Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Syamsuddin as-Sumatrani

Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatrani (wafat 1039 H/1630) adalah mufti, penasihat agung dan sufi terkemuka Kesultanan Aceh dari masa Sultan Saidil Mukammil hingga Sultan Iskandar Muda. Pengunjung Eropa seperti Frederick de Houtman dan James Lancaster mencatat pengaruhnya yang besar di istana. Ia gugur dalam serangan Aceh ke Melaka dan dimakamkan di sana.

Syekh Syamsuddin bin Abdullah as-Sumatrani (d. 1039 AH/1630) was mufti, chief counsellor and leading Sufi of the Aceh Sultanate from the reign of Sultan Saidil Mukammil to that of Sultan Iskandar Muda. European visitors such as Frederick de Houtman and James Lancaster recorded his great influence at court. He fell during Aceh's assault on Melaka and was buried there.

Syamsuddin as-Sumatrani menjabat mufti Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Saidil Mukammil, Sultan Ali Riayat Syah (1604–1607) dan Sultan Iskandar Muda (1607–1636). Hikayat Aceh menggambarkannya, bersama Laksamana Keumalahayati, sebagai pendidik yang membentuk watak Iskandar Muda sejak kecil: keras dan tegas, tetapi lembut di hadapan Tuhan. Teuku Iskandar, penyunting Hikayat Aceh, membandingkan kedudukannya dengan Abu al-Fadl, penasihat Kaisar Mughal Akbar, dan memandang istana Aceh dalam beberapa hal sebanding dengan istana Mughal.

Kesaksian Eropa menegaskan pengaruhnya bahkan sebelum Iskandar Muda naik takhta. Frederick de Houtman, yang ditawan di Aceh sejak 1599 bersama abangnya Cornelis (yang tewas dalam peristiwa itu), menyebut Syamsuddin sebagai penasihat agung Sultan Saidil Mukammil dan mencatat bahwa sang syekh mengajaknya memeluk Islam. Sir James Lancaster, yang tiba di Aceh pada 1602 membawa surat Ratu Elizabeth I, melukiskannya sebagai "a man of great estimation with the king and the people" dan merekam bagaimana syekh itu menanyainya tentang alasan yang dapat diajukan kepada sultan untuk mengabulkan permintaan Inggris. Kesaksian ini menunjukkan bahwa ulama istana juga berperan dalam diplomasi dan perdagangan.

Syamsuddin ikut dalam kampanye Aceh melawan Portugis di Melaka, bagian dari ikrar para sultan Aceh sejak Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar untuk membebaskan Sumatra dan Semenanjung dari kekuasaan Portugis. Hikayat Malem Dagang mengabadikan persiapan armada Iskandar Muda untuk serangan itu. Nuruddin ar-Raniri dalam Bustan al-Salatin mencatat bahwa Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja dan Orang Kaya Laksamana dikirim menyerang Melaka pada 1038 H, tetapi gagal karena keduanya berselisih, dan banyak orang Islam gugur. Syamsuddin wafat pada malam Senin, 12 Rajab 1039 H. Sumber Aceh juga menyebut pengkhianatan sejumlah pembesar Melayu dari Pahang, Johor dan Patani yang membantu Portugis. Ia dimakamkan di Kampung Ketek, Melaka, tidak jauh dari makam Panglima Pidie dan para prajurit Aceh yang gugur.

Sebagai pengarang, Syamsuddin menulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Karya-karyanya antara lain Jawahir al-Haqaiq, Tanbih al-Tullab fi Ma'rifat Malik al-Wahhab, Risalat al-Bayyin Mulahazat al-Muwahhidin, Kitab al-Harakah dan Nur al-Daqaiq dalam bahasa Arab, serta Mir'at al-Iman, Mir'at al-Mu'minin, Syarah Mir'at al-Qulub dan Mir'at al-Haqiqah dalam bahasa Melayu. Ia dikenal sebagai penerus dan pensyarah ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri.

Ajaran tasawuf Hamzah Fansuri dan Syamsuddin kemudian dinyatakan sesat oleh Nuruddin ar-Raniri, antara lain dalam Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan. Menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, vonis ini dibantah oleh Syekh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah, yang menilai ajaran kedua ulama Aceh itu tidak sesat dan tidak bid'ah. Perdebatan ini menjadi salah satu episode paling menentukan dalam sejarah intelektual Islam Asia Tenggara. M. Adli Abdullah menyoroti bahwa tokoh sebesar ini nyaris dilupakan: tidak ada nama jalan yang mengabadikannya, baik di Aceh maupun di Melaka.

Polemik sesudah wafatnya Syamsuddin meninggalkan jejak kekerasan. Mengikuti Syahrizal Abbas, pada masa Sultan Iskandar Thani terjadi pertentangan hebat antara pengikut Nuruddin ar-Raniry dan pengikut Hamzah Fansuri, disertai pembakaran besar-besaran kitab-kitab karya Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani di depan Masjid Raya Baiturrahman; pertentangan itu berlanjut hingga masa Sultanah Safiatuddin dan baru reda setelah Abdurrauf as-Singkili menjadi mufti kerajaan. Khairil Miswar kemudian membaca peristiwa ini sebagai bentuk awal mazhab hamok, yaitu penghukuman atas tuduhan sesat yang dijalankan dengan dukungan penguasa.

