Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Jaringan ilmu Patani dan Aceh: Jawi, pondok, Pustaka Al-Azhar, dan diplomasi pendidikanPatani–Aceh networks of learning: Jawi, the pondok, Pustaka Al-Azhar and educational diplomacy

Abad ke-18–202618th century–2026

Entri ini membaca Patani di Thailand selatan sebagai geografi intelektual dalam peta peradaban Melayu yang menghubungkannya dengan Kelantan, Kedah, Aceh, Mekkah, dan Kairo, bukan semata zona konflik. Dua simpul kecil dijadikan jendela: Pustaka Al-Azhar, toko kitab Arab dan Jawi di jalan menuju perbatasan Malaysia yang dikunjungi pada Juni 2026, dan Yayasan Wakaf al-Hidayah di Hat Yai yang sejak 2015 menjembatani pelajar Thailand ke kampus Indonesia dan mahasiswa Indonesia ke sekolah-sekolah Islam di Thailand selatan. Keduanya memperlihatkan bahwa transmisi ilmu Islam di dunia Melayu bertahan melalui ruang-ruang sederhana, aksara Jawi, dan jejaring lintas negara.

This entry reads Patani in southern Thailand as an intellectual geography within the map of Malay civilisation, linked to Kelantan, Kedah, Aceh, Mecca and Cairo, not merely as a conflict zone. Two small nodes serve as windows: Pustaka Al-Azhar, an Arabic and Jawi bookshop on the road to the Malaysian border visited in June 2026, and the Yayasan Wakaf al-Hidayah in Hat Yai, which since 2015 has bridged Thai students to Indonesian campuses and Indonesian students to Islamic schools in southern Thailand. Both show that the transmission of Islamic knowledge in the Malay world endures through humble spaces, Jawi script and cross-border networks.

Kajian tentang Thailand selatan lazim berpusat pada konflik, politik identitas, dan relasi negara dengan minoritas. Tanpa mengecilkan semua itu, Patani juga perlu dibaca sebagai tempat belajar, budaya naskah, otoritas keagamaan, dan produktivitas ulama. Patani adalah ingatan intelektual dalam peta yang lebih luas, terhubung dengan Kelantan, Kedah, Aceh, Mekkah, Kairo, dan dunia Muslim. Ulama Patani menulis, mengajar, mensyarah, menerjemahkan, dan mendidik murid; karya mereka sebagian besar bersifat pedagogis, mencakup akidah, ibadah, akhlak, kehidupan keluarga, taharah, nahu Arab, dan disiplin tasawuf. Teks-teks praktis semacam itu disebut tulang punggung peradaban karena membentuk kehidupan sehari-hari, dari salat dan berdagang hingga menikah dan mendidik anak. Banyak ulama belajar di Mekkah atau Kairo lalu menyesuaikan ilmunya dengan keadaan setempat, sebuah kekuatan khas tradisi Islam Melayu. Karya-karya Jawi Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani, misalnya, masih diajarkan di pondok dari Kelantan hingga Aceh.

Pondok di Patani bukan sekadar sekolah, melainkan lingkungan pembentukan. Santri mempelajari kitab sekaligus disiplin, adab, kerendahan hati, dan etika menuntut ilmu di bawah tok guru yang dihormati karena otoritas moral dan intelektualnya. Ilmu diterima melalui adab dan menuntut kehadiran, pengulangan, hafalan, syarah, dan koreksi; belajar berarti memasuki sebuah tradisi. Tiga bahasa bekerja bersama: Arab menghubungkan Patani dengan ilmu-ilmu Islam klasik, Melayu dengan budaya kawasan, dan Jawi dengan keduanya.

Jawi, aksara Arab untuk bahasa Melayu, diperlakukan sebagai ingatan dan metode, bukan nostalgia atau warisan seremonial. Selama berabad-abad Jawi membawa teologi, fikih, tasawuf, akhlak, sejarah, nahu, dan sastra kebaktian kepada penutur Melayu, membuat Islam terbaca di dalam budaya setempat sambil tetap tersambung dengan sumber Arab. Teks dapat berpindah antarwilayah: karya dari Patani dibaca di Kelantan, karya dari Kedah dikaji di Aceh, sehingga lahir bahasa keilmuan bersama di dunia Melayu. Merosotnya literasi Jawi berarti melemahnya akses ke seluruh arsip pemikiran, sebab banyak kitab klasik tak dapat dihargai sepenuhnya tanpa kemampuan membacanya.

Pustaka Al-Azhar adalah toko kitab sederhana dengan papan nama beraksara Arab, dikunjungi pada 15 Juni 2026 dalam perjalanan dari Songkhla menuju Kota Bharu melalui Patani dan perbatasan Sungai Golok. Pemiliknya alumnus Universitas Al-Azhar, sebuah jembatan simbolik antara Kairo dan Patani, dan rak-raknya memuat kitab Arab dan Jawi tentang akidah, fikih, akhlak, dan disiplin rohani, sebagian klasik dan sebagian dicetak ulang untuk santri masa kini. Toko ini dibaca sebagai simpul kecil dalam rantai transmisi yang panjang dan sebagai arsip yang bergerak: ilmu bertahan karena dipakai, bukan sekadar disimpan. Dalam ekologi pendidikan Islam yang terdiri atas guru, murid, kitab, lembaga, keluarga, masjid, penerbit, pencetak, dan toko buku, hilangnya satu unsur melemahkan keseluruhan. Toko buku adalah infrastruktur, bukan sekadar ritel, terutama bagi komunitas yang jauh dari perpustakaan besar; ia tidak menerbitkan ijazah, tetapi menopang pembelajaran sehari-hari.

Arus sebaliknya tampak pada Yayasan Wakaf al-Hidayah di Hat Yai, yang diaktifkan pada 2015 oleh Adul Maetam bersama istrinya, Salma Maetam, sebagai wadah dakwah dan pendidikan bagi Muslim Thailand. Adul Maetam adalah alumnus Gontor Darussalam, bergelar magister dari Universitas Islam Antarbangsa Malaysia dengan keahlian usul fikih, dan lebih dari satu dasawarsa bekerja sebagai staf lokal Konsulat Jenderal RI di Songkhla. Yayasan ini menghimpun dana wakaf dari anggotanya untuk membiayai pelajar Thailand belajar di kampus-kampus Indonesia, dan melalui program Islamisasi internasional telah menerima lebih dari seribu mahasiswa Indonesia untuk magang atau KKN selama sebulan di sekolah-sekolah Islam di Thailand selatan, Bangkok, dan Chiang Mai. Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry termasuk mitra dan telah mengirim hampir seratus mahasiswa sejak 2022.

Visi yayasan ini disebut visi keindonesiaan: memperkenalkan pola keberislaman Indonesia yang dinilai lebih moderat sebagai model, membangun soft power pendidikan Islam di Thailand selatan, dan berencana membuka sekolah bermodel pendidikan Islam Indonesia. Mahasiswa Indonesia membantu mengajar dan tinggal bersama keluarga sekolah selama sebulan, sementara pelajar Thailand pulang dengan jejaring Indonesia. Program semacam ini terhubung dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan internasionalisasi pendidikan tinggi. Pada Agustus 2025 mahasiswa FSH UIN Ar-Raniry kembali melakukan pengabdian internasional di sekolah dan madrasah di Yala, Pattani, dan Songkhla, saluran lunak yang membangun kepercayaan jangka panjang meski jarang masuk kalkulasi geopolitik.

Kedua simpul ini menegaskan satu gagasan: di era kecepatan dan konten digital, ilmu Islam adalah soal kesinambungan, bukan sekadar isi. Sebuah kitab membawa guru, murid, perdebatan, dan tafsir berabad-abad. Peradaban dipelihara melalui tindakan kesetiaan yang kecil: guru yang mengajar, murid yang membaca, toko buku yang tetap buka, aksara yang bertahan, dan kitab yang terus berpindah tangan. Bagi Aceh, yang ulama dan dayahnya pernah menjadi bagian jaringan yang sama, Patani adalah cermin tentang bagaimana tradisi pondok dan Jawi bertahan di bawah tekanan negara, modernisasi pendidikan, dan konflik, serta pengingat bahwa ilmu sering bertahan di pinggiran sebelum pusat mengakuinya.

Studies of southern Thailand usually centre on conflict, identity politics and relations between the state and a minority. Without diminishing any of that, Patani must also be read as a place of learning, manuscript culture, religious authority and scholarly productivity. Patani is an intellectual memory on a wider map, linked to Kelantan, Kedah, Aceh, Mecca, Cairo and the Muslim world. Patani's ulama wrote, taught, commented, translated and trained students; their works were largely pedagogical, covering creed, worship, ethics, family life, purification, Arabic grammar and Sufi discipline. Such practical texts are called the backbone of a civilisation because they shape daily life, from prayer and trade to marriage and raising children. Many scholars studied in Mecca or Cairo and then adapted what they learned to local conditions, a distinctive strength of the Malay Islamic tradition. The Jawi works of Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani, for example, are still taught in pondoks from Kelantan to Aceh.

The pondok in Patani is not just a school but an environment of formation. Students learn texts as well as discipline, manners, humility and the ethics of seeking knowledge under a tok guru respected for moral as well as intellectual authority. Knowledge is received through adab and demands presence, repetition, memorisation, commentary and correction; to study is to enter a tradition. Three languages work together: Arabic links Patani to the classical Islamic sciences, Malay to regional culture, and Jawi to both.

Jawi, the Arabic script for Malay, is treated as memory and method rather than nostalgia or ceremonial heritage. For centuries Jawi carried theology, jurisprudence, Sufism, ethics, history, grammar and devotional literature to Malay speakers, making Islam readable within local culture while keeping it connected to Arabic sources. Texts could move between regions: a work from Patani was read in Kelantan, a work from Kedah studied in Aceh, creating a shared scholarly language across the Malay world. Declining Jawi literacy means weakening access to an entire archive of thought, since many classical texts cannot be fully appreciated without the ability to read it.

Pustaka Al-Azhar is a modest bookshop with an Arabic-script signboard, visited on 15 June 2026 on a journey from Songkhla towards Kota Bharu via Patani and the Sungai Golok border. Its owner is an alumnus of Al-Azhar University, a symbolic bridge between Cairo and Patani, and its shelves hold Arabic and Jawi works on creed, jurisprudence, ethics and spiritual discipline, some classical and some reprinted for today's students. The shop is read as a small node in a long chain of transmission and as an archive in motion: knowledge survives because it is used, not merely stored. In an ecology of Islamic education made up of teachers, students, books, institutions, families, mosques, publishers, printers and bookshops, losing one element weakens the whole. A bookshop is infrastructure, not just retail, especially for communities far from large libraries; it issues no certificates but sustains everyday learning.

The reverse current is visible in the Yayasan Wakaf al-Hidayah in Hat Yai, activated in 2015 by Adul Maetam with his wife, Salma Maetam, as a platform for dakwah and education for Thai Muslims. Adul Maetam is a graduate of Gontor Darussalam, holds a master's degree from the International Islamic University Malaysia with expertise in usul al-fiqh, and worked for more than a decade as local staff at the Indonesian Consulate General in Songkhla. The foundation collects waqf funds from its members to finance Thai students at Indonesian campuses, and through its international Islamisation programme has received more than a thousand Indonesian students for one-month internships or community service in Islamic schools in southern Thailand, Bangkok and Chiang Mai. The Faculty of Sharia and Law at UIN Ar-Raniry is among its partners and has sent nearly one hundred students since 2022.

The foundation's vision is described as an Indonesian vision: introducing Indonesian patterns of Islamic practice, regarded as more moderate, as a model, building the soft power of Islamic education in southern Thailand, and planning a school modelled on Indonesian Islamic education. Indonesian students help teach and live with school families for a month, while Thai students return with Indonesian networks. Such programmes connect with Indonesia's Merdeka Belajar Kampus Merdeka policy and the internationalisation of higher education. In August 2025 students of the same faculty again carried out international community service in schools and madrasahs in Yala, Pattani and Songkhla, a soft channel that builds long-term trust though it rarely enters geopolitical calculation.

Both nodes affirm a single idea: in an age of speed and digital content, Islamic knowledge is a matter of continuity, not just content. A book carries teachers, students, debates and centuries of interpretation. Civilisation is preserved through small acts of loyalty: a teacher who teaches, a student who reads, a bookshop that stays open, a script that survives and a book that keeps changing hands. For Aceh, whose ulama and dayah were once part of the same network, Patani is a mirror of how the pondok and Jawi traditions survive under state pressure, educational modernisation and conflict, and a reminder that knowledge often survives at the margins before the centre recognises it.

Gagasan kunciKey ideas

Geografi intelektualIntellectual geography

Patani sebagai simpul dalam peta ilmu Melayu-Islam, bukan hanya zona konflik.Patani as a node on the map of Malay-Islamic learning, not only a conflict zone.

Jawi sebagai metodeJawi as method

Aksara yang membentuk cara generasi Melayu memahami konsep, argumen, dan ajaran moral.A script that shaped how Malay generations understood concepts, arguments and moral teaching.

Arsip yang bergerakArchive in motion

Ilmu bertahan karena kitab terus dipakai dan berpindah tangan.Knowledge survives because books keep being used and changing hands.

Ekologi pendidikan IslamEcology of Islamic education

Guru, murid, kitab, penerbit, dan toko buku saling bergantung.Teachers, students, books, publishers and bookshops depend on one another.

Diplomasi pendidikanEducational diplomacy

Pertukaran pelajar dan pengabdian lintas negara sebagai soft power jangka panjang.Student exchange and cross-border service as long-term soft power.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah sebuah tradisi keilmuan lebih terancam oleh konflik bersenjata atau oleh hilangnya pembaca aksaranya?Is a scholarly tradition more threatened by armed conflict or by the loss of readers of its script?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Jaringan ilmu Patani dan Aceh: Jawi, pondok, Pustaka Al-Azhar, dan diplomasi pendidikan”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/jaringan-ilmu-patani-dan-aceh/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →