Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsaAceh in area, ethnic and nation-state studies

Analisis tentang bagaimana pembagian ilmu sosial menurut ‘arah mata angin’, suku-bangsa, dan negara-bangsa menempatkan Aceh di pinggiran. Studi kawasan Asia Tenggara bergeser dari kajian suku-bangsa dominan (Cina, India, Melayu) ke studi negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura. Dalam kerangka itu, Aceh tampil kuat untuk periode prakolonial dan kolonial, tetapi meredup setelah kemerdekaan. Ia menjadi ‘daerah’ bagi Indonesia dan ‘nostalgia’ bagi Malaysia.

An analysis of how the division of the social sciences by ‘compass point’, ethnic group and nation-state has pushed Aceh to the margins. Southeast Asian studies moved from the study of dominant ethnic groups (Chinese, Indian, Malay) to the study of states such as Indonesia, Malaysia, Thailand and Singapore. Within that framework Aceh looms large for the pre-colonial and colonial periods but fades after independence. It becomes a ‘region’ for Indonesia and a source of ‘nostalgia’ for Malaysia.

Ilmu sosial modern lahir dari pengamatan atas gejala tertentu: sosiologi dari perubahan sosial di Eropa, antropologi dari kerja lapangan di berbagai belahan dunia. Di samping itu berkembang studi kawasan yang membagi dunia menurut arah mata angin, misalnya Orientalisme dan Oksidentalisme, atau Sosiologi dan Antropologi Asia Tenggara. Para peneliti besar tetap memulai dari komunitas kecil, seperti Clifford Geertz di Mojokuto, Shamsul Amri Baharuddin di kampung-kampung Selangor, Joel S. Kahn di Sumatra Barat, dan Philip Taylor di Vietnam, lalu menarik kesimpulan ke tingkat kawasan.

Di Asia Tenggara, studi kawasan pertama-tama mengambil bentuk kajian suku-bangsa yang dianggap dominan: Cina, India, dan Melayu. Pengaruh Barat sulit dikaji sebagai ‘arah mata angin’ karena Barat sendiri terbagi, sehingga istilah kolonialisme dipakai untuk menguji apakah demokrasi, negara-bangsa, sekularisme, dan pluralisme cocok dengan masyarakat setempat. Tahap berikutnya adalah studi negara-bangsa, yang cenderung berpusat pada kelompok dominan: Jawa bagi Indonesia, Melayu bagi Malaysia, Thai bagi Thailand, dan Cina bagi Singapura. Kelompok di luar orbit kekuasaan pun dibaca terutama melalui lensa ‘perlawanan’.

Dalam peta ini Aceh terlalu ‘kecil’ untuk menjadi pusat. Sejarah Melayu dan Nusantara tidak lengkap tanpa Aceh, tetapi setelah kemerdekaan Aceh kerap direduksi menjadi bahan kecil kajian Indonesia, sementara kajian pascakolonial tentangnya didominasi tema perlawanan terhadap pusat. Akibatnya, konsep-konsep dasar dalam kehidupan rakyat Aceh jarang diteliti.

The modern social sciences grew out of attention to particular phenomena: sociology from social change in Europe, anthropology from fieldwork around the world. Alongside them grew area studies, which divide the world by compass point, as in Orientalism and Occidentalism, or the sociology and anthropology of Southeast Asia. Even leading scholars begin with small communities, such as Clifford Geertz in Mojokuto, Shamsul Amri Baharuddin in Selangor villages, Joel S. Kahn in West Sumatra and Philip Taylor in Vietnam, and then generalise to the regional level.

In Southeast Asia, area studies first took the form of studying the supposedly dominant ethnic groups: Chinese, Indian and Malay. Western influence was hard to study as a ‘compass point’ because the West is itself divided, so the term colonialism took its place, testing whether democracy, the nation-state, secularism and pluralism fit local societies. The next stage was nation-state studies, which tend to centre on the dominant group: the Javanese in Indonesia, the Malays in Malaysia, the Thai in Thailand and the Chinese in Singapore. Groups outside the orbit of power are then read mainly through the lens of ‘resistance’.

On this map Aceh is too ‘small’ to be a centre. Malay and archipelagic history are incomplete without it, yet after independence Aceh was often reduced to minor material within Indonesian studies, while post-colonial scholarship on it was dominated by the theme of resistance to the centre. As a result, the basic concepts of Acehnese everyday life have seldom been studied.

Gagasan kunciKey ideas

Ilmu menurut arah mata anginKnowledge by compass point

Pembagian kawasan seperti ‘Timur’, ‘Barat’, dan ‘Tenggara’ ikut menentukan apa yang dianggap layak diteliti.Regional labels such as ‘East’, ‘West’ and ‘Southeast’ shape what is considered worth studying.

Dominasi kelompok pusatDominance of the core group

Studi negara-bangsa cenderung mengikuti kelompok yang berkuasa, sehingga kelompok pinggiran dibaca sebagai ‘perlawanan’.Nation-state studies follow the dominant group, so peripheral groups are read as ‘resistance’.

Aceh sebagai ‘bab’Aceh as a ‘chapter’

Aceh penting untuk sejarah prakolonial dan kolonial, tetapi hanya menjadi satu bab dalam literatur tentang negara modern.Aceh matters for pre-colonial and colonial history but is only a chapter in literature on the modern state.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah kerangka negara-bangsa masih memadai untuk memahami masyarakat yang dahulu merupakan pusat kekuasaan sendiri?Is the nation-state framework adequate for understanding a society that was once a centre of power in its own right?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsa”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-dalam-studi-kawasan-dan-negara-bangsa/