Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Sekuler kanan dan sekuler kiriRight-wing and left-wing secularism

Sekuler kanan dan sekuler kiri adalah istilah Tu Sop untuk dua bentuk pemisahan agama dari kehidupan publik. Sekuler kanan adalah sikap orang beragama yang menganggap agama tidak berurusan dengan politik dan dunia; sekuler kiri adalah sikap yang menolak urusan dunia diatur agama. Istilah ini sejajar dengan pembedaan Kuntowijoyo antara sekularisasi subjektif dan objektif, dan berfungsi sebagai kritik dari dalam tradisi dayah terhadap kesalehan yang terputus dari tanggung jawab sosial.

Right-wing and left-wing secularism are Tu Sop’s terms for two ways of separating religion from public life. Right-wing secularism is the stance of religious people who think faith has nothing to do with politics and worldly affairs; left-wing secularism rejects the regulation of worldly matters by religion. The pair parallels Kuntowijoyo’s distinction between subjective and objective secularisation and serves as a critique, from within the dayah tradition, of piety detached from social responsibility.

Kuntowijoyo membedakan dua sekularisasi. Sekularisasi subjektif terjadi ketika pengetahuan agama seseorang terputus dari pengalaman sehari-harinya, sehingga hidupnya tidak sejalan dengan apa yang ia ketahui. Sekularisasi objektif terjadi ketika agama dipisahkan dari ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Menurutnya, yang pertama telah berlangsung di kalangan umat Islam, sedangkan yang kedua telah terjadi di negara-negara Barat. Obatnya adalah objektivikasi: menerjemahkan nilai internal Islam ke dalam kategori objektif yang dapat diterima semua orang, sehingga Islam hadir sebagai rahmat bagi semesta.

Tu Sop memberi nama lokal yang tajam bagi dua gejala ini. ‘Sekuler kanan’ menunjuk kepada kaum beragama yang saleh secara pribadi tetapi menolak ulama terlibat dalam politik atau menganggap masalah publik bukan urusan agama. ‘Sekuler kiri’ menunjuk kepada politisi dan kelompok yang menolak politik dimasuki dan dibimbing agama. Keduanya, menurutnya, menghasilkan kekosongan: ruang kebijakan diisi orang yang tidak memahami syariat, sementara pemilik ilmu menjauh dari tanggung jawab publik.

Pembedaan ini menopang pandangannya bahwa Islam adalah solusi bagi kehidupan. Ketika keyakinan doktriner bertemu kenyataan empiris, ada dua jalan: menundukkan kenyataan di bawah cita agama, atau menyesuaikan pemahaman agama agar tetap fungsional. Tu Sop tidak memilih salah satu secara mutlak, tetapi menekankan kesepahaman dasar bahwa ajaran Islam telah sempurna, sedangkan masalah muncul ketika manusia menjauhkan cara pandang agama dari hidupnya. Dalam kerangka ini, sedekah, gotong royong, dan pembangunan rumah bagi fakir miskin adalah bentuk objektivikasi yang melawan kedua jenis sekularisme sekaligus.

Kuntowijoyo distinguished two secularisations. Subjective secularisation occurs when a person’s religious knowledge is disconnected from everyday experience, so life diverges from what one knows. Objective secularisation occurs when religion is separated from economics, politics, society and culture. In his view the first had already taken hold among Muslims, while the second had occurred in Western states. His remedy was objectification: translating Islam’s inner values into objective categories acceptable to all, so that Islam appears as a mercy to the worlds.

Tu Sop gave these two phenomena pointed local names. ‘Right-wing secularism’ refers to religious people who are personally pious but object to ulama in politics or regard public problems as no business of religion. ‘Left-wing secularism’ refers to politicians and groups who refuse to let religion enter and guide politics. Both, he argues, produce a vacuum: the policy arena is filled by people who do not understand the sharia, while the learned withdraw from public responsibility.

The distinction underpins his view that Islam is a solution for life. When doctrinal conviction meets empirical reality there are two paths: subordinate reality to the religious ideal, or adjust religious understanding so it stays functional. Tu Sop does not choose either absolutely, but stresses a basic agreement that Islam’s teaching is complete, and that problems arise when people remove the religious outlook from their lives. In this frame almsgiving, mutual aid and building houses for the poor are forms of objectification that counter both secularisms at once.

Gagasan kunciKey ideas

Dua pemisahanTwo separations

Satu dari pihak agamawan, satu dari pihak politisi; keduanya berujung pada kekosongan kebijakan yang berilmu.One from the religious side, one from politicians; both leave policy without knowledge.

ObjektivikasiObjectification

Nilai iman diterjemahkan menjadi aksi yang dapat dinikmati semua orang, seperti filantropi.Faith values are translated into action everyone can benefit from, such as philanthropy.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah menolak ‘sekuler kanan’ berarti mendorong ulama masuk partai, atau ada bentuk keterlibatan publik lain yang lebih tepat?Does rejecting ‘right-wing secularism’ mean pushing ulama into parties, or are there better forms of public engagement?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Sekuler kanan dan sekuler kiri”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/sekuler-kanan-dan-sekuler-kiri/