Syamsuddin as-Sumatrani served as mufti of the Aceh Darussalam sultanate under Sultan Saidil Mukammil, Sultan Ali Riayat Syah (1604–1607) and Sultan Iskandar Muda (1607–1636). The Hikayat Aceh portrays him, together with Admiral Keumalahayati, as a tutor who shaped Iskandar Muda's character from childhood: stern and resolute, yet gentle before God. Teuku Iskandar, editor of the Hikayat Aceh, compared his position with that of Abu al-Fadl, counsellor to the Mughal emperor Akbar, and saw the Acehnese court as in some respects comparable to the Mughal court.

European testimony confirms his influence even before Iskandar Muda's accession. Frederick de Houtman, held captive in Aceh from 1599 with his brother Cornelis (who was killed in the incident), described Syamsuddin as chief counsellor to Sultan Saidil Mukammil and recorded that the shaykh invited him to embrace Islam. Sir James Lancaster, who reached Aceh in 1602 bearing a letter from Queen Elizabeth I, described him as "a man of great estimation with the king and the people" and recorded how the shaykh questioned him about the reasons that might be put to the sultan for granting English requests. Such testimony shows that court scholars also played a part in diplomacy and trade.

Syamsuddin took part in Aceh's campaign against the Portuguese at Melaka, part of the pledge made by the sultans of Aceh since Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar to free Sumatra and the Peninsula from Portuguese rule. The Hikayat Malem Dagang commemorates the preparation of Iskandar Muda's fleet for the assault. In the Bustan al-Salatin, Nuruddin ar-Raniri records that Orang Kaya Maharaja Seri Maharaja and Orang Kaya Laksamana were sent against Melaka in 1038 AH but failed because the two commanders quarrelled, and many Muslims fell. Syamsuddin died on the eve of Monday, 12 Rajab 1039 AH. Acehnese sources also blame the treachery of Malay notables from Pahang, Johor and Patani who aided the Portuguese. He was buried at Kampung Ketek, Melaka, near the grave of Panglima Pidie and the Acehnese soldiers who fell.

As an author Syamsuddin wrote in Arabic and Malay. His works include, in Arabic, Jawahir al-Haqaiq, Tanbih al-Tullab fi Ma'rifat Malik al-Wahhab, Risalat al-Bayyin Mulahazat al-Muwahhidin, Kitab al-Harakah and Nur al-Daqaiq, and in Malay, Mir'at al-Iman, Mir'at al-Mu'minin, a commentary on Mir'at al-Qulub, and Mir'at al-Haqiqah. He is known as the continuator and commentator of Hamzah Fansuri's wujudiyah teaching.

The Sufi teaching of Hamzah Fansuri and Syamsuddin was later declared heretical by Nuruddin ar-Raniri, among other places in the Tibyan fi Ma'rifat al-Adyan. According to Wan Mohd. Shaghir Abdullah, this verdict was rejected by Shaykh Ahmad al-Qushashi in Medina, who judged the teaching of the two Acehnese scholars neither heretical nor an innovation. The controversy is one of the most decisive episodes in the intellectual history of Southeast Asian Islam. M. Adli Abdullah notes that so great a figure has been almost forgotten: no street bears his name, either in Aceh or in Melaka.

The controversy after Syamsuddin's death left a trail of violence. According to Syahrizal Abbas, under Sultan Iskandar Thani a fierce conflict arose between the followers of Nuruddin ar-Raniry and those of Hamzah Fansuri, accompanied by the wholesale burning of the works of Hamzah Fansuri and Syamsuddin as-Sumatrani in front of the Baiturrahman Great Mosque; the conflict continued into the reign of Sultanah Safiatuddin and subsided only after Abdurrauf as-Singkili became the royal mufti. Khairil Miswar later read this episode as an early form of mazhab hamok: punishment for alleged heresy carried out with the backing of the ruler.

Gagasan kunciKey ideas

Ulama di jantung negaraA scholar at the heart of the state

Sebagai mufti dan penasihat agung ia memengaruhi kebijakan, pendidikan raja dan diplomasi.As mufti and chief counsellor he shaped policy, royal education and diplomacy.

Kesaksian EropaEuropean testimony

De Houtman dan Lancaster merekam kedudukannya yang tinggi di hadapan sultan dan rakyat.De Houtman and Lancaster recorded his high standing with sultan and people.

Syahid di MelakaMartyr at Melaka

Ia gugur dalam serangan 1038–1039 H yang gagal karena perselisihan panglima dan pengkhianatan sekutu.He fell in the 1038–1039 AH assault, which failed through commanders' quarrels and allies' betrayal.

Wujudiyah dan polemiknyaWujudiyah and its controversy

Ajarannya divonis sesat oleh ar-Raniri tetapi dibela oleh Ahmad al-Qusyasyi.His teaching was condemned by ar-Raniri but defended by Ahmad al-Qushashi.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana kedudukan mufti seperti Syamsuddin memengaruhi keputusan perang dan diplomasi Aceh, dan mengapa nasihatnya diabaikan dalam serangan ke Melaka?How did the position of a mufti such as Syamsuddin shape Aceh's decisions on war and diplomacy, and why was his counsel disregarded in the assault on Melaka?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Syamsuddin as-Sumatrani”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/syamsuddin-as-sumatrani/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →