BidangField 05
Naskah & Tradisi IntelektualManuscripts & Intellectual Tradition
Manuskrip Jawi dan Arab, historiografi bercorak Persia, tradisi pengajian kitab, serta warisan tulisan para ulama Aceh.Jawi and Arabic manuscripts, Persian-inflected historiography, the tradition of kitab study, and the textual legacy of Acehnese scholars.
5.1 Historiografi & sastra bercorak PersiaPersianate historiography & literature
5.2 Islamisasi ilmu & warisan intelektualIslamisation of knowledge & intellectual heritage
KonsepConcept Hamzah Fansuri dan Hegel: membaca ‘spirit’ lintas tradisiHamzah Fansuri and Hegel: reading ‘spirit’ across traditions
Usulan perbandingan antara Hamzah Fansuri dan G.W.F. Hegel (1770–1831) sebagai dua pemikir yang sama-sama berbicara tentang spirit. Hamzah biasanya dibaca bersama Ibn ‘Arabi, sedangkan Hegel bersama Kant. Perbandingan ini menyoroti…A proposed comparison between Hamzah Fansuri and G.W.F. Hegel (1770–1831) as two thinkers who both wrote about spirit. Hamzah is usually read alongside Ibn ‘Arabi, Hegel alongside Kant. The comparison…
KonsepConcept Islam rasional dan reintegrasi ilmu di IAINRational Islam and the integration of knowledge at IAIN
Sejak 1970-an, studi Islam di Indonesia diarahkan ke Barat, dengan Harun Nasution sebagai arsitek model Islam rasional di IAIN. Pendekatannya bertumpu pada rasionalitas, membuka posisi ilmu kalam, dan mengembangkan studi…From the 1970s, Islamic studies in Indonesia were oriented towards the West, with Harun Nasution as the architect of the rational-Islam model at IAIN. His approach rested on rationality, opened…
KonsepConcept Islamisasi ilmu di Aceh: peluang dan hambatanIslamising knowledge in Aceh: prospects and obstacles
Islamisasi ilmu dipandang sebenarnya telah dimulai di Aceh melalui warisan Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry, tetapi kini tertinggal dan masih sebatas wacana. Pendidikan tinggi di Aceh dinilai terlalu berorientasi pada…The Islamisation of knowledge is seen as having in fact begun in Aceh through the legacy of Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri, but it now lags behind and remains mere…
KonsepConcept Islamisasi Ilmu PengetahuanIslamisation of Knowledge
Islamisasi Ilmu Pengetahuan (IIP) adalah gerakan intelektual untuk menyatukan kembali ilmu modern dengan landasan tauhid, sehingga dikotomi ilmu agama dan ilmu umum dihapus. Diskusinya muncul di Asia Tenggara pada 1970-an…The Islamisation of Knowledge is an intellectual movement seeking to reunite modern knowledge with the foundation of tawhid, abolishing the split between religious and secular sciences. Discussion of it emerged…
KonsepConcept Keterputusan metafisika dan lahirnya pengetahuan di luar istanaMetaphysical rupture and the rise of knowledge outside the palace
Tesis bahwa pemikiran metafisis Aceh tidak memiliki kesinambungan karena doktrin sufi tercerabut dari istana setelah era Hamzah Fansuri, lalu krisis internal, kolonialisme, dan perang memindahkan produksi pengetahuan ke luar istana.…A thesis that Acehnese metaphysical thought lacks continuity because Sufi doctrine was uprooted from the palace after Hamzah Fansuri's era, and internal crisis, colonialism and war then moved the production…
KonsepConcept Krisis spirit intelektual Aceh dan sarjana otodidak abad ke-20The crisis of Aceh's intellectual spirit and its self-made 20th-century scholars
Analisis ini menelusuri pergeseran orientasi pendidikan Aceh: dari mempertemukan makrokosmos dan mikrokosmos menjadi terpaku pada kesalehan individual. Pergeseran itu dikaitkan dengan tersingkirnya Hamzah Fansuri, kolonialisme, dan penyerapan ke dalam kosmologi…This analysis traces a shift in the orientation of Acehnese education: from joining macrocosm and microcosm to a narrow focus on individual piety. The shift is tied to the sidelining…
TokohFigure Syed Muhammad Naquib al-Attas
Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah pemikir Malaysia yang menjadi tokoh sentral Islamisasi Ilmu Pengetahuan di Asia Tenggara. Ia mengembangkan ISTAC sebagai pusat kajian pemikiran dan peradaban Islam. Kajiannya tentang Hamzah…Syed Muhammad Naquib al-Attas is a Malaysian thinker and a central figure of the Islamisation of Knowledge in Southeast Asia. He developed ISTAC as a centre for the study of…
KonsepConcept Warisan Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-RaniryThe legacy of Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri
Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniry adalah dua ulama besar dalam sejarah intelektual Aceh yang pandangannya saling berseberangan. Meski berlawanan, keduanya meninggalkan warisan dinamika intelektual yang sangat berharga. Kejayaan Aceh di…Hamzah Fansuri and Nuruddin ar-Raniri are two great scholars in Aceh's intellectual history whose views stood in opposition. Despite their disagreement, both left a highly valuable legacy of intellectual dynamism.…
5.3 Kajian Aceh & kesarjanaan internasionalAceh studies & international scholarship
TokohFigure Anthony Reid
Anthony Reid adalah sejarawan Asia Tenggara yang kerap disebut sebagai peletak dasar kajian Aceh modern. Banyak karyanya bersentuhan dengan sejarah dan kebudayaan Aceh, dan perhatian itu bertahan meski ia berpindah-pindah…Anthony Reid is a historian of Southeast Asia often described as the founder of modern Aceh studies. Much of his work engages with Acehnese history and culture, an interest he…
TokohFigure Denys Lombard
Denys Lombard adalah sejarawan Prancis yang karyanya tentang kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636) menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang mempelajari masa kejayaan Aceh. Ia berpijak pada…Denys Lombard was a French historian whose study of the Acehnese kingdom under Sultan Iskandar Muda (1607–1636) is essential reading for anyone studying Aceh's golden age. He worked in the…
TokohFigure John R. Bowen
John R. Bowen adalah antropolog asal Amerika Serikat yang karyanya menjadi kajian antropologi modern pertama tentang masyarakat Gayo. Berbeda dari uraian kolonial yang memandang Gayo lewat kacamata Aceh pesisir, Bowen…John R. Bowen is an American anthropologist whose work constitutes the first modern anthropological account of the Gayo. Unlike colonial accounts that saw the Gayo through the eyes of the…
KonsepConcept Kesarjanaan internasional tentang AcehInternational scholarship on Aceh
Kajian tentang Aceh telah lama dibentuk oleh para sarjana dari luar, mulai dari Snouck Hurgronje hingga generasi peneliti pascakonflik. Anthony Reid kerap dipandang sebagai peletak dasar kajian Aceh modern, sementara…Knowledge about Aceh has long been shaped by scholars from outside, from Snouck Hurgronje to the generation of post-conflict researchers. Anthony Reid is often regarded as the founder of modern…
KonsepConcept Studi kawasan dan perbandingan hukum Islam di Asia TenggaraArea studies and comparative Islamic law in Southeast Asia
Pendekatan ini membaca hukum Islam bukan semata sebagai doktrin, melainkan sebagai praktik yang hidup dalam kawasan tertentu dan dapat dibandingkan lintas negara. M.B. Hooker menjadi rujukan pokok kajian hukum Islam…This approach reads Islamic law not merely as doctrine but as a living practice within particular regions that can be compared across states. M.B. Hooker is the standard reference for…
5.4 Kitab Jawi & tradisi pengajianJawi texts & study traditions
NaskahText Mir’āt al-ṬullābMir'at al-Tullab
Mir’āt al-Ṭullāb adalah kitab fikih karya Syeikh Abdurrauf al-Singkili yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin. Kitab ini menjadi contoh karya ulama yang lahir dari kebutuhan penguasa akan pedoman hukum. Kehadirannya…The Mir'at al-Tullab is a fiqh treatise by Shaykh Abd al-Ra'uf al-Singkili, written at the request of Sultanah Safiyatuddin. It exemplifies a scholar's work born of a ruler's need for…
