Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sejarah Aceh sebagai bidang ilmuAcehnese history as a field of study

Usulan untuk memperlakukan Sejarah Aceh sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri, bukan bagian yang larut dalam Sejarah Asia Tenggara, Sejarah Melayu, atau Sejarah Indonesia. Cabang ini mencakup sejarah asal-usul, politik, perjuangan, intelektual, sosial, pendidikan, hubungan internasional, dan sejarah ide. Bahannya dianggap sudah tersedia dalam hikayat, kitab, dan penelitian. Fungsinya adalah membangkitkan kesadaran identitas.

A proposal to treat Acehnese history as a self-standing branch of knowledge rather than one that dissolves into Southeast Asian, Malay or Indonesian history. The branch covers the history of origins, politics, struggle, intellectual life, society, education, international relations and ideas. Its material is held to exist already in hikayat, kitab and research. Its purpose is to awaken a consciousness of identity.

Sejarah Aceh didefinisikan sebagai ilmu tentang peristiwa yang berlaku dalam ruang dan waktu di Aceh, baik masa lalu, kini, maupun yang akan datang. Masalahnya, peristiwa-peristiwa itu selama ini menopang bidang lain. Masa prakolonial dan kolonial masuk ke Sejarah Asia Tenggara dan Sejarah Melayu; masa pascakemerdekaan masuk ke Sejarah Indonesia; peristiwa mutakhir masuk ke kajian konflik. Contoh yang diangkat adalah Bustān al-Salāṭīn karya Nuruddin ar-Raniry, yang memuat peristiwa di Aceh tetapi lazim diperlakukan sebagai bagian Sejarah Melayu, sementara Sulālat al-Salāṭīn menjadi fondasi historiografi Melayu.

Ketika diserap ke dalam narasi nasional, peristiwa Aceh juga disaring. Perang melawan Belanda dimasukkan sebagai sejarah nasional yang menguntungkan, sedangkan perlawanan terhadap pemerintah pusat dibaca sebagai ancaman dan diperlakukan hati-hati dalam kurikulum. Argumen ini menyimpulkan bahwa pembahasan yang mengikuti kepentingan bidang lain telah merugikan Aceh sendiri.

Cakupan yang diusulkan cukup luas: asal-usul orang Aceh (berlanjut ke arkeologi), sejarah politik dan kerajaan, sejarah perjuangan, sejarah intelektual melalui biografi ulama dan sarjana, sejarah sosial, sejarah pendidikan (peran ulama Timur Tengah, dayah, dan madrasah), sejarah diplomasi dengan Nusantara, Eropa, dan Asia Timur, serta sejarah ide. Sejarah dipandang sebagai cermin peradaban, bahkan ‘ratu ilmu-ilmu’, sehingga cabang ini berfungsi menegaskan materi studi Aceh di hadapan ilmu sosial dan humaniora.

Acehnese history is defined as the study of events that occur in Acehnese space and time, past, present and future. The problem is that these events have so far propped up other fields. The pre-colonial and colonial periods feed Southeast Asian and Malay history; the post-independence period feeds Indonesian history; recent events feed conflict studies. The example given is Nuruddin ar-Raniry's Bustān al-Salāṭīn, which records events in Aceh yet is usually treated as part of Malay history, while the Sulālat al-Salāṭīn serves as the foundation of Malay historiography.

When absorbed into the national narrative, Acehnese events are also filtered. The war against the Dutch is counted as useful national history, while resistance to the central government is read as a threat and handled cautiously in the curriculum. The argument concludes that treating Aceh according to other fields' interests has worked against Aceh itself.

The proposed scope is broad: Acehnese origins (leading into archaeology), political history and the kingdoms, the history of struggle, intellectual history through biographies of ulama and scholars, social history, the history of education (the role of Middle Eastern ulama, dayah and madrasah), the history of diplomacy with the archipelago, Europe and East Asia, and the history of ideas. History is seen as a mirror of civilisation, even the ‘queen of sciences’, so this branch serves to affirm the substance of Aceh studies before the social sciences and humanities.

Gagasan kunciKey ideas

Peristiwa yang dipinjamBorrowed events

Peristiwa Aceh selama ini menopang sejarah Melayu dan Indonesia, bukan sejarahnya sendiri.Acehnese events have long supported Malay and Indonesian history rather than a history of their own.

Penyaringan nasionalNational filtering

Narasi nasional mengambil peristiwa yang selaras dan meminggirkan yang tidak.The national narrative adopts congenial episodes and sidelines others.

Bahan sudah tersediaThe material exists

Hikayat, kitab, dan penelitian sudah cukup untuk menyusun cabang ini.Hikayat, kitab and research already suffice to build this branch.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Siapa yang berhak menentukan peristiwa mana yang masuk ke dalam sejarah sebuah bangsa?Who decides which events belong in a nation's history?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sejarah Aceh sebagai bidang ilmu”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sejarah-aceh-sebagai-bidang-ilmu/