Muhammad Haji Salleh dan Menyeberang SejarahMuhammad Haji Salleh and Menyeberang Sejarah
1942–kini1942–present
Muhammad Haji Salleh (lahir 1942) adalah penyair, kritikus, dan sarjana sastra Malaysia, Sasterawan Negara keenam (1991), yang kerjanya menjadi contoh penting upaya Dunia Melayu memahami dirinya sendiri setelah kolonialisme. Kumpulan esainya, Menyeberang Sejarah (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1999), menghimpun tiga dasawarsa pemikiran tentang estetika Melayu, kelisanan, kritik terhadap kesarjanaan kolonial, dan posisi sastra Melayu di panggung dunia. Metafora ‘menyeberang’ menggambarkan sikapnya: memakai alat teori Barat tanpa membiarkannya menentukan ukuran. Bagi studi Aceh, karyanya menawarkan model bagaimana warisan sastra yang pernah dibaca melalui kacamata kolonial dapat diwarisi tanpa diingkari dan tanpa ditaklukkan.
Muhammad Haji Salleh (born 1942) is a Malaysian poet, critic and literary scholar, the sixth National Laureate (1991), whose work is an important example of the Malay World’s effort to understand itself after colonialism. His essay collection Menyeberang Sejarah (Dewan Bahasa dan Pustaka, 1999) gathers three decades of thought on Malay aesthetics, orality, critique of colonial scholarship and the place of Malay literature on the world stage. The metaphor of ‘crossing’ captures his stance: using the tools of Western theory without letting them set the standard. For Aceh studies his work offers a model of how a literary heritage once read through colonial lenses can be inherited without being disowned or conquered.
Muhammad Haji Salleh lahir pada 26 Maret 1942 di Taiping, Perak. Ia menempuh pendidikan di Malay College Kuala Kangsar, Malayan Teachers College di Brinsford Lodge, Inggris, lalu sastra Inggris di University of Malaya di Singapura. Ia meraih MA dari University of Malaya pada 1970 dan PhD dari University of Michigan pada 1973. Kariernya bermula sebagai guru sekolah dagang di Butterworth sejak 1960, kemudian dosen hingga profesor, termasuk sebagai Pengarah Institut Alam dan Tamadun Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia, dan menjadi profesor emeritus sejak 2009. Ia memperoleh Anugerah ASEAN 1977 untuk Perjalanan Si Tenggang II, gelar Sasterawan Negara keenam pada 1991, S.E.A. Write Award di Bangkok pada 1997, dan Tokoh Akademik Negara pada 2008. Ia menulis lebih dari tujuh puluh buku dalam bahasa Melayu dan Inggris, sekitar empat belas di antaranya kumpulan puisi, dan menerjemahkan Sulalatus Salatin ke dalam bahasa Inggris untuk penerbit Penguin.
Menyeberang Sejarah: Kumpulan Esei Pilihan terbit pada 1999 dengan cetakan kedua pada 2006 dan tebal 647 halaman. Buku ini bukan monograf dengan satu tesis, melainkan himpunan esai yang membentang sekitar tiga dasawarsa. Kata kunci judulnya, menyeberang, mengandung makna keberanian, risiko, dan perubahan. Susunan buku dibaca sebagai metode yang disengaja: bergerak dari dalam ke luar. Bagian pertama, Mendialog Warisan, membahas wira, metafora, estetika duka, lipatan kelisanan dalam sastra tulis, Richard Winstedt, dan pantun. Bagian kedua menyoal keindahan dan khalayak, bagian ketiga, Wacana Mutakhir, membahas historiografi dan kritik, termasuk Baha Zain dan Angkatan Sasterawan 50, sedangkan bagian keempat, Di Ambang Dunia, menatap Derek Walcott, Hugh Clifford, penerjemahan, dan globalisasi, ditutup bibliografi lebih dari enam ratus entri.
Salah satu sumbangan pentingnya adalah pembacaan kritis atas kesarjanaan kolonial. Esainya tentang Winstedt, sarjana-administrator kolonial yang tata bahasa dan survei sastranya membentuk cara orang Malaysia memahami warisannya, bertanya apakah ia sarjana, penulis kolonial, atau keduanya. Sikap yang diambil adalah membaca arsip kolonial melawan arusnya: mengambil data yang berguna, membuang bingkai kolonial, lalu membangun bingkai Melayu. Dengan bantuan Walter Ong, kelisanan dipahami bukan sebagai tahap yang ditinggalkan, melainkan lipatan yang tetap hadir di dalam teks tulis; dengan Mikhail Bakhtin, hubungan pembayang dan maksud dalam pantun dibaca sebagai dialog dalam arti harfiah.
Bagian estetika merebut kembali keindahan sebagai kategori serius. Kritik Barat mencurigai keindahan, sementara estetika kolonial melabeli sastra jajahan sebagai ‘sederhana’ atau ‘aneh’. Esai tentang duka sengsara yang indah menunjukkan bahwa penderitaan dapat indah tanpa menyangkal kenyataannya, berakar pada estetika sufi tentang duka dan rindu serta syair perpisahan dalam tradisi Melayu-Islam. Citra serambi sebagai ruang antara dalam rumah Melayu dipakai untuk menggambarkan khalayak sebagai peserta yang hadir bersama, bukan penonton pasif.
Ia juga mengaudit disiplinnya sendiri. Esai tentang masalah kriteria dalam kritik Malaysia menyoal kecenderungan sastra pascakolonial menilai dirinya dengan ukuran akademik warisan penjajah. Angkatan Sasterawan 50, yang didirikan di Singapura pada 1950 dengan semboyan ‘seni untuk masyarakat’, dibaca kritis sebelum buku melangkah ke sastra dunia, seolah sastra Melayu harus berdamai dengan definisi dirinya pada abad ke-20 sebelum menyeberang. Di bagian akhir, Derek Walcott dibaca sebagai sesama penyair pascakolonial yang menundukkan bahasa penjajah pada ritme dan mitos Karibia, Hugh Clifford dibaca melalui Orientalism Edward Said sebagai contoh distorsi struktural bahkan dalam representasi yang simpatik, dan penerjemah dipandang sebagai sosok yang berdiri di dua tepi sungai.
Teman-teman teoretisnya, yaitu Bakhtin, Ong, Roland Barthes, Frantz Fanon, Edward Said, dan Aijaz Ahmad, dipakai dengan peran yang jelas. Aijaz Ahmad penting karena menggugat pengistimewaan penulis diaspora berbahasa Inggris di atas sastra berbahasa lokal; Muhammad sendiri menulis terutama dalam bahasa Melayu dan menerjemahkan ke luar, menolak hierarki yang menganggap tulisan pascakolonial berbahasa Inggris sebagai kanon sejati. Keterbatasannya pun diakui: esai lintas tiga dasawarsa menimbulkan sambungan yang terasa, dan karena berbahasa Melayu buku ini nyaris tak terlihat oleh kajian sastra bandingan berbahasa Inggris.
Filsafat penyeberangan yang dikandungnya menolak dua pilihan palsu: nativisme defensif dan kosmopolitanisme asimilatif, yang sama-sama menganggap identitas berarti diam di tempat. Urutannya adalah mulai dari rumah, membangun kosakata, mengujinya terhadap kesarjanaan kolonial, mengaudit disiplin, lalu menyeberang keluar sebagai setara. Bagi studi Aceh, yang juga lama dibaca melalui Snouck Hurgronje dan kesarjanaan kolonial, model ini relevan: hikayat, syair sufi Hamzah Fansuri, dan tradisi lisan Aceh dapat dibaca dengan alat teori modern tanpa menyerahkan ukuran penilaiannya kepada pihak luar.
Muhammad Haji Salleh was born on 26 March 1942 in Taiping, Perak. He was educated at the Malay College Kuala Kangsar, the Malayan Teachers College at Brinsford Lodge in England, and then English literature at the University of Malaya in Singapore. He took an MA at the University of Malaya in 1970 and a PhD at the University of Michigan in 1973. His career began as a teacher at a trade school in Butterworth from 1960, then as lecturer through to professor, including as Director of the Institute of the Malay World and Civilisation at Universiti Kebangsaan Malaysia, and he has been emeritus professor since 2009. He received the ASEAN Literary Award in 1977 for Perjalanan Si Tenggang II, became the sixth National Laureate in 1991, won the S.E.A. Write Award in Bangkok in 1997 and was named National Academic Figure in 2008. He has written more than seventy books in Malay and English, about fourteen of them poetry collections, and translated the Sulalatus Salatin into English for Penguin.
