Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Mualaf Karo dan jaringan dakwah Aceh di DairiKaro converts and Acehnese dakwah networks in Dairi

Pra-kolonial hingga 1970-anPre-colonial period to the 1970s

Orang Karo dari dataran tinggi Sumatra Utara sejak lama tertarik pada guru-guru mistik Islam di Aceh barat-selatan dan sebagian masuk Islam dalam perjalanan itu. Pada 1970-an Majelis Ulama Aceh aktif mendukung mualaf Karo di Dairi: menyaksikan pengislaman di Banda Aceh, menggalang dana masjid-madrasah, dan membiayai santri Karo di dayah Aceh. Dukungan ini berlangsung di tengah kecemasan akan Kristenisasi.

Karo people from the North Sumatran highlands were long drawn to Islamic mystical teachers in south-west Aceh, and some converted along the way. In the 1970s the Aceh Ulama Council actively supported Karo converts in Dairi: witnessing conversions in Banda Aceh, raising funds for a mosque-madrasah, and sponsoring Karo students in Acehnese dayah. This support unfolded amid anxiety about Christianisation.

Antropolog Rita Smith Kipp mencatat bahwa kisah-kisah Karo tentang pengislaman masa pra-kolonial selalu menampilkan tokoh dari Aceh, dan bahwa hubungan guru-murid serta patronase antara mualaf Karo dan guru di Aceh barat-selatan cukup kuat. Sebelum 1965 kebanyakan orang Karo menjalankan kepercayaan yang disebut Perbegu atau Pambi. Setelah pembunuhan massal 1965–1966, banyak yang memeluk Kristen, sebagian kecil masuk Islam, dan sebagian lain mengupayakan pengakuan kepercayaan mereka sebagai bagian dari Hindu.

Pada 8 Maret 1971, Nubung Sinulingga, seorang kepala adat Karo penganut Perbegu dan cucu seorang guru sakti, masuk Islam di Masjid Raya Baiturrahman dengan nama Moehammad. Majelis Ulama Aceh mengumumkan peristiwa itu melalui pers, radio, dan televisi setempat. Panitia Pembangunan Masjid-Madrasah Gunungsajang di Dairi berharap hingga lima ratus kepala keluarga pengikut dan keturunannya akan menyusul. Hingga Juni 1971, terkumpul lebih dari enam ratus ribu rupiah, tiga potong emas murni, dan 672 potong kain, semuanya dari Aceh Barat dan Aceh Selatan. Sepanjang 1971 juga beredar surat tentang santri Karo yang belajar di dayah di Tiro, Pidie, dan membutuhkan biaya.

Pada 29 September 1978, Berti Yuswar Lingga, petani dari Dairi, masuk Islam di Banda Aceh dengan nama Baktiar Yusuf, disaksikan Ali Hasjmy dan Teungku Abdullah Ujong Rimba yang tercatat sebagai pengislam dalam surat keterangannya. Setahun kemudian Panji Masyarakat memuat kisah HAMKA memimpin pensyahadatan sekitar dua ratus keluarga di desa Siberteng, tanah Karo, dengan klaim bahwa jumlah Muslim Karo melonjak dari sekitar 16.500 pada 1967 menjadi puluhan ribu.

Birchok membaca dukungan Aceh bagi mualaf Karo dalam dua lapis: kelanjutan sejarah panjang hubungan guru, murid, dan patron lintas batas, serta bagian dari imajinasi spasial yang memandang perbatasan Aceh–Sumatra Utara sebagai garis depan islamisasi dan Kristenisasi. Kasus ini memperlihatkan arah gerak yang berlawanan dari kecemasan di Simpang Kanan: bila gereja di Aceh dianggap ancaman, pengislaman di seberang batas dirayakan sebagai perluasan Serambi Mekkah.

The anthropologist Rita Smith Kipp notes that Karo stories of pre-colonial conversion always feature protagonists from Aceh, and that ties of teacher, student and patron between Karo converts and teachers in south-west Aceh were strong. Before 1965 most Karo followed beliefs called Perbegu or Pambi. After the mass killings of 1965–1966 many became Christian, a smaller number Muslim, and others sought recognition of their beliefs as a form of Hinduism.

On 8 March 1971 Nubung Sinulingga, a Karo customary chief and Perbegu adherent described as the grandson of a powerful guru, converted at the Baiturrahman Grand Mosque, taking the name Moehammad. The Aceh Ulama Council publicised the event through the local press, radio and television. The Gunungsajang Mosque-Madrasah Committee in Dairi hoped up to five hundred households of his followers and descendants would follow. By June 1971 more than six hundred thousand rupiah, three pieces of pure gold and 672 pieces of cloth had been collected, all from West and South Aceh. Letters circulated during 1971 about Karo students at dayah in Tiro, Pidie, who needed support.

On 29 September 1978 Berti Yuswar Lingga, a farmer from Dairi, converted in Banda Aceh as Baktiar Yusuf, witnessed by Ali Hasjmy and by Teungku Abdullah Ujong Rimba, named on his certificate as the one who converted him. A year later Panji Masyarakat described HAMKA leading the conversion of some two hundred families in the Karo village of Siberteng, claiming that Karo Muslims had grown from about 16,500 in 1967 to tens of thousands.

Birchok reads Acehnese support for Karo converts on two levels: as a continuation of a long history of cross-border ties of teachers, students and patrons, and as part of a spatial imaginary that saw the Aceh–North Sumatra border as a front line of Islamisation and Christianisation. The case reverses the direction of anxiety in Simpang Kanan: where a church in Aceh was seen as a threat, conversions across the border were celebrated as an extension of Mecca’s Verandah.

Gagasan kunciKey ideas

Hubungan lintas batas yang tuaOld cross-border ties

Orang Karo mencari guru mistik di Aceh jauh sebelum era Orde Baru.Karo sought mystical teachers in Aceh long before the New Order.

Pengislaman sebagai peristiwa publikConversion as public event

Majelis Ulama memakai media untuk mempublikasikan mualaf dan menggalang dana.The Ulama Council used the media to publicise converts and raise funds.

Garis depan dua arahA two-way front line

Perbatasan menjadi ruang kecemasan sekaligus perluasan dakwah.The border was a zone of both anxiety and missionary expansion.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa bedanya dakwah yang tumbuh dari hubungan guru-murid lintas generasi dengan dakwah yang didorong oleh persaingan wilayah antaragama?How does dakwah grown from generations of teacher-student ties differ from dakwah driven by inter-religious territorial rivalry?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Mualaf Karo dan jaringan dakwah Aceh di Dairi”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/mualaf-karo-dan-aceh/