atjehers melampaui sejarah Aceh. Kerangka adatnya memengaruhi Van Vollenhoven dan melahirkan disiplin hukum adat. Karena kuatnya pengaruh ini, nyaris tidak ada ruang untuk mengkritik Snouck sebagai ilmuwan di Barat, sementara di Aceh namanya dikenang dengan getir.
Snouck states that he was in Aceh from July 1891 to February 1892, nearly eighteen years after the war began; his field inquiry is often said to have lasted about six months. In that time he obtained a detailed picture of governance in Aceh Besar, and the first volume describes Acehnese self-rule after the fall of the sultanate's court (Dalam). Van 't Veer, reading it seventy years later, judged that for the first time, twenty years into the war, the real situation in Aceh became clear: its people, the importance of adat and religion, and what Acehnese thought and wrote about the war.
Methodologically the work can be read through functionalism. John Beattie explains that the functional approach seeks connections between things that seem separate and therefore had to await intensive fieldwork. Snouck, from Mecca to Kutaraja, worked in this way, tracing links between social institutions in real life to understand Acehnese ideas and values, as he had earlier portrayed the Jawah community in Mecca.
Critical reading shows that this portrait from Aceh Besar was not neutral. Snouck ‘submerged’ the role of the ulama and the historical evidence of royal regulation, foregrounding unwritten adat as the truly living force. Rituals, norms of conduct and customs, from life-cycle to funeral observances (keurija udép to keurija maté), were presented as an autonomous sphere detached from ulama authority. Ibrahim Alfian called this research a form of ‘policy science’, seeking technically correct answers to political problems through scientific social knowledge.
The influence of De Atjehers reaches beyond Acehnese history. Its framing of adat shaped Van Vollenhoven's work and gave rise to the discipline of adat law. So strong was its influence that there was little room to criticise Snouck as a scholar in the West, while in Aceh his name is remembered with bitterness.
Gagasan kunciKey ideas
Pintu utama pengetahuan tentang AcehThe main gateway to knowledge of Aceh
Aceh versi antropolog kolonial menjadi rujukan baku ilmu sosial.The colonial anthropologist's Aceh became the standard reference for social science.
Kerja lapangan fungsionalisFunctionalist fieldwork
Hubungan antarinstitusi dalam kehidupan nyata ditelusuri untuk memahami nilai.Links between institutions in real life were traced to grasp values.
Seleksi yang politisA political selection
Adat ditonjolkan, ulama dan sejarah kerajaan ditenggelamkan.Adat was foregrounded; ulama and royal history were submerged.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana membaca De Atjehers secara produktif hari ini: sebagai sumber etnografi, sebagai dokumen kolonial, atau keduanya sekaligus?How can De Atjehers be read productively today: as an ethnographic source, a colonial document, or both at once?
Kutip entri ini:Cite this entry: “De Atjehers (Snouck Hurgronje)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/de-atjehers/