Langsung ke isiSkip to content
Acehnologi Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway

Jejak persebaran karya Hamzah Fansuri di NusantaraThe spread of Hamzah Fansuri’s works across the archipelago

Akhir abad ke-16 hingga abad ke-19Late 16th to 19th century

Meski karya-karyanya dilaporkan dimusnahkan setelah polemik wujudiyah abad ke-17, gagasan dan puisi Hamzah Fansuri menyebar luas di Nusantara. Jejaknya tercatat dari Bengkulu, Semenanjung, Riau, dan Singapura hingga Banten dan Jawa Tengah, bahkan sampai Bima di timur. Vladimir Braginsky menunjukkan bahwa namanya terutama dikenal di kota-kota pesisir, lalu sesekali menembus pedalaman. Persebaran ini menempatkan Aceh sebagai pusat pemancar tradisi sastra dan tasawuf Melayu.

Although his works are reported to have been destroyed after the seventeenth-century wujudiyya polemic, Hamzah Fansuri’s ideas and poetry spread widely across the archipelago. Traces are recorded from Bengkulu, the Peninsula, Riau and Singapore to Banten and Central Java, and as far east as Bima. Vladimir Braginsky shows that his name was known mainly in coastal cities, occasionally penetrating the interior. This diffusion places Aceh at the centre of a radiating Malay literary and Sufi tradition.

Para sarjana belum sepakat tentang tanggal dan tempat lahir Hamzah Fansuri, tetapi umumnya menempatkannya pada masa Sultan ‘Ala al-Din Ri‘ayat Syah (1589–1604), dengan Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1629) sebagai murid utamanya. Riwayatnya direka ulang dari syair-syairnya, yang ditulis setelah ia mengalami ‘kelahiran kembali’ dalam pengertian tasawuf. Marcinkowski mengaitkan ‘identitas baru’ itu dengan Shahr Nawi, yakni Ayutthaya, sementara Azyumardi Azra mencatat pengembaraannya ke Mekkah, Madinah, Yerusalem, dan Baghdad. Masanya adalah awal puncak Aceh Darussalam, ketika kerajaan disinggahi pendatang dari Arab, Persia, Turki, Benggala, Pegu, Siam, Portugis, dan Spanyol, dan ketika, menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, terjadi ‘demokratisasi’ doktrin dan cara hidup sufi.

Al-Attas menyebut Hamzah bapak sastra Melayu pertama di Nusantara dan menjulukinya ‘Ibn ‘Arabi-nya orang Melayu’. Polemik dengan Nuruddin ar-Raniry, yang tiba di Aceh pada 1637, menyisakan akibat besar: kekuatan sufi tidak lagi berada di atas kekuasaan kerajaan, dan menurut beberapa sumber karya-karya Hamzah dimusnahkan.

Namun jejaknya bertahan. Teks Hamzah dijumpai dalam Hikayat Si Burung Pingai di Bengkulu; puisinya tersebar di Semenanjung, Riau, dan Singapura hingga abad ke-19; di Banten karya Hamzah dan muridnya dibaca dan dikupas, misalnya dalam Kitab Bayanullah; dan di Jawa Tengah Syarab al-‘Asyiqin diterjemahkan sekitar pertengahan abad ke-18. Pengaruhnya juga sampai ke lingkungan penganut Kejawen. Braginsky mencatat bahwa nama Hamzah dikenal dari Aceh hingga Bima, terutama di kota pesisir, dan dari sana kadang menembus pedalaman, seperti di Sumatra Selatan tempat aksara Rencong digunakan. Peta ini sejalan dengan jalur pelayaran dan perdagangan Muslim, sehingga persebaran teks dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah jaringan maritim.

Scholars do not agree on Hamzah Fansuri’s date or place of birth, but most place him in the reign of Sultan ‘Ala al-Din Ri‘ayat Syah (1589–1604), with Syamsuddin al-Sumatrani (d. 1629) as his chief disciple. His life is reconstructed from his poems, written after a ‘rebirth’ in the Sufi sense. Marcinkowski links that ‘new identity’ to Shahr Nawi, that is, Ayutthaya, while Azyumardi Azra records his travels to Mecca, Medina, Jerusalem and Baghdad. He lived at the dawn of Aceh Darussalam’s zenith, when the kingdom hosted visitors from Arabia, Persia, Turkey, Bengal, Pegu, Siam, Portugal and Spain, and when, in Syed Muhammad Naquib al-Attas’s phrase, Sufi doctrine and life underwent a ‘democratization’.

Al-Attas calls Hamzah the first father of Malay literature in the archipelago and dubs him the Ibn ‘Arabi of the Malays. The polemic with Nuruddin ar-Raniri, who arrived in Aceh in 1637, had major consequences: Sufi authority no longer stood above royal power, and according to some sources Hamzah’s works were destroyed.

Yet his traces endured. Hamzah’s texts appear in the Hikayat Si Burung Pingai in Bengkulu; his poems circulated in the Peninsula, Riau and Singapore into the nineteenth century; in Banten the works of Hamzah and his disciple were read and expounded, for example in the Kitab Bayanullah; and in Central Java the Syarab al-‘Asyiqin was translated around the mid-eighteenth century. His influence also reached Kejawen circles. Braginsky notes that Hamzah’s name was known from Aceh to Bima, chiefly in coastal cities, and from there sometimes reached the interior, as in South Sumatra where the Rencong script was used. The map follows Muslim shipping and trade routes, so the spread of texts can be read as part of the history of maritime networks.

Gagasan kunciKey ideas

Dimusnahkan tetapi bertahanDestroyed yet surviving

Larangan di pusat tidak menghentikan peredaran teks di pinggiran.Suppression at the centre did not stop texts circulating at the margins.

Jalur pesisirCoastal routes

Nama Hamzah menyebar mengikuti kota-kota pelabuhan sebelum menembus pedalaman.Hamzah’s name travelled along port cities before reaching inland.

Aceh sebagai pemancarAceh as transmitter

Persebaran ini memperkuat argumen bahwa Aceh adalah sumber, bukan sekadar penerima, tradisi Melayu.This diffusion strengthens the case that Aceh was a source, not merely a recipient, of Malay tradition.

Posisi dalam kerangkaPlace in the framework

Tokoh, lembaga, dan konsep yang paling dekat dengan entri ini, beserta sifat hubungannya.The figures, institutions and concepts closest to this entry, and how they relate to it.

Pertanyaan reflektifReflective question

Apa yang dapat dipelajari dari kenyataan bahwa gagasan yang ditolak di pusat justru hidup lama di pinggiran jaringan?What can be learned from the fact that ideas rejected at the centre lived on for centuries at the network’s edges?

Kutip entri ini:Cite this entry: “Jejak persebaran karya Hamzah Fansuri di Nusantara”, Acehnologi — Gerbang Studi AcehAceh Studies Gateway, https://acehnologi.com/entri/persebaran-karya-hamzah-fansuri/

Ekosistem KBA13KBA13 InsightKBA13 AcademyAcehnologiArsip & PustakaPeta Ekosistem →