Hafalan Shalat Delisa dan etika sastra tentang tragedi tsunamiHafalan Shalat Delisa and the ethics of literature about the tsunami
2000-an–20112000s–2011
Novel populer karya Tere Liye, Hafalan Shalat Delisa, dan film adaptasinya pada 2011 mengambil latar tsunami Aceh 2004 di Lhoknga dan Banda Aceh, dengan tokoh anak perempuan yang namanya dan pengalaman kehilangan kakinya menyerupai seorang anak penyintas nyata. Kritik etis terhadap karya ini menyoroti tiga persoalan: komodifikasi penderitaan menjadi ‘air mata yang dijual’, narasi penyelamat asing yang menghapus peran warga lokal sebagai penolong utama, dan film yang dibuat di luar Aceh tanpa melibatkan orang Aceh serta mengandung kekeliruan bahasa dan budaya. Perdebatan ini melahirkan seruan tentang transparansi, konsultasi dengan komunitas terdampak, dan berbagi manfaat dalam karya yang bersumber dari tragedi nyata.
Tere Liye’s popular novel Hafalan Shalat Delisa and its 2011 film adaptation are set during the 2004 Aceh tsunami in Lhoknga and Banda Aceh, with a girl protagonist whose name and experience of losing a leg resemble those of a real child survivor. Ethical criticism of the work highlights three problems: the commodification of suffering into ‘tears for sale’, a foreign-saviour narrative that erases the role of local residents as the main rescuers, and a film made outside Aceh without involving Acehnese people and containing linguistic and cultural errors. The debate has produced calls for transparency, consultation with affected communities and benefit-sharing in works drawn from real tragedies.
Tsunami 26 Desember 2004 yang menewaskan lebih dari seratus ribu orang di Aceh melahirkan banyak karya sastra dan film. Salah satu yang paling populer adalah novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, yang kemudian difilmkan pada 2011. Kisahnya dibuka di Lhoknga dengan suasana subuh yang tenang, azan, dan anak-anak yang belajar mengaji, sebelum gempa dan gelombang setinggi sekitar sepuluh meter menghancurkan Lhoknga dan Banda Aceh. Tokoh utamanya, Delisa, terjepit reruntuhan, kehilangan kaki, kelaparan, dan terpanggang matahari berhari-hari, lalu ditemukan oleh tentara asing yang terpesona melihat tubuhnya yang ‘bercahaya’.
Kritik pertama menyangkut komodifikasi penderitaan. Karya populer dapat menjadi pisau bermata dua: menolong ingatan dan penyembuhan, atau mengulang trauma bila dibuat tanpa riset dan kepekaan budaya. Pengulangan adegan derita yang panjang dinilai mengubah rasa sakit menjadi komoditas air mata, sementara penggambaran tubuh yang bercahaya sebagai mukjizat dianggap meromantisasi trauma nyata. Persoalan struktural tsunami, seperti ketiadaan sistem peringatan dini, kegagalan negara, dan duka kolektif, nyaris tidak tersentuh, sebab penderitaan massal direduksi menjadi kisah satu anak. Nilai spiritual tentang keikhlasan dan hidayah memang ada, tetapi pesan bahwa penderitaan fisik diperlukan agar orang lain memperoleh hidayah dipandang meromantisasi rasa sakit.
Kritik kedua menyangkut kemiripan dengan seorang anak penyintas nyata yang juga kehilangan kaki dalam tsunami dan memiliki nama yang sama. Karena nama, tempat, dan waktu bersesuaian, banyak pembaca meyakini novel itu sebagai kisah nyata sang anak. Pengarang menyatakan bahwa kisahnya fiksi dan tidak berkaitan dengan orang nyata, tetapi para pengkritik menilai pernyataan itu tidak memadai tanpa klarifikasi tertulis dalam buku. Keluarga penyintas dilaporkan kecewa meskipun tidak menempuh jalur hukum. Dari sudut etika, kebebasan berekspresi adalah hak dasar, tetapi ketika fiksi sangat dekat dengan nama, latar, dan peristiwa seorang manusia nyata, pengarang memikul tanggung jawab untuk menjelaskan perbedaannya.
