Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Mutiara Fahmi

Lahir 1973; dosen sejak 2002Born 1973; lecturer since 2002

Mutiara Fahmi adalah dosen fiqh siyasah di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, lulusan Universitas Al-Azhar Kairo dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada 2004 ia termasuk generasi dosen muda yang menyusun Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

Mutiara Fahmi is a lecturer in Islamic political jurisprudence (fiqh siyasah) at the Faculty of Sharia and Law, UIN Ar-Raniry, and a graduate of Al-Azhar University in Cairo and UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. In 2004 he was among the young lecturers who wrote the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh.

Mutiara Fahmi lahir di Banda Aceh pada 9 Juli 1973. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri Teladan Lamnyong, Darussalam, lingkungan kampus IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala, kemudian belajar di Madrasah Darul Ulum Langsa. Pendidikan tingginya ia jalani di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar Kairo, sehingga ia menyandang gelar Lc. Ia kemudian meraih gelar magister dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2002.

Ia diangkat sebagai pegawai negeri dan dosen IAIN Ar-Raniry pada Desember 2002, dan bertugas di Fakultas Syariah, kini Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). Pada tahun-tahun awal kariernya ia mengikuti beberapa pelatihan pengembangan dosen: pelatihan penelitian di Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga (2003), Program Pembibitan Calon Dosen, lokakarya perancangan mata kuliah pendidikan tinggi yang diselenggarakan CTSD di Yogyakarta (2003), serta pelatihan penelitian di Pusat Penelitian IAIN Ar-Raniry (2004). Dalam publikasinya ia menulis nama H. Mutiara Fahmi, Lc., M.A.

Bidang utamanya adalah fiqh siyasah, yakni hukum tata negara dan politik dalam perspektif Islam, yang ia kaitkan erat dengan pengalaman Aceh sebagai daerah yang menjalankan syariat Islam dalam kerangka otonomi khusus. Artikel "Tim Pengawal UUPA: Dualisme Kelembagaan" (Jurnal Legislasi Indonesia, 2021) menelaah kelembagaan pengawalan Undang-Undang Pemerintahan Aceh, sedangkan tulisannya di Samarah (2022) membahas hukuman bagi pelaku zina muhsan dalam Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat. Ia juga menulis tentang pemikiran Yusuf al-Qaradhawi mengenai dar al-Islam (2023) dan mu'aradhah atau oposisi politik (2025), serta tentang penegasan peran agama dalam kehidupan berbangsa (2026).

Sumbangannya bagi studi Aceh terlihat dalam upaya mempertemukan fikih dengan kearifan lokal dan persoalan kemanusiaan kontemporer. Artikel di El-Mashlahah (2024) mengkaji fikih dan kearifan lokal dalam perlindungan pengungsi Rohingya oleh tokoh-tokoh Aceh, menunjukkan bagaimana nilai-nilai lokal masyarakat Aceh berpadu dengan argumen fikih. Pendekatan ini menempatkan Aceh bukan hanya sebagai objek penerapan syariat, tetapi juga sebagai sumber praktik etika publik yang patut dibaca dalam fiqh siyasah.

Latar pendidikannya di Al-Azhar dalam bidang akidah dan filsafat memberinya bekal untuk membaca persoalan politik Islam dari sisi teologis dan konseptual, bukan hanya dari sisi hukum positif. Hal ini tampak dalam perhatiannya pada pemikiran Yusuf al-Qaradhawi, ulama yang juga berlatar Al-Azhar, tentang konsep dar al-Islam dan oposisi politik. Bagi Aceh, tema-tema tersebut bukan wacana abstrak, karena provinsi ini menjalani perdebatan panjang tentang hubungan antara syariat, otonomi khusus, perdamaian Helsinki 2005, dan negara kesatuan. Tulisan-tulisannya menempatkan pengalaman Aceh dalam percakapan fiqh siyasah yang lebih luas di dunia Islam.

Pada 2004 Mutiara Fahmi termasuk dalam Tim Penulis IAIN Ar-Raniry yang menyusun Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). Biografi singkat dalam buku itu memperkenalkannya sebagai dosen Fakultas Syariah, lulusan Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar, magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2002), dan peserta rangkaian pelatihan penelitian dan pengajaran pada 2003–2004. Ia termasuk penulis termuda dalam tim tersebut, sehingga keterlibatannya mencerminkan karakter ensiklopedi itu sebagai proyek yang mempertemukan dosen senior dengan generasi baru dosen IAIN Ar-Raniry.

