Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Masa depan studi Aceh: modern, pascamodern, pascakolonial, pascasekularThe future of Aceh studies: modern, postmodern, postcolonial, post-secular

Refleksi sekitar 2015Reflection from around 2015

Bagian penutup kurikulum ini menimbang posisi studi Aceh di hadapan empat cakrawala teoretis, yakni modernitas, pascamodernitas, pascakolonialitas, dan pascasekularitas, ditambah gagasan peradaban planet. Pembahasan modernitas berangkat dari pengamatan lapangan tentang santri dayah yang mengelola radio dan merangkul teknologi. Bagian pascamodern baru memuat periodisasi wacana, sedangkan pascakolonial dan pascasekular masih berupa judul. Pesan utamanya adalah perlunya pemikiran jangka panjang tentang kesiapan orang Aceh memasuki zaman baru.

The closing part of the curriculum weighs the position of Aceh studies against four theoretical horizons: modernity, postmodernity, postcoloniality and post-secularity, plus the idea of planetary civilisation. The discussion of modernity begins from fieldwork observations of dayah students running radio stations and embracing technology. The postmodern section offers only a periodisation of the discourse, while the postcolonial and post-secular sections remain headings. The main message is the need for long-term thinking about how Acehnese society prepares for a new era.

Cakrawala modern dibaca melalui gejala dayah. Pada awal 2015, di kawasan Samalanga, siaran radio yang dikelola lingkungan dayah memperdengarkan pembacaan kitab kuning lengkap dengan terjemahannya, shalawat, dakwah, bahkan talk show tentang garam beryodium bersama pejabat pemerintah. Dayah juga memiliki situs web, unit usaha, kampus S-1, dan alumni yang menempuh S-2 dan S-3. Gejala ini memperlihatkan bahwa kelompok tradisional memasuki modernitas tanpa melepaskan religiusitas, sekaligus menafsir ulang ketegangan lama antara jak beut dan jak sikula. Eric Mark Kramer dipakai untuk mengingatkan bahwa modernisasi kerap identik dengan Westernisasi sebagai sikap dan struktur kesadaran, bukan sekadar letak geografis.

Cakrawala pascamodern diuraikan melalui periodisasi Steven Connor: hipotesis yang berkembang terpisah pada 1970-an hingga awal 1980-an, penyatuan berbagai penjelasan sejak pertengahan 1980-an, dan fase ketika wacana tentang pascamodernisme menjadi otonom dari objeknya pada 1990-an. Pascakolonial dan pascasekular belum diisi.

Gagasan peradaban planet diambil dari Michio Kaku, yang membayangkan semua revolusi teknologi bermuara pada satu peradaban global. Untuk Aceh, gagasan ini dinilai masih jauh, karena teknologi dan cara berpikirnya belum sampai pada pemanfaatan energi dari berbagai sumber alam semesta. Namun lahirnya istilah negara digital dan pikiran global menunjukkan bahwa ilmu di negara maju cenderung mengokohkan negara dan mengendalikan pikiran manusia, sehingga negara berkembang terus dikondisikan untuk berpikir seperti negara maju. Lampiran bagan C. Lloyd (1985) tentang wacana perubahan sosial, dari holisme dan individualisme hingga strukturisme, melengkapi bekal teoretis bagian ini.

Agenda penutup ini dinamai peunutoh, yakni kata putus seorang guru kepada muridnya dalam tradisi meurunoe atau meugure.

The modern horizon is read through the dayah. In early 2015, in the Samalanga area, radio broadcasts run from dayah circles carried readings of classical Islamic texts with translation, devotional songs, sermons and even a talk show on iodised salt with a government official. Dayah also run websites, businesses and undergraduate colleges, and their alumni pursue master's and doctoral degrees. This shows traditional groups entering modernity without relinquishing their religiosity, and reinterpreting the old tension between jak beut (going to religious study) and jak sikula (going to school). Eric Mark Kramer is invoked as a reminder that modernisation is often identical with Westernisation as an attitude and structure of consciousness rather than a geographical location.

The postmodern horizon is outlined through Steven Connor's periodisation: a hypothesis developing on separate fronts through the 1970s and early 1980s, the clustering of accounts from the mid-1980s, and a phase in the 1990s when discourse about postmodernism became autonomous from its objects. The postcolonial and post-secular sections are not yet written.

The idea of planetary civilisation is taken from Michio Kaku, who saw all technological revolutions converging on a single global civilisation. For Aceh this is judged still distant, since its technology and modes of thought have not reached the harnessing of energy from the wider universe. Yet the rise of terms such as the digital state and the global mind indicates that knowledge in advanced countries tends to strengthen states and steer human thought, conditioning developing countries to think as advanced countries do. Appended diagrams from C. Lloyd (1985) on discourses of social change, from holism and individualism to structurism, complete the section's theoretical toolkit.

This closing agenda is named peunutoh, the final word a teacher gives a pupil in the meurunoe or meugure tradition.

Gagasan kunciKey ideas

Dayah sebagai pelaku modernisasiThe dayah as an agent of modernisation

Lembaga yang dianggap anti-modern ternyata menyerap teknologi dengan tetap menjaga nilai keagamaan.An institution assumed to be anti-modern turns out to absorb technology while keeping its religious values.

Modern sebagai sikapModernity as attitude

Menjadi modern kerap berarti meniru struktur kesadaran Barat, sehingga studi Aceh perlu menimbang apa yang diadopsi dan apa yang dipertahankan.Becoming modern often means imitating a Western structure of consciousness, so Aceh studies must weigh what to adopt and what to keep.

Pemikiran jangka panjangLong-term thinking

Menghadapi negara digital dan pikiran global, studi Aceh dituntut menyiapkan visi jangka panjang.Facing the digital state and the global mind, Aceh studies must prepare a long-range vision.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bila dayah mampu menjadi modern tanpa menjadi Barat, pelajaran apa yang dapat diambil perguruan tinggi umum di Aceh?If the dayah can become modern without becoming Western, what lessons might Aceh's secular universities draw?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Masa depan studi Aceh: modern, pascamodern, pascakolonial, pascasekular”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/masa-depan-studi-aceh/