Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pembacaan Ihya’ ‘Ulumiddin dan tasawuf akhlaqi di dayahReading the Ihya’ ‘Ulum al-Din and ethical Sufism in the dayah

Pembacaan Ihya’ ‘Ulumiddin karya al-Ghazali adalah tradisi pengajian di dayah Aceh yang dalam praktik Tu Sop terbuka bagi santri dan masyarakat, baik langsung maupun daring. Ihya’ dibaca sebagai ‘ruang batin fikih’ yang memberi ruh pada hukum yang formal, dan sebagai sumber tasawuf akhlaqi, yaitu tasawuf pembentukan akhlak. Tiga cara berpikir al-Ghazali, yakni syar‘i, filosofis, dan sufistik, membentuk gaya penalaran ulama dayah kontemporer dalam membela dan menafsirkan syariat.

Reading al-Ghazali’s Ihya’ ‘Ulum al-Din is a teaching tradition in Aceh’s dayahs that, in Tu Sop’s practice, is open to students and the public both in person and online. The Ihya’ is read as the ‘inner space of fiqh’ that breathes spirit into formal law, and as a source of ethical Sufism, a Sufism of character formation. Al-Ghazali’s three modes of reasoning, juristic, philosophical and mystical, shape how contemporary dayah scholars defend and interpret the sharia.

Al-Ghazali menempati kedudukan istimewa dalam dunia Sunni; gelar Hujjatul Islam diberikan karena kemampuannya menjawab serangan pemikiran terhadap Islam dengan memadukan akal dan nas. Amin Abdullah menyebut karya-karyanya sebagai representasi ‘sistem pemikiran’ masyarakat Sunni, dan dalam proses islamisasi Nusantara pendekatan tasawufnya sangat berpengaruh. Di Aceh, ia menjadi salah satu poros trilogi keislaman bersama mazhab Syafi‘i dan teologi Asy‘ari. Tasawuf akhlaqi yang diajarkannya menekankan pembentukan akhlak kepada diri, sesama makhluk, dan puncaknya kepada Allah.

Ihya’ secara harfiah berarti menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Sebagian pengkaji menyebutnya ruang batin fikih karena al-Ghazali menguraikan dimensi batin dan rahasia hukum-hukum fikih, mempertemukan aspek lahiriah dengan interior yang dipinjam dari tasawuf, sekaligus membersihkan sufisme dari unsur yang tidak sejalan dengan fikih. Menurut Badawi, Ihya’ memuat tiga cara berpikir: al-‘aqliyyah al-syar‘iyyah yang bersandar pada al-Qur’an, hadis, atsar, ijmak, kias, dan maslahat; al-‘aqliyyah al-falsafiyyah yang membangun argumen rasional; dan al-‘aqliyyah al-shufiyyah yang memandang masalah secara sufistik.

Pengaruh ketiganya tampak dalam penalaran Tu Sop. Cara filosofis membuatnya menilai urutan pelaksanaan syariat secara sistematis, yaitu ta‘lim, tau‘iz, lalu ta‘kib, dan mengkritik pelaksanaan yang dimulai dari hukuman. Cara syar‘i dan sufistik membuatnya menghadapi pengkritik syariat dengan tenang, menawarkan perspektif Islam sebagai solusi alih-alih membalas dengan keras. Ajaran praktisnya, seperti ‘man shabara zhafira’ (siapa sabar akan berhasil), menjadi pesan berulang. Melalui pembacaan yang dikaitkan dengan peristiwa aktual, teks abad ke-11 itu dihadirkan sebagai bahan untuk membangkitkan kembali kedermawanan dan akhlak sosial masyarakat Aceh.

Al-Ghazali holds a special place in the Sunni world; he earned the title Hujjat al-Islam for answering intellectual attacks on Islam by combining reason and revelation. Amin Abdullah describes his work as representing the ‘system of thought’ of Sunni society, and his Sufi approach was highly influential in the Islamisation of the archipelago. In Aceh he forms one axis of a religious trilogy with the Shafi‘i school and Ash‘ari theology. The ethical Sufism he taught stresses the formation of character toward oneself, other creatures and, ultimately, God.

Ihya’ literally means reviving the religious sciences. Some scholars call it the inner space of fiqh because al-Ghazali explains the inner dimensions and secrets of legal rulings, joining their outward form with an interior drawn from Sufism, while purging Sufism of elements at odds with the law. According to Badawi, the Ihya’ contains three modes of reasoning: al-‘aqliyya al-shar‘iyya, grounded in the Qur’an, hadith, reports of the Companions, consensus, analogy and public interest; al-‘aqliyya al-falsafiyya, which builds rational argument; and al-‘aqliyya al-sufiyya, which views problems mystically.

All three show in Tu Sop’s reasoning. The philosophical mode leads him to assess the order of sharia implementation systematically, teaching, admonition and then punishment, and to criticise implementation that starts with penalties. The juristic and mystical modes let him meet critics of the sharia calmly, offering Islam as a solution rather than replying harshly. Practical maxims such as ‘man sabara zafira’ (whoever is patient succeeds) recur constantly. Through readings tied to current events, an eleventh-century text is presented as material for reviving the generosity and social ethics of Acehnese society.

Gagasan kunciKey ideas

Ruh bagi fikihSpirit for the law

Ihya’ menjaga agar kepatuhan hukum tidak kehilangan makna batinnya.The Ihya’ keeps legal compliance from losing its inner meaning.

Tiga nalarThree reasonings

Syar‘i, filosofis, dan sufistik saling melengkapi dalam membaca masalah sosial.Juristic, philosophical and mystical reasoning complement one another in reading social problems.

Teks klasik, pembacaan aktualClassical text, current reading

Pengajian Ihya’ dihubungkan dengan kemiskinan, politik, dan syariat masa kini.Ihya’ sessions are linked to present-day poverty, politics and sharia.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Mengapa tasawuf akhlaqi al-Ghazali lebih diterima di dayah Aceh dibandingkan tasawuf falsafi yang pernah berkembang di negeri yang sama?Why is al-Ghazali’s ethical Sufism more accepted in Aceh’s dayahs than the philosophical Sufism that once flourished in the same land?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pembacaan Ihya’ ‘Ulumiddin dan tasawuf akhlaqi di dayah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pembacaan-ihya-dan-tasawuf-akhlaqi/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →