Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Aulia 44 di Pulau WehThe Aulia 44 of Pulau Weh

abad ke-17–19 (tradisi); ziarah hingga kini17th–19th centuries (tradition); pilgrimage to the present

Aulia 44 adalah sebutan masyarakat Sabang bagi empat puluh empat ulama, wali, panglima, dan guru perempuan yang diyakini membawa dan meneguhkan Islam di Pulau Weh, dengan makam tersebar di pesisir dan perbukitan pulau itu. Tokoh-tokoh yang paling dikenal antara lain Teungku Chik di Iboih, Ummi Rubiah, dan Syekh Hubaidillah Alhabsyi yang disebut sebagai Wali Negeri pertama Pulau Weh. Karena arsip tertulis sangat tipis, ingatan tentang mereka terutama hidup dalam tradisi lisan, inskripsi nisan, sebaran makam, dan ritual ziarah seperti zikir dalam Khanduri Laot. Kelompok ini memperlihatkan bahwa islamisasi Aceh tidak berhenti pada masa Pasai, melainkan berlanjut melalui gelombang dakwah lokal di wilayah perbatasan maritim.

Aulia 44 is the name the people of Sabang give to forty-four ulama, saints, commanders and women teachers believed to have brought and consolidated Islam on Pulau Weh, whose graves are scattered along the island’s coasts and hills. The best known include Teungku Chik di Iboih, Ummi Rubiah and Syekh Hubaidillah Alhabsyi, described as the first Wali Negeri of Pulau Weh. Because the written record is very thin, their memory lives chiefly in oral tradition, gravestone inscriptions, the distribution of graves and pilgrimage rituals such as the zikir held during Khanduri Laot. The group shows that the Islamisation of Aceh did not end with Pasai but continued through waves of local preaching on the maritime frontier.

Pulau Weh terletak di ujung barat Sumatra, berbatasan dengan mulut Selat Melaka, dan sejak lama menjadi pelabuhan strategis serta jalur pelayaran jemaah haji Aceh. Sebagai bagian dari wilayah Kesultanan Aceh Darussalam yang dijuluki Serambi Mekkah, pulau ini menerima Islam dalam arus panjang yang bermula dari Pasai sejak abad ke-13. Namun di Sabang sendiri, ingatan masyarakat tentang asal-usul keislaman tertambat pada sekelompok tokoh yang disebut Aulia 44, yang menurut tradisi setempat datang dan berkiprah sekitar abad ke-17 hingga ke-18. Mereka dikenang sebagai ‘pondasi spiritual’ Aceh bagian barat, dan nama ‘Aulia 44 Sabang’ muncul dalam kumpulan doa populer sebagai sebuah himpunan orang suci.

Tokoh paling terkenal adalah Teungku Chik di Iboih, yang dalam tradisi disebut Tengku Ibrahim Musatafari Adham dan berasal dari Seulimum, Aceh Besar. Makamnya terletak di ujung pantai Gampong Iboih, di bibir tebing yang menghadap Pulau Rubiah; papan namanya mencantumkan kelahiran di Seulimum tahun 1723 dan wafat 1786, meski penanggalan dalam berbagai sumber tidak seragam. Nama kawasan Iboih dikaitkan dengan gelar sang wali. Nisannya berupa batu bulat polos tanpa ukiran ayat atau motif geometris, berbeda dari makam-makam besar seperti Syiah Kuala atau Teungku di Anjong, dengan bangunan setinggi dada beratap seng serupa makam tradisional Aceh dan sebuah sumur air tawar kecil untuk berwudu meski berada di tepi laut.

Pasangannya, Ummi Sarah Rubiah—juga disebut Cut Nyak Rubiah atau Siti Rubiah—dimakamkan di pantai Pulau Rubiah, sekitar lima hingga sepuluh menit perjalanan perahu dari Iboih, dan pulau itu mengambil namanya. Ia dikenang sebagai ulama perempuan dan guru mengaji. Kisah yang paling sering diulang menyebut perselisihan fikih antara Teungku di Iboih dan Rubiah tentang najis air liur anjing, yang berujung pada pemisahan tempat tinggal hingga Rubiah menetap di pulau kecil itu sampai wafat. Penanggalan tentangnya juga beragam, dan cerita-cerita tentang anjing atau ‘durian keramat’ yang menyertainya lebih bersifat folklor ketimbang sejarah. Dua makam yang saling berhadapan di seberang selat sempit ini diperlakukan sebagai situs berpasangan.

