Langsung ke isiSkip to content
Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Pengajian kitab Sabila dan SirusNight study circles on the Sabila and Sirus texts

Tradisi berkelanjutan; diamati pada 2007Ongoing tradition; observed in 2007

Pengajian malam di dayah Aceh Besar menghadirkan ratusan warga yang membawa kitab Sabīl al-Muhtadīn dan Sīr al-Sālikīn, yang secara populer disebut Sabila dan Sirus. Teungku membacakan kitab lalu memberikan surah, yaitu penjelasan dalam bahasa yang mudah dipahami. Peserta bertanya tentang persoalan hidup sehari-hari, dan jawaban teungku diperlakukan layaknya fatwa. Tradisi ini menjadi wahana utama reproduksi pemahaman syariat di tingkat akar rumput.

Night study circles at dayah in Aceh Besar draw hundreds of villagers carrying Sabīl al-Muhtadīn and Sīr al-Sālikīn, popularly called Sabila and Sirus. A teungku reads the text and then gives the surah, an explanation in accessible language. Participants ask about everyday problems, and the teungku's answers are treated much like fatwas. The tradition is a principal vehicle for reproducing understanding of sharia at grassroots level.

Pengamatan etnografis pada 2007 di sebuah kampung di Aceh Besar mencatat bahwa setiap Jumat malam ratusan warga dari berbagai kampung berdatangan ke dayah di sekitar kaki Gunung Seulawah. Pesertanya beragam, dari tukang becak hingga pejabat setempat. Pada malam lain, misalnya Rabu, mereka mengaji tauhid kepada teungku di dayah terdekat; sebagian mengaku mengikuti pengajian hampir setiap malam karena ulama lokal menyediakan waktu malam bagi masyarakat umum.

Metodenya sederhana namun efektif. Teungku membacakan teks, lalu memberikan surah, yakni uraian dalam bahasa sehari-hari, yang paling dinanti peserta. Dari situ muncul tanya jawab tentang persoalan hidup; terkadang satu malam hanya menuntaskan beberapa halaman, terkadang lebih dari tiga jam dihabiskan untuk membedah satu soal. Jawaban teungku menjadi rujukan hukum bagi peserta, sehingga fungsinya menyerupai fatwa. Pedoman ibadah dan hubungan sosial pun banyak mengikuti isi kedua kitab tersebut.

Isi Sabila dan Sirus berkisar pada ibadah dan keutamaan amal, bermuara pada Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya al-Ghazali, dan tidak jauh berbeda dari Fadhā’il ‘Amal yang dibaca Jama‘ah Tabligh. Para ulama Nusantara, dengan demikian, menjalankan tradisi syarah dan hasyiah atas karya al-Ghazali. Tradisi ini tidak terbatas di Aceh Besar; mahasiswa Fakultas Syariah bahkan menuturkan bahwa kitab-kitab itu tersimpan di rumah mereka, milik orang tua mereka. Di sinilah syariat hadir sebagai pengetahuan yang diwariskan dan dihidupi, jauh sebelum dan di luar qanun.

Ethnographic observation in 2007 in a village in Aceh Besar recorded that every Friday night hundreds of people from surrounding villages came to a dayah near the foot of Mount Seulawah. Participants ranged from pedicab drivers to local officials. On other nights, such as Wednesday, they studied theology (tauhid) with a teungku at a nearby dayah; some said they attended almost every night, since local ulama set aside evenings for the general public.

The method is simple yet effective. The teungku reads the text and then delivers the surah, an exposition in everyday language that participants most look forward to. Questions follow about life's problems; some nights cover only a few pages, while on others more than three hours are spent dissecting a single issue. The teungku's answers serve as legal guidance for participants, functioning much like fatwas. Norms of worship and social relations largely follow the two texts.

The content of Sabila and Sirus centres on worship and the merits of good deeds, ultimately deriving from al-Ghazali's Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, and is not far removed from the Fadhā’il ‘Amal read by the Tablighi Jama‘at. Nusantara ulama were thus engaged in the tradition of commentary (sharh) and gloss (hashiya) on al-Ghazali. The practice is not confined to Aceh Besar; students at a sharia faculty reported that these books were kept at home, owned by their parents. Here sharia appears as knowledge inherited and lived, long before and beyond the qanun.

Gagasan kunciKey ideas

Surah sebagai jembatanThe surah as a bridge

Penjelasan lisan teungku menerjemahkan teks klasik ke dalam persoalan hidup nyata.The teungku's oral exposition translates classical texts into real-life problems.

Fatwa dari ruang pengajianFatwas from the study circle

Otoritas hukum di desa lahir dari hubungan guru-murid, bukan lembaga formal.Legal authority in the village arises from teacher–student relations, not formal bodies.

Warisan keluargaA family inheritance

Kitab Jawi tersimpan di rumah lintas generasi sebagai pedoman hidup.Jawi kitab are kept at home across generations as guides to life.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang hilang ketika otoritas teungku di ruang pengajian digantikan oleh otoritas lembaga formal?What is lost when a teungku's authority in the study circle is replaced by that of formal institutions?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Pengajian kitab Sabila dan Sirus”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/pengajian-kitab-sabila-sirus/