Nurjannah Ismail
Lahir 1964; doktor 2002Born 1964; doctorate 2002
Nurjannah Ismail adalah ahli tafsir di UIN Ar-Raniry yang dikenal lewat kajian kritis atas bias gender dalam penafsiran Al-Qur'an, terutama buku Perempuan dalam Pasungan (2003). Pada 2004 ia termasuk penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Nurjannah Ismail is a scholar of Qur'anic exegesis at UIN Ar-Raniry known for her critical study of gender bias in Qur'anic interpretation, above all the book Perempuan dalam Pasungan (2003). In 2004 she was one of the authors of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.
Nurjannah Ismail lahir pada 7 Juni 1964 di Krueng Panjoe, Kecamatan Kutablang, kini termasuk Kabupaten Bireuen. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, pada 1987. Gelar magister ia peroleh dari IAIN Ar-Raniry pada 1995 dengan tesis tentang mahar. Ia kemudian menempuh program doktor di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan lulus pada 2002 dengan disertasi tentang perempuan dalam Surah al-Nisa' menurut hermeneutika tafsir al-Thabari, Fakhr al-Din al-Razi, dan Rasyid Ridha.
Ia mengajar di IAIN dan kemudian UIN Ar-Raniry, dan pada 2004 biografi ensiklopedi mencatatnya sebagai dosen Fakultas Adab. Sumber tahun 2017 menyebutnya sebagai dosen tafsir di Fakultas Adab. Gelarnya dalam publikasi ditulis Dr. Hj. Nurjannah Ismail, M.Ag. Selain mengajar, ia dikenal aktif dalam kegiatan advokasi kesetaraan gender dan perlindungan anak di Aceh.
Karya utamanya, "Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran" (LKiS, Yogyakarta, 2003), dikembangkan dari disertasinya. Buku ini memperlihatkan bagaimana penafsiran klasik dan modern atas ayat-ayat tentang perempuan dipengaruhi cara pandang laki-laki penafsirnya, dan termasuk kajian awal tentang tafsir berperspektif gender yang lahir dari Aceh. Gagasan itu ia lanjutkan dalam artikel "Penafsiran Mufassir dan Feminis Muslim terhadap Ayat Berwawasan Gender" (Takammul 6(2), 2017) dan dalam kajian kesetaraan gender dalam Al-Qur'an menurut al-Thabari dan al-Razi (IJCGS, 2024) bersama Edi Darmawijaya.
Sumbangannya bagi studi Aceh terletak pada upaya membawa pertanyaan gender ke dalam tradisi keilmuan Islam di daerah yang menjalankan syariat Islam. Di tengah perdebatan tentang qanun, keluarga, dan kedudukan perempuan pasca-konflik dan pasca-tsunami, pendekatannya menawarkan jalan untuk membedakan teks Al-Qur'an dari konstruksi penafsiran manusia. Dengan demikian ia membuka ruang dialog antara tradisi tafsir yang diajarkan di dayah dan perguruan tinggi dengan gagasan keadilan gender.
Pilihan tiga penafsir dalam disertasinya mencerminkan rentang sejarah tafsir yang panjang: al-Thabari mewakili tafsir klasik berbasis riwayat, Fakhr al-Din al-Razi mewakili tafsir rasional dan teologis abad pertengahan, sedangkan Rasyid Ridha mewakili tafsir reformis modern melalui Tafsir al-Manar. Dengan membandingkan ketiganya, ia memperlihatkan bahwa pembacaan atas ayat-ayat tentang perempuan tidak bersifat tunggal, melainkan berubah mengikuti konteks sosial dan intelektual. Tesis magisternya tentang mahar menunjukkan bahwa minat pada kedudukan perempuan dalam hukum keluarga telah hadir sejak awal kariernya.
Pada 2004 Nurjannah Ismail menjadi salah satu anggota Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang menyusun Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). Biografi singkat dalam buku itu memperkenalkannya sebagai dosen Fakultas Adab dan sarjana Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry. Bersama Munawiah, ia termasuk sedikit penulis perempuan dalam tim itu, dan kehadirannya memberi perspektif penafsir perempuan dalam proyek kolektif mendokumentasikan pemikiran ulama Aceh. Keikutsertaannya dalam ensiklopedi terjadi setahun setelah "Perempuan dalam Pasungan" terbit di Yogyakarta, sehingga pada 2004 ia telah dikenal sebagai penafsir yang membawa pertanyaan-pertanyaan baru ke dalam tradisi tafsir. Perspektif itu relevan bagi pembacaan atas ulama Aceh, karena pemikiran mereka tentang keluarga, ibadah, dan masyarakat juga menyentuh kedudukan perempuan, sebuah dimensi yang jarang diangkat dalam penulisan biografi ulama pada masa itu.
Nurjannah Ismail was born on 7 June 1964 in Krueng Panjoe, Kutablang district, now in Bireuen regency. She completed her first degree in the Arabic Department of the Faculty of Tarbiyah at IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, in 1987. She earned a master's degree from IAIN Ar-Raniry in 1995 with a thesis on the bridal gift (mahar). She then pursued a doctorate at IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, graduating in 2002 with a dissertation on women in Surat al-Nisa' according to the exegetical hermeneutics of al-Tabari, Fakhr al-Din al-Razi and Rashid Rida.
She has taught at IAIN and later UIN Ar-Raniry, and in 2004 the encyclopaedia's biography listed her as a lecturer at the Faculty of Adab. A 2017 source describes her as a lecturer in Qur'anic exegesis at the Faculty of Adab. Her publications give her name as Dr. Hj. Nurjannah Ismail, M.Ag. Beyond teaching, she is known for her involvement in advocacy for gender equality and child protection in Aceh.
Her principal work, "Perempuan dalam Pasungan: Bias Laki-laki dalam Penafsiran" (Women in Shackles: Male Bias in Interpretation; LKiS, Yogyakarta, 2003), grew out of her dissertation. The book shows how classical and modern interpretations of Qur'anic verses on women were shaped by the male standpoint of their interpreters, and it is among the early studies of gender-conscious tafsir to come out of Aceh. She continued this line in "Penafsiran Mufassir dan Feminis Muslim terhadap Ayat Berwawasan Gender" (Takammul 6(2), 2017) and in a study of gender equality in the Qur'an according to al-Tabari and al-Razi (IJCGS, 2024) with Edi Darmawijaya.
Her contribution to Aceh studies lies in bringing questions of gender into Islamic scholarship in a region that implements Islamic law. Amid debates over qanun, the family and the position of women after the conflict and the tsunami, her approach offers a way to distinguish the text of the Qur'an from the human construction of its interpretation. In this way she opens space for dialogue between the tafsir tradition taught in dayah and universities and ideas of gender justice.
The choice of three exegetes in her dissertation reflects the long span of tafsir history: al-Tabari represents classical tradition-based exegesis, Fakhr al-Din al-Razi the rational and theological exegesis of the medieval period, and Rashid Rida the modern reformist exegesis of Tafsir al-Manar. By comparing them she shows that readings of the verses on women are not singular but change with social and intellectual context. Her master's thesis on the bridal gift shows that her interest in women's position in family law was present from the start of her career.
In 2004 Nurjannah Ismail was a member of the IAIN Ar-Raniry Writing Team that produced the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). The short biography in that book introduces her as a lecturer at the Faculty of Adab and an Arabic graduate of the IAIN Ar-Raniry Faculty of Tarbiyah. With Munawiah she was one of the few women on the team, and her presence brought the perspective of a woman exegete into the collective project of documenting the thought of Acehnese ulama. Her participation came a year after "Perempuan dalam Pasungan" appeared in Yogyakarta, so by 2004 she was already known as an exegete bringing new questions into the tafsir tradition. That perspective was relevant to the reading of Acehnese ulama, whose thought on family, worship and society also touched the position of women, a dimension rarely raised in ulama biographies of that time.
Gagasan kunciKey ideas
Bias dalam penafsiranBias in interpretation
Penafsiran ayat tentang perempuan perlu dibedakan dari teks Al-Qur'an karena dipengaruhi cara pandang penafsir.Interpretations of verses on women must be distinguished from the Qur'anic text because they reflect the interpreters' standpoint.
Hermeneutika tafsirHermeneutics of tafsir
Perbandingan al-Thabari, al-Razi, dan Rasyid Ridha memperlihatkan pergeseran pembacaan atas Surah al-Nisa'.Comparing al-Tabari, al-Razi and Rashid Rida reveals shifts in the reading of Surat al-Nisa'.
Keadilan gender dalam syariatGender justice within sharia
Pelaksanaan syariat di Aceh dapat diperkaya oleh tafsir yang peka terhadap keadilan gender.The implementation of sharia in Aceh can be enriched by gender-sensitive exegesis.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana membedakan pesan Al-Qur'an tentang perempuan dari konstruksi penafsiran yang dibentuk oleh zaman dan penafsirnya?How can the Qur'an's message about women be distinguished from interpretations shaped by their age and their interpreters?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Nurjannah Ismail”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/nurjannah-ismail/