Tokoh ketiga, Syekh Hubaidillah Junaidi Alhabsyi, dimakamkan di Gampong Jaboi (Kubu Bak Syuh). Menurut keterangan Kementerian Agama Sabang, ia adalah Wali Negeri pertama Pulau Weh yang menerima mandat dari kesultanan, keturunan marga Habsyi, sekaligus pengajar ilmu agama dan tabib. Ingatan tentangnya memperlihatkan bahwa sebagian Aulia 44 memadukan otoritas keagamaan dan politik; tradisi yang sama juga menyebut tokoh seperti Panglima Muda Setia Teuku Muhammad Daud dan Panglima Paduka Sinara. Selain mereka, dikenal pula Teungku Chik Abu Dipasi di Blang Tunong, Balohan; Teungku Anoi Raya di Gunung Anoi Itam; serta ulama perempuan Umi Siti Mariah dan Umi Khatijah di Ujong Meureung dan Kuala Ie Mausen. Sebagian besar data tentang mereka hanya bertahan sebagai warisan lisan, dan dari empat puluh empat nama itu baru sekitar belasan yang dapat disebutkan dengan jelas.

Sebaran makam membentuk klaster yang bermakna: pasangan Iboih–Rubiah di utara, Teungku Dipasi dan Cok Bak Cuh di pesisir barat daya, Teungku Chik Jauboi, Teungku Beurawang, dan Teungku Bungong di tengah dan selatan, Teungku Anoi Raya di timur, makam-makam para Umi di pesisir timur laut, serta Teungku Yunus dan Teungku Said di pesisir utara. Pola ini mengisyaratkan permukiman lama atau wilayah adat nelayan (lhok) di Sabang. Secara arkeologis, nisan polos, ubin modern, huruf Latin pada sebagian nisan, dan penataan sumur menunjukkan bahwa situs-situs ini telah ditata ulang sebagai ruang ritual pada masa kemudian; bukti material umumnya mendukung penanggalan abad ke-18 hingga ke-19, dan belum ada temuan prasasti kuno yang terdokumentasi secara formal.

Dalam perspektif antropologis, makam-makam Aulia 44 memiliki status keramat dan menjadi pusat ziarah serta penanda identitas keagamaan lokal. Etika ziarahnya tegas: berpakaian sopan, datang hanya untuk berdoa, dan tidak meminta kekayaan atau kekuatan gaib, sebagaimana ditegaskan para penjaga makam. Kain putih yang diikatkan pada pohon, sumur wudu, sajadah, dan mushaf kecil di sekitar makam menjadi infrastruktur ritual. Para aulia juga dipahami sebagai pelindung kehidupan maritim: pada Khanduri Laot menjelang Ramadan, digelar zikir akbar untuk ‘Aulia 44 keramat’ dan kenduri bersama anak yatim, mempertemukan wisatawan, warga, panglima laot, dan pejabat dalam satu ritual.

Aulia 44 melengkapi narasi islamisasi Aceh dengan memperlihatkan peran dai lokal di perbatasan barat, bukan hanya guru dari Timur Tengah. Mereka mengajarkan syariat dan pengobatan, menghubungkan Aceh Darussalam dengan pesisir barat, dan membawa corak Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bernuansa tasawuf melalui jalur dagang maritim. Karena catatan Belanda dan arsip kesultanan hanya sekilas menyebut Sabang, makam-makam ini berfungsi sebagai sumber primer lokal. Kajian lanjutan memerlukan pendekatan interdisipliner yang memadukan arkeologi makam, analisis simbol nisan, sastra Aceh, dan wawancara etnografis, sekaligus kehati-hatian terhadap penanggalan yang saling bertentangan dan narasi pariwisata yang belum terverifikasi.

Pulau Weh lies at the western tip of Sumatra, at the mouth of the Strait of Malacca, and has long been a strategic port and a route for Acehnese pilgrims bound for the hajj. As part of the Sultanate of Aceh Darussalam, called the Veranda of Mecca, the island received Islam through a long current that began with Pasai from the thirteenth century. On Sabang itself, however, local memory of Islamic origins is anchored to a group of figures called the Aulia 44, who according to local tradition arrived and worked around the seventeenth and eighteenth centuries. They are remembered as the ‘spiritual foundation’ of western Aceh, and the name ‘Aulia 44 Sabang’ appears in popular prayer collections as a company of saints.

The best-known figure is Teungku Chik di Iboih, called in tradition Tengku Ibrahim Musatafari Adham and said to come from Seulimum, Aceh Besar. His grave lies at the end of the beach at Gampong Iboih, on a cliff edge facing Pulau Rubiah; its name board gives his birth at Seulimum in 1723 and death in 1786, though the dating in different sources is not uniform. The name of the Iboih area is linked to the saint’s title. His headstone is a plain round stone without carved verses or geometric motifs, unlike great graves such as Syiah Kuala or Teungku di Anjong, within a chest-high structure under a zinc roof like traditional Acehnese graves, with a small freshwater well for ablution despite its seaside setting.