NaskahText Sabīl al-Muhtadīn dan Sīr al-SālikīnSabīl al-Muhtadīn and Sīr al-Sālikīn
Sabīl al-Muhtadīn karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Sīr al-Sālikīn karya Syekh ‘Abd al-Samad al-Palimbani adalah dua kitab Jawi yang hingga kini dikaji di pengajian rakyat Aceh. Keduanya berisi ibadah…Sabīl al-Muhtadīn by Shaykh Muhammad Arsyad al-Banjari and Sīr al-Sālikīn by Shaykh ‘Abd al-Samad al-Palimbani are two Jawi texts still studied in popular study circles in Aceh. Both deal with…
NaskahText Ṣirāṭ al-MustaqīmSirat al-Mustaqim
Ṣirāṭ al-Mustaqīm adalah kitab fikih karya Nuruddin ar-Raniry yang menjadi pegangan studi hukum Islam di Aceh. Kitab ini contoh utama karya ulama yang lahir dari kehendak penguasa untuk memiliki pedoman…The Sirat al-Mustaqim is a fiqh treatise by Nuruddin ar-Raniri that became a standard reference for Islamic law in Aceh. It is a prime example of a scholar's work born…
NaskahText Tibyān fī Ma‘rifat al-AdyānTibyan fi Ma'rifat al-Adyan
Tibyān fī Ma‘rifat al-Adyān adalah karya Nuruddin ar-Raniry tentang pengetahuan mengenai agama-agama. Dalam studi perbandingan agama, karya ini dipandang sebagai salah satu karya terdepan. Keunggulannya diakui dalam kesarjanaan, tetapi belum…Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan is Nuruddin ar-Raniri's work on knowledge of the religions. In comparative religion it is regarded as a leading early work. Its importance is acknowledged in scholarship,…
NaskahText Uraian Nuruddin ar-Raniry tentang awal penciptaan langit dan bumiNuruddin ar-Raniry's account of the creation of the heavens and the earth
Bagian karya Nuruddin ar-Raniry yang dirujuk dengan judul Khalq bad’ al-Samawât wa al-Ardh, berbahasa Melayu-Jawi, yang membuka uraian tentang apa yang pertama kali diciptakan Allah. Teks ini menghimpun hadis dan…A section of Nuruddin ar-Raniry's writing, referred to under the title Khalq bad’ al-Samawat wa al-Ard, in Jawi Malay, that opens with an account of what God created first. It…
5.5 Metodologi & epistemologi studi AcehMethodology & epistemology of Aceh studies
KonsepConcept Aceh dalam studi kawasan, suku-bangsa, dan negara-bangsaAceh in area, ethnic and nation-state studies
Analisis tentang bagaimana pembagian ilmu sosial menurut ‘arah mata angin’, suku-bangsa, dan negara-bangsa menempatkan Aceh di pinggiran. Studi kawasan Asia Tenggara bergeser dari kajian suku-bangsa dominan (Cina, India, Melayu) ke…An analysis of how the division of the social sciences by ‘compass point’, ethnic group and nation-state has pushed Aceh to the margins. Southeast Asian studies moved from the study…
KonsepConcept Aceh sebagai laboratorium sosialAceh as a social laboratory
Gagasan ini memandang Aceh, dengan Islam yang selalu terlibat dalam kehidupan sosialnya, sebagai salah satu lahan paling menarik untuk penelitian ilmu sosial di Indonesia dan Asia Tenggara. Upaya memperkenalkan ilmu…This idea treats Aceh, where Islam is always woven into social life, as one of the most compelling fields for social-science research in Indonesia and Southeast Asia. Efforts to bring…
KonsepConcept Agenda riset ilmu sosial tentang masyarakat Muslim AcehA social-science research agenda for Muslim Aceh
Agenda ini lahir dari diagnosis bahwa penelitian di perguruan tinggi Islam di Aceh masih didominasi pendekatan sejarah, kajian kawasan, filologi, dan normatif. Perilaku masyarakat Muslim jarang dikaji sebagai gejala sosial.…This agenda stems from the diagnosis that research at Islamic higher-education institutions in Aceh is still dominated by historical, area-studies, philological and normative approaches. The behaviour of Muslim communities is…
KonsepConcept Epistemologi ‘irfânî dalam kajian sosial‘Irfani epistemology in social inquiry
