Aksi santri 27 Januari 2008 dan kebangkitan politik dayahThe santri march of 27 January 2008 and the rise of dayah politics
27 Januari 2008; berlanjut menjelang pemilu 200927 January 2008; continuing into the 2009 elections
Pada 27 Januari 2008, gelombang santri dan pimpinan dayah dari wilayah timur Aceh datang ke Banda Aceh menuntut pemerintah Irwandi–Nazar menjalankan syariat Islam secara kaffah. Tiga isu mengemuka: penghentian diskusi gender, keseriusan pelaksanaan syariat, dan tuntutan Qanun Ahlussunnah wal Jama‘ah (Aswaja). Peristiwa ini dibaca melalui trilogi ngeutlogi, teungeutlogi, dan peungeutlogi, dan dipandang sebagai awal menguatnya politik dayah menjelang 2009.
On 27 January 2008, waves of students and dayah leaders from eastern Aceh came to Banda Aceh demanding that the Irwandi–Nazar government implement sharia comprehensively. Three issues emerged: ending gender discussions, seriousness in implementing sharia, and a Qanun on Ahlussunnah wal Jama‘ah (Aswaja). The event was read through the triad of ngeutlogi, teungeutlogi and peungeutlogi, and seen as the start of rising dayah politics ahead of 2009.
Para santri datang dengan pakaian khas, sebagian bercelana di dalam sarung atau berjubah, sebagian hanya ikut meramaikan atau ingin berjumpa ulama idolanya; setelah berorasi mereka pulang ke daerah masing-masing. Aksi ini segera memicu reaksi: kelompok aktivis gender merapatkan barisan mencari ‘amunisi’, sementara pemerintah daerah memandangnya sebagai ‘permainan lama’. Pembacaan kritis memakai tamsil ‘peluru’ dan ‘amunisi’ untuk menggambarkan bagaimana isu dilempar agar sesama orang Aceh saling curiga.
Dalam kerangka ngeutlogi, para pihak berisiko ‘dibodohi’ di ujung agenda (ngeut ujong) atau sejak awal (ngeut uram), sementara pihak di belakang layar menikmati hasilnya. Teungeutlogi menjelaskan bagaimana masyarakat dibuai sampai terlena, lalu dikejutkan; peungeutlogi menggambarkan penipuan atas nama kebenaran, ‘tersesat di jalan yang benar’.
Menjelang pemilu 2009, analisis yang sama memprediksi bertahannya politik dayah: basis dayah akan berhadapan dengan basis nondayah, polarisasi dan aksi sweeping akan berulang, dan dayah berpotensi menjadi kendaraan politik seperti pesantren di Jawa Timur. Sejarah Aceh diingatkan sebagai preseden bahwa kekuatan dayah dalam politik sering berakhir ketika ia gagal mengelola isu secara internal.
The students came in distinctive dress, some with trousers under sarongs or in robes, some merely joining the crowd or hoping to meet their favourite ulama; after the speeches they returned home. The march quickly provoked reactions: gender activists closed ranks in search of ‘ammunition’, while the provincial government saw it as ‘an old game’. A critical reading used the images of ‘bullets’ and ‘ammunition’ to show how issues were thrown in to make Acehnese suspicious of one another.
In the ngeutlogi framework, the parties risked being ‘fooled’ at the end of an agenda (ngeut ujong) or from the start (ngeut uram), while those behind the scenes reaped the gains. Teungeutlogi explains how society is lulled into complacency and then jolted; peungeutlogi describes deception in the name of truth, ‘lost on the right path’.
Ahead of the 2009 elections, the same analysis predicted the persistence of dayah politics: dayah-based constituencies would face non-dayah ones, polarisation and sweeping would recur, and dayah might become political vehicles like pesantren in East Java. Acehnese history was recalled as precedent that dayah power in politics often ends when it fails to manage issues internally.
Gagasan kunciKey ideas
Isu sebagai peluruIssues as bullets
Isu agama dan gender dapat dipakai untuk mengadu domba kelompok masyarakat.Religious and gender issues can be used to set communities against each other.
Dayah ke politikDayah into politics
Ketika dayah kehilangan peran sebagai model pendidikan, ia tergoda menjadi kekuatan politik.When dayah lose their role as an educational model, they are tempted into politics.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana dayah dapat berperan dalam politik tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat ilmu?How can dayah engage in politics without losing their core role as centres of learning?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Aksi santri 27 Januari 2008 dan kebangkitan politik dayah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/aksi-santri-2008-dan-politik-dayah/