Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)Teungku Shaykh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)

Lahir 1902; ke Mekkah 1926; memimpin Misi Haji RI II 1949Born 1902; to Mecca 1926; led the Second RI Hajj Mission 1949

Syeikh Abdul Hamid Samalanga adalah ulama Aceh yang dari pengasingannya di Mekkah mendorong pembaruan pendidikan Islam di Aceh. Melalui kiriman surat kabar Ummul Qura’ kepada Teungku Haji Abdullah Ujongrimba, gagasannya bergulir menjadi gerakan yang kemudian melahirkan PUSA. Ia dikenal sebagai salah satu ulama yang paling disegani, termasuk oleh penguasa kolonial. Pada 1949 ia memimpin Misi Haji RI II untuk mencari dukungan dunia Arab bagi Republik Indonesia.

Shaykh Abdul Hamid Samalanga was an Acehnese scholar who, from exile in Mecca, pushed for the reform of Islamic education in Aceh. By sending copies of the newspaper Umm al-Qura to Teungku Haji Abdullah Ujongrimba, he set in motion ideas that later produced PUSA. He was regarded as one of the most respected scholars of his time, not least by the colonial authorities. In 1949 he led the Second RI Hajj Mission to win Arab support for the Indonesian Republic.

Abdul Hamid adalah putra Teungku Haji Idris, pemimpin dayah Tanjungan di Samalanga, Aceh Jeumpa, yang pernah bermukim sebelas tahun di Mekkah. Ia lahir pada 1902 di tengah suasana perang. Pada 1926 ia meninggalkan Aceh melalui Pulau Pinang menuju Mekkah, sebuah pelarian yang memperlihatkan peran Pinang sebagai pintu keluar bagi ulama yang diawasi penguasa kolonial.

Selama di Mekkah, ia mengirimkan surat kabar Ummul Qura’ kepada Teungku Haji Abdullah Ujongrimba, ulama Pidie kelahiran 1907 yang berhaji pada 1927 dan berguru tiga tahun di Tanah Arab. Kiriman itu membawa pesan pembaruan sistem pendidikan Islam. Sepulang dari Mekkah, Abdullah Ujongrimba mendirikan dayah di Ujong Rimba Cot dan pada 1929 terlibat dalam reformasi pendidikan bersama Teungku Muhammad Daud Beureueh. Sebuah kesaksian merangkum pembagian peran keduanya: gagasan pembaruan dan pendidikan modern dicetuskan oleh Ayah Hamid dari Arab Saudi, sementara Abu Beureueh menjadi penggeraknya di Aceh.

Peran publik Abdul Hamid berlanjut pada masa revolusi. Ketika Republik menghadapi agresi Belanda, ia dipercaya sebagai ketua Misi Haji RI II yang dibentuk atas prakarsa Mr. Syafruddin Prawiranegara di Banda Aceh. Kariernya menunjukkan bagaimana jaringan Haramayn tidak hanya menghasilkan ulama, tetapi juga diplomat dan arsitek kelembagaan pendidikan modern di Aceh.

Selain mengirim Ummul Qura’, Abdul Hamid secara eksplisit berpesan agar Tgk. Abdullah Ujong Rimba mendirikan madrasah seperti yang berkembang di Timur Tengah; gagasan ini diteruskan kepada Abu Daud Beureueh dan berujung pada pendirian Jam‘iyyah al-Diniyyah di Pidie. Ia juga menyurati para pemimpin Sarekat Islam di Aceh agar terus berjuang.

Abdul Hamid was the son of Teungku Haji Idris, head of the Tanjungan dayah in Samalanga, Aceh Jeumpa, who had himself lived eleven years in Mecca. He was born in 1902 amid war. In 1926 he left Aceh via Penang for Mecca, a flight that illustrates Penang’s role as an exit route for scholars under colonial surveillance.

In Mecca he sent copies of the newspaper Umm al-Qura to Teungku Haji Abdullah Ujongrimba, a Pidie scholar born in 1907 who performed hajj in 1927 and studied for three years in Arabia. The newspapers carried a message about reforming Islamic education. On his return Abdullah Ujongrimba founded a dayah at Ujong Rimba Cot and in 1929 joined Teungku Muhammad Daud Beureueh in reforming education. One testimony sums up the division of roles: the ideas of renewal and modern schooling came from Ayah Hamid in Saudi Arabia, while Abu Beureueh drove them forward in Aceh.

Abdul Hamid’s public role continued into the revolution. When the Republic faced Dutch aggression he was entrusted with leading the Second RI Hajj Mission, formed on the initiative of Mr. Syafruddin Prawiranegara in Banda Aceh. His career shows that the Haramayn network produced not only scholars but also diplomats and architects of modern educational institutions in Aceh.

Besides sending Ummul Qura’, Abdul Hamid explicitly urged Tgk. Abdullah Ujong Rimba to found a madrasa of the Middle Eastern kind; the idea passed to Abu Daud Beureueh and led to the founding of the Jam‘iyyah al-Diniyyah in Pidie. He also wrote to Sarekat Islam leaders in Aceh urging them to continue the struggle.

Gagasan kunciKey ideas

Pembaruan dari jauhReform from afar

Media cetak dari Mekkah menjadi saluran gagasan pembaruan ke Aceh.Print media from Mecca carried reformist ideas to Aceh.

Ulama-diplomatScholar-diplomat

Otoritas keagamaan dimanfaatkan untuk diplomasi revolusi.Religious authority was mobilised for revolutionary diplomacy.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana pengasingan di Mekkah justru memperluas pengaruh seorang ulama atas tanah asalnya?How could exile in Mecca actually extend a scholar’s influence over his homeland?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Teungku Syeikh Abdul Hamid Samalanga (Ayah Hamid)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/abdul-hamid-samalanga/