Epistemologi ‘irfânî menelaah pengetahuan yang bersumber dari pengalaman batin, baik dari akal maupun hati. Dalam kajian sosial, ia diarahkan untuk memahami alam pikiran lahir dan batin para pemegang otoritas lokal,…‘Irfani epistemology examines knowledge that springs from inner experience, whether of the intellect or of the heart. In social inquiry, it is directed at understanding the outer and inner thought-world…
KonsepConcept Fenomenologi dan hermeneutika tasawufPhenomenology and Sufi hermeneutics
Fenomenologi dan hermeneutika ditawarkan sebagai pasangan alat untuk membaca pengalaman keagamaan. Fenomenologi bekerja ke dalam, memahami dengan cara membiarkan fenomena tampil apa adanya, sedangkan hermeneutika membawa yang di dalam itu…Phenomenology and hermeneutics are offered as a paired toolkit for reading religious experience. Phenomenology works inward, understanding by letting phenomena appear as they are, while hermeneutics brings that inner content…
KonsepConcept Kearifan lokal dan orang bijakLocal wisdom and the wise
Kearifan lokal sering dibicarakan di Aceh sebagai gagasan pribumi yang menyangkut identitas, agama, dan politik, tetapi jarang ditelaah dasar filosofisnya. Dalam perspektif ‘irfânî, kearifan lokal dipahami sebagai produk para orang…Local wisdom is often discussed in Aceh as an indigenous idea bearing on identity, religion and politics, yet its philosophical basis is rarely examined. From an ‘irfani perspective, local wisdom…
KonsepConcept Penelitian komparatif lintas negara: pelajaran dari riset Aceh dan Asia TenggaraCross-country comparative research: lessons from Aceh and Southeast Asia
Pelajaran praktis tentang merancang dan menjalankan penelitian komparatif yang melibatkan Aceh dan negara tetangga, misalnya perbandingan administrasi hukum Islam di Aceh dan Kelantan. Pokok-pokoknya meliputi studi pendahuluan, kepatuhan pada panduan…Practical lessons on designing and conducting comparative research involving Aceh and neighbouring countries, such as comparing the administration of Islamic law in Aceh and Kelantan. The key points include preliminary…
KonsepConcept Sejarah Aceh sebagai bidang ilmuAcehnese history as a field of study
Usulan untuk memperlakukan Sejarah Aceh sebagai cabang ilmu yang berdiri sendiri, bukan bagian yang larut dalam Sejarah Asia Tenggara, Sejarah Melayu, atau Sejarah Indonesia. Cabang ini mencakup sejarah asal-usul, politik,…A proposal to treat Acehnese history as a self-standing branch of knowledge rather than one that dissolves into Southeast Asian, Malay or Indonesian history. The branch covers the history of…
KonsepConcept Studi Aceh sebagai bidang keilmuanAceh studies as a discipline
Gagasan untuk menjadikan seluk-beluk dunia ke-Aceh-an sebagai objek keilmuan yang berdiri sendiri, bukan sekadar pelengkap dalam studi Asia, Asia Tenggara, Indonesia, atau Melayu. Bidang ini dirumuskan sebagai kajian lintas disiplin…A proposal to treat the whole range of Acehnese life and thought as a self-standing object of scholarship rather than a supplement to Asian, Southeast Asian, Indonesian or Malay studies.…
KonsepConcept Sub-bidang studi Aceh: filsafat, sejarah, sosiologi, antropologi, dan lainnyaSub-fields of Aceh studies: philosophy, history, sociology, anthropology and more
Rancangan pembidangan studi Aceh ke dalam cabang-cabang yang mengikuti ilmu sosial dan humaniora: Filsafat Aceh, Sejarah Aceh, Sosiologi Aceh, Antropologi Aceh, Sastra Aceh, Arkeologi Aceh, Politik Aceh, dan Studi Agama.…A proposed division of Aceh studies into branches modelled on the social sciences and humanities: Acehnese Philosophy, History, Sociology, Anthropology, Literature, Archaeology, Politics and the Study of Religion. Its object…
KonsepConcept Tiga epistemologi: bayânî, burhânî, ‘irfânîThree epistemologies: bayani, burhani, ‘irfani
Kerangka ini membedakan tiga jalan memperoleh dasar pengetahuan. Epistemologi burhânî bertumpu pada realitas alam, sosial, dan kemanusiaan; bayânî bertumpu pada teks atau wahyu; sedangkan ‘irfânî bersumber dari pengalaman langsung yang…This framework distinguishes three routes to the foundations of knowledge. Burhani epistemology rests on the realities of nature, society and the humanities; bayani rests on texts or revelation; and ‘irfani…
