Kontestasi dayah, pesantren Wahabi, dan isu Syi‘ahDayah, Salafi pesantren and the Shi‘a question
Era pasca-konflik dan pasca-tsunamiPost-conflict and post-tsunami era
Lanskap keagamaan Aceh masa kini ditandai oleh persaingan antara dayah tradisional, jaringan Muhammadiyah dan Wahabi, serta wacana tentang Syi‘ah. Reproduksi pemahaman agama berlangsung di dayah, sedangkan reproduksi budaya terjadi di luar dayah, dan di sinilah unsur Syi‘ah bertahan sebagai tradisi hidup. Kelompok anti-Syi‘ah diperkuat oleh penyeragaman paham keagamaan dalam konteks penerapan syariat. Akibatnya, diskusi tentang Syi‘ah kerap dialihkan ke ranah kebudayaan.
Aceh’s contemporary religious landscape is marked by competition between traditional dayah, Muhammadiyah and Salafi (locally ‘Wahhabi’) networks, and debates about Shi‘ism. Religious understanding is reproduced in the dayah, while culture is reproduced outside it, and that is where Shi‘a elements survive as living tradition. Anti-Shi‘a currents are strengthened by the push for religious uniformity under the implementation of sharia. As a result, discussion of Shi‘ism is often redirected into the cultural sphere.
Ajaran keagamaan masyarakat Aceh bertumpu pada tiga pilar yang dikristalkan dalam dayah: fikih Syafi‘i, tasawuf al-Ghazali, dan teologi Asy‘ari. Di zaman kontemporer, Muhammadiyah dan jaringan Wahabi berupaya ‘melawan’ unsur budaya non-Islam dengan seruan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, lalu mendirikan pesantren dan perguruan tinggi. Pergeseran ini sering digambarkan sebagai peralihan otoritas dari teungku ke ustaz. Meski demikian, mereka tidak mudah mengubah pola reproduksi budaya di pedalaman.
Sesudah tsunami, sejumlah pesantren berafiliasi Wahabi berdiri dengan dukungan dana dari luar Aceh, sementara dayah tradisional kerap mengajar tanpa bayaran kecuali sumbangan sukarela. Alumni pesantren tersebut cenderung melanjutkan studi ke Timur Tengah dan menjadi motor penolakan terhadap Syi‘ah di kawasan urban, dengan merujuk pada fatwa ulama Timur Tengah. Seorang informan menyebut pendukung anti-Syi‘ah terdiri atas kelompok Wahabi, partai politik, dan alumni Timur Tengah. Jaringan Syi‘ah sendiri tidak memiliki dayah ataupun pesantren dan nyaris tidak tampak di permukaan.
Di sisi lain, generasi muda yang berangkat dari wacana ‘Islam Warna Warni’ serta sebagian lulusan universitas di Iran cenderung memandang Syi‘ah sebagai bagian dari kebudayaan Aceh. Dalam sebuah forum, seorang peserta meminta pembicara muda lulusan Mesir agar tidak membawa konflik Timur Tengah ke Aceh yang telah lebih dari tiga dekade dilanda konflik. Karena Syi‘ah tidak ‘diakui’ secara resmi dan cenderung dibingkai sebagai aliran sesat, pembicaraan publik lebih aman dilakukan pada tataran budaya.
Pergeseran dari teungku ke ustaz berakar sejak diadopsinya model pondok modern Gontor pada 1980-an, dan setelah tsunami diperkuat oleh ustaz muda dari Jawa melalui jaringan Jama‘ah Tabligh dan komunitas tidak bermazhab di Aceh Utara, yang di satu kawasan berujung pada konflik terbuka dengan kelompok dayah soal pengelolaan masjid.
Acehnese religious teaching rests on three pillars crystallised in the dayah: Shafi‘i jurisprudence, al-Ghazali’s Sufism and Ash‘ari theology. In the contemporary period Muhammadiyah and Salafi networks have sought to ‘resist’ non-Islamic cultural elements by calling for a return to the Qur’an and Sunna, founding pesantren and universities. The shift is often described as a transfer of authority from the teungku to the ustaz. Even so, these movements have found it hard to change patterns of cultural reproduction in the interior.
After the tsunami several Salafi-affiliated pesantren were established with funding from outside Aceh, whereas traditional dayah often teach without payment beyond voluntary gifts. Graduates of those pesantren tend to continue their studies in the Middle East and have become the driving force of anti-Shi‘a sentiment in urban areas, citing the fatwas of Middle Eastern scholars. One informant identified the anti-Shi‘a camp as Salafis, political parties and Middle East alumni. Shi‘a networks, by contrast, have neither dayah nor pesantren and remain almost invisible.
On the other side, young people shaped by the discourse of ‘Islam Warna Warni’ (plural Islam), and some graduates of Iranian universities, tend to see Shi‘ism as part of Acehnese culture. At one public forum a participant asked a young Egypt-trained speaker not to import Middle Eastern conflicts into an Aceh that had already endured more than three decades of conflict. Because Shi‘ism is not officially ‘recognised’ and is readily framed as deviant, public discussion is safer at the level of culture.
The teungku-to-ustaz shift is rooted in the adoption of the Gontor modern pondok model in the 1980s and was reinforced after the tsunami by young Javanese ustaz arriving through the Tablighi Jama‘at and a non-madhhab community in North Aceh, which in one locality led to open conflict with dayah adherents over control of a mosque.
Gagasan kunciKey ideas
Dua ruang reproduksiTwo spaces of reproduction
Agama direproduksi di dayah, budaya di luar dayah; keduanya saling terkait erat.Religion is reproduced in the dayah, culture outside it; the two remain closely entwined.
Dari teungku ke ustazFrom teungku to ustaz
Pesantren modern menantang otoritas ulama dayah secara simbolik.Modern pesantren symbolically challenge the authority of dayah scholars.
Negara dan keseragamanState and uniformity
Penerapan syariat mendorong penyeragaman paham dan memperkuat label sesat.Sharia implementation encourages doctrinal uniformity and reinforces the ‘deviant’ label.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Apakah pengalihan isu Syi‘ah ke ranah budaya merupakan bentuk toleransi, strategi bertahan, atau penghindaran?Is moving the Shi‘a question into the cultural sphere a form of tolerance, a survival strategy or an evasion?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Kontestasi dayah, pesantren Wahabi, dan isu Syi‘ah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/kontestasi-keagamaan-kontemporer/