Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aceh dalam historiografi Melayu dan MalaysiaAceh in Malay and Malaysian historiography

Dalam sejarah Malaysia, sejarah Aceh cenderung ditenggelamkan ke dalam sejarah Melayu, dan warisan Aceh diperlakukan sebagai warisan kesultanan Melayu. Kajian Samudera Pasai pun lebih sering diarahkan sebagai pijakan memahami Melaka, lalu Johor dan Siak, daripada sebagai bagian sejarah Aceh. Padahal tanpa sejarah Aceh dan Sumatra, sejarah Melayu kehilangan salah satu akarnya. Temuan-temuan baru, seperti jejak Tun Sri Lanang di Samalanga, mulai menggugat narasi itu.

In Malaysian history, Acehnese history tends to be submerged within Malay history, and Aceh's legacy is treated as the legacy of the Malay sultanates. Studies of Samudera Pasai are likewise directed towards understanding Melaka, and then Johor and Siak, rather than as part of Acehnese history. Yet without the history of Aceh and Sumatra, Malay history loses one of its roots. New findings, such as the traces of Tun Sri Lanang in Samalanga, have begun to challenge that narrative.

Sejarawan Melayu memutar identitas dan kesadaran dalam sejarah Aceh menjadi sejarah Melayu, dan bayangan yang muncul adalah Aceh yang kurang bersahabat dalam narasi nasionalisme Malaysia. Namun, tanpa sejarah Aceh tidak ada sejarah Melayu: bila tidak ditarik dari Aceh atau Sumatra, sejarah Malaysia akan cenderung didominasi sejarah Tiongkok dan India. Sebagai contoh, seorang sarjana Malaysia menulis bahwa bangkitnya Samudra-Pasai pada 1292 ‘di dekat Aceh’ menandai awal peradaban Melayu-Islam dan menjadi model bagi kesultanan Melayu kemudian. Rumusan semacam itu dinilai keliru menafsirkan sejarah Aceh, karena menempatkan Pasai seakan di luar Aceh, menyerahkan seluruh warisannya kepada kesultanan Melayu, sementara uraiannya sendiri justru membahas arsitektur di Aceh.

Arah kajian Pasai yang mengalir ke Melaka, lalu Johor, lalu Siak, merupakan jejak kerajaan-kerajaan Melayu di Semenanjung dan Riau; hubungan Melayu-Riau dikupas antara lain oleh sejarawan Riau Suwardi MS. Siak juga meninggalkan memori tersendiri bagi orang Aceh karena Perjanjian Siak menjadi langkah Belanda menuju aneksasi Aceh. Leonard dan Barbara Andaya menunjukkan bahwa setelah penguasa Melaka memeluk Islam pada pertengahan abad ke-15, istana Melaka berusaha menyaingi Pasai sebagai pusat ilmu Islam, dan praktik istananya lalu ditiru hingga menjadi dasar identitas Melayu.

Upaya menulis sejarah bangsa lain lalu melekatkannya pada kesadaran dan identitas sendiri, seperti Denys Lombard dalam Nusa Jawa, belum banyak membumi di Aceh. Meski begitu, rekonstruksi oleh pengkaji Aceh mulai menghasilkan temuan: M. Adli Abdullah menelusuri makam dan cerita tentang Tun Sri Lanang, pujangga Melayu pengarang Sulalat al-Salatin, di Samalanga, yang meruntuhkan anggapan bahwa ia diperlakukan buruk di Aceh atau wafat di Semenanjung. Rekonstruksi serupa menunjukkan bahwa peradaban dan identitas Melayu modern terbentuk dengan sumbangan Aceh di dalamnya.

Malay historians have turned the identity and consciousness found in Acehnese history into Malay history, and the image that emerges is of an Aceh not altogether friendly within the narrative of Malaysian nationalism. Yet without Acehnese history there is no Malay history: unless it is drawn from Aceh or Sumatra, Malaysian history would tend to be dominated by Chinese and Indian history. One Malaysian scholar, for instance, writes that the rise of Samudra-Pasai in 1292 'near Acheh' marked the beginning of Malay-Islamic civilisation and served as a model for later Malay sultanates. Such statements are judged to misread Acehnese history: they place Pasai as if outside Aceh and hand its whole legacy to the Malay sultanates, even while the discussion itself deals with architecture in Aceh.

The line of Pasai studies that runs to Melaka, then Johor, then Siak follows the Malay kingdoms of the Peninsula and Riau; Malay–Riau relations have been studied by, among others, the Riau historian Suwardi MS. Siak also holds a particular memory for the Acehnese, since the Siak Treaty was a Dutch step towards annexing Aceh. Leonard and Barbara Andaya show that after Melaka's rulers embraced Islam in the mid-fifteenth century, the Melakan court sought to rival Pasai as a centre of Islamic learning, and its court practice was then emulated until it became a basis of Malay identity.

The practice of writing another people's history and attaching it to one's own identity, as Denys Lombard did in Nusa Jawa, has yet to take root in Aceh. Even so, reconstruction by Acehnese researchers has begun to yield findings: M. Adli Abdullah traced a tomb and stories of Tun Sri Lanang, the Malay court writer behind the Sulalat al-Salatin, in Samalanga, undermining the claim that he was mistreated in Aceh or died on the Peninsula. Similar reconstruction shows that modern Malay civilisation and identity were formed with Aceh's contribution.

Gagasan kunciKey ideas

Penenggelaman lewat kategoriSubmersion through categories

Menyebut warisan Aceh sebagai ‘Melayu’ menghapus Aceh sebagai subjek sejarah.Labelling Aceh's legacy 'Malay' erases Aceh as a historical subject.

Saling bergantungMutual dependence

Sejarah Melayu membutuhkan Aceh, sebagaimana Aceh membutuhkan konteks Melayu.Malay history needs Aceh, just as Aceh needs its Malay context.

Temuan lokal sebagai koreksiLocal findings as correction

Situs dan tradisi lisan di Aceh dapat merevisi narasi besar historiografi Melayu.Sites and oral traditions in Aceh can revise the grand narrative of Malay historiography.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sejarawan Aceh dan Malaysia dapat menulis sejarah bersama tanpa saling menenggelamkan?How might Acehnese and Malaysian historians write a shared history without submerging one another?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aceh dalam historiografi Melayu dan Malaysia”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aceh-dalam-historiografi-melayu/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →