Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

‘Bapak masyarakat’ dan ‘ibu masyarakat’: ulama, geuchik, dan etika diam‘Father of society’ and ‘mother of society’: ulama, geuchik and the ethic of silence

Aceh kontemporerContemporary Aceh

Dalam struktur masyarakat Aceh masa kini, ulama dipandang sebagai ‘bapak masyarakat’ dan geuchik (kepala kampung) sebagai ‘ibu masyarakat’. Selama keduanya mampu mengurus warga, persoalan krusial jarang muncul, dan rakyat enggan mengkritik ulama. Etika hormat kepada guru juga membuat ulama muda yang idealis tidak mengkritik secara terbuka ulama senior yang terlibat politik praktis.

In today's Acehnese social structure, the ulama is seen as the ‘father of society’ and the geuchik (village head) as the ‘mother of society’. As long as both can care for residents, crucial problems rarely arise, and people are reluctant to criticise ulama. The ethic of respect for one's teacher also keeps idealistic young ulama from openly criticising senior ulama involved in party politics.

Gambaran ini menarik bila disandingkan dengan tafsir Snouck Hurgronje, yang menempatkan keuchik sebagai ‘bapak’ dan teungku sebagai ‘ibu’ gampong. Pembacaan dari dalam masyarakat justru membalik urutan itu: ulama berada pada posisi ayah yang memberi arah, sementara geuchik mengurus keperluan sehari-hari. Pembalikan ini mencerminkan kedudukan moral ulama yang masih tinggi walaupun kekuasaan formal mereka berkurang.

Di sebuah kampung di Aceh Besar, seorang ulama yang telah terjun ke politik praktis kerap bepergian ke Jakarta dan luar negeri. Ketika ada persoalan, ulama muda di kampung itulah yang menyelesaikannya. Ia hanya ‘mengeluh’ dengan bahasa simbolik tentang mengapa ulama tidak perlu terlibat dalam kekuasaan dan memilih meneladani ulama yang tidak berpolitik, sebab kritik tajam dianggap melanggar penghormatan kepada guru. Di kampung lain di Aceh Jeumpa, seorang ulama menolak terlibat dalam politik dan seremoni yang masih diperselisihkan (khilafiyah); bila kehadirannya diperlukan untuk keberkahan, ia mengirim utusan, dan justru karena itu rasa hormat kepadanya semakin besar.

Pada saat yang sama, umat Islam Aceh disebut masih berada dalam posisi ‘objek’ penguasa dan belum menjadi masyarakat mandiri. Simbol-simbol keagamaan kini juga dijaga oleh ustaz dari luar Aceh, dan orang tua makin tertarik mengirim anak ke pesantren modern karena mutu, disiplin, dan kemampuan bahasa asing. Pola bapak–ibu masyarakat tetap bertahan, tetapi lingkungan otoritas di sekitarnya terus bergeser.

This picture is striking when set beside Snouck Hurgronje's interpretation, which cast the keuchik as the ‘father’ and the teungku as the ‘mother’ of the village. A reading from within society reverses the order: the ulama occupies the father's position, giving direction, while the geuchik handles daily needs. The reversal reflects the ulama's still-high moral standing even as their formal power declines.

In a village in Aceh Besar, an ulama who had entered party politics often travelled to Jakarta and abroad. When problems arose, it was the young ulama of the village who resolved them. He would only ‘complain’ in symbolic language about why ulama need not be involved in power, choosing to emulate ulama who stayed out of politics, since sharp criticism was considered a breach of respect for one's teacher. In another village in Aceh Jeumpa, an ulama refused involvement in politics and in ceremonies still disputed (khilafiyah); when his presence was needed for blessing he sent a representative, and precisely because of this respect for him grew.

At the same time, Acehnese Muslims are described as still being ‘objects’ of rulers rather than a self-reliant society. Religious symbols are now also guarded by ustaz from outside Aceh, and parents increasingly send children to modern pesantren for quality, discipline and foreign-language skills. The father–mother pattern of society persists, but the landscape of authority around it keeps shifting.

Gagasan kunciKey ideas

Metafora yang terbalikAn inverted metaphor

Pembacaan lokal menempatkan ulama sebagai bapak, berbeda dari tafsir kolonial.The local reading makes the ulama the father, unlike the colonial interpretation.

Etika diam ulama mudaYoung ulama's ethic of silence

Penghormatan kepada guru menahan kritik terbuka, sehingga koreksi berlangsung melalui teladan.Respect for teachers restrains open criticism, so correction happens through example.

Wibawa melalui jarakAuthority through distance

Menjauhi politik dan khilafiyah dapat memperbesar rasa hormat umat.Avoiding politics and disputed matters can increase public respect.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apakah budaya enggan mengkritik ulama melindungi kehormatan agama, atau justru menghambat koreksi diri umat?Does the reluctance to criticise ulama protect the honour of religion, or hinder communal self-correction?

Kutip entri ini:Cite this entry: “‘Bapak masyarakat’ dan ‘ibu masyarakat’: ulama, geuchik, dan etika diam”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/ulama-bapak-masyarakat/