Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Amanah empat ulama Aceh (1866)The testament of four Acehnese scholars (1866)

12 Rabiul Awal 1283 H / 14 Juli 1866 M12 Rabi‘ al-Awwal 1283 AH / 14 July 1866 CE

Pada hari Maulid Nabi, 12 Rabiul Awal 1283 H (14 Juli 1866), empat ulama besar Aceh meninggalkan amanah tentang lima perkara yang paling dibenci manusia, yang seluruhnya berkaitan dengan kezaliman penguasa. Keempatnya adalah Tgk. Chik Kutakarang (Syaikh Abbas ibn Muhammad), Sayyid Abu Bakar al-Idrus (Teungku di Bukit), Qadhi Mu‘azzam Syaikhul Islam Syaikh Muhammad Marhaban, dan Syaikh Muhammad Kurdi Turkia. Naskahnya tersimpan pada keluarga Tgk. di Mulik Thani Sayyid al-Jamalullail di Banda Aceh. T. Ibrahim Alfian mengutipnya sebagai bukti hidupnya gagasan keadilan dalam tradisi ulama Aceh.

On the Prophet's birthday, 12 Rabi‘ al-Awwal 1283 AH (14 July 1866), four leading Acehnese scholars left a testament naming five things most hated by people, all concerning the injustice of rulers. They were Tgk. Chik Kutakarang (Shaykh Abbas ibn Muhammad), Sayyid Abu Bakar al-Idrus (Teungku di Bukit), the Qadhi Mu‘azzam and Shaykh al-Islam Shaykh Muhammad Marhaban, and Shaykh Muhammad Kurdi Turkia. The manuscript is held by the family of Tgk. di Mulik Thani Sayyid al-Jamalullail in Banda Aceh. T. Ibrahim Alfian cites it as evidence that the ideal of justice remained alive in Acehnese scholarly tradition.

Amanah ini singkat tetapi padat. Lima perkara yang disebut paling dibenci manusia adalah: kezaliman; ketiadaan keadilan; menyusahkan rakyat; tidak memakmurkan negeri; serta mengubah janji dengan rakyat, memberi nasihat yang buruk, dan tidak teguh setia. Susunan ini bergerak dari prinsip umum menuju tanggung jawab konkret penguasa: keadilan diukur bukan hanya dari niat, tetapi dari kesejahteraan rakyat, kemakmuran negeri, dan kesetiaan pada perjanjian.

Pemilihan tanggal Maulid memberi bobot simbolik. Pesan politik disampaikan dalam bingkai peringatan kelahiran Nabi, sehingga etika kekuasaan diletakkan dalam kerangka keteladanan kenabian. Gelar para penandatangan juga mencerminkan keragaman otoritas keagamaan di Aceh abad ke-19: ada seorang Teungku Chik, seorang sayyid dari keluarga al-Idrus yang dijuluki Teungku di Bukit, seorang pejabat bergelar Qadhi Mu‘azzam dan Syaikhul Islam, serta seorang syaikh yang nisbahnya tampak menunjuk asal Kurdi atau Turki.

Dalam kajian Alfian, amanah ini ditempatkan bersama Tāj al-Salāṭīn, peribahasa Melayu, dan tulisan Abdullah Munsyi sebagai rangkaian bukti bahwa cita raja adil yang tertera di koin Pasai dan Aceh tidak berhenti sebagai slogan. Ia terus dirumuskan ulang oleh ulama sebagai tolok ukur bagi penguasa. Isi amanah selebihnya serta konteks politik ketika amanah itu disusun tidak diuraikan dalam sumber, sehingga kajian filologis atas naskah aslinya masih diperlukan.

The testament is brief but dense. The five things named as most hated are: tyranny; the absence of justice; burdening the people; failing to bring prosperity to the land; and breaking promises to the people, giving bad counsel and lacking steadfast loyalty. The list moves from general principle to the concrete duties of a ruler: justice is measured not only by intention but by the people's welfare, the prosperity of the land and fidelity to agreements.

The choice of the Prophet's birthday adds symbolic weight. A political message is delivered within the commemoration of the Prophet's birth, placing the ethics of power within the frame of prophetic example. The signatories' titles also reflect the variety of religious authority in nineteenth-century Aceh: a Teungku Chik, a sayyid of the al-Idrus family known as Teungku di Bukit, an official styled Qadhi Mu‘azzam and Shaykh al-Islam, and a shaykh whose epithet appears to point to Kurdish or Turkish origins.

In Alfian's study, the testament stands alongside the Taj al-Salatin, Malay proverbs and the writings of Abdullah Munsyi as a chain of evidence that the just-king ideal on the coins of Pasai and Aceh did not remain a slogan. It was continually restated by scholars as a yardstick for rulers. The remainder of the testament and the political context of its writing are not described in the source, so philological study of the original manuscript is still needed.

Gagasan kunciKey ideas

Lima tolok ukur penguasaFive yardsticks for rulers

Kezaliman, ketidakadilan, menyusahkan rakyat, gagal memakmurkan negeri, dan ingkar janji.Tyranny, injustice, burdening the people, failing to bring prosperity and breaking faith.

Etika dalam bingkai MaulidEthics framed by the Mawlid

Pesan politik disampaikan pada hari kelahiran Nabi, menautkan kekuasaan dengan keteladanan kenabian.A political message delivered on the Prophet's birthday ties power to prophetic example.

Ulama sebagai penjaga keadilanScholars as guardians of justice

Ulama merumuskan ulang cita raja adil sebagai ukuran moral bagi penguasa.Scholars restated the just-king ideal as a moral measure for rulers.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa makna sebuah wasiat tentang keadilan penguasa yang disampaikan ulama pada hari Maulid, dan kepada siapa pesan itu sesungguhnya ditujukan?What did it mean for scholars to issue a testament on the justice of rulers on the Prophet's birthday, and to whom was the message really addressed?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Amanah empat ulama Aceh (1866)”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/amanah-empat-ulama-aceh-1866/