Kritik ketiga menyangkut narasi penyelamat kulit putih. Dalam kenyataan, sang anak penyintas diselamatkan oleh seorang warga setempat. Dalam novel dan film, penyelamatnya adalah marinir asing dari kapal induk yang datang dengan helikopter, dan salah satu di antaranya kemudian memeluk Islam setelah melihat wajah sang anak. Pola ini dinilai menghapus agensi lokal dan menyiratkan bahwa orang Aceh tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri, padahal dalam bencana nyata warga setempat adalah penolong utama. Implikasi politiknya, pembaca dapat mengira bantuan asing paling menentukan, mengecilkan peran warga, relawan lokal, dan aparat nasional, sekaligus mengulang bias orientalis yang menggambarkan Aceh terbelakang dan bergantung pada Barat, bertolak belakang dengan sistem kekerabatan dan ketangguhan masyarakat Aceh.
Kritik keempat diarahkan pada film. Pengambilan gambar dilakukan di luar Aceh, antara lain di Ujung Genteng, Sukabumi, dengan alasan bentang alam Aceh telah berubah, sehingga warga Aceh tidak terlibat langsung dan tidak memperoleh manfaat ekonomi, sementara pantai lain yang tampil di layar justru ikut terpromosikan. Film memuat kekeliruan bahasa dan budaya, seperti relawan asing yang berbahasa Inggris tanpa penerjemah, pelafalan kata Aceh yang keliru seperti ‘munasah’ untuk meunasah, dan busana perawat yang tidak sesuai kebiasaan setempat. Adegan evakuasi dengan helikopter dalam gerak lambat dan musik melankolis memperkuat pesan bahwa kekuatan luar menyelamatkan Aceh. Film ini juga dipakai di sekolah sebagai bahan pembelajaran, sehingga ketidaktepatan itu menjangkau anak-anak.
Dari perdebatan ini lahir serangkaian rekomendasi etis. Karya berbasis tragedi nyata perlu transparan tentang sumbernya, misalnya melalui pengantar yang menjelaskan bahwa tokoh fiksi bukan orang nyata, disertai permintaan maaf bila ada pihak yang dirugikan. Sebagian hasil penjualan buku dan film dapat dibagikan kepada penyintas melalui beasiswa, dukungan psikologis, atau pemberdayaan ekonomi sebagai kompensasi moral. Orang Aceh perlu dilibatkan sebagai konsultan budaya, pemeran, dan kru, dan ahli bahasa serta adat Aceh dikonsultasikan. Sekolah perlu mengajarkan literasi media untuk membedakan fakta dan fiksi, industri kreatif perlu kode etik yang mewajibkan konsultasi dengan komunitas terdampak, dan karya autentik kreator Aceh perlu didukung. Model dari sastra dunia menunjukkan pilihan yang tersedia: menyamarkan nama, mengubah latar, menulis secara terbuka sebagai nonfiksi, atau berbagi royalti dengan korban.
Bagi studi Aceh, kasus Hafalan Shalat Delisa penting sebagai contoh bagaimana tragedi Aceh direpresentasikan oleh produsen budaya dari luar, dan bagaimana representasi itu dapat menggeser ingatan kolektif tentang siapa yang menolong dan siapa yang ditolong. Ia membuka pertanyaan lebih luas tentang etika menulis bencana, hak penyintas atas kisahnya sendiri, dan pentingnya karya-karya yang lahir dari dalam masyarakat Aceh.
The tsunami of 26 December 2004, which killed more than a hundred thousand people in Aceh, gave rise to many works of literature and film. One of the most popular is the novel Hafalan Shalat Delisa by Tere Liye, filmed in 2011. The story opens in Lhoknga with a calm dawn, the call to prayer and children learning to recite the Qur’an, before the earthquake and a wave about ten metres high destroy Lhoknga and Banda Aceh. The heroine, Delisa, is trapped under debris, loses a leg, goes hungry and is scorched by the sun for days, and is then found by foreign soldiers awed by her ‘glowing’ body.