5.6 Peradaban Aceh dalam perbandinganAcehnese civilisation in comparative perspective
KonsepConcept Aceh, Hegel, dan Pencerahan: perbandingan spiritAceh, Hegel and the Enlightenment: a comparison of spirit
Perbandingan ini menyandingkan kebangkitan intelektual Aceh abad ke-16–17 dengan Pencerahan Eropa dan konsep Geist Hegel. Di Barat, pencarian kesadaran diri melahirkan filsafat dan sains yang cenderung memisahkan agama; di Aceh,…This comparison sets Aceh's intellectual flowering of the sixteenth and seventeenth centuries beside the European Enlightenment and Hegel's notion of Geist. In the West the search for self-consciousness gave rise…
KonsepConcept Planetary civilization sebagai cermin bagi AcehPlanetary civilisation as a mirror for Aceh
Istilah planetary civilization, dipinjam dari fisikawan Michio Kaku, menggambarkan peradaban global yang bertumpu pada penguasaan energi dan teknologi. Dalam studi Aceh, istilah itu dipakai sebagai latar kontras untuk menanyakan posisi…The term 'planetary civilisation', borrowed from the physicist Michio Kaku, describes a global civilisation built on mastery of energy and technology. In Aceh studies it serves as a contrasting backdrop…
5.7 Teori sosial & studi masyarakat MuslimSocial theory & the study of Muslim societies
KonsepConcept Bahasa dalam kajian antropologi dan agamaLanguage in anthropology and the study of religion
Kajian tentang bahasa Aceh berpijak pada tradisi antropologi yang menempatkan bahasa sebagai pintu memahami cara berpikir suatu masyarakat. John Beattie, Kutha Ratna, dan John R. Bowen menekankan bahwa kategori pikiran…The study of Acehnese draws on an anthropological tradition that treats language as the gateway to a society's ways of thinking. John Beattie, Kutha Ratna and John R. Bowen stress…
KonsepConcept Fungsionalisme dan studi adatFunctionalism and the study of adat
Fungsionalisme berkembang dari mazhab Durkheim dan memandang masyarakat sebagai kesatuan yang terintegrasi, dengan status, peran, dan kelompok korporat sebagai unsur pokoknya. Bronislaw Malinowski menekankan pentingnya mengamati bagaimana adat benar-benar dijalankan,…Functionalism grew out of the Durkheimian school and views society as an integrated whole whose basic elements are status, role and corporate groups. Bronislaw Malinowski stressed observing how a custom…
KonsepConcept Meta-teori ilmu sosial: empat kekeliruan analitisSocial-science meta-theory: four analytical fallacies
Meta-teori menyangkut persoalan ontologi, epistemologi, dan metodologi di balik setiap teori sosial. Empat kekeliruan meta-teoretis disorot: reduksionisme, esensialisme, reifikasi, dan teleologi fungsional. Masing-masing diberi contoh Aceh, dari kategori tuha peut…Meta-theory concerns the ontological, epistemological and methodological questions behind every social theory. Four meta-theoretical fallacies are highlighted: reductionism, essentialism, reification and functional teleology. Each is illustrated with Acehnese examples, from…
KonsepConcept Sosiologi, antropologi, dan kerja lapanganSociology, anthropology and fieldwork
Sosiologi dan antropologi sama-sama mengkaji masyarakat, tetapi dengan tradisi berbeda: sosiologi semula berfokus pada masyarakat Eropa-Amerika dan memakai data kualitatif maupun statistik, sedangkan antropologi mengkaji kebudayaan masyarakat di luar dunia…Sociology and anthropology both study society but from different traditions: sociology initially focused on Euro-American societies and uses both qualitative and statistical data, while anthropology studies the cultures of societies…
KonsepConcept Teori sosial klasik: Marx, Durkheim, WeberClassical social theory: Marx, Durkheim, Weber
Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber dipandang sebagai tiga pilar teori sosial modern, masing-masing dengan unit analisis berbeda: cara produksi dan kelas, struktur serta fungsi sosial, dan tindakan sosial…Karl Marx, Émile Durkheim and Max Weber are treated as the three pillars of modern social theory, each with a different unit of analysis: modes of production and class, social…
KonsepConcept Weber dan studi IslamWeber and Islamic studies
Max Weber meletakkan dasar ilmiah bagi analisis tindakan sosial dan berpendapat bahwa pemahaman keagamaan dapat menjadi prinsip aktif perubahan sosial. Kajiannya tentang Islam tidak pernah tuntas, tetapi kerangkanya berpengaruh luas…Max Weber laid a scientific foundation for the analysis of social action and argued that religious understanding can be an active principle of social change. His study of Islam was…
5.8 Tradisi kepenulisan & historiografi AcehWriting traditions & Acehnese historiography
TokohFigure Ali Hasjmy
Ali Hasjmy adalah pemimpin, pemikir, dan penulis Aceh yang sangat produktif di bidang sastra dan sejarah. Ia menghasilkan puluhan karya tanpa pernah menempuh pendidikan di luar negeri. Bersama Hasbi Ash-Shiddieqy,…Ali Hasjmy was an Acehnese leader, thinker and exceptionally prolific author of literature and history. He produced dozens of works without ever studying abroad. Alongside Hasbi Ash-Shiddieqy, he exemplifies a…
KonsepConcept Delapan isu sentral dalam tulisan tentang AcehEight core themes in writing about Aceh
Tulisan tentang Aceh, baik oleh orang Aceh maupun oleh penulis luar, berputar pada delapan isu: kerajaan, ilmu pengetahuan, ulama, peperangan, diplomasi, pengkhianatan, gerakan perjuangan, dan budaya. Peta ini memperlihatkan pola…Writing about Aceh, by Acehnese and outside authors alike, revolves around eight themes: kingdoms, knowledge, ulama, war, diplomacy, betrayal, resistance movements and culture. This map reveals both a consistent pattern…
KonsepConcept Historiografi Aceh di hadapan sejarah nasionalAcehnese historiography and national history
Penulisan sejarah Aceh sejak bergabung dengan Indonesia berlangsung dalam ketegangan dengan sejarah nasional yang didominasi Jawa. Sebagian penulis menautkan Aceh ke dalam narasi kebangsaan, sebagian lain memisahkannya, dan ada pula…Since Aceh's incorporation into Indonesia, the writing of its history has unfolded in tension with a Java-dominated national history. Some authors fold Aceh into the national narrative, others separate it,…
KonsepConcept Krisis pewarisan karya ulama AcehThe crisis in transmitting Acehnese scholarly works
Karya ulama dan pemikir Aceh tidak diajarkan secara sistematis di sekolah maupun perguruan tinggi Aceh, dan studi naskah belum menjadi bagian kurikulum. Generasi muda pun asing terhadap karya para pendahulunya…The works of Acehnese scholars and thinkers are not systematically taught in Aceh's schools or universities, and manuscript studies have no place in the curriculum. Young people are therefore unfamiliar…
KonsepConcept Lima motif menulis dalam tradisi AcehFive motives for writing in the Acehnese tradition
Tipologi ini membedakan lima alasan mengapa ulama dan sarjana Aceh menulis: mengisi kekosongan literatur, memenuhi permintaan penguasa, merespons keadaan, berpolemik, dan menjalankan panggilan intelektual. Setiap motif melahirkan jenis karya yang…This typology distinguishes five reasons why Acehnese scholars write: to fill a gap in the literature, to answer a ruler's request, to respond to current events, to engage in polemic,…
KonsepConcept Tradisi kepenulisan tentang AcehThe tradition of writing about Aceh
Tradisi kepenulisan tentang Aceh adalah rangkaian panjang produksi kitab dan buku oleh ulama, sarjana, dan penulis Aceh, dari karya berbahasa Arab dan Melayu abad ke-17 hingga terbitan pascatsunami. Produksi tulisan…The tradition of writing about Aceh denotes the long run of books and treatises produced by Acehnese scholars and authors, from seventeenth-century works in Arabic and Malay to the flood…