Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Generasi sejarawan Aceh: dari Zainuddin dan Hasjmy hingga Muin Umar dan Nourouzzaman ShiddiqiGenerations of Acehnese historians: from Zainuddin and Hasjmy to Muin Umar and Nourouzzaman Shiddiqi

Abad ke-20 hingga awal abad ke-21Twentieth to early twenty-first century

Sejumlah pengarang Aceh, seperti H.M. Zainuddin, H.M. Said, Djunus Djamil, dan A. Hasjmy, menulis sejarah Aceh secara utuh ketika banyak dokumen penting telah dibawa penjajah ke luar negeri. Sejarawan Muslim asal Aceh di luar Aceh, seperti Muin Umar dan Nourouzzaman Shiddiqi, menautkan sejarah Aceh dengan kebudayaan dan peradaban Islam global. Generasi berikutnya menulis biografi tokoh dan sejarah konflik dari DI/TII hingga GAM. Corak-corak penulisan ini memperlihatkan motif yang berbeda antara pengarang tua, pengarang muda, dan pengarang dari luar Aceh.

Acehnese writers such as H.M. Zainuddin, H.M. Said, Djunus Djamil and A. Hasjmy wrote comprehensive histories of Aceh at a time when many key documents had been carried abroad by the colonisers. Aceh-born Muslim historians working outside Aceh, such as Muin Umar and Nourouzzaman Shiddiqi, linked Acehnese history to Islamic culture and civilisation on a global scale. A later generation wrote biographies and histories of conflict from Darul Islam to GAM. These styles of writing reveal differing motives among older Acehnese writers, younger ones and writers from outside Aceh.

Penulisan sejarah Aceh oleh orang Aceh sendiri tumbuh di tengah warisan konflik. Para pengarang seperti H.M. Said, H.M. Zainuddin, A. Hasjmy (1914–1998), dan Djunus Djamil berhasil menyajikan sejarah Aceh secara utuh, dan upaya mereka menulis sejarah total membantu generasi muda memahami sejarah endatu, terlebih karena sebagian dokumen penting telah dibawa lari penjajah. Zainuddin, misalnya, menulis biografi Sultan Iskandar Muda. Kajian berikutnya mencakup biografi Tgk. Daud Beureueh, Hasan di Tiro, dan Hasan Saleh, serta persoalan disintegrasi Aceh–Jakarta sejak DI/TII 1953 hingga Gerakan Aceh Merdeka 1976. Peran A. Hasjmy dibaca sebagai upaya ‘mengharmoniskan’ Aceh dan Jakarta, sedangkan karya Ismail Suny dan pengalaman Fachry Ali memperlihatkan kiprah orang Aceh di pentas nasional.

Di luar Aceh, Muin Umar, mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, menulis Historiografi Muslim yang memetakan karya-karya Aceh dalam historiografi Islam. Nourouzzaman Shiddiqi, putra T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, menulis Jeram-Jeram Peradaban Muslim dan Tamaddun Muslim; ia mengupas historisitas Aceh dalam peradaban Muslim, struktur sosial Aceh pada masa penaklukan Belanda, dan sejarah pembaruan pemikiran Islam di Indonesia yang bermula dari kontribusi Hasbi bagi Fiqih Indonesia. Dalam daftar pembaru Islam yang disusunnya, Hasbi ditempatkan sebagai pembaru hukum Islam, sejajar dengan H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim di bidang politik serta Ahmad Dahlan dan Ahmad Surkati di bidang pendidikan dan moral agama. Kecenderungan menautkan sejarah dengan tamaddun ini menempatkan Aceh dalam perspektif global, bukan sekadar lokal atau nasional.

Sesudah MoU Helsinki 2005, historiografi kontemporer memperlihatkan empat ranah: menampakkan kekejaman operasi militer, mengintegrasikan Aceh ke dalam nasionalisme Indonesia, menegaskan tiadanya hubungan historis-ideologis Aceh dengan Indonesia, dan membentuk kesadaran ke-Aceh-an yang utuh. Pengarang Aceh yang lebih tua cenderung memakai pola integrasi; pengarang luar Aceh lebih tertarik pada persoalan di antara sesama orang Aceh; pengarang muda Aceh ingin membangkitkan memori kolektif; dan sebagian pengarang dari Jawa melukiskan keberhasilan melunakkan perlawanan Aceh. Secara umum, historiografi Aceh dapat dikelompokkan menjadi sejarah istana, sejarah perang atau konflik, sejarah tokoh, dan sejarah peristiwa tertentu.

History-writing by Acehnese themselves grew up amid a legacy of conflict. Writers such as H.M. Said, H.M. Zainuddin, A. Hasjmy (1914–1998) and Djunus Djamil succeeded in presenting Acehnese history as a whole, and their efforts at a total history helped younger generations understand the history of their forebears (endatu), all the more because many key documents had been carried off by the colonisers. Zainuddin, for example, wrote a biography of Sultan Iskandar Muda. Later studies include biographies of Tgk. Daud Beureueh, Hasan di Tiro and Hasan Saleh, and the problem of Aceh–Jakarta disintegration from the Darul Islam revolt of 1953 to the Free Aceh Movement of 1976. A. Hasjmy's role is read as an effort to 'harmonise' Aceh and Jakarta, while the work of Ismail Suny and the experience of Fachry Ali show Acehnese careers on the national stage.

Outside Aceh, Muin Umar, a former rector of IAIN Sunan Kalijaga, wrote Historiografi Muslim, which maps Acehnese works within Islamic historiography. Nourouzzaman Shiddiqi, son of T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, wrote Jeram-Jeram Peradaban Muslim and Tamaddun Muslim; he examined Aceh's place in Muslim civilisation, Acehnese social structure during the Dutch conquest, and the history of Islamic reform in Indonesia beginning with Hasbi's contribution to an Indonesian fiqh. In his list of Islamic reformers Hasbi appears as a reformer of Islamic law, alongside H.O.S. Tjokroaminoto and Agus Salim in politics and Ahmad Dahlan and Ahmad Surkati in education and religious ethics. This tendency to link history with civilisation (tamaddun) placed Aceh in a global rather than merely local or national perspective.

After the 2005 Helsinki MoU, contemporary historiography shows four domains: exposing the brutality of military operations, integrating Aceh into Indonesian nationalism, asserting that Aceh has no historical or ideological bond with Indonesia, and building a comprehensive Acehnese consciousness. Older Acehnese writers tend towards an integrative pattern; outside writers are more interested in tensions among Acehnese themselves; young Acehnese writers seek to revive collective memory; and some writers from Java depict their success in softening Acehnese resistance. Broadly, Acehnese historiography can be grouped into court history, war or conflict history, biographical history and the history of particular events.

Gagasan kunciKey ideas

Menulis dari dalamWriting from within

Sejarawan lokal mengisi kekosongan arsip yang dibawa penjajah.Local historians filled the archival void left by documents the colonisers took away.

Sejarah sebagai tamaddunHistory as civilisation

Sejarawan Aceh di luar Aceh menempatkan Aceh dalam peradaban Islam global.Acehnese historians outside Aceh placed Aceh within global Islamic civilisation.

Motif penulisanMotives of writing

Usia, asal, dan posisi politik pengarang membentuk arah historiografi.The age, origin and political position of writers shape the direction of historiography.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sejarah total yang ditulis orang Aceh dapat diuji tanpa kehilangan suara dari dalam yang menjadi kekuatannya?How can a total history written by Acehnese be critically tested without losing the insider voice that is its strength?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Generasi sejarawan Aceh: dari Zainuddin dan Hasjmy hingga Muin Umar dan Nourouzzaman Shiddiqi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/generasi-sejarawan-aceh/