Empat gelombang hubungan Arab–AcehFour waves of Arab–Acehnese connection
Hubungan Aceh dengan Tanah Arab dapat dibaca dalam empat gelombang: kedatangan pendiri kerajaan Islam awal, kedatangan penyebar ilmu, kepergian orang Aceh ke Haramayn yang kembali sebagai ulama, dan kedatangan kaum Hadhrami pada masa pendudukan Belanda. Skema ini menjelaskan mengapa ‘Arab’ melekat erat pada konstruksi identitas Aceh, hingga dalam pepatah tentang asal-usul suku dan akronim populer ACEH. Membicarakan Arab bagi orang Aceh hampir sama dengan membicarakan Islam.
Aceh’s relations with Arabia can be read as four waves: the arrival of founders of early Islamic kingdoms, the arrival of transmitters of learning, Acehnese going to the Haramayn and returning as scholars, and the arrival of Hadhramis during the Dutch occupation. The scheme explains why ‘Arab’ is woven so closely into constructions of Acehnese identity, down to proverbs on clan origins and the popular acronym ACEH. For Acehnese, to speak of Arabia is almost to speak of Islam.
Gelombang pertama dikaitkan dengan pendirian kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara, Peureulak. Menurut tradisi silsilah, rajanya yang pertama adalah Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, yang garis keturunannya dihubungkan dengan keluarga Nabi; para pendatang ini diperkirakan tidak kembali ke Arab, melainkan menetap dan membangun kerajaan. Tradisi lain menyebut tokoh-tokoh dari Tanah Arab sebagai guru Meurah Silu sebelum ia memeluk Islam dan bergelar Sultan Malikussaleh. Pepatah Aceh juga menyimpan ingatan ini: sukĕ imuem peut dan sukĕ tok batĕ digambarkan sebagai kaum pendatang dari Arab, Persia, Turki, Habsyi, dan Keling, sedangkan sukĕ lhee reutoih dan sukĕ ja sandang dipandang sebagai penduduk tempatan.
Gelombang kedua adalah kedatangan orang Arab untuk menyebarkan ilmu, yang menurut Azyumardi Azra memperoleh momentum pada akhir abad ke-16 ketika kerajaan-kerajaan Muslim Asia Tenggara dan Asia Selatan meningkatkan peran dalam perdagangan Samudra Hindia dan hubungan politik dengan Timur Tengah. Gelombang ketiga merupakan akibatnya: orang Aceh pergi menuntut ilmu ke Mekkah dan Madinah, lalu kembali sebagai ulama. Dari sinilah lahir nama-nama seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry yang datang dari Gujarat, dan Abdurrauf as-Singkili, serta pada abad ke-18 dan ke-19 ulama seperti Jalaluddin al-Tursani, Muhammad Zayn al-Asyi, dan Abbas al-Asyi, yang karyanya masih dipelajari.
Gelombang keempat berlangsung pada masa pendudukan Belanda, ketika pendatang Arab sebagian besar berasal dari Hadramaut. Mohammad Redzuan Othman membedakan dua kelompok Hadhrami di dunia Melayu: golongan sayyid dan golongan masyaikh. Banyak di antara mereka tidak kembali, melainkan menetap dan berketurunan. Menurut penuturan sebuah keluarga Hadhrami di Aceh Utara, leluhur mereka masuk melalui Sabang lalu menyebar ke kawasan dekat pelabuhan, dan keturunannya mewarisi tradisi berdagang. Keempat gelombang ini menunjukkan bahwa hubungan Arab–Aceh bersifat timbal balik: setiap gagasan besar di Timur Tengah berdampak di Aceh, dan orang Aceh pun meninggalkan jejak di Tanah Suci melalui wakaf dan hadiah.
The first wave is linked to the founding of Southeast Asia’s oldest Islamic kingdom, Peureulak. According to genealogical tradition its first ruler was Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, whose lineage is traced to the Prophet’s family; these newcomers are thought not to have returned to Arabia but to have settled and built the kingdom. Another tradition names figures from Arabia as teachers of Meurah Silu before he embraced Islam as Sultan Malikussaleh. Acehnese proverbs preserve the memory too: sukĕ imuem peut and sukĕ tok batĕ are pictured as incomers from Arabia, Persia, Turkey, Abyssinia and South India, while sukĕ lhee reutoih and sukĕ ja sandang are seen as local populations.
The second wave was the arrival of Arabs spreading learning, which according to Azyumardi Azra gained momentum in the late sixteenth century as Muslim kingdoms of Southeast and South Asia expanded their role in Indian Ocean trade and political ties with the Middle East. The third wave followed: Acehnese went to study in Mecca and Medina and returned as scholars. From this came figures such as Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, who came from Gujarat, and Abdurrauf as-Singkili, and in the eighteenth and nineteenth centuries scholars such as Jalaluddin al-Tursani, Muhammad Zayn al-Asyi and Abbas al-Asyi, whose works are still studied.
The fourth wave came during the Dutch occupation, when Arab newcomers were mostly from Hadramawt. Mohammad Redzuan Othman distinguishes two Hadhrami groups in the Malay world: the sayyids and the mashayikh. Many did not return but settled and raised families. According to a Hadhrami family in North Aceh, their ancestors entered through Sabang and spread to areas near the ports, and their descendants inherited a trading tradition. The four waves show that Arab–Acehnese relations were reciprocal: every major idea in the Middle East had repercussions in Aceh, and Acehnese in turn left their mark in the Holy Land through endowments and gifts.
Gagasan kunciKey ideas
Arab sebagai cetak biru identitasArabia as identity blueprint
Pepatah asal-usul suku menempatkan pendatang Arab dan Timur Tengah di inti pembentukan bangsa Aceh.Clan-origin proverbs place Arab and Middle Eastern newcomers at the core of Acehnese ethnogenesis.
Dari datang ke pergiFrom arriving to departing
Arus berbalik ketika orang Aceh sendiri menuntut ilmu ke Haramayn.The flow reversed when Acehnese themselves went to the Haramayn to study.
Hadhrami dan perdaganganHadhramis and trade
Gelombang terakhir lebih berorientasi niaga dan menetap di sekitar pelabuhan.The last wave was more commercial and settled near ports.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana membedakan ingatan genealogis tentang asal-usul Arab dari fakta sejarah yang dapat diverifikasi?How can genealogical memories of Arab origins be distinguished from verifiable historical fact?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Empat gelombang hubungan Arab–Aceh”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/empat-gelombang-kedatangan-arab/