His partner, Ummi Sarah Rubiah—also called Cut Nyak Rubiah or Siti Rubiah—is buried on the beach of Pulau Rubiah, five to ten minutes by boat from Iboih, and the island bears her name. She is remembered as a woman ulama and Qur’an teacher. The most often repeated story tells of a fiqh dispute between Teungku di Iboih and Rubiah over the impurity of dog saliva, which ended in their living apart until Rubiah settled on the small island until her death. Her dates also vary, and the stories of dogs or a ‘sacred durian’ attached to her are more folklore than history. The two graves facing each other across a narrow channel are treated as paired sites.

A third figure, Syekh Hubaidillah Junaidi Alhabsyi, is buried at Gampong Jaboi (Kubu Bak Syuh). According to the Ministry of Religious Affairs office in Sabang, he was the first Wali Negeri of Pulau Weh, holding a mandate from the sultanate, a descendant of the Habsyi clan, and a teacher of religious sciences and a healer. His memory shows that some of the Aulia 44 combined religious and political authority; the same tradition names figures such as Panglima Muda Setia Teuku Muhammad Daud and Panglima Paduka Sinara. Others remembered include Teungku Chik Abu Dipasi at Blang Tunong, Balohan; Teungku Anoi Raya at Gunung Anoi Itam; and the women ulama Umi Siti Mariah and Umi Khatijah at Ujong Meureung and Kuala Ie Mausen. Most of the data on them survives only as oral heritage, and of the forty-four names only a dozen or so can be clearly identified.

The distribution of the graves forms meaningful clusters: the Iboih–Rubiah pair in the north, Teungku Dipasi and Cok Bak Cuh on the south-west coast, Teungku Chik Jauboi, Teungku Beurawang and Teungku Bungong in the centre and south, Teungku Anoi Raya in the east, the graves of the Umi on the north-east coast, and Teungku Yunus and Teungku Said on the north coast. The pattern suggests old settlements or customary fishing zones (lhok) in Sabang. Archaeologically, the plain headstones, modern tiles, Latin lettering on some stones and the placement of wells show that these sites were reorganised as ritual spaces at a later date; the material evidence generally supports an eighteenth-to-nineteenth-century dating, and no ancient inscription has yet been formally documented.

From an anthropological perspective, the Aulia 44 graves hold sacred (keramat) status and serve as centres of pilgrimage and markers of local religious identity. The etiquette of visiting is strict: modest dress, coming only to pray, and asking neither wealth nor supernatural power, as the grave keepers insist. White cloth tied to trees, ablution wells, prayer mats and small copies of the Qur’an around the graves form a ritual infrastructure. The aulia are also understood as protectors of maritime life: at Khanduri Laot before Ramadan, a great zikir is held for the ‘sacred Aulia 44’ together with a communal meal for orphans, bringing tourists, residents, panglima laot and officials into a single ritual.

The Aulia 44 complete the narrative of Aceh’s Islamisation by showing the role of local preachers on the western frontier, not only teachers from the Middle East. They taught sharia and medicine, linked Aceh Darussalam to the west coast, and carried a Sufi-inflected Ahlus Sunnah wal Jamaah along maritime trade routes. Because Dutch records and sultanate archives mention Sabang only in passing, the graves serve as local primary sources. Further study requires an interdisciplinary approach combining grave archaeology, analysis of gravestone symbolism, Acehnese literature and ethnographic interviews, together with caution towards conflicting dates and unverified tourism narratives.

Gagasan kunciKey ideas

Islamisasi gelombang lanjutA later wave of Islamisation

Dakwah di perbatasan maritim berlangsung lama setelah Pasai, dibawa tokoh-tokoh lokal.Preaching on the maritime frontier continued long after Pasai, carried by local figures.

Makam sebagai arsipGraves as archive

Ketika dokumen tertulis langka, sebaran makam dan inskripsi menjadi sumber primer.Where written records are scarce, grave distribution and inscriptions become primary sources.

Ulama perempuanWomen ulama

Ummi Rubiah dan para Umi menunjukkan peran perempuan dalam transmisi agama di pesisir.Ummi Rubiah and the Umi show women’s role in transmitting religion on the coast.

Etika ziarahEthics of pilgrimage

Larangan meminta kekayaan atau kesaktian menjaga ziarah tetap sebagai doa.The ban on asking for wealth or power keeps pilgrimage a matter of prayer.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana sejarawan memperlakukan tokoh suci yang ingatannya hidup kuat dalam ritual tetapi nyaris tak tercatat dalam arsip?How should historians treat holy figures whose memory is strong in ritual but almost absent from the archive?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Aulia 44 di Pulau Weh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aulia-44-pulau-weh/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →