Komunitas nelayan Aceh: pawang, toke bangku dan raseuki rimuengAcehnese fishing communities: pawang, toke bangku and raseuki rimueng
Kehidupan kampung nelayan Aceh diatur oleh hierarki kerja di laut (aneuk itek, pawang, panglima laot lhok) dan hierarki ekonomi di darat (pemilik perahu, toke bangku, muge). Penghasilan nelayan yang tak menentu disebut raseuki rimueng, “rezeki harimau”. Kajian lapangan di beberapa pesisir Aceh memperlihatkan ketimpangan, kepercayaan tradisional dan perdebatan keagamaan yang membentuk komunitas ini.
Life in Acehnese fishing villages is ordered by a work hierarchy at sea (aneuk itek, pawang, panglima laot lhok) and an economic hierarchy on land (boat owner, toke bangku, muge). Fishers' unpredictable income is called raseuki rimueng, “tiger's fortune”. Fieldwork along several Acehnese coasts reveals the inequality, traditional beliefs and religious debates that shape these communities.
Penelitian lapangan Kamaruzzaman Bustamam Ahmad dan M. Adli Abdullah di beberapa kawasan pesisir Aceh, antara lain Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tamiang dan Lhok Kreng di dekat Banda Aceh, menggambarkan suasana kampung nelayan yang relatif seragam: sebagian laki-laki melaut selama beberapa jam atau beberapa hari, anak-anak bermain di pantai, perempuan berbincang dengan tetangga di rumah, dan sekelompok orang menghabiskan waktu di warung kopi. Banyak anak laki-laki berhenti setelah sekolah dasar, mulai bekerja membersihkan perahu atau mengumpulkan ikan, dan puncak karier yang dapat mereka capai adalah menjadi muge, penjual ikan keliling dengan sepeda motor ke daerah pedalaman, atau toke bangku, pedagang yang menentukan harga ikan di tepi pantai. Hanya keluarga pemilik perahu yang umumnya mampu menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi.
Nelayan melukiskan penghasilan mereka sebagai raseuki rimueng, “rezeki harimau”: tidak dapat diperkirakan per bulan atau per tahun. Hasil tangkapan yang melimpah justru dapat menurunkan harga, sehingga yang terpenting bagi keluarga adalah membeli beras dan memberi uang jajan anak, sementara kelebihan pada musim baik harus disimpan untuk masa paceklik. Di Lhokseumawe toke bangku menetapkan harga dengan menelepon rekan-rekannya di kabupaten yang sama, dan nelayan menyimpulkan bahwa dalam usaha ini hanya dua orang yang menjadi kaya, yaitu toke bangku dan pemilik perahu. Di Meulaboh pawang lazim menjual sebagian ikan di tengah laut untuk kebutuhan makan awak, yang kemudian dilaporkan kepada pemilik perahu.
Jenjang karier di laut juga mengikuti tradisi. Seseorang memulai sebagai aneuk itek (awak di bawah pawang), naik menjadi wakil pawang, lalu pawang, yaitu nakhoda sekaligus ahli penangkapan. Dari kalangan pawang, masyarakat memilih Panglima Laot Lhok melalui pemilihan, sebuah praktik yang berbeda dengan masa kesultanan ketika panglima laot diangkat oleh sultan atau wakilnya. Calon panglima laot dituntut memahami tradisi dan adat laot secara mendalam.
Pengetahuan tradisional mencakup unsur yang kini diperdebatkan. Sebagian nelayan bercerita tentang eleume, ilmu gaib yang diyakini dipakai sebagian pawang untuk “memanggil” ikan atau mengganggu alat tangkap pesaing, terutama jaring; kepercayaan ini disebut sebagai tradisi lama yang juga dikenal di beberapa komunitas pesisir timur, meskipun bertentangan dengan ajaran Islam. Seorang tokoh panglima laot memandangnya sebagai masalah internal komunitas, bukan persoalan utama adat laot. Seorang nelayan berusia tujuh puluhan di Lhok Kreng menegaskan bahwa syarat utama nelayan adalah keberanian: generasi lama melaut dengan peralatan sederhana, membaca lingkaran bulan dan tanda-tanda bintang untuk menemukan jalan pulang, sedangkan generasi baru mengandalkan teknologi.
Khanduri laot menjadi arena perdebatan antara tradisi dan pemurnian agama. Di satu kecamatan komunitas masih menggelarnya setiap dua tahun di bawah koordinasi panglima laot: seluruh nelayan menyumbang untuk membeli kerbau, dan setiap rumah tangga memasak kari untuk dimakan bersama di tepi laut. Di komunitas lain kelompok pembaru Muslim menghapusnya sebagai bid'ah yang dianggap berasal dari tradisi Hindu, dan panglima laot tidak berdaya; sebagian warga kemudian mengaitkan berkurangnya tangkapan dengan penghapusan itu. Seorang ulama lokal sebaliknya menyatakan khanduri laot sebagai tradisi Islam, dan di Aceh Barat khanduri ini tetap dilaksanakan sebagai ungkapan syukur kepada Allah. Para peneliti menyarankan agar panglima laot bekerja erat dengan ulama dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dalam menjaga tradisi ini.
Fieldwork by Kamaruzzaman Bustamam Ahmad and M. Adli Abdullah in several coastal areas of Aceh, including Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tamiang and Lhok Kreng near Banda Aceh, portrays a fairly uniform village scene: some men out at sea for hours or days, children playing on the beach, women chatting with neighbours at home, and a group passing time in the coffee shop. Many boys leave after primary school, start work cleaning boats or collecting fish, and the peak of the career open to them is to become a muge, an itinerant fish seller who carries fish by motorcycle to the interior, or a toke bangku, the trader who sets fish prices on the shore. Generally only boat-owning families can send their children to university.
Fishers describe their income as raseuki rimueng, “tiger's fortune”: impossible to predict by month or year. An abundant catch can actually lower prices, so what matters most to a family is buying rice and giving the children pocket money, while any surplus in good seasons must be saved for lean times. In Lhokseumawe the toke bangku sets prices by telephoning colleagues in the same district, and fishers conclude that only two people grow rich in this business: the toke bangku and the boat owner. In Meulaboh the pawang customarily sells part of the catch at sea to feed the crew, reporting it later to the boat owner.
Careers at sea also follow tradition. A man starts as an aneuk itek (crewman under the pawang), rises to deputy pawang and then pawang, the skipper and fishing master. From among the pawang the community elects the Panglima Laot Lhok, a practice that differs from the sultanate period when the panglima laot was appointed by the sultan or his deputy. Candidates are expected to have a thorough understanding of tradition and adat laot.
Traditional knowledge includes elements now in dispute. Some fishers spoke of eleume, occult knowledge believed to be used by some pawang to “call” fish or to interfere with rivals' gear, especially nets; this belief is described as an old tradition also known in some east-coast communities, though contrary to Islamic teaching. One panglima laot leader regarded it as an internal community matter rather than a central problem of adat laot. A fisher in his seventies at Lhok Kreng insisted that the chief requirement of a fisher is courage: the older generation went to sea with simple equipment, reading the halo of the moon and the signs of the stars to find their way home, whereas the new generation relies on technology.
The khanduri laot has become an arena of debate between tradition and religious purification. In one sub-district the community still holds it every two years under the panglima laot's coordination: all fishers contribute to buy a buffalo, and each household cooks curry to be eaten together by the sea. In other communities Muslim reformists abolished it as a bid'ah thought to derive from Hindu tradition, and the panglima laot was powerless; some villagers later linked declining catches to its abolition. A local scholar, by contrast, declared the khanduri laot an Islamic tradition, and in West Aceh it continues as an expression of gratitude to God. The researchers recommend that the panglima laot work closely with ulama and the Consultative Council of Ulama (MPU) in maintaining this tradition.
Gagasan kunciKey ideas
Dua hierarkiTwo hierarchies
Hierarki kerja di laut berdampingan dengan hierarki ekonomi yang dikuasai toke dan pemilik perahu.A work hierarchy at sea coexists with an economic hierarchy dominated by traders and boat owners.
Rezeki harimauTiger's fortune
Raseuki rimueng mengungkapkan ketidakpastian penghasilan dan etika menabung nelayan.Raseuki rimueng expresses the uncertainty of income and the saving ethic of fishers.
Tradisi yang diperdebatkanContested tradition
Khanduri laot dan kepercayaan gaib menjadi titik temu adat dan reformisme Islam.The khanduri laot and occult beliefs are meeting points of adat and Islamic reformism.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bagaimana teknologi penangkapan dan pasar ikan modern mengubah hubungan antara pawang, toke bangku dan pemilik perahu di pesisir Aceh?How have modern fishing technology and fish markets changed relations between pawang, toke bangku and boat owners on the Acehnese coast?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Komunitas nelayan Aceh: pawang, toke bangku dan raseuki rimueng”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/komunitas-nelayan-aceh-pawang-toke-bangku-dan-raseuki-rimueng/