Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Kenduri haji, peusijuek, dan meusapat: ritus pelepasan calon hajiHajj feast, peusijuek and meusapat: rites of sending off the pilgrim

Tradisi yang masih hidupLiving tradition

Sebelum berangkat, calon haji Aceh menjalani rangkaian ritus yang menjadikan haji peristiwa seluruh kampung. Kenduri haji berfungsi sebagai pengumuman publik, peusijuek memberi restu adat, dan meusapat menjadi saat meminta maaf dari rumah ke rumah. Keluarga juga menata amanah atas sawah, ternak, dan anak-anak, lalu mengantar calon haji beramai-ramai dengan tangis dan doa. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa haji di Aceh adalah usaha komunal, bukan pencapaian pribadi semata.

Before departing, Acehnese pilgrims pass through a series of rites that turn the hajj into an event for the whole village. The hajj feast serves as a public announcement, peusijuek confers customary blessing, and meusapat is the house-to-house asking of forgiveness. Families also settle who will look after the rice fields, livestock and children, then escort the pilgrim en masse amid tears and prayers. The sequence shows that in Aceh the hajj is a communal undertaking rather than a purely personal achievement.

Kenduri haji adalah puncak pengumuman sosial bahwa seseorang akan ke Tanah Suci. Keluarga besar dan tetangga datang membawa lauk, beras, atau ayam; kaum perempuan memasak kari, kuah pliek, atau gulai, sementara kaum lelaki menata tempat duduk tamu. Di ruang utama beralas tikar pandan, orang-orang tua membaca doa dan zikir. Pada momen ini calon haji menyatakan niatnya secara terbuka dengan ungkapan ‘Lon jak u Arab’ (saya akan pergi ke Arab), sehingga kenduri menjadi ikrar di hadapan komunitas. Upacara peusijuek melengkapinya: tokoh adat atau ulama memercikkan air doa dan menaburkan beras sebagai lambang kesejukan jiwa dan perlindungan Ilahi, disertai harapan agar calon haji pulang dengan haji mabrur. Tidak jarang warga ikut menyumbang dana untuk memberangkatkan seseorang.

Setelah kenduri, calon haji melakukan meusapat, yaitu mendatangi rumah demi rumah untuk meminta maaf kepada kerabat, tetangga, dan siapa pun yang pernah berselisih dengannya. Orang yang didatangi biasanya menjawab dengan doa restu agar Allah memberi berkah. Tradisi ini bukan formalitas, melainkan mekanisme rekonsiliasi: haji harus ditempuh dengan hati bersih. Perlu dicatat, istilah meusapat di bagian lain juga dimaknai sebagai berkumpul.

Karena perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh hari, dan dahulu jauh lebih lama, keluarga harus menetapkan siapa yang menjaga sawah, kebun, ternak, dan anak-anak; biasanya anak tertua atau kerabat dekat menerima amanah itu dalam pertemuan keluarga yang disertai doa. Hari keberangkatan menjadi klimaks: rombongan mengantar dengan mobil, becak motor, atau berjalan kaki, diiringi pelukan panjang dan air mata, seolah-olah perpisahan menuju alam lain mengingat besarnya risiko perjalanan. Pada masa kolonial bahkan diberlakukan pengumuman resmi atau khutbah haji di masjid sebelum keberangkatan, tanda bahwa haji telah lama menjadi urusan publik.

The hajj feast is the high point of the social announcement that someone is going to the Holy Land. Relatives and neighbours arrive with side dishes, rice or chickens; the women cook curry, kuah pliek or gulai while the men arrange seating for guests. In the main room, spread with pandanus mats, the elders recite prayers and dhikr. Here the prospective pilgrim states the intention publicly with the phrase 'Lon jak u Arab' (I am going to Arabia), so the feast becomes a pledge before the community. The peusijuek ceremony completes it: a customary leader or religious scholar sprinkles blessed water and scatters rice as a sign of inner calm and divine protection, with the hope that the pilgrim will return with an accepted hajj (haji mabrur). Villagers often contribute money to help send someone.

After the feast the pilgrim performs meusapat, going from house to house to ask forgiveness of relatives, neighbours and anyone with whom there has been a quarrel. Those visited usually reply with a blessing that God may grant barakah. This is no mere formality but a mechanism of reconciliation: the hajj must be undertaken with a clean heart. The term meusapat is elsewhere also glossed as 'gathering together'.

Because the journey takes about forty days, and once took far longer, families must decide who will mind the rice fields, gardens, livestock and children; usually the eldest child or a close relative accepts this trust at a family meeting closed with prayer. Departure day is the climax: convoys escort the pilgrim by car, motorised rickshaw or on foot, with long embraces and tears, as though parting for another world given the perils of the journey. In the colonial period an official announcement or hajj sermon was even held in the mosque before departure, a sign that the hajj had long been a public matter.

Gagasan kunciKey ideas

Ikrar di hadapan komunitasA pledge before the community

Ungkapan ‘Lon jak u Arab’ di tengah kenduri menjadikan niat pribadi sebagai komitmen sosial.Saying 'Lon jak u Arab' at the feast turns a private intention into a social commitment.

Rekonsiliasi sebelum ibadahReconciliation before worship

Meusapat memastikan haji menjadi momentum menghapus luka lama dan memperbarui solidaritas.Meusapat makes the hajj an occasion for healing old wounds and renewing solidarity.

Kekerabatan sebagai penopangKinship as support

Pengaturan amanah atas harta dan anak memperlihatkan bahwa keluarga inti selalu ditopang keluarga luas.Arrangements for property and children show that the nuclear family is always supported by the wider kin group.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa permintaan maaf kepada sesama dipandang sebagai syarat batin sebelum menghadap Tuhan di Tanah Suci?Why is asking forgiveness of one's neighbours seen as an inner precondition for standing before God in the Holy Land?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Kenduri haji, peusijuek, dan meusapat: ritus pelepasan calon haji”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kenduri-haji-dan-meusapat/