Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

HUDA dan politik referendum (1999)HUDA and the politics of the referendum (1999)

Berdiri 14 September 1999Founded 14 September 1999

Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) didirikan pada 14 September 1999, dua bulan setelah pembantaian Teungku Bantaqiah, dengan kehadiran banyak ulama dayah besar. Menurut analisis Moch Nur Ichwan, pemerintahan Habibie dan elite provinsi memandangnya sebagai ancaman karena dibentuk untuk menopang Rabithah Thaliban Aceh dalam mendukung referendum. Setelah damai, hubungan HUDA dengan KPA bergeser, dan penolakan HUDA mendukung Partai Aceh mendorong lahirnya organisasi ulama tandingan, MUNA.

The Association of Acehnese Dayah Ulama (HUDA) was founded on 14 September 1999, two months after the massacre of Teungku Bantaqiah, in the presence of many leading dayah ulama. According to Moch Nur Ichwan's analysis, the Habibie administration and provincial leaders saw it as a threat because it was formed to support the Rabithah Thaliban Aceh (Acehnese santri association) in backing the referendum. After the peace, HUDA's relations with the KPA shifted, and its refusal to back Partai Aceh prompted the creation of a rival ulama body, MUNA.

HUDA lahir pada saat genting. Operasi militer baru saja dicabut, tetapi kekerasan terhadap ulama dan santri, terutama tragedi Beutong Ateuh, mengguncang kepercayaan ulama dayah kepada negara. Pendiriannya dibaca sebagai pernyataan politik: ulama dayah, yang selama ini menjaga jarak dari gerakan separatis, berdiri di belakang santri yang menuntut referendum. Karena itu, HUDA dianggap mempertegas ketegangan lama antara ulama independen dan ulama resmi yang dekat dengan pemerintah.

Setelah MoU Helsinki, posisi HUDA berubah. Ketika KPA mendirikan Partai Aceh dan ikut pemilu, HUDA tidak bersedia aktif mendukung partai tersebut. Sebagian responden menyebut bahwa di lingkungan HUDA pula muncul dukungan kepada partai lokal Partai Daulah Aceh (PDA). Penolakan terhadap Partai Aceh mendorong kalangan PA membentuk Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA). Dalam satu dasawarsa, lahirlah HUDA, PDA, dan MUNA, tanda bahwa kekuatan ulama makin digunakan di luar dayah.

Meski demikian, di pucuk pimpinan HUDA maupun MUNA tetap tampil ulama karismatik generasi senior. Kontestasi sesungguhnya berlangsung di lapis ‘ulama generasi muda’ yang menjadi wakil dayah dalam lingkaran pemerintahan. Kisah HUDA memperlihatkan bahwa organisasi ulama di Aceh bukan sekadar wadah keagamaan, tetapi juga barometer hubungan antara dayah, gerakan politik, dan negara.

HUDA was born at a critical moment. Military operations had just been lifted, yet violence against ulama and santri, above all the Beutong Ateuh tragedy, shook dayah ulama's trust in the state. Its founding was read as a political statement: dayah ulama, who had kept their distance from the separatist movement, now stood behind santri demanding a referendum. HUDA was therefore seen as sharpening the old tension between independent ulama and official ulama close to government.

After the Helsinki MoU, HUDA's position changed. When the KPA founded Partai Aceh and contested elections, HUDA declined to campaign actively for it. Some respondents said that support for the local Partai Daulah Aceh (PDA) also emerged within HUDA circles. HUDA's refusal to back Partai Aceh pushed PA circles to form the Majelis Ulama Nanggroe Aceh (MUNA). Within a decade HUDA, PDA and MUNA had appeared, a sign that ulama power was increasingly deployed outside the dayah.

Even so, charismatic senior ulama remained at the top of both HUDA and MUNA. The real contest took place among ‘younger-generation ulama’ who acted as the dayah's representatives within government circles. HUDA's story shows that ulama organisations in Aceh are not merely religious bodies but barometers of the relationship between the dayah, political movements and the state.

Gagasan kunciKey ideas

Lahir dari tragediBorn of tragedy

Kedekatan waktu dengan pembantaian Bantaqiah menjadikan HUDA simbol perlawanan moral ulama dayah.Its timing after the Bantaqiah massacre made HUDA a symbol of dayah ulama's moral resistance.

Independen versus resmiIndependent versus official

HUDA mempertajam garis antara ulama yang berdiri sendiri dan ulama yang dilembagakan negara.HUDA sharpened the line between independent ulama and state-institutionalised ulama.

Organisasi sebagai barometerOrganisations as barometers

Kemunculan HUDA, PDA, dan MUNA dalam satu dasawarsa menandai politisasi kekuatan ulama.The rise of HUDA, PDA and MUNA within one decade marks the politicisation of ulama power.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Dapatkah organisasi ulama tetap independen ketika setiap pihak politik membutuhkan legitimasi keagamaannya?Can an ulama organisation remain independent when every political camp needs its religious legitimacy?

Kutip entri ini:Cite this entry: “HUDA dan politik referendum (1999)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/huda-dan-politik-referendum/