The first criticism concerns the commodification of suffering. A popular work can be a double-edged knife: aiding memory and healing, or repeating trauma if made without research and cultural sensitivity. The lengthy repetition of scenes of suffering is judged to turn pain into a commodity of tears, while the portrayal of a glowing body as a miracle is seen as romanticising real trauma. The structural problems of the tsunami, such as the lack of an early warning system, state failure and collective grief, are barely touched, since mass suffering is reduced to the story of one child. The spiritual values of sincerity and guidance are present, but the message that physical suffering is needed for others to find guidance is seen as romanticising pain.
The second criticism concerns the resemblance to a real child survivor who also lost a leg in the tsunami and bears the same name. Because name, place and time coincide, many readers believed the novel to be her true story. The survivor’s family was reportedly disappointed, though it did not take legal action.
The third criticism concerns the white-saviour narrative. In reality the child survivor was rescued by a local resident. In the novel and film the rescuers are foreign marines from an aircraft carrier who arrive by helicopter, one of whom later embraces Islam after seeing the child’s face. This pattern is judged to erase local agency and to imply that Acehnese cannot save themselves, whereas in real disasters local residents are the main rescuers. Politically, readers may come to think foreign aid was decisive, understating the role of residents, local volunteers and national personnel, while repeating an orientalist bias that portrays Aceh as backward and dependent on the West, contrary to Acehnese kinship systems and resilience.
The fourth criticism targets the film. Shooting took place outside Aceh, including at Ujung Genteng, Sukabumi, on the grounds that Aceh’s landscape had changed, so Acehnese were not directly involved and gained no economic benefit, while other coastlines appearing on screen were effectively promoted. The film contains linguistic and cultural errors, such as foreign volunteers speaking English without interpreters, mispronounced Acehnese words such as ‘munasah’ for meunasah, and nurses’ dress at odds with local custom. A slow-motion helicopter evacuation set to melancholy music reinforces the message that outside forces saved Aceh. The film was also used in schools as learning material, so these inaccuracies reached children.
From this debate came a set of ethical recommendations. Works based on real tragedies should be transparent about their sources, for example through a preface explaining that the fictional character is not a real person, with an apology where anyone has been harmed. Part of the proceeds of books and films could be shared with survivors through scholarships, psychological support or economic empowerment as moral compensation. Acehnese should be involved as cultural consultants, actors and crew, and experts in Acehnese language and custom consulted. Schools should teach media literacy to distinguish fact from fiction, the creative industries should adopt codes of ethics requiring consultation with affected communities, and authentic works by Acehnese creators should be supported. Models from world literature show the options: disguising names, changing settings, writing openly as non-fiction or sharing royalties with victims.
For Aceh studies, the Hafalan Shalat Delisa case matters as an example of how Aceh’s tragedy is represented by cultural producers from outside, and how such representation can shift collective memory of who rescued and who was rescued. It opens wider questions about the ethics of writing disaster, survivors’ rights over their own stories and the importance of works born within Acehnese society.
Gagasan kunciKey ideas
Komoditas air mataA commodity of tears
Penderitaan nyata yang diulang demi efek dramatis berubah menjadi barang dagangan.Real suffering repeated for dramatic effect becomes merchandise.
Narasi penyelamat asingThe foreign-saviour narrative
Mengganti penolong lokal dengan tentara asing menghapus agensi masyarakat Aceh.Replacing local rescuers with foreign soldiers erases Acehnese agency.
Tanggung jawab fiksi yang dekat kenyataanResponsibility of fiction close to reality
Ketika nama, tempat, dan waktu bersesuaian, pengarang wajib mengklarifikasi.
Partisipasi lokalLocal participation
Konsultasi budaya dan berbagi manfaat dengan penyintas sebagai standar etika industri kreatif.Cultural consultation and benefit-sharing with survivors as an ethical standard for the creative industries.
Posisi dalam kerangkaPlace in the framework
Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.
Pertanyaan reflektifReflective question
Siapa yang berhak menceritakan tragedi tsunami Aceh, dan apa kewajiban pencerita dari luar terhadap para penyintas?Who has the right to tell the story of Aceh’s tsunami, and what do outside storytellers owe its survivors?
Kutip entri ini:Cite this entry: “Hafalan Shalat Delisa dan etika sastra tentang tragedi tsunami”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/hafalan-shalat-delisa-dan-etika-sastra-tsunami/