Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

M. Hasbi Amiruddin

Lahir 1953 (sumber lain: 1954); aktif sejak awal 1980-anBorn 1953 (other sources: 1954); active since the early 1980s

M. Hasbi Amiruddin adalah guru besar UIN Ar-Raniry asal Seunuddon, Aceh Utara, lulusan McGill University dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dikenal luas karena kajiannya tentang ulama dayah, politik Islam, dan masa depan dayah di Aceh. Pada 2004 ia, sebagai dosen Fakultas Tarbiyah, termasuk Tim Penulis Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

M. Hasbi Amiruddin is a professor at UIN Ar-Raniry from Seunuddon, North Aceh, trained at McGill University and IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, who is widely known for his studies of dayah ulama, Islamic politics and the future of the dayah in Aceh. In 2004, as a lecturer of the Faculty of Tarbiyah, he was a member of the writing team of the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

M. Hasbi Amiruddin berasal dari Matang Panyang, Blang Glumpang, Seunuddon, Aceh Utara. Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) mencatat kelahirannya pada 12 November 1953, sedangkan sejumlah sumber kemudian menyebut tahun 1954. Ia menyelesaikan MIN dan PGAP di Panton Labu pada 1971 sambil belajar di dayah Teungku Muhammad Amin, Panton Labu, kemudian PGAA di Lhokseumawe pada 1973. Ia meraih gelar sarjana di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Jurusan Pendidikan Agama, pada 1981. Pendidikan pascasarjananya ditempuh di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dengan gelar master pada 1994, dan program doktor di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ia selesaikan pada 1999.

Kariernya memadukan jurnalisme, kampus, dan pemerintahan. Ia menjadi wartawan Panji Masyarakat pada 1983-1995, pemimpin redaksi Sinar Darussalam pada 1994-2000, dan pemimpin redaksi Jurnal Ar-Raniry pada 1999-2001. Pada 2002-2004 ia menjadi Staf Khusus Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam. Ia juga menjabat Ketua Bidang Pembinaan Dayah pada Majelis Pendidikan Daerah, Direktur LSAMA sejak 2010, Ketua IKAPI Aceh sejak 2011, Ketua Dewan Pakar PB Inshafuddin, anggota Tim Ahli DPRA, dan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh pada 2017-2019. Pada 2023 LSAMA menerbitkan buku penghormatan Hasbi Amiruddin Sang Inspirator.

Karyanya sangat luas. Pada 2000 terbit Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman (UII Press). Kajiannya tentang ulama dayah tampak dalam Ulama Dayah Pengawal Agama Masyarakat Aceh (2002), Perjuangan Ulama di Tengah Konflik Aceh (2003), dan The Response of the Ulama Dayah to the Modernization of Islamic Law in Aceh (UKM, 2004/2005). Ia juga menulis Women in Aceh: A Lesson from History (2004), Aceh dan Serambi Mekkah (2006), Menatap Masa Depan Dayah di Aceh (2008), Ulama dan Politik Menyongsong Aceh Baru (2011), Dayah 2050 (2012/2013), Filsafat Ilmu dalam Perspektif Islam (2018), dan Aswaja-Wahabi (2020, bersama Firdaus M. Yunus). Bersama Kamaruzzaman Bustamam Ahmad ia menulis Ulama, Separatisme, dan Radikalisme di Aceh (2013). Ia juga menyunting Biografi Rektor IAIN Ar-Raniry (2008).

Sumbangan utamanya bagi studi Aceh adalah penempatan ulama dayah sebagai subjek kajian akademik yang serius. Ia membaca ulama dayah sebagai pengawal agama masyarakat, aktor dalam konflik, dan penanggap modernisasi hukum Islam, sehingga dayah tidak dipandang sebagai lembaga tradisional yang statis. Gagasannya tentang masa depan dayah, termasuk Dayah 2050, bersinggungan dengan tema serupa dalam makalah Dayah 2050 yang ditulis Kamaruzzaman Bustamam Ahmad pada 2012. Melalui LSAMA dan IKAPI Aceh, ia juga berperan dalam menghidupkan penerbitan buku dan jurnal di Aceh.

Kombinasi pengalaman sebagai wartawan, akademisi, dan penasihat pemerintahan membuat tulisan-tulisannya menjangkau pembaca kampus maupun masyarakat luas. Buku penghormatan yang terbit pada 2023 menandai pengakuan atas peran itu.

Dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), M. Hasbi Amiruddin termasuk anggota paling senior Tim Penulis IAIN Ar-Raniry. Bagian "Sekilas Tentang Penulis" mencatat bahwa pada 2004 ia dosen Fakultas Tarbiyah, lulusan Jurusan Pendidikan Agama pada 1981, master Institute of Islamic Studies McGill University pada 1994, dan doktor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bersama Hasan Basri dan Muhammad AR dari Fakultas Tarbiyah, ia mewakili kajian pendidikan dan ulama dayah dalam tim tersebut.

M. Hasbi Amiruddin comes from Matang Panyang, Blang Glumpang, Seunuddon, North Aceh. The Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (2004) records his birth on 12 November 1953, while several later sources give the year 1954. He completed MIN and PGAP in Panton Labu in 1971 while studying at the dayah of Teungku Muhammad Amin in Panton Labu, and then PGAA in Lhokseumawe in 1973. He took his undergraduate degree in the Religious Education Department of the Faculty of Tarbiyah at IAIN Ar-Raniry in 1981. His graduate studies were at the Institute of Islamic Studies, McGill University, Canada, where he obtained a master's degree in 1994, and in the doctoral programme of IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, which he completed in 1999.

His career has combined journalism, the university and government. He was a journalist for Panji Masyarakat from 1983 to 1995, editor-in-chief of Sinar Darussalam from 1994 to 2000, and editor-in-chief of Jurnal Ar-Raniry from 1999 to 2001. From 2002 to 2004 he served as Special Staff to the Governor of Nanggroe Aceh Darussalam. He has also been Head of Dayah Development at the Regional Education Council, Director of LSAMA, an Aceh-based study institute and publisher, since 2010, Chair of IKAPI Aceh (the publishers' association) since 2011, Chair of the Expert Board of PB Inshafuddin, a member of the expert team of the Aceh legislature (DPRA), and Chair of the Aceh Coordination Forum for the Prevention of Terrorism (FKPT) from 2017 to 2019. In 2023 LSAMA published a tribute volume, Hasbi Amiruddin Sang Inspirator.

His body of work is broad. In 2000 he published Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman (UII Press). His studies of dayah ulama include Ulama Dayah Pengawal Agama Masyarakat Aceh (2002), Perjuangan Ulama di Tengah Konflik Aceh (2003) and The Response of the Ulama Dayah to the Modernization of Islamic Law in Aceh (UKM, 2004/2005). He also wrote Women in Aceh: A Lesson from History (2004), Aceh dan Serambi Mekkah (2006), Menatap Masa Depan Dayah di Aceh (2008), Ulama dan Politik Menyongsong Aceh Baru (2011), Dayah 2050 (2012/2013), Filsafat Ilmu dalam Perspektif Islam (2018) and Aswaja-Wahabi (2020, with Firdaus M. Yunus). With Kamaruzzaman Bustamam Ahmad he wrote Ulama, Separatisme, dan Radikalisme di Aceh (2013). He also edited Biografi Rektor IAIN Ar-Raniry (2008).

His main contribution to Aceh studies is to have made the dayah ulama a serious subject of academic study. He reads the dayah ulama as guardians of the community's religion, as actors in conflict and as respondents to the modernisation of Islamic law, so that the dayah is not seen as a static traditional institution. His ideas on the future of the dayah, including Dayah 2050, touch on the same theme as the Dayah 2050 paper written by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad in 2012. Through LSAMA and IKAPI Aceh he has also helped sustain book and journal publishing in Aceh.

The combination of experience as journalist, academic and government adviser has allowed his writing to reach both campus and general readers. The tribute volume published in 2023 marks recognition of that role.

In the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press, 2004), M. Hasbi Amiruddin was one of the most senior members of the IAIN Ar-Raniry Writing Team. The "Sekilas Tentang Penulis" section records that in 2004 he was a lecturer of the Faculty of Tarbiyah, a 1981 graduate of the Religious Education Department, holder of a master's degree from the Institute of Islamic Studies at McGill University (1994), and a doctor of IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. With Hasan Basri and Muhammad AR of the Faculty of Tarbiyah, he represented the study of education and the dayah ulama on the team.

Gagasan kunciKey ideas

Ulama dayah sebagai subjek kajianDayah ulama as a subject of study

Ia menempatkan ulama dayah sebagai pengawal agama, aktor konflik, dan penanggap modernisasi hukum Islam.He presents dayah ulama as guardians of religion, actors in conflict and respondents to the modernisation of Islamic law.

Masa depan dayahThe future of the dayah

Ia merumuskan arah pengembangan dayah di Aceh, termasuk dalam Dayah 2050.He sets out directions for the development of the dayah in Aceh, including in Dayah 2050.

Negara Islam dan politikThe Islamic state and politics

Ia mengkaji konsep negara Islam Fazlur Rahman dan hubungan ulama dengan politik Aceh.He studies Fazlur Rahman's concept of the Islamic state and the relation of ulama to Acehnese politics.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana ulama dayah menanggapi modernisasi, konflik, dan politik, dan ke mana arah dayah di Aceh hingga 2050?How have dayah ulama responded to modernisation, conflict and politics, and where is the dayah in Aceh heading towards 2050?

Kutip entri ini:Cite this entry: “M. Hasbi Amiruddin”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/m-hasbi-amiruddin/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →