Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Protes sunyi remaja: kabur dari rumah, circle, dan imajinasi sosial Gen ZTeenagers’ silent protest: running away, the ‘circle’ and Gen Z’s social imagination

2020-an2020s

Ketegangan antargenerasi di Aceh tampil dalam dua wajah: remaja yang kabur dari rumah sebagai protes karena merasa tidak didengar, dan anak muda yang memberontak di ruang publik melalui kenakalan, tawuran, dan konten yang merendahkan orang lain. Analisis ini membaca kabur dari rumah sebagai pemberontakan halus yang lahir dari standar ganda gender dan komunikasi keluarga yang tertutup, serta membaca perilaku Gen Z melalui konsep imajinasi sosial dan efek circle atau lingkar pertemanan. Imajinasi sosial disebut pisau bermata dua: dapat menumbuhkan empati, tetapi juga membenarkan perilaku menyimpang bila didorong validasi media sosial. Jalan keluarnya adalah rumah sebagai ruang aman, orang tua sebagai sahabat yang mendengar, dan Gen Z yang reflektif.

Intergenerational tension in Aceh shows two faces: teenagers who run away from home in protest because they feel unheard, and young people who rebel in public space through delinquency, brawls and content that demeans others. This analysis reads running away as a subtle rebellion born of gender double standards and closed family communication, and reads Gen Z behaviour through the concepts of social imagination and the ‘circle’ effect of friendship groups. Social imagination is called a double-edged knife: it can foster empathy, but it can also justify deviant behaviour when driven by social-media validation. The way out is the home as a safe space, parents as friends who listen and a reflective Gen Z.

Di banyak gampong dan kota di Aceh, para tetua mengeluh bahwa anak muda kehilangan adab dan bertanya-tanya ke mana masa depan akan dibawa, sementara anak muda membalas bahwa cara berpikir orang tua sudah usang. Benturan ini dibaca sebagai akibat perubahan sosial yang cepat. Tipologi generasi yang lazim, dari Baby Boomers kelahiran 1946–1964, Generasi X kelahiran 1965–1980, Milenial kelahiran 1981–1996, hingga Gen Z yang tumbuh di era digital, membantu menjelaskan bahwa Gen Z cenderung memandang realitas sosial secara lebih personal dan emosional. Di dalam keluarga dan di ruang publik, perbedaan cara pandang ini melahirkan bentuk-bentuk protes yang khas.

Bentuk pertama adalah kabur dari rumah. Masa remaja adalah masa pencarian identitas, ketika keinginan mandiri berbenturan dengan aturan orang tua, terutama aturan tentang pertemanan dan percintaan. Kabur dari rumah sering dianggap kenakalan tanpa alasan, padahal dari sudut pandang remaja ia adalah pemberontakan yang lebih dalam: tuntutan agar perasaannya diakui. Polanya dapat dirumuskan dalam lima tahap: tekanan dari berbagai arah, ledakan emosi impulsif, hukuman dan kritik tanpa upaya memahami, perasaan terjebak tanpa tempat menjelaskan, dan akhirnya kabur sebagai pilihan. Kebebasan yang dicari bukan kebebasan tanpa aturan, melainkan kebebasan menjadi diri sendiri tanpa tekanan lingkungan.

Standar ganda gender memperparah keadaan. Kesalahan anak laki-laki lebih mudah dimaklumi, sedangkan anak perempuan dihakimi keras dan dituntut menjaga citra ‘anak baik’ setiap saat. Seorang remaja perempuan yang dekat dengan teman laki-laki berlabel nakal bisa langsung dihukum tanpa ditanya alasannya, padahal hubungan itu mungkin sekadar pertemanan. Larangan pacaran yang dimaksudkan orang tua sebagai perlindungan terasa sebagai pengekangan ketika disampaikan dengan keras dan tanpa ruang diskusi. Dalam kasus lain, seorang remaja yang bersalah karena memukul guru, perbuatan yang tidak dapat dibenarkan, ternyata berada di bawah tekanan di sekolah dan di rumah, dan respons keras orang tua justru mendorongnya kabur.

Bentuk kedua adalah pemberontakan di ruang publik: vandalisme, tawuran, dan konten prank yang merendahkan orang lain. Perilaku ini dapat dibaca sebagai ekspresi pencarian identitas dan pengakuan, atau sebagai pelarian dari krisis identitas dan tekanan sosial yang tidak terkelola, dan pembacaan kedua dinilai lebih realistis. Konsep kuncinya adalah imajinasi sosial: Gen Z tidak hanya bertindak, tetapi juga membayangkan dampak, makna, dan konteks tindakannya. Imajinasi ini seharusnya membangun kesadaran kolektif, tetapi dapat dimanipulasi menjadi pembenaran ketika like, views, dan komentar mendukung membuat tindakan negatif tampak dapat diterima.

Efek circle memperlihatkan bagaimana lingkar pertemanan menyetir perilaku. Ketika seorang teman memiliki iPhone terbaru, yang lain merasa harus memiliki setidaknya model sebelumnya, pengguna Android merasa tersisih, dan sebagian anak muda lalu menekan orang tuanya untuk membelikan. Circle yang sehat semestinya menghasilkan karya, mengejar tujuan bersama, dan bersaing dalam prestasi, tetapi model ini dinilai semakin langka. Dalam bentuk yang lebih merugikan, sebagian anak muda mengejar cita-cita kosong dengan menjadikan otonomi tubuh sebagai komoditas, sebuah gejala yang dalam ungkapan lokal disebut bunga desa yang layu di kota. Analisis ini menolak menimpakan kesalahan semata kepada perempuan, sambil mengingatkan bahwa sosiologi tubuh menuntut kesadaran bahwa tindakan pribadi selalu memiliki akibat sosial, kesehatan, dan relasional.

Jalan keluar yang ditawarkan berpusat pada keluarga. Rumah semestinya menjadi tempat aman tempat anak merasa diterima dan dapat membicarakan masalah tanpa takut dihukum atau dihakimi. Remaja yang tampak mandiri tetap membutuhkan dukungan emosional, perhatian, dan bimbingan, bukan hanya aturan. Model ideal adalah orang tua sebagai pengawas sekaligus sahabat yang mendengar dan memberi nasihat bijak, serta perlakuan yang adil antara anak laki-laki dan perempuan. Di sisi lain, Gen Z didorong melampaui konektivitas digital menuju kedalaman berpikir, kemampuan menyaring pengaruh, literasi digital, dan kesadaran akan dampak sosial, dengan budi pekerti dan akhlak sebagai fondasi. Dengan demikian imajinasi sosial dapat diarahkan pada relasi yang sehat, setara, dan bermartabat.

In many villages and towns in Aceh, elders complain that young people have lost their adab and wonder where the future is heading, while the young retort that their parents’ thinking is outdated. This clash is read as a consequence of rapid social change. The usual generational typology, from Baby Boomers born 1946–1964, Generation X born 1965–1980 and Millennials born 1981–1996 to Gen Z, who grew up in the digital era, helps explain that Gen Z tends to see social reality in a more personal and emotional way. Within the family and in public space, this difference in outlook produces distinctive forms of protest.

The first is running away from home. Adolescence is a time of searching for identity, when the wish for independence collides with parental rules, especially rules about friendship and romance. Running away is often seen as pointless naughtiness, but from the teenager’s point of view it is a deeper rebellion: a demand that their feelings be recognised. Its pattern can be set out in five stages: pressure from several directions, an impulsive emotional outburst, punishment and criticism without any attempt to understand, a sense of being trapped with nowhere to explain, and finally running away as the choice. The freedom sought is not freedom without rules but freedom to be oneself without the pressure of one’s surroundings.

Gender double standards make matters worse. Boys’ misdeeds are more easily excused, while girls are judged harshly and required to maintain a ‘good girl’ image at all times. A teenage girl close to a male friend labelled as naughty may be punished at once without being asked why, though the relationship may be mere friendship. A ban on dating that parents intend as protection feels like confinement when delivered harshly and without room for discussion. In another case, a teenager at fault for hitting a teacher, an act that cannot be justified, turned out to be under pressure at school and at home, and her parents’ harsh response pushed her to run away.

The second form is rebellion in public space: vandalism, brawls and prank content that demeans others. This behaviour can be read as an expression of the search for identity and recognition, or as an escape from identity crisis and unmanaged social pressure, and the second reading is judged more realistic. The key concept is social imagination: Gen Z does not only act but also imagines the impact, meaning and context of its actions. This imagination ought to build collective awareness, but it can be manipulated into justification when likes, views and supportive comments make negative acts seem acceptable.

The circle effect shows how friendship groups steer behaviour. When one friend owns the latest iPhone, others feel they must have at least the previous model, Android users feel left out, and some young people then pressure their parents to buy one. A healthy circle should produce work, pursue shared goals and compete in achievement, but this model is judged increasingly rare. In a more damaging form, some young people pursue hollow aspirations by turning bodily autonomy into a commodity, a symptom described in a local expression as the village flower that withers in the city. The analysis refuses to lay the blame on women alone, while reminding that a sociology of the body requires awareness that personal acts always have social, health and relational consequences.

The proposed way out centres on the family. The home should be a safe place where a child feels accepted and can talk about problems without fear of punishment or judgement. Teenagers who seem independent still need emotional support, attention and guidance, not only rules. The ideal model is the parent as supervisor and also as a friend who listens and gives wise advice, with fair treatment of sons and daughters. Gen Z, for its part, is urged to move beyond digital connectivity toward depth of thought, the ability to filter influences, digital literacy and awareness of social impact, with good character and akhlak as the foundation. In this way social imagination can be directed toward relationships that are healthy, equal and dignified.

Gagasan kunciKey ideas

Kabur sebagai protesRunning away as protest

Remaja yang kabur menuntut pengakuan atas perasaannya, bukan kebebasan tanpa aturan.Teenagers who run away demand recognition of their feelings, not freedom without rules.

Standar ganda genderGender double standard

Anak perempuan dihakimi lebih keras, sehingga lebih mudah merasa tidak punya tempat bicara.Girls are judged more harshly and so more easily feel they have no one to talk to.

Imajinasi sosial bermata duaDouble-edged social imagination

Dapat menumbuhkan empati, atau membenarkan penyimpangan ketika digerakkan validasi digital.It can foster empathy, or justify deviance when driven by digital validation.

Disetir circleSteered by the circle

Lingkar pertemanan menentukan konsumsi, gaya hidup, dan batas moral anak muda.Friendship circles shape young people’s consumption, lifestyle and moral boundaries.

Rumah sebagai ruang amanHome as a safe space

Orang tua sebagai sahabat yang mendengar mencegah remaja merasa terjebak.Parents as friends who listen keep teenagers from feeling trapped.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Bagaimana keluarga Aceh dapat menjaga adab tanpa membuat rumah terasa sebagai tempat yang harus ditinggalkan?How can Acehnese families uphold adab without making the home feel like a place one must flee?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Protes sunyi remaja: kabur dari rumah, circle, dan imajinasi sosial Gen Z”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/protes-sunyi-remaja-dan-imajinasi-sosial-gen-z/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →