Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)All-Aceh Ulama Association (PUSA)

Didirikan 5 Mei 1939Founded 5 May 1939

PUSA adalah organisasi ulama yang didirikan pada 5 Mei 1939 di Madrasah al-Muslim, Matang Geulumpang Dua, Bireuen, dan lama dipimpin Teungku Muhammad Daud Beureueh. Kelahirannya merupakan respons terhadap gagasan pembaruan pendidikan yang dikirim Syeikh Abdul Hamid Samalanga dari Mekkah. Tujuannya mencakup penyebaran Islam, penyatuan paham ulama tentang hukum Islam, standarisasi kurikulum madrasah, dan pendidikan guru. PUSA menjadi wadah penting modernisasi pendidikan Islam di Aceh.

PUSA was a scholars’ organisation founded on 5 May 1939 at the Madrasah al-Muslim in Matang Geulumpang Dua, Bireuen, and led for many years by Teungku Muhammad Daud Beureueh. Its founding responded to the educational reform ideas sent from Mecca by Shaykh Abdul Hamid Samalanga. Its aims included spreading Islam, unifying scholars’ views on Islamic law, standardising the madrasah curriculum and training teachers. PUSA became a key vehicle for modernising Islamic education in Aceh.

Akar PUSA dapat dilacak pada jejaring ulama yang terhubung dengan Haramayn. Syeikh Abdul Hamid Samalanga, dari Mekkah, mengirim surat kabar Ummul Qura’ kepada Teungku Haji Abdullah Ujongrimba dengan pesan pembaruan sistem pendidikan Islam. Abdullah Ujongrimba, yang pulang dari Mekkah sekitar akhir 1920-an, lalu bergabung dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh dalam reformasi pendidikan sejak 1929. Gagasan itu akhirnya melembaga dalam PUSA.

Empat tujuan PUSA memperlihatkan agenda yang bersifat kelembagaan. Pertama, menyebarkan ajaran Islam serta menegakkan dan mempertahankan syiar Islam. Kedua, mempersatukan paham para ulama tentang hukum Islam, sebuah upaya mengurangi fragmentasi otoritas keagamaan. Ketiga, menyeragamkan kurikulum seluruh madrasah di Aceh. Keempat, mendirikan lembaga pelatihan guru agar madrasah memiliki tenaga pengajar yang memadai. Agenda ini menggeser pusat pendidikan dari model dayah yang bertumpu pada figur guru ke model madrasah yang terstandar.

PUSA juga penting dalam sejarah politik Aceh karena pemimpinnya, Daud Beureueh, merupakan tokoh perjuangan terkemuka. Organisasi ini menjadi contoh bagaimana ide yang lahir di Tanah Suci, melalui jaringan haji dan media cetak, bertransformasi menjadi lembaga lokal yang membentuk generasi baru terpelajar di Aceh. Kajian lebih lanjut diperlukan untuk menilai hubungan PUSA dengan dinamika sosial-politik Aceh sesudah kemerdekaan.

PUSA’s roots lie in a scholarly network connected to the Haramayn. From Mecca, Shaykh Abdul Hamid Samalanga sent the newspaper Umm al-Qura to Teungku Haji Abdullah Ujongrimba with a message about reforming Islamic education. Abdullah Ujongrimba, back from Mecca by the end of the 1920s, joined Teungku Muhammad Daud Beureueh in educational reform from 1929. The idea was eventually institutionalised in PUSA.

PUSA’s four aims reveal an institutional agenda. First, to spread Islamic teaching and to uphold and defend its public symbols. Second, to unify scholars’ views on Islamic law, an attempt to reduce the fragmentation of religious authority. Third, to standardise the curriculum of all madrasahs in Aceh. Fourth, to establish teacher-training institutions so that madrasahs would have adequate staff. This agenda shifted education away from the dayah model built around individual teachers towards a standardised madrasah model.

PUSA also matters in Aceh’s political history because its leader, Daud Beureueh, was a prominent figure of the struggle. The organisation illustrates how an idea born in the Holy Land, travelling through hajj networks and print, could become a local institution that shaped a new educated generation in Aceh. Further study is needed to assess PUSA’s relationship with the social and political dynamics of post-independence Aceh.

Gagasan kunciKey ideas

Dari dayah ke madrasahFrom dayah to madrasah

Standarisasi kurikulum dan pendidikan guru menandai modernisasi pendidikan Islam.Curriculum standardisation and teacher training marked the modernisation of Islamic education.

Ide transnasional, lembaga lokalTransnational idea, local institution

Gagasan dari Mekkah dilembagakan oleh ulama Aceh.Ideas from Mecca were institutionalised by Acehnese scholars.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa konsekuensi menyatukan paham ulama tentang hukum Islam bagi keragaman tradisi keilmuan di Aceh?What did unifying scholars’ views on Islamic law mean for the diversity of Aceh’s scholarly traditions?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pusa/