Mutiara Fahmi was born in Banda Aceh on 9 July 1973. He attended the model state primary school (SD Negeri Teladan) in Lamnyong, Darussalam, the campus district of IAIN Ar-Raniry and Syiah Kuala University, and then studied at Madrasah Darul Ulum in Langsa. He pursued higher education in the Faculty of Usuluddin, Department of Creed and Philosophy, at Al-Azhar University in Cairo, earning the Lc. degree, and later obtained a master's degree from UIN Syarif Hidayatullah Jakarta in 2002.

He became a civil servant and lecturer at IAIN Ar-Raniry in December 2002, assigned to the Faculty of Sharia, now the Faculty of Sharia and Law (FSH). In the early years of his career he joined several lecturer-development programmes: research training at the Research Centre of IAIN Sunan Kalijaga (2003), a programme for prospective lecturers, a workshop on higher-education course design run by CTSD in Yogyakarta (2003), and research training at the Research Centre of IAIN Ar-Raniry (2004). In his publications he writes his name as H. Mutiara Fahmi, Lc., M.A.

His main field is fiqh siyasah, Islamic constitutional and political jurisprudence, which he connects closely with Aceh's experience as a region implementing Islamic law within a framework of special autonomy. "Tim Pengawal UUPA: Dualisme Kelembagaan" (Jurnal Legislasi Indonesia, 2021) examines the institutions overseeing the Law on the Governing of Aceh, while his article in Samarah (2022) discusses the punishment of married adulterers (zina muhsan) under Aceh Qanun No. 6 of 2014 on Islamic criminal law. He has also written on Yusuf al-Qaradawi's thought on dar al-Islam (2023) and on mu'aradah, or political opposition (2025), and on affirming the role of religion in national life (2026).

His contribution to Aceh studies is visible in his effort to bring jurisprudence together with local wisdom and contemporary humanitarian questions. His article in El-Mashlahah (2024) examines Islamic jurisprudence and local wisdom in the humanitarian protection of Rohingya refugees by Acehnese figures, showing how local Acehnese values combine with juristic argument. This approach treats Aceh not only as a site where sharia is applied but also as a source of public ethical practice worth reading within fiqh siyasah.

His training at Al-Azhar in creed and philosophy equipped him to read questions of Islamic politics from a theological and conceptual angle, not only from that of positive law. This is visible in his attention to the thought of Yusuf al-Qaradawi, another Azhar-trained scholar, on the concept of dar al-Islam and on political opposition. For Aceh these are not abstract themes, since the province has lived through long debates on the relation between sharia, special autonomy, the 2005 Helsinki peace and the unitary state. His writings place Aceh's experience within the wider conversation of fiqh siyasah in the Muslim world.

In 2004 Mutiara Fahmi was part of the IAIN Ar-Raniry Writing Team that produced the Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh (Ar-Raniry Press). The short biography in that book introduces him as a lecturer at the Faculty of Sharia, a graduate of the Department of Creed and Philosophy at Al-Azhar's Faculty of Usuluddin, a 2002 master's graduate of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, and a participant in a series of research and teaching workshops in 2003–2004. He was among the youngest members of the team, and his participation reflects the encyclopaedia's character as a project bringing senior scholars together with a new generation of IAIN Ar-Raniry lecturers.

Gagasan kunciKey ideas

Fiqh siyasah dan otonomi khususFiqh siyasah and special autonomy

Kelembagaan syariat Aceh perlu dibaca dalam kerangka hukum tata negara Islam sekaligus hukum nasional.Aceh's sharia institutions should be read within both Islamic constitutional jurisprudence and national law.

Fikih dan kearifan lokalJurisprudence and local wisdom

Perlindungan pengungsi Rohingya di Aceh menunjukkan perpaduan argumen fikih dengan adat setempat.The protection of Rohingya refugees in Aceh shows juristic argument combined with local custom.

Oposisi dan negaraOpposition and the state

Gagasan al-Qaradhawi tentang dar al-Islam dan mu'aradhah menjadi bahan untuk menimbang relasi agama dan negara.Al-Qaradawi's ideas on dar al-Islam and mu'aradah serve as material for weighing the relation of religion and state.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana fiqh siyasah dapat menjelaskan kelembagaan syariat dan etika publik Aceh dalam negara bangsa?How can fiqh siyasah explain Aceh's sharia institutions and public ethics within the nation-state?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Mutiara Fahmi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mutiara-fahmi/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →