Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Bayt al-Asyi dan wakaf Aceh di Tanah SuciBayt al-Asyi and Acehnese endowments in the Holy Land

Wakaf Habib Bugak: 18 Rabiul Akhir 1224 H; masih berfungsi kiniHabib Bugak’s endowment: 18 Rabi‘ al-Akhir 1224 AH; still active

Bayt al-Asyi adalah wakaf orang Aceh di Mekkah yang hasil pengelolaannya hingga kini dibagikan kepada setiap jemaah haji asal Aceh. Wakaf ini berasal dari Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman al-Habsyi) dan menjadi bagian dari jaringan wakaf yang lebih luas di Mekkah, Mina, Jeddah, dan Taif. Nama-nama wakif yang bergelar al-Asyi menunjukkan komunitas Aceh yang terorganisasi di Haramayn. Hubungan materiil Aceh–Mekkah juga tampak pada hadiah emas Sultanah Naqiyyat al-Din kepada Syarif Mekkah.

Bayt al-Asyi is an Acehnese endowment in Mecca whose proceeds are still distributed to every pilgrim from Aceh. It originates with Habib Bugak Asyi (Habib Abdurrahman al-Habsyi) and forms part of a wider network of endowments in Mecca, Mina, Jeddah and Ta’if. The many donors bearing the nisba al-Asyi point to an organised Acehnese community in the Haramayn. Material ties between Aceh and Mecca are also visible in Sultanah Naqiyyat al-Din’s gifts of gold to the Sharif of Mecca.

Tanah dan rumah dua lantai yang menjadi inti Bayt al-Asyi diikrarkan sebagai wakaf oleh Habib Bugak Asyi pada 18 Rabiul Akhir 1224 H; tahun Masehinya dicatat sebagai 1803, meski penyetaraan ini perlu diperiksa. Dari hasil pengelolaannya, setiap jemaah haji Aceh menerima bantuan, misalnya 1.200 riyal per orang pada pembagian tahun 2012. Selain itu tercatat wakaf atas nama Syeikh Muhammad Saleh Asyi di Qassasiyyah, Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail, wakaf di Mina, rumah wakaf di Jeddah dan Taif, serta di berbagai kawasan Mekkah seperti Syamiah dan al-Aziziyyah, termasuk wakaf keluarga Bawaris Asyi.

Penggunaan nisbah al-Asyi menegaskan bahwa orang Aceh di Haramayn tidak sekadar dilebur ke dalam kategori ‘Jawah’ atau ‘Melayu’. Nico Kaptein mencatat sosok Abdus Salam ibn Idris al-Asyi, yang pulang ke Aceh untuk menggalang dana pembelian tanah wakaf; bila informasinya benar, ia adalah warga Mekkah keturunan Aceh yang bekerja bagi kepentingan sebangsanya di koloni Jawah sambil menjaga hubungan dengan tanah asal.

Hubungan ini berakar jauh. Pada 1672, dua utusan Syarif Barakat dari Mekkah tiba di Aceh. Sultanah Naqiyyat al-Din membekali mereka dengan emas untuk Syarif dan kaum miskin Haramayn; hadiah itu bahkan memicu perselisihan di kalangan putra Syarif, dan lima lampu gantung emas disebut dipersembahkan untuk Ka‘bah. Tradisi wakaf (tanoh wakeuh) yang telah lama membudaya di Aceh dengan demikian diproyeksikan ke Tanah Suci sebagai investasi lintas generasi.

Wakaf ini kini berwujud hotel dan menara di kawasan Ajyad, ratusan meter dari Ka‘bah, dengan nilai yang diperkirakan triliunan rupiah dan daya tampung ribuan jemaah. Sumber lain mencatat ikrarnya pada 1222 H/1800 M, berbeda dari tanggal 1224 H yang tercatat sebelumnya. Pembagian uang kepada setiap jemaah asal Aceh disebut tidak ditemukan pada komunitas lain di Nusantara.

The land and two-storey house at the core of Bayt al-Asyi were pledged as waqf by Habib Bugak Asyi on 18 Rabi‘ al-Akhir 1224 AH; the Gregorian year is recorded as 1803, though this equivalence needs checking. From its proceeds every Acehnese pilgrim receives support, for example 1,200 riyals per person in the 2012 distribution. Other endowments are recorded in the names of Shaykh Muhammad Saleh Asyi in Qassasiyya and Sulaiman bin Abdullah Asyi in Suq al-Layl, along with properties in Mina, houses in Jeddah and Ta’if, and holdings in Meccan districts such as Shamiyya and al-‘Aziziyya, including endowments of the Bawaris Asyi family.

The use of the nisba al-Asyi shows that Acehnese in the Haramayn were not simply absorbed into the categories ‘Jawa’ or ‘Malay’. Nico Kaptein notes one Abdus Salam ibn Idris al-Asyi, who returned to Aceh to raise funds for purchasing waqf land; if the account is accurate, he was a Meccan of Acehnese descent working for his compatriots in the Jawa colony while keeping close ties with his homeland.

These ties run deep. In 1672 two envoys of Sharif Barakat of Mecca reached Aceh. Sultanah Naqiyyat al-Din sent them home with gold for the Sharif and for the poor of the Haramayn; the gift reportedly sparked quarrels among the Sharif’s sons, and five golden hanging lamps are said to have been offered to the Ka‘ba. The waqf tradition (tanoh wakeuh), long rooted in Aceh, was thus projected onto the Holy Land as an investment across generations.

The endowment today takes the form of a hotel and tower in the Ajyad district a few hundred metres from the Ka‘ba, reportedly worth trillions of rupiah and able to house thousands of pilgrims. Another source dates the pledge to 1222 AH/1800 CE, differing from the 1224 AH date recorded earlier. The cash payment to every pilgrim from Aceh is said to be unique among the archipelago's communities.

Gagasan kunciKey ideas

Wakaf sebagai infrastruktur hajiWaqf as hajj infrastructure

Tanah wakaf memudahkan jemaah Aceh tinggal dan belajar di Mekkah.Endowed property eased Acehnese pilgrims’ stay and study in Mecca.

Identitas al-AsyiThe al-Asyi identity

Nisbah khusus membedakan orang Aceh dari kategori Jawah dan Melayu.A distinct nisba set Acehnese apart from the Jawa and Malay categories.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang dapat dipelajari lembaga filantropi modern dari ketahanan wakaf Aceh di Mekkah selama lebih dari dua abad?What can modern philanthropy learn from the two-century endurance of Acehnese endowments in Mecca?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Bayt al-Asyi dan wakaf Aceh di Tanah Suci”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/bayt-al-asyi/