Menyeberang Sejarah: Kumpulan Esei Pilihan appeared in 1999, with a second printing in 2006, and runs to 647 pages. It is not a monograph with a single thesis but a collection of essays spanning some three decades. The key word of its title, menyeberang (to cross), carries connotations of courage, risk and transformation. The book’s arrangement is read as a deliberate method: moving from inside outwards. Part one, Mendialog Warisan (Dialoguing with Heritage), deals with the hero, metaphor, the aesthetics of sorrow, the fold of orality in written literature, Richard Winstedt and the pantun. Part two takes up beauty and audience, part three, Wacana Mutakhir (Contemporary Discourse), treats historiography and criticism, including Baha Zain and the Angkatan Sasterawan 50, and part four, Di Ambang Dunia (At the Threshold of the World), looks to Derek Walcott, Hugh Clifford, translation and globalisation, closing with a bibliography of over six hundred entries.
One of his key contributions is a critical reading of colonial scholarship. His essay on Winstedt, the colonial scholar-administrator whose grammars and literary surveys shaped how Malaysians understood their heritage, asks whether he was a scholar, a colonial writer, or both. The stance taken is to read the colonial archive against the grain: take the usable data, discard the colonial frame and build a Malay frame. With the help of Walter Ong, orality is understood not as a stage left behind but as a fold that remains present within written texts; with Mikhail Bakhtin, the relation between the pembayang and maksud of the pantun is read as dialogue in the literal sense.
The aesthetics sections reclaim beauty as a serious category. Western criticism grew suspicious of beauty, while colonial aesthetics labelled colonised literatures ‘simple’ or ‘quaint’. The essay on beautiful suffering shows that suffering can be beautiful without denying its reality, rooted in Sufi aesthetics of sorrow and longing and in the poetry of separation in the Malay-Islamic tradition. The image of the serambi, the verandah as an in-between space of the Malay house, is used to depict the audience as co-present participants rather than passive spectators.
He also audits his own discipline. The essay on the problem of criteria in Malaysian criticism questions the tendency of postcolonial literatures to judge themselves by academic standards inherited from the coloniser. Angkatan Sasterawan 50, founded in Singapore in 1950 with the slogan ‘art for society’, is read critically before the book moves to world literature, as if Malay literature had to reckon with its twentieth-century self-definition before crossing. In the final part Derek Walcott is read as a fellow postcolonial poet who bent the coloniser’s language to Caribbean rhythm and myth, Hugh Clifford is read through Edward Said’s Orientalism as an example of structural distortion even in sympathetic representation, and the translator is seen as one who stands on both banks of the river.
His theoretical companions, Bakhtin, Ong, Roland Barthes, Frantz Fanon, Edward Said and Aijaz Ahmad, are used with clear roles. Aijaz Ahmad matters because he challenged the privileging of English-language diaspora writers over literatures in local languages; Muhammad himself writes mainly in Malay and translates outwards, refusing the hierarchy that treats English-language postcolonial writing as the true canon. Its limits are acknowledged too: essays across three decades leave visible seams, and because it is in Malay the book is almost invisible to English-language comparative literature.
The philosophy of crossing it contains rejects two false choices: defensive nativism and assimilationist cosmopolitanism, both of which assume that identity means standing still. The sequence is to begin at home, build a vocabulary, test it against colonial scholarship, audit the discipline, then cross outwards as an equal. For Aceh studies, long read through Snouck Hurgronje and colonial scholarship, this model is relevant: the hikayat, the Sufi poetry of Hamzah Fansuri and Acehnese oral tradition can be read with the tools of modern theory without surrendering the standard of judgement to outsiders.
Gagasan kunciKey ideas
MenyeberangCrossing
Memakai alat teori Barat tanpa membiarkannya menentukan ukuran penilaian.Using Western theoretical tools without letting them set the standard.
Membaca arsip melawan arusReading the archive against the grain
Ambil data kolonial, buang bingkainya, bangun bingkai Melayu.Take colonial data, discard its frame, build a Malay frame.
Lipatan kelisananThe fold of orality
Kelisanan tetap hadir di dalam teks tulis, seperti pantun dalam antologi cetak.Orality remains present within written texts, as the pantun in printed anthologies.
Estetika dukaAesthetics of sorrow
Keindahan penderitaan berakar pada estetika sufi duka dan rindu.The beauty of suffering rooted in Sufi aesthetics of sorrow and longing.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Bisakah sebuah sastra menilai dirinya dengan ukurannya sendiri sambil tetap berbicara kepada dunia?Can a literature judge itself by its own standards while still speaking to the world?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Muhammad Haji Salleh dan Menyeberang Sejarah”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/muhammad